
Pramana berdiri di depan pintu kamar Anisa dan perlahan ... tangannya mengarah pada handle pintu dan memutarnya hingga terdengar click.
Di dorong ke depan dan tampak di sana kosong, namun Anisa tidak terlihat berada di sana dan tempat tidur pun sudah tampak rapi. "Kemana dia? apa sudah bangun."
Beberapa langkah Pramana masuk dan berdiri di tengah-tengah kamar Anisa. Mengedarkan pandangannya ke sekitaran. Dan memasang pendengarannya dia pertajam lalu mendengar suara air dari balik pintu kamar mandi tersebut.
Detik kemudian, Anisa membuka pintu kamar mandi dengan hanya menggunakan handuk saja yang melilit di tubuhnya, Anisa sama sekali tidak tahu kalau di situ ada Pramana yang sedang berdiri melihat ke arah pintu kamar.
Ketika pas membuka pintu ... melihat keberadaan Pramana sedang berdiri, sontak Anisa langsung menutup kembalikan pintu tersebut.
Pramana yang kebetulan Tengah menatap pintu tersebut, tiba-tiba terbuka dan otomatis melihat Anisa yang hendak keluar dari kamar mandi yang hanya menggunakan handuk di atas lutut saja! sehingga mengekspos atas dada dan paha ke bawah.
Bikin dada Pramana berdebar, perasaan menjadi tidak menentu. Matanya tidak berkedip melihat pemandangan itu, untungnya Anisa langsung menutup kembali pintu kamar mandi.
Dan akhirnya Pramana hanya bisa menelan Saliva nya, serta mengulas senyuman. Menggelengkan kepalanya lalu dia berbalik keluar dari kamar Anisa.
Anisa yang di dalam kamar mandi, bersandar di daun pintu. Dadanya Anisa sangat terlihat jelas naik turun dan berdebar-debar, wajahnya pun terasa tebal merasa akibat rasa malu.
"Aduh ... Aku jadi malu-malu ... lagian kenapa sih dia berdiri di sana?" gumamnya Anisa sembari menutupi wajahnya dengan kedua telapak tangan.
Kini Anisa sudah berada di dapur untuk membuatkan susu jahe, dan kebetulan Pramana sudah berada di bawah! jadi Anisa tidak harus capek-capek naik ke lantai atas lagi.
Pramana sudah duduk manis di hadapan meja makan dan melihat ke arah Anisa yang mendekatinya membawakan segala susu jahe.
"Gimana, sudah tidak sakit lagi?" tanya Pramana sembari menatap lekat ke arah Annisa.
Anisa melihat ke arah Pramana dan ke arah sekitar bergantian.
"Ha? nggak! Alhamdulillah sehat kok!" jawabnya Anisa dengan suara yang pelan.
"Emang Neng sakit apa?" tanya Bibi karena dia sempat mendengar percakapan Pramana dan Anisa barusan.
Anisa dan Pramana saling melempar pandangan! apalagi di sana juga ada Ibu namun agak jauh.
"Apa, Bi. Anisa sakit sakit apa?" suara sang ibu mertua kepada Anisa.
__ADS_1
"Oh, tidak Bu ... Nisa cuman pusing aja semalam, nggak pa-pa kok ..." jawabnya Anisa sembari menatap ke arah Pramana.
"Ooh ... cuma pusing, tapi jangan sembarangan minum obat ya? soalnya lagi hamil, rentan. Makanya Ibu sarankan ... segera pergi periksakan apa yang jadi keluhannya nanti dikasih obat ... vitamin, dikasih saran gimana-gimana sama dokter!" sambungnya ibu Bella.
"Iya, Bu ... insya Allah! nanti sore Nisa akan periksakan." Anisa mengangguk.
"Pram ... kamu juga sempatkan ya antar Anisa ke dokter kandungan, seandainya ada urusan lain. Tolong di cancel dulu, ini lebih penting!" seru sang ibu kepada putranya, Pramana.
"Baik, Bu ... aku akan segera pulang nanti!" jawabnya Pramana sembari meneguk minumannya.
Setelah sarapan, Pramana pun berangkat bekerja dan berpesan kepada Anisa kalau nanti sore Anisa siap-siap, karena setelah dia pulang akan langsung berangkat.
Setelah itu Annisa pun seperti hari-hari biasa membantu ibu mertua dan Bibi untuk mengerjakan pekerjaan rumah, namun sekitar pukul 10 pagi badannya terasa meriang sehingga ibu mertua menyarankan dia untuk istirahat saja.
