
"Sebaiknya kau temui dia dulu, jelaskan sama dia ... kalau kamu sudah punya istri, agar dia tidak berharap lagi sama kamu!" ungkapnya sang ayah dengan suara yang sangat pelan.
"Tapi rasanya aku belum siap untuk ketemu dia, Yah. Entah kenapa aku belum siap! apalagi untuk mengatakan itu, rasanya aku nggak tega!" timpal Pramana sambil menggelengkan kepalanya.
"Tidak bisa seperti itu Pram," kamu harus jelaskan sama Adis, kalau ini bukan kesalahan mu. Kamu nggak mungkin menikahi Anisa kalau seandainya pernikahan kamu dengan dia tidak batal, kalau dia nggak kabur ... kamu nggak mungkin menikah dengan Anisa!" jelasnya sang ayah.
Pramana menunduk, dia merasa bingung karena dalam hati kecilnya ... dia belum siap untuk bertemu apalagi mengatakan yang sebenarnya, dia nggak tega membuat Adisty kecewa! sekalipun semua ini kesalahan dia sendiri. Karena tidak mungkin! sangat tidak mungkin Pramana menikahi Anisa waktu itu bila Adisty tidak kabur.
"Kalian ngobrolin apa sih? serius banget," tanya Nisa sembari menatap ke arah Pramana dan juga sang ayah mertua.
"Ooh enggak, ini masalah laki-laki dan ini rahasia! para wanita tidak boleh tahu," sang ayah mertua melirik ke arah Pramana yang langsung merespon dengan anggukan.
"Ya udah, aku menyimpan paper bag dulu ke kamar, rasanya sudah lama tidak lihat-lihat suasana kamar!" Anisa barangnya kayak duduknya sambil meraih paper bag miliknya.
"tapi jangan lama-lama kita belum makan malam lho," Pintanya sang ibu mertua.
"Iya Bu ... Anisa akan segera turun. Oh iya ini oleh-oleh dari bunda." Anisa memberikan sebuah paper bag kepada sang ibu mertua yang berisi kue lapis buatan bundanya.
"Apa ini ya Allah kue lapis kesukaan Ibu Makasih ya." Bu Bella begitu antusias dan bahagia menerima oleh-oleh tersebut, wajahnya sumringah dan sebelah matanya pun bersinar.
Lantas Anisa pun naik ke lantai atas, dan tidak lama kemudian Pramana pun menyusulnya sembari membawa tas miliknya.
Sejenak Pramana terjadi di depan pintu kamarnya, dan menoleh ke arah Anisa yang sudah memasuki kamar tempat dia tinggal. Pramana berdiri sambil memandangi ke arah kamar Anisa yang tampak berjalan di dalam mendekati tempat tidur.
"Apapun yang terjadi, nggak akan mengurungkan niat untuk menikahi mu lagi, karena itu sudah janjiku apalagi menceraikan mu. Itu tidak mungkin." Gumamnya Pramana dengan suara pelan dengan tetapan yang tertuju ke arah Anisa
Dan beberapa saat kemudian, Pramana pun masuk ke dalam kamar pribadinya sambil menjinjing tas yang berisi pakaian dan laptop.
__ADS_1
kini Pramana sudah berada di dalam kamarnya baru saja mau mendudukkan dirinya di tepi tempat tidur ponselnya Sudah berapa kali berdering dan akhirnya dia mengambil dan mengecek ternyata panggilan dari hadist dan juga Caroline.
Ada beberapa chat dari Adisty yang menanyakan.
"Apa benar dirinya sudah menikah dengan wanita lain? kenapa! kenapa mesti menikah dengan wanita lain dan itu pasti bohong. Aku tahu kamu sangat mencintai ku dan aku tahu kamu kecewa padaku! tapi percayalah aku pergi untuk sementara dan buktinya sekarang aku kembali. Untuk menjalin hubungan kembali dengan mu dan aku mau menikah dengan mu Pram."
Bikin jantung Pramana berdegup sangat kencang! tubuhnya panas dingin bergetar begitu saja.
