
"Makasih, kalau diizinin tapi jangan mencari aku ya? kalau kamu kangen dan nggak ada yang bikin kan susu jahe, bereskan kamar, pakaian, awas kalau cari-cari aku!" gumamnya Anisa.
"Eeh, siapa juga yang mau nyari kamu? nggak ada kali, justru aku bersyukur! gak ada yang masuk kamar ku lagi, mau mengintip aku mau mandi atau sudah mandi!" balasnya Pramana sambil mengulum senyumnya.
Kedua manik mata Anisa terbelalak dengan sangat sempurna ke arah Pramana. "Siapa bilang suka ngintip? itu kan nggak sengaja, enak saja bilang ngintip segala." Anisa mengerucutkan bibirnya.
Kedua netra mata Pramana sejenak menatap wajah Anisa yang membikin gemas, rasanya pengen gimana ... gitu! apalagi kalau sedang sedang menunjukan ekspresi wajah yang suka di aneh-aneh ataupun bibir yang mengerucut.
"Siapa sih laki-lakinya yang tega sama kamu? menghamili segala, gak mau tanggung jawab lagi. Aneh tu orang." Batinnya Pramana sambil anteng memandangi wajah Anisa.
Ketika Anisa menoleh ke arah Pramana, Pramana langsung mengalihkan pandangan ke arah yang lain.
"Kenapa? apakah ada yang salah dengan penampilanku?" Anisa lalu melihat dirinya meneliti apa yang salah dengan penampilannya saat itu, tapi dia rasa biasa saja lagian di dalam rumah kok.
"Nggak, gak ada pa-pa!" Pramana menggeleng.
Anisa beranjak, "Aku mau bantuin bunda masak dulu, lagian dah siang! kamu mau sholat dulu?"
"Hem!" melihat jam yang berada di pergelangan tangannya. "Ada mushola terdekat gak?"
"Ada, di samping!" sahutnya Anisa.
"Samping mana? kok aku nggak lihat ada mashola?" tanya Pramana sambil celingukan ke arah samping Anisa kanan dan kiri.
"Maksud aku samping rumah, bukan samping aku. Emangnya mushola segede kutil apa? aneh ..." Anisa menggeleng sambil menunjukan senyumnya.
"Dari tadi dong ... bilangnya samping rumah, bukan samping doang. Siapa yang salah!" Pram pun beranjak dari duduknya, lalu berjalan dengan niat mau mencari mushola.
Sementara Anisa masuk ke dapur untuk membantu bundanya memasak biar sholatnya bentar lagi.
"Pram nya mana Nisa?" tanya sang Bunda ketika melihat putrinya masuk dengan sendirian saja.
"Dia ke mushola, Bun ..." jawabnya Anisa.
"OOh mau salat di mushola samping! Bu Farida bergumam.
__ADS_1
"Hooh! Bunda, mau sholat aja dulu. Biar ini Nisa saja yang gantikan, nanti kalau Bunda sudah selesai. Aku yang gantian!" kata Anisa sambari mengambil alih kerjaan ibundanya.
"Ya sudah, kalau begitu Bunda mau salat dulu ya? masaknya yang enak biar di sayang suami," gumamnya sang Bunda sambil mengusap bahunya Anisa.
"Yang enak mah, beli saja, gampang!" Balasnya Anisa.
Kini Anisa, Bu Farida dan Pramana sedang menikmati makan siangnya bertiga. Karena pak Joni belum pulang dan makan siang di kantor, Aisyah pun baru akan datang nanti sore.
"Ya ampun ... Bun, di sini sepi banget ya? berarti kalau Anisa nggak ada, Bunda di sini sendirian?" Anisa menoleh pada sang ibunda sembari menikmati ayam goreng di mulutnya.
"Iyalah Nisa ... emang sama siapa? paling Bunda ikut nimbrung dengan tetangga, makan bareng ya kumpul-kumpul lah daripada Ibu sendirian kan? kadang juga Bunda mengikuti pengajian dan arisan!" jawabnya sang Bunda.
"Emangnya anak bunda cuman dua? Nisa dan Aisyah saja?" selidik Pramana menoleh pada Ibu Farida dan Anisa bergantian.
"Hooh ... cuman aku doang sama Kak Aisyah." Timpal Anisa sambil sekilas melirik ke arah Pramana.
"Sama dengan ibu mu, cuman dua. Lagian dulu pernah ada perkataan yang masih Bunda ingat! yaitu mau tukeran anak atau besanan dan ... sekarang kesampaian." Bu Farida tersenyum mengenang masa-masa lalu ketika anak-anaknya masih kecil dan begitu dekat dengan Bu Hajah Bella.
"Pantas ya, Bun. Ibu di sana sangat sayang dan perhatian sama aku kayaknya ... aku ini anaknya sendiri." Kenangnya Anisa, kalau di sana ingat Bunda, dari sini ingat ibu.
