Pernikahan Yang Tak Di Anggap

Pernikahan Yang Tak Di Anggap
Danau


__ADS_3

"Lanjutkan obrolannya, kenapa berhenti? membicarakan saya ya? ayo ngaku? ha ha ha ..." suara Andre yang baru saja datang ke tempat itu untuk mengambil sesuatu.


"Abang, nggak kerja ya?" Anisa bertanya mengingat ini masih jam kerja.


"Kerja, tapi ada yang mau di ambil." Jawabnya Andre.


"Ini, Aden ... Neng Nisa nanya ... katanya danau tempat favorit den Pram di mana? bibi kan gak tau ... Den!" celetuknya Bibi.


Andre mengerutkan keningnya. "Emang kenapa?" memicingkan sebelah matanya kepada Anisa.


"Em, nggak ... cuman pengen tau saja tempat favoritnya dia dimana? tempat ibaratnya menenangkan pikiran atau mencari angin." Dalihnya Anisa sudah tanggung bibi dah bilang begitu pada Andre.


"Iya emangnya kalau udah tahu mau ngapain?" tanya lagi Andre kepada Anisa sembari menuangkan air minum ke dalam gelas lalu diteguk nya.


"Aku mau bikin surprise suatu saat nanti!" Anisa berusaha berkilah.


"Oh buat surprise foto abang sih di jalan xx di sana sebuah danau, kalau dari sini sih lumayan agak jauh!" jelasnya Andre sembari mengayunkan kakinya karena memang niatnya juga mau ke kamar miliknya untuk mengambil sesuatu.


Anisa terdiam. "Oh ... di jalan xx!" dalam. lalu melanjutkan kembali aktivitasnya berikutnya dengan wajan sodet sayuran ikan dan daging.


"ini Anisa sudah berada di dalam mobil yang dibawa kan oleh Mang Pei dan sekitar 5 menit lagi mereka akan sampai di kantornya Pramana di CP Pramegah.


Di sepanjang perjalanan, Anisa melamun! dia memikirkan apa yang akan diperbuat apakah dia akan menemui Adisty di danau tersebut atau justru akan mengatakan itu pada Pramana?


"Aku harus bisa menemui dia dan mengatakan kalau dia tidak perlu mendekati lagi Pramana dan ... berharap dia kembali padanya, karena Pramana sudah menjadi suamiku! kalau saja dia mau menikah! ya cari saja pria lain. Jangan mau ngejar-ngejar suami orang, biarpun Pramana dulunya kekasihnya. Dia harus sadar kalau sekarang udah lain cerita!" beberapa kali terlihat kepala Anisa mengangguk-angguk.


"Ya, aku akan menemuinya di danau tersebut dan aku tidak perlu mengatakan itu kepada Pramana. Biar dia tahu sendiri aja." Anisa terus bermonolog sendiri hingga akhirnya mobil yang jatuh bangun berhenti di sebuah parkiran.


"Neng sudah sampai," terdengar suara Mang Pei memecah lamunan Anisa.


"Oh iya Mang!" Anisa pun turun sembari membawa tempat makan siang Pramana.


Anisa menampakan kakinya di area parkiran tempat makanan lalu mengayunkan kedua kakinya melangkah memasuki kantor tersebut.


Bibir Anisa menerbitkan senyumnya yang ia perlihatkan pada karyawan dan staf. Sebelum akhirnya memasuki ruangan Pram yang tampak sedang sibuk.


"Assalamu'alaikum ... Yank." Anisa mendatangi Pram.

__ADS_1


"Wa'alaikum salam. Sayang ..." Pram menoleh sang istri.


Anisa meraih tangan Pram lalu diciumnya penuh hormat.


"Kamu belum makan juga, kan? tanya Pramana sembari menyentuh pipinya Anisa dengan lembut serta tatapan yang mesra.


"Belum, kan biar makan di sini biar bareng-bareng. Makan sekarang yo? apa mau salat dulu, belum salat kan?" tanya Anisa balik.


"Salat, udah ....ini baru balik sih dari mushola!" kata Pramana sembari mengangkat bokong dari kursi kebesarannya yang ia geser, berjalan mendatangi sofa.


"Ya udah, kalau gitu kita makan dulu yo?" Anisa seolah tidak sabar ingin segera makan dan dia sudah berniat, pulang dari sini dia akan langsung ke danau untuk menemui Adisty, dan waktu sekarang baru pukul 12.40 menit.


Mereka berdua makan bersama dan sesekali saling menyuapi. Walau dalam hati Anisa teringat pada ibunya, teringat ketika kadang dia bermanja dan di suapi sang bunda.


"Kenapa sayang? kok sedih ..." Pram yang peka melihat istrinya sedikit muram.


"Aku ingat ibu. Aku gak akan bisa bermanja lagi sama beliau!" Anisa menunduk sedih.


"Sayang ... jangan sedih ach. Nanti cantiknya hilang!" Pram mengangkat dagu Anisa yang lalu ia usap sudut matanya yang berair.


"Yank, aku pulang dulu ya?" pamitnya Anisa selepas membereskan tempat makan yang sudah dia jinjing kembali.


