
Kini Pramana sudah mandi dan mengenakan pakaian formal, dia akan langsung ke kantor dan berangkat lebih pagi. karena kebetulan dari sana lokasinya lebih jauh.
Melihat kerah baju Pramana yang melipat ke dalam, membuat Anisa berinisiatif untuk mendekati dan merapikannya.
Anisa berdiri di hadapan Pramana dengan kedua tangan merapikan kerah kemejanya Pramana, membuat Pramana tidak memalingkan penglihatannya pada wajah Nisa yang tampak serius merapikan kerah kemeja tersebut. Lalu mengambil jas yang ada di tangan Pramana kemudian dia pakaikan.
Kini kedua tanpa Anisa tengah mengancingkan jas Pram dan merapikannya. "Sudah rapi, aku mau bikin sarapan dulu."
Anisa berniat mengembalikan tubuhnya. Namun secara tiba-tiba kedua tangan Pramana menangkap pinggangnya Anisa dan menariknya hingga berbalik dan menubruk dada Pramana.
Ekspresi wajah Anisa pun menunjukan rasa terkejut dengan yang di lakukan Pramana. "Awh!"
Kedua pasang mata mereka pun bertemu, dengan tatapan yang begitu dalam seolah-olah ingin menyelami perasaan masing-masing. Kemudian kepala Pramana sedikit membungkuk dan mendekati wajah Anisa yang mendongak dengan kedua tangan memegang lengan Pramana bagian atas.
Jantung berada dag-dig-dug bagai drumband yang di tabuh tanpa nada. Darah mengalir terasa begitu daerah menjalar ke seluruh tubuh, Anisa tidak menghindar dan seolah menyambut kedatangan wajah Pramana dengan kedua matanya yang terpejam.
Terlihat bibir Pramana tampak tersenyum tipis melihat Anisa memejamkan kedua manik matanya. Seakan menyambut dengan senang hati kedatangannya, hingga akhirnya bibir Pramana tiba dan mendarat di landasan yang di tuju. mengecupnya dengan hangat menyapu perlahan Setian incinya.
Geli-geli gimana ... dan mengasyikan dengan bertemunya benda tipis dan kenyal tersebut bila bertemu. Tangan kanan Pramana naik ke atas ke bagian tengkuk mengunci kepala Anisa.
Sementara tangan kanan tetap memeluk pinggang Anisa dengan sangat erat, sehingga tubuh keduanya begitu rapat satu sama lain. Sentuhan itu Pramana inginkan dari semalam, namun semalam masih bisa dia tahan dan takut lebih menuntut lebih.
"Em, mmmm ..." desisnya Anisa.
Pramana terus saja ********** dengan lembut dan hangat, sesaat di lepaskan. Dan sesaat saling tatap dengan tatapan yang sendu bagai di hiasi dengan kabut suatu perasaan yang membawa ke sebuah keinginan yang tidak boleh mereka lakukan.
kemudian Pramana menyatukan kembali bibirnya dengan bibir Anisa. Wajah Pramana memiring menyapu seluruhnya bahkan semakin lama semakin dalam.
Anisa tersadar dan takut menuntut lebih, dan Anisa merasa ada sesuatu yang mengganjal di bawah sana. Bagaimana setidaknya dia tahu kalau itu menandakan pria sedang on, Anisa mendorong dada Pramana sehingga menjauh dan kecupan itu berakhir.
Pramana tampak kecewa dan matanya yang sudah di hiasi dengan kabut hasrat yang membara bikin Anisa semakin khawatir.
Jemari Anisa mengusap bibirnya yang lembut serta merapikan rambutnya, di ikat dengan rapi di atas. "Aku mau bikin sarapan dulu, nanti kamu kesiangan."
__ADS_1
Pramana yang sedari tadi tertegun dan menatap kecewa karena dia belum puas. Namun dia sadar kalau memang dia lakukan ini emang salah.
Kemudian dia mengusap wajahnya dengan telapak tangan. Dan mengusap bibir yang terasa masih lembab dan masih terasa kenyal dan lembutnya bibir Anisa yang kini sudah menghilang.
Pramana jurusan mengontrol perasaannya dan juga detak jantungnya dengan cara menekuk air putih hanya satu botol 1 liter habis seketika.
Kemudian setelah dirasa agak lebih baik kan Pramana pun turun dan bertemu dengan kedua mertuanya di bawah sambil menenteng tas kerja dia yang tidak terlalu besar.
"sudah rapi mau berangkat kerja sekarang kan belum sarapan!" sapa sang ayah mertua.
"Nggak ko, Ayah bentar lagi!" jawabnya Pramana sambil berjalan mendekati meja makan.
"Pram, semalam bunda tidak tahu kau datang. Saking ngantuk nya." Suara bunda Farida sambil menyiapkan sarapan bersama Anisa.