Selesai makan dan bersih-bersih Anisa dan Ibunda mengobrol di ruang keluarga, sementara Pramana dia tiduran di sofa panjang yang tidak jauh dari mereka berdua.
"Pram. Kalau mau tidur di kamar! Nisa suami mu suruh dia tidur di kamar! jangan tidur di sini nanti berisik." Bu farida menatap ke arah Pramana dan Anisa.
Sedangkan Pramana hanya menoleh saja, lalu dia memeluk bantal sofa sambil tiduran jangan pejamkan kedua matanya.
"Bunda ... di kamar yang mana? di sini kan kamar gak ada yang kosong lagi, ada juga kamar kak Aisyah. Nanti mau dipakai, orangnya datang gimana sih Bunda?" Anisa setengah berisik pada ibundanya.
Karena di rumah itu memang cuman ada kamar 4, orang tuanya, Aisyah dan dia sendiri. Tidak ada tambahan kamar walaupun rumah itu cukup luas dan dua tingkat, kamar tamu kosong tidak ada tempat tidurnya dan suka di pakai salat berjamaah, ada lagi kamar buat pembantu di dekat dapur.
"Nisa ... ajak di kamar mu! lagian kan kamarmu luas juga. Biarpun tempat tidurnya nya agak sempit, daripada di sini kasihan berisik dengan suara TV," sambungnya sang ibunda.
Lalu Anisa menghela nafas dalam-dalam sambil menghampiri Pramana. "Tidurnya di kamar? di sini berisik dengan suara televisi."
Pramana membuka kedua matanya melihat ke arah Anisa yang berdiri di dekat kakinya. Kemudian pria itu bangun "Emang kamar mu di mana?"
__ADS_1
"Lantai atas!" Anisa menuju ke lantai atas.
Pramana berdiri sembari merapikan kemejanya bagian bawah. "Ya udah, antar aku ke sana ngantuk banget nih." Seraya menggelengkan kepalanya.
Kemudian Pramana melipir melintasi tubuhnya Anisa yang sedang berdiri, namun tangannya malah meraih tangan Anisa seolah menuntun nya dan berjalan.
Anisa merasa kaget dan heran! namun dia tidak berbuat apapun selain mengikuti langkah Pramana yang mendekati anak tangga.
Bu Farida yang melihat Pramana menuntun tangan Anisa tersenyum simpul.
Setelah berada di lantai atas, 5 langkah dari tangga! Anisa menepis tangan Pramana. "Ngapain sih narik-narik tangan ku segala? cari kesempatan ya?"
"Eeh eh. Siapa yang mencari kesempatan? siapa juga yang memegang tanganmu? nggak ada!" elaknya Pramana sembari sedikit berhadapan dengan Anisa.
"Nggak ada apanya? jelas-jelas dari bawah sampai atas tangan mu itu menuntun tangan ku!" akunya Anisa sambil menunjukkan tangannya.
"Ck, mana ada sih? udah buruan ku ngantuk nih. Lagian jangan geer juga, aku ngelindur kali." Pramana mengusap wajahnya.
"Ngelindur apaan? orang belum tidur banget kok ngelindur!" gumamnya Anisa sembari berjalan mendekati sebuah pintu kamar yaitu kamar dia.
Lalu keduanya masuk ke dalam kamar tersebut, sebelumnya Pramana mengadakan pandangan ke setiap sudut ruang kamar Anisa dan di sana ada banyak foto Anisa dari mulai kecil sampai dewasa.
Karena matanya sudah hampir lima watt lagi, dia langsung saja menjatuhkan tubuhnya di atas tempat tidur Anisa yang hanya cukup untuk berdua saja, beda dengan tempat tidur dia di rumahnya tiga bantal juga masih leluasa.
Namun Anisa mendadak gugup. Bisa-bisanya pakaian dalam dia ada di dekat bantal sebelah, yang tentunya terhalang oleh tubuh Pramana.
"Aduh, gila ... kenapa itu ****** ***** ku ada di sana! mana bekas lagi aduh!" ekspresi wajah Anisa menunjukkan sangat cemas dan mengarahkan pandangannya ke benda tersebut.
Pramana yang mulanya terlentang malah kembali bergerak dan membalikkan tubuhnya menjadi posisi miring memunggungi Anisa yang sedang berdiri dan tentunya Pramana menghadapi benda kecil itu.
"Ach, jangan ..." suara Anisa beriringan dengan pergerakkan tubuhnya yang cepat mengambil benda tersebut. Namun sayang dia malah terpeleset dan tubuhnya jatuh menimpa badannya Pramana yang sedang tidur tersebut ....
...🌼---🌼...
Like komen dan dukungan lainnya. Makasih
__ADS_1