"Memang aku tidak mungkin menikahi wanita lain! kalau saja kamu ada pada waktu itu. Namun kenyataannya berbeda! kau juga yang membuat semuanya terjadi seperti ini. Kau yang sudah meninggalkan ku begitu saja." brahmana mengusap wajahnya dengan sangat kasar. Dia tampak sangat frustasi.
"Pram, kenapa? Yo kita makan?" suara Anisa dari dekat pintu yang menetapkan ke arah dirinya yang terduduk lesu di tepi tempat tidur.
Pramana langsung menoleh ke arah Anisa yang lalu berjalan menghampirinya.
"Kamu kenapa! kamu sakit? kok wajah kamu pucat begitu?" Anisa langsung menyentuh pelipisnya Pramana dengan punggung tangan. "Nggak kenapa-napa kok."
"Tapi kok wajah kamu pucat begitu, yakin ... nggak kenapa-napa?" Anisa menatap Pramana dengan tatapan cemas.
"Apakah khawatir dan takut bila aku sakit?" selidik Pramana sambil menempelkan punggung tangan Anisa di dagunya yang sedikit berbulu.
"Em ... nggak juga. Biasa aja!" Anisa mengulum senyumnya. seraya memalingkan mukanya ke samping dan menghindari tatapan lekat dari Pramana.
"Beneran nggak khawatir ... sama sekali?" goda Pram sambil sedikit Manarik tangan Anisa yang langsung di tarik sambil berkata.
"Lepas, nanti kelihatan ibu sama ayah. Malu ... ayo turun? kita makan dulu." kini Anisa yang menarik tangan Pram agar berdiri dan turun buat makan malam bersama dengan kedua orang tua Pramana.
Pada akhirnya Pram beranjak dan menarik pinggangnya Anisa hingga dada Anisa menubruk dada Pram. Kedua pasang mata mereka berdua saling bertemu dan saling menatap lekat seolah saling mendalami hati satu sama lain.
__ADS_1
Kedua tangan Pram memeluk pinggang dan punggungnya anisa hingga tubuh mereka menempel dengan erat.
Kepala anisa berlabuh di bawah leher Pram sebelah kanan. Dapat menghirup bau tubuh masing-masing. Yang terdengar hanya detak jantung yang begitu kencang di antara keduanya.
Dagu Pramana di letakkan di atas kepala Anisa. "Dengarkan detak jantung ku yang menyebut nama mu dan deru napas yang selalu merindukan mu."
Anisa menarik kedua sudut bibirnya. Tersenyum mendengar perkataan Pramana yang menggombal. Tangan Anisa pun menyentuh punggung Pram tanpa sadar mengeratkan pelukannya.
Sesaat kemudian Pramana bergumam. "Katanya mengajak makan, tapi kok memeluk ku dengan erat. Aneh ya namanya perempuan! bilang nya A maunya B!"
Mendengar perkataan dari Pramana seperti itu, membuat Anisa merasa gemas. Memudarkan pelukannya lalu sedikit menggigit bahu nya.
"Auwwwh! sakit dong sayang!" pekik Pramana seiring Anisa melepaska diri dari rangkulan.
"Emang enak, wew!" Anisa tersenyum.
"Was, ya nanti aku balas gigit dan gak akan ragu-ragu di daerah yang anu!" ancam Pramana sambil mengusap bahunya yang sedikit panas.
"Anu apa? aku gak mau dekat-dekat kamu kok!" ketua anisa sambil mesem lalu meninggalkan Pramana yang masih berdiri di kamarnya.
Pramana tersenyum lebar, Lalu menyusul Anisa yang sudah keluar dari kamar nya itu.
Berjalan lebar menuju anak tangga yang di mana Anisa lebih dulu berjalan di antara anak tangga. Dengan langkah lebarnya Pram sehingga dapat menyusul langkahnya Anisa.
Keduanya menapakkan kedua kaki di lantai bawah, berbarengan menuju meja makan. Di mana Bu Bella dan pak Lukman sudah duduk manis menunggu Anak mantunya untuk makan malam.
"Akhirnya kita dapat berkumpul lagi makan bersama, ngobrol bareng," ucap Ibu Bella yang ditujukan kepada Anisa.
__ADS_1
Anisa tersenyum dan melirik ke arah Pramana yang mengambil piring yang ia sodorkan ....