Ibu mertua pun dengan perhatiannya, membuatkan sebuah ramuan untuk untuk menghilangkan rasa meriang dan pusing.
"Nisa ... ini Ibu buat ramuan dan insya Allah ... aman untuk kehamilan mu!" ucap Ibu Bella, sembari mendudukan dirinya di tepi tempat tidur di sampingnya Anisa.
"Oh iya, Bu ... makasih ya? dan maaf sudah merepotkan," suara Anisa pelan.
"Tapi, Nisa merasa nggak enak kalau mau ngerepotin Ibu!" kata Anisa dengan lirih lalu dia memeluk sang ibu mertua dengan penuh haru.
...----------------...
"Kamu tega ya Pram, aku bolak-balik nelpon. Tapi tidak satupun kau angkat, chat pun tidak dibalas!" Carolin menatap ke arah Pramana yang sedang sibuk dengan layar laptopnya.
"Emangnya ada apa? lagian ... ada yang penting bukan! terus sekarang Ada apa, ini kan jam kerja!" Pramana bertanya balik sembari melirik ke arah jam tangan yang melingkar di tangannya.
"Aku ke sini, karena ingin bertemu kamu dan ingin menanyakan kenapa telepon ku nggak diangkat? chat ku nggak dibalas juga, kalau ke sini siang ... nanti istri mu yang datang." Jawabnya Carolin.
Pramana terdiam sejenak. Teringat kepada Anisa yang di rumah, apa mungkin siang ini dia akan datang mengantarkan makanan untuknya? sementara semalam dia tampak sakit.
"Kok melamun sih? aku kan bertanya!" Caroline dengan nada kesal.
Pramana menolehkan kepalanya pada carolin. "Tadi sudah aku jawab. Emang ada yang penting?"
__ADS_1
"Bukannya kamu masih mencari kekasih mu itu? aku ada kabar tentang dia!" ucap carolin.
"Yang benar?" tanya Pramana dengan ada kaget.
"Iya, kemarin malam dia ada hubungi aku, katanya dia sedang berada di suatu tempat dan tidak lama lagi dia akan kembali!" kata Carolin dengan nada datar.
"Emang dia sekarang berada di mana sekarang Adisty?" tanya kembali Pramana menatap dengan penuh rasa penasaran.
"Kalau di mana-mananya sih ... dia nggak bilang, tapi yang jelas dia akan segera pulang dan tugasnya dialihkan ke kota ini." Kata Caroline sembari mendudukan bokongnya di kursi di depan Pramana.
Lagi-lagi membuat Pramana bengong, antara bahagia dan entahlah dia sendiri tidak bisa mengartikan. Gimana perasaannya sekarang.
"Ya syukurlah, kalau Adisty segera pulang! aku bahagia sekali mendengarnya," jelasnya Pramana.
"Terus gimana dengan istri mu? dia kan hanya sebagai pengganti mempelai bukan?" selidiknya Caroline.
Pramana menoleh ke arah Carolin dengan tatapan yang sulit diartikan. "Apa kau cerita kalau aku sudah menikah?"
"Tentu, aku bilang seperti itu. Tapi sepertinya dia kurang percaya, dia lebih percaya kalau kamu seorang pria yang setia, penyayang. Perhatian dan nggak mungkin mengkhianati dia! begitu istimewanya dirimu di mata dia, padahal orang yang dia banggakan asyik dengan perempuan lain! bahkan sekarang istrinya sedang mengandung!" ungkap Caroline dengan nada sinis.
"Tapi aku nggak mungkin seperti ini, kalau seandainya dia tidak pergi di hari pernikahan! cobalah kamu bayangkan. Seandainya itu terjadi kepada kamu atau kau berada di posisi ku!" ungkap Pramana kembali.
Carolin terdiam sambil menatap ke arah Pramana.
"Bagaimanapun aku mencari aman, di balik luka hati aku. Banyak hati orang yang harus aku jaga khususnya keluarga ku," kemudian Pramana menghela nafas panjang.
Hening ....
"Ya sudahlah, terima kasih atas infonya dan sekarang aku harus fokus bekerja!" ucapnya Pramana sambil menggeser posisi duduknya mendekati meja.
Carolin pun berdiri dengan tatapan dingin ke arah Pramana, ada beberapa rasa yang dia simpan. Yang di antaranya rasa kecewa karena sampai detik ini dia belum bisa mendapatkan pria tersebut dan sekarang sahabatnya mau balik lagi ....
...🌼---🌼...
Terima kasih bagi yang sudah like serta dukungan lainnya ya makasih banyak
__ADS_1