Anisa menyuguhkan secangkir susu jahe pada Pramana. "Susu jahe nya!"
"Makasih!" ucapnya Pramana.
Kemudian Anisa melanjutkan tugasnya yaitu menyiapkan sarapan untuk Pramana lebih dulu karena dia akan berangkat lebih pagi.
"Sarapan dulu!" Anisa menyodorkan sepi nasi goreng buat Pramana lalu dia duduk di sampingnya tanpa sarapan.
"kalau udah sarapan?" tanya Pramana karena di hadapan Anisa tidak ada sarapan buatnya.
"Aku kan nggak kemana-mana Ini sarapannya nanti aja!" jawabnya Nisa sembari menuangkan air putih ke dalam gelas buat Pramana.
"Nanti pulang bekerja balik lagi ke sini Pram?" selidik sang ibu mertua.
Pramana yang sedang mengunyah menoleh pada sang ibu mertua. "Iya Bun insya Allah balik lagi ke sini."
"Apa tidak terlalu jauh? dari sini ke kantor dari kantor ke sini?" tanya sang ayah mertua alias Pak Joni yang kini mendudukkan dirinya di hadapan Pramana.
"Aduh Ayah ... kalau masih bisa ditempuh dalam satu jam apalagi kurang sih itu kecil ... nggak jauh lah! orang yang lebih dari itu juga banyak!" timpalnya sang istri.
__ADS_1
"Iya juga sih! terus gimana Anisa, apa mau masih di sini Untuk berapa hari. Atau mau ikut Pramana pulang?" pak Joni menuju kan pertanyaannya kepada Anisa.
Anisa tidak menjawab. Dia hanya melirik ke arah Pramana yang juga melihat ke arah dirinya! sehingga kedua pasang mata mereka pun bertemu yang saling bertukar pandangan.
"Ayah juga Ibu ... nggak akan melarang Anisa untuk ikut pulang bersama Pram, sebab Anisa tampak sehat kok!" ucapnya Pak Joni kepada Anisa dan Pramana.
"Eeh ... kata siapa? nggak-nggak, Bunda nggak izinin! minimal berapa hari lagi, Anisa baru boleh pulang ke tempat Pram. Minimal satu Minggu baru Bunda izinkan, bukan sekarang, Anisa di sini Baru 4 hari Lho, Yah ... nanti aja lah minimal 1 minggu gitu di sini!" protes sang istri yang tidak setuju jika Anisa sekarang ikut Pramana pulang.
Bu Farida tidak mengijinkan kalau Anisa harus cepat itu pulang bersama Pramana. Kecuali nanti berapa hari lagi setelah minimal 1 minggu Anisa berada di sana, baru Bunda Farida mengizinkan Anisa pulang ke tempat Pramana.
setelah saling pandang Anisa dan Pramana menoleh pada sang Bunda yang berjalan mendekati meja makan membawa sarapan buat suaminya.
"Tidak apa-apa kok, aku bisa bolak-balik ke sini!" ucapnya Pramana sembari melirik ke arah Anisa. Anisa menunduk setelah Pramana berkata demikian.
Setelah selesai sarapan, Pramana pun berpamitan untuk pergi ke kantor karena memang agak jauh jadi harus lebih pagi dan takut kena macet.
Pramana berjalan menuju pintu utama setelah bersalaman dengan kedua mertuanya dan Anisa mengikutinya dari belakang mengantar sampai teras saja.
"Aku pergi dulu ya?" nggak apa-apa, nanti saja kalau sudah seminggu di sini. Kita pulang!" ucap Pramana sambil berbalik berdiri berhadapan dengan Anisa.
Anisa mengulum senyumnya seraya berkata. "Emangnya kamu mau aku pulang ke sana?"
"Oh nggak, aku nggak mau kamu pulang ke sana. Sudah saja di sini, nggak usah ke sana lagi!" balasnya Pramana dengan sedikit terdengar kesal.
"Kok marah? kan aku cuman bertanya, buat apa aku pulang ke sana kalau kamu nggak menginginkan ku pulang. Kecuali kamu mengingatkan ku untuk pulang, Aku pasti mau." Anisa semakin mengembangkan senyumnya yang dia tunjukkan kepada Pramana.
Pramana menatap Anisa dengan sangat lekat dan tangannya mengusap kepala Anisa dengan lembut. "Kalau menurut kamu aku gimana? nggak usah dijawab aku mau pergi."
Pramana langsung mengayunkan langkahnya yang lebar meninggalkan tempat tersebut, meninggalkan Anisa yang masih berdiri di teras menatapi kepergiannya ....
...🌼---🌼...
Terima kasih pada yang sudah like comment biarpun sedikit.
__ADS_1