Pernikahan Yang Tak Di Anggap

Pernikahan Yang Tak Di Anggap
Bandung


__ADS_3

Kini Anisa dan Pram sudah berada di Bandung. Pram pun mengajak Anisa untuk ikut serta dalam pertemuan urusan kerjanya dan Pram mengenalkan Anisa sebagai istrinya.


"Senang berkenalan dengan anda!" Anisa sembari tersenyum menyatukan kedua tangan di depan dagu.


Staf dan karyawan nya Pram yang khususnya laki-laki mengulurkan tangan tapi tidak Anisa sambut, melainkan menyatukan kedua tangan serta anggukan dengan ramah.


Sehingga mereka pun kembali menarik tangan nya dengan cepat Seraya membalas dengan anggukan.


"Istri mu semakin cantik dan ramah, tumben kau bawa? sekalian bulan madu ya." Suara Ridho pada Pram yang baru saja menempelkan bokongnya di kursi dan bersiap memulai meeting.


Pramana hanya tersenyum pada Ridho yang dia tugaskan di bandung.


"Saya mengucapkan banyak-banyak terima kasih atas kerjasama kalian yang solid dan ... saya sangat menghargai itu. Semoga kedepannya perusahaan kita ini semakin maju dan berkembang pesat." Pram menemukan kedua tangannya di bawah dagu dan sesekali melipat di atas pinggir meja.


Pandangan Pram mengedar ke semua orang yang berada di meja meeting tersebut. Ditatapnya satu persatu, orang-orang yang saling berpandangan satu sama lain dan juga mengeluarkan suaranya dengan pelan, entah apa yang mereka katakan.


"Dan sebagai tanda terima kasih dari saya untuk kalian ... saya akan memberikan bonus untuk kalian semua!" ucapnya Pramana sembari mengambil tas kerjanya.


"Wah ... terima kasih banyak bos sebelumnya dan ini sesuatu yang tidak pernah kami sangka-sangka Iya kan?" ucap seorang staf kepada temannya yang lain yang langsung mendapatkan anggukan.


Kemudian Pramana mengambil beberapa amplop yang kemudian dia bagi-bagikan kepada semua orang yang berada di ruangan meeting tersebut.


Anisa yang berada di luar ruangan meeting yang memilih untuk berjalan-jalan melihat-lihat suasana gedung tersebut.


Wanita cantik yang mengenakan setelan berwarna coklat muda dan kerudung dengan warna senada, berdiri di dekat jendela besar dan melepaskan pandangannya yang tembus ke arah luar, menikmati indahnya kota Bandung di sekitar waktu pukul 10.00 pagi.


"Hai ... sendirian saja sedang apa di sini?" sapa seseorang dari arah belakang.


Sejenak Anisa terdiam lalu dengan perlahan melihat ke arah belakang, di mana adanya suara tersebut yang telah menyapa dirinya.


Rupanya dia seorang pria tampan yang menghadap ke arah dirinya. "Em," Anisa pun mengangguk hormat ke arah pria tersebut.


"Sedang apa berdiri di sana dan mana temannya? rasanya saya baru melihat anda di sekitar sini!" sambungnya kembali.


"Oh, iya kebetulan Saya memang baru datang ke sini dan jangan berkunjung kok," Anisa menunjukkan senyumnya kepada pria tersebut yang menatap dan meneliti ke arah dirinya.

__ADS_1


"Oh berkunjung ya. Saya kira karyawan baru atau staf. Berkunjung ya!" pria itu mengangguk pelan dengan bibirnya terlihat senyum tipis.


"Kalau boleh saya tahu ... berkunjung sama siapa! ataukah menemui temannya, keluarganya atau siapa?" selidiknya tersebut yang mengenakan pakaian formal berwarna hitam.


"Kebetulan ... saya kunjungan di sini bersama seorang yang saat ini sedang mengadakan meeting!" sahutnya Anisa sembari sedikit melirik ke arah sekitar yang ada beberapa orang berlalu lalang di sekitar sana.


"Keluarga kah?" orang itu semakin menyelidik.


Anisa tersenyum manis seraya menganggukan kepalanya. "Maaf Saya pergi dulu!" Anisa meninggalkan tempat tersebut dan menjauhi pria yang mengajaknya berbincang.


"Em, tapi!" gumamnya pria tersebut.


Anisa terus bergegas melangkahkan kakinya memasuki sebuah lift, untuk menyambungkan dengan kantornya Pramana di mana tadi Anisa tinggalkan.


"Semoga saja aku nggak kesasar, tapi lantai berapa ya? kantornya Pramana, kok aku jadi lupa sih!" Anisa sedikit kebingungan dia lupa, tadi kantor Pram di lantai berapa?


Karena kebingungan Anisa bukannya masuk ke dalam lift, dia malah berdiri di depan pintu yang sudah terbuka. Dia bingung menatap kosong! mengingat-ingat kantor Pramana di lantai berapa.


