
Selang beberapa waktu diperjalanan, Pram menghentikan mobilnya di depan sebuah restoran favoritnya biasa dia pakai makan-makan bersama Adisty.
"Ayo sayang, turun." Pram turun dan mengitari mobilnya.
Anisa melepas pandangan nya ke sebuah restoran. "Ooh ini restoran favoritnya Pram dan Adisty!" suara dalam hati Anisa, lalu keluar setelah dibukakan pintunya oleh Pramana.
Pramana menggandeng tangan Anisa, yang kemudian berjalan memasuki restoran seafood tersebut. Lalu Pram memilih tempat yang sangat nyaman dan menghadap ke jendela tembus pandang ke luar.
"Selamat malam, mau pesan apa?" seorang pelayan menghampiri Pramana dan Anisa dengan senyum termanis, setelah Pramana dan Anisa duduk beberapa saat.
"Saya pesan ... gurita asam manis, cumi asam pedas. Nasi dan lainnya! minumnya air jeruk dan juga air putih!" jawabnya Pramana sembari menatap ke arah pelayan tersebut yang sebenarnya tidak asing lagi bagi dia.
"Oh baik Pak, Ibu juga sama? mau pesan apa juga?" tanya sang pelayan berikan pandangannya ke arah Anisa.
"Iya, itu saja yang dipesan sama suami saya!" Anisa mengangguk sambil tersenyum ramah.
"Baik, silakan menunggu ya!" wanita tersebut memutar tubuhnya berjalan masuk.
"Tempatnya memang nyaman ya tidak terlalu ramai, biarpun berada di pusat kota." Anisa mengedarkan pandangannya ke sekitar tempat tersebut.
"Benar, tempatnya memang nyaman biarpun berada di pusat kota, terkadang resto ini juga penuh dengan pelanggannya." Balasnya Pramana sembari melihat kanan dan ke kiri.
Sesaat kemudian, datanglah seorang pria pelayan restoran, membawakan beberapa gelas minuman seperti air putih dan juga jus buah. "Silakan diminum dan dicicipi makanan pembukanya!"
"Terima kasih, Mas!" ucapnya Anisa sembari menarik piring yang dihidangkan.
Pramana pun mengangguk sambil sesekali mengecek handphonenya dan mengetik sesuatu di sana.
Keduanya meneguk air putih yang sudah tersedia, dan juga mencicip makanan pembukanya.
"Gimana Sayang, suka nggak? dengan makanan pembukanya!" tanya Pramana sembari menatap lekat ke arah Anisa.
Anisa mengangkat wajahnya melihat ke arah Pramana sembari mengatakan sesuatu. "Aku suka ... enak kok!"
"Syukurlah, kalau kamu suka--"
"Aku sih makanan apa aja suka, sekalipun pohon bambu aku suka. Asalkan pohon bambunya yang masih muda, kalau yang tua sih buat bangunan he he he." Anisa menimpali perkataan dari Pramana.
__ADS_1
"Siapa sih sayang ... yang sekiranya mau ngasih kamu makanan bambu tua? nggak ada kali! ada-ada saja deh," Pramana menggeleng kecil.
"Tapi beneran lho, Yank ... aku suka rebung yaitu dari bambu yang baru keluar itu, ditumis atau pakai santan enak juga tuh. Buat lauk pauk, belum pernah ngerasain ya?" ucap Anisa yang pada Pram yang langsung merespon dengan menggeleng.
"Sepertinya sih aku belum pernah nyoba. Tapi boleh dicoba tuh, coba sayang masakin. Mungkin aku akan suka!" tambahnya Pram.
Anisa dan Pramana menoleh pada pelayan yang tadi, berjalan mendorong tempat beberapa menu dan piringnya, mendekati meja Pramana. Lalu menyimpan semua pesanan di meja.
"Selamat menikmati hidangan kami, dan nanti mohon bintangnya ya sebagai penilaian!" kata sang pelayan restoran dengan tetap menunjukan senyuman ramahnya.
"Baik, akan saya beri penilaian nanti dan terima kasih atas hidangannya!" balasnya Pramana sembari mengangguk.
Lalu Pramana membelalakkan matanya, melihat hidangan yang kini berada di hadapannya itu. potongan gurita yang besar-besar juga cumi basah yang sama besar-besarnya dan dua paket nasi putih, sambal dan lalapan.
"Wauwh ... besar-besar suaminya besar, guritanya pun besar!" Anisa mengarahkan pandangannya ke arah masakan cumi dan gurita.
"Iya, sayang. Kita nikmati makan malamnya ini." Setelah membaca doa, kemudian Pramana menyuapi Anisa.
Anisa dan Pram tidak membuang-buang waktu dan mereka langsung menikmati makannya dengan sangat lahap.
Sesekali keduanya saling menyuapi satu sama lain. Di barengan dengan seringai penuh bahagia.
