
Anisa berjalan sambil celingukan di area danau tersebut. Mencari-cari seseorang yang ia yakini adalah Adisty.
"Bener sih ... tempatnya sejuk dan nyaman. Emang juga bila hati lagi kalut dan sedih atau penat." Anisa menghirup udara yang sebanyak-banyaknya nya dari sekitar. Biarpun dalam keadaan siang begini tapi terasa sangat sejuk.
Dan pada waktu itu banyak juga orang-orang yang berkunjung ke sana terutama muda-mudi yang masih mengenakan seragam putih abu yang juga menikmati indahnya danau.
"Hem ... di mana orangnya?" Anisa melirik jam tangan yang melingkar di tangannya kirinya tersebut.
Setelah beberapa saat manik mata Anisa mencari keberadaan Adisty. Pada akhirnya kedua manik mata Anisa menemukan sosok yang ia yakini itu Adisty.
Anisa berjalan menghampiri wanita cantik yang sepertinya tidak menyadari kedatangannya.
Adisty tengah duduk dan menikmati minumnya, menikmati pemandangan yang sejuk. Nyaman dan cukup memanjakan mata.
Dalam hatinya Adisty gelisah dan bertanya-tanya, apakah Pramana akan datang ataukah sebaliknya? sementara nomornya sudah tidak bisa dihubungi lagi, makanya dia mengirimkan surat bersama foto dirinya dan Pramana waktu itu! sengaja dia kirimkan agar istrinya pun bisa melihatnya sebab dengan itu rumah tangganya setidak akan goyah dan itu yang menjadi harapan Adisty.
"Aku yakin kalau amplop itu akan sampai ke tangannya Pramana dan membacanya! bagus-bagus istrinya membaca juga dan melihat foto kemesraan kami berdua, ha ... agar dia ilfil pada Pramana dan pada akhirnya Pramana akan kembali padaku!" begitu dalam hati.
"Hai, Assalamu'alaikum?" tiba-tiba suara itu memenuhi gendang telinga Adisti yang langsung menoleh ke arah sumber suara.
Tatapan tajam Adisty yang seakan ingin menghunus jantungnya Anisa, dibarengi rasa heran dan kaget. Ia pun celingukan mencari keberadaan Pramana dibalik kedatangan Anisa. Tetapi pria itu tidak nampak dalam pandangannya.
"Kenapa tidak menjawab salam ku? menjawab salam itu hukumnya wajib lho! heran ya dan pasti bertanya-tanya mana Pramana? kenapa tidak datang?" ucapnya Nisa seolah-olah sudah tahu apa yang ingin diucapkan oleh Adisty atau yang berada dalam pikirannya.
__ADS_1
Tidak pernah sedikitpun terlintas dalam benaknya Adisty kalau yang datang itu adalah Anisa. "Kenapa kau ada di sini dan mana Pram?"
"Hem, baiklah kalau aku tidak ingin menjawab salamku aku jawab sendiri aja. Wa'alaikumus salam." Anisa mendudukan dirinya di kursi yang berhadapan dengan Adisty.
"Ck, kau kenapa ada di sini dan mana pram! dimana dia?" lagi-lagi Adisty bertanya sambil