Anisa benar-benar lupa, dan bingung harus ke lantai berapa. Kemudian dia mengeluarkan ponselnya untuk menelpon Pramana. Eh ternyata hp-nya lowbat, tidak bisa menelpon sama sekali dan langsung off.


Kedua manik matanya Anisa mencari-cari. Siapa tahu di lantai itu dan menemukan security untuk dimintai tolong mengantarkan ke lantai di mana kantor Pramana berada.


"Nggak ada bayang-bayang security di sini, aku harus minta tolong sama siapa?" Anisa kembali kebingungan harus pulang ke mana.


Dan pada akhirnya Anisa memutuskan untuk memasuki pintu lift. Pasrah aja dan coba ke lantai sebelumnya.


Ketika Anisa masuk ke dalam lift, beriringan dengan seorang pria yang rupanya pria yang tadi bertegur sapa dengannya.


Pria itu yang mengklik nomor lantai yang dia tuju, sementara Anisa bingung mau ke lantai berapa.


"Eh, anda lagi. Mau ke lantai berapa?" tanya pria tersebut setelah menyadari di dekatnya ada Anisa.


"Em ... itu, saya lupa tadi saya di lantai berapa!" Anisa tanpa kebingungan namun tetap dia menunjukkan senyum manisnya kepada pria tersebut.


Pria itu menatap tanpa ekspresi ke arah Anisa bibirnya pun menyungging. Membuat Anisa menjadi was-was, ngeri melihat ekspresi wajahnya itu yang perubah aneh.

__ADS_1


Pria itu terus manatapi Anisa dengan tatapan yang teramat menyelidik dari atas sampai bawah, dari bawah ke atas lagi dan anehnya ketika lift berhenti dan pintunya mau terbuka! dia klik lagi ke lantai lebih bawah, sehingga tidak berhenti di situ dan lift kembali bergerak.


"Kenapa Anda mengklik lagi? biarkan saya keluar! memangnya Anda mau ke lantai berapa?" Anisa menatap heran nggak ada pria tersebut yang semakin lama tubuhnya semakin menggeser dan mendekat.


"Nggak ... tujuan saya bukan ke lantai yang tadi itu, tapi ke lantai yang bawah!" jawabnya pria itu dan dengan mulai nakal, tangannya menyentuh bohong Anisa yang berisi.


Yang langsung Anisa tepis. "Maaf, jangan kurang ajar ya!" Anisa pun menggeser ke tempat lain, menghindari pria tersebut.


"Anda jangan sok suci, mentang-mentang tertutup sedemikian rupa! di dalam lift ini cuma ada kita berdua." Tatapan pria itu semakin tajam dan mengerikan bagi Anisa.


"Ya Allah ... tolong aku? jauhkan aku dari segala mara bahaya dan hindarkan aku dari pria ini jika memang berniat jahat!" gumamnya Anisa dalam hati.


"Sekalipun Anda berteriak tidak akan ada yang menolong Anda ataupun mendengar, saya siap pembayaran mu berapapun! Asalkan dirimu mau memuaskan saya!" tatapan pria itu semakin menakutkan, apalagi terus mengarah ke bagian dada Anisa yang tertutup dengan kerudung.


Membuat Anisa semakin panik ketakutan, wajahnya semakin tampak gusar dan gelisah. Menelpon Pramana pun tidak bisa karena ponselnya mati.


"Maksud Anda apa? saya wanita baik-baik bukan wanita bayaran seperti yang anda bayangkan." Anisa terus menghindar ketika pria itu mendekat.


"Tapi saya tertarik padamu, semalam saja saya butuh anda! setelah itu ... mungkin kalau saya suka ... akan berlangsung dan mengulang lagi!" ucapnya dengan kurang ajarnya serta tatapan yang nakal ke arah Anisa.


"Anda jangan kurang ajar ya? saya jelaskan, kalau saya ini wanita baik-baik bukan wanita bayaran. Apa Anda tidak melihat yang penampilan saya--"


"Hah, penampilan itu tidak bisa menjamin. Sekalipun Anda bercadar! belum tentu wanita baik-baik menurut saya." Timpal pria tersebut.


"Pram, tolong aku? jemput aku di dalam lift ini." Jerit Anisa dalam hati seraya melihat-lihat ke atas siapa tahu di sana ada CCTV dan dia langsung melambaikan tangan.


Pria tersebut semakin mendekat, dan tubuh Anisa semakin mentok ke dinding sehingga dia tidak bisa bergerak, apalagi ketika kedua tangan pria tersebut seakan membentuk pagar di kedua sisi Anisa agar tidak bisa bergerak ke kanan maupun ke kiri.


"Anda mau apa? jangan macam-macam ya! saya ini wanita yang bersuami." Ungkap Anisa yang semakin ketakutan.


Sejenak pria itu terdiam. Namun tidak perduli dengan pengakuan Anisa ....


.


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2