"Enak, dan Aku ingin belajar memasaknya di rumah Tapi kalau nggak enak nggak apa-apa Kan namanya juga belajar!" ucapnya Anisa dengan mulut yang penuh dan bibir pun belepotan sehingga Pramana membersihkannya dengan tisu.
"Tentu dong. Nggak mungkin tidak aku makan. Lagian kalau sudah di tangan mu ... biar baru mencoba pun insya Allah akan enak kok, jangan khawatir tidak aku makan. Suami mu ini kan biarpun suka olahraga tapi tipe orang yang suka makan!" Balasnya Pram sembari menyunggingkan bibirnya.
Memang benar, biarpun tubuh Pramana termasuk atletis. berbadan sixpack, tapi memang suka makan. Nggak diet atau larangan makan apa.
"Beneran ya, besok aku mau ke pasar. Aku mau masak yang seperti ini, kalau tidak kamu makan aku buang!" ancamnya Anisa sembari tersenyum.
"Pasti aku makan dong Sayang ... kan sudah ku bilang, jangan kuatir tidak ku makan! yang penting ada di meja pasti aku makan, kasihan Istri aku sudah capek-capek memasak tapi ketika sudah tersedia, aku suaminya tidak makan. Itu termasuk dzolim." Seru nya Pram.
"Oh ya sayang, kamu mau kita berbulan madu ke mana? nanti setelah resepsi aku akan ambil cuti dan tempatnya kamu yang milih, Eropa, Jepang atau masih Indonesia? terserah sayang maunya ke mana! aku akan menuruti saja." Selidik Pramana soal bulan madu yang belum pernah di bicarakan sebelumnya.
Anisa menghentikan makannya seraya berpikir. Dengan tatapan mengarah pada Pram yang seolah menunggu jawaban darinya. "Aku boleh menentukan tempatnya?"
"Tentu dong sayang ... kamu yang pilih maunya kemana?" Pram sembari memasukan potongan gurita ke mulutnya.
__ADS_1
"Em ..." Anisa mengedarkan pandangan pada dua orang wanita yang memasuki restoran yang sedang Anisa singgahi bersama Pramana.
Degh.
"Adisty dan Carolin? berada di sini juga. Itu benar Adisty dan apakah Pram tahu kalau dia sudah kembali? atau apa mungkin mereka janjian ketemuan di sini? ach gak mungkin Pram seperti itu!" batinnya Anisa sambil segera menundukkan pandangan nya.
"Sayang, maunya kemana kita kalau bulan madu." Tanya kembali Pramana yang sepertinya belum melihat ke datangan Adisty dan Carolin di tempat yang sama.
"Eh ... aku masih bingung mau kemana!" perasaan Anisa menjadi gusar dan tidak mengenakan.
"Kok, masih bingung sih, tapi baiklah. Pikirkan saja dulu maunya kemana! oke, ayo makan lagi. Nanti gak habis kan sayang!" Pram kembali menyuapi Anisa.
"Pram ... apa yang akan kamu lakukan bila melihat kekasih mu berada di sini!" monolognya Anisa dalam hati sambil membuka mulutnya.
Adisty dan Carolin yang mendatangi tempat yang sama dengan Pram dan Anisa. Memilih tempat yang bersebelahan dengan meja Pram dan Anisa.
Namun keduanya belum ngeh kalau di sana ada Pram dan Anisa, Adisty sibuk memesan makan dan Carolin sibuk dengan ponselnya sehingga belum sempat menoleh kanan dan kiri.
"Ce, kamu mau pesan apa? tanya Adisty pada Carolin sambil membuka daftar menu.
Tanpa menoleh dan melihat ke arah Adisty ataupun daftar menu. Caroline langsung aja mengatakan. "Sama aja deh sama kamu, samakan aja menunya!"
"Baiklah, untuk dia ... samakan aja Mbak, menunya dengan pesanan saya!" akhir kalimat dari Adisty.
"Baik, harap di tunggu ya!" kata pelayan yang lalu berjalan meninggalkan meja Adisty.
"Aku sudah kenyang. Dan aku pengen ke toilet sebentar," ucapnya Anisa sembari berdiri dan meraih tasnya.
Mendengarkan sang istri mau ke toilet, Pramana pun beranjak dari duduknya yang tidak lupa memberi tanda di atas piring, kalau dia pergi sebentar dan akan kembali tentunya. Apalagi belum membayar.
"Tidak apa-apa, aku sendiri aja. Nanti kalau ada yang beresin mejanya gimana? dikira ... kita kabur sebelum membayar!" kata Anisa sembari menatap meja dan Pram bergantian.
"Tidak sayang, mereka tidak akan membereskan ini sebelum kita kembali ke sini." Pramana dengan yakinnya.
Lalu keduanya berjalan mencari toilet di area restoran tersebut. Dan Pram lebih apal tempat itu termasuk letak toiletnya ....
...๐ผ---๐ผ...
__ADS_1
Semoga kalian suka dengan novel recehan ini๐ makasih