"Kok buru-buru sayang? masih kangen juga nih!" ucapnya Pramana sambil mesem.


"Apaan sih? lebay banget, malu ih," Anisa sembari menggoyangkan bahunya dan melirik ke arah sekretaris Pramana yang tersenyum tipis.


"Kenapa mesti malu? Bu Echa pasti mengerti kok!" Pramana menolehkan kepalanya kepada sekretaris pernyataan tersebut nama-nama Echa.


"Udah ah, Assalamualaikum! bu Echa ... permisi, mari!" Anisa meninggalkan ruangan tersebut.


Pram mendudukan diri di kursi kebesarannya. "Ada apa?"


"Ini agenda Minggu depan dan ini juga harus di tandangani," ucap Echa sambil memberikan berkas pada Pram.


"Oke. Emang minggu depan agenda apa aja?" tanya Pramana sembari membubuhkan tanda tangannya di kertas setelah dia baca terlebih dahulu.


"Ada meeting di hotel bintang 5 di jalan xx mengenai kerjasama selama ini, dan ... ada beberapa pertemuan di luar kota seperti di Bandung dan Surabaya," ujar Echa.

__ADS_1


"Bisa mengajak istri saya kan? saya tidak mau kalau cuma berdua dengan anda, apalagi sekarang ada istri! jadi saya pikir lebih baik membawa istri saya." Pram memberikan berkas yang sudah ia tandatangani itu.


"Tentu boleh, Pak. Tetapi ke Bandung tuh ... paling perjalanan 1 hari saja. Kecuali di Surabaya memerlukan waktu beberapa hari!" sambung Pram.


"Oke, tidak apa. Biarpun ke bandung cuma sehari juga akan saya angkut istri saya. Ke Surabaya juga apa lagi, ya hitung-hitung ... bulan madu lah. Karena bulan madu belum kesampaian, belum ada waktu! paling bisa juga bulan depan, tolong atur bulan depan biar saya bisa bulan madu!" ungkap Pram sambil menggerakkan kursi kebesaran nya itu ke belakang.


"Baik, Pak. Bulan depan saya agendakan untuk sepekan berbulan madu, bulan madunya kemana Pak? mungkin bisa saya urus!"


"Em ... Kemana ya? Saya lupa istri saya maunya ke mana! nanti saja lah diomongin lagi!" Pram siap kembali untuk berkutat dengan kesibukannya sendiri, kemudian sekretarisnya pun mengundur diri dan meninggalkan tempat tersebut.


...----------------...


"Mang tolong antarkan aku ke jalan xx ya?" pintanya Anisa kepada Mang Pei.


"Ke jalan xx. Ada urusan apa Neng?" mang Pei malah bertanya sembari melirik, melihat ke arah Anisa dari kaca spion yang ada di atas kepalanya.


"Nggak ada apa-apa! cuman mau lihat-lihat aja kali aja tempatnya cocok buat nanti aku bikin surprise untuk suamiku! bukannya di sana ada danau kecil ya Mang?" ucapnya Anisa yang ujung-ujungnya bertanya juga.


"Oh iya, Neng. Di sana ada danau, tempatnya tenang dan nyaman dan sejuk! bolehlah kalau Neng mau ke sana. Mamang antar!" mang Pei menyetujui permintaan dari Anisa untuk mengantarkannya ke sana.


"Em ... Mang, tapi mamang pulang aja setelah aku nyampe di sana, soalnya mamang di tunggu ayah, mau mengantar ayah ke suatu tempat." Anisa tidak mau ditungguin oleh mang Pei dan menyuruhnya pulang saja setelah dirinya sampai nanti.


"Lho kok gitu, Neng? nanti Neng pulang sama siapa? kalau memang pulang duluan?" mang Pei keheranan.


"Aduh Mamang ... nggak usah khawatir, aku bisa pulang sendiri pakai taksi, tidak akan ke dasar juga, masalahnya Ayah minta tolong agar mang Pei mengantarkannya tadi kan bilang gitu!" sambungnya Anisa sembari melihat ke arah depan.


"Iya sih ... tadi tuan menyuruh seperti itu baiklah kalau begitu," mang Pei melanjutkan memutar kemudi dan belok bukan menuju rumah melainkan ke tempat yang Anisa tuju yaitu danau kecil.


Selang berapa puluh menit kemudian, mobil yang dikendarai mang Pei tiba di area tempat tersebut. dan Anisa pun langsung turun berdiri menghadap ke arah manf Pei.


"Oke, Mang. Mamang pulang aja ya? nanti aku pulang sendiri kok naik taksi, bilang aja sama ibu dan ayah kalau aku ada urusan. Sebentar saja!" ucapnya Anisa kepada sang sopir.


Mang Pei hanya mengangguk lalu memutar kembali kemudinya, yang kemudian meninggalkan area tersebut sementara Anisa masih berdiri melihat ke arah mobil itu ....


...🌼---🌼...


Makasih ya reader ku masih setia, Jangan lupa tinggalkan jejaknya.

__ADS_1


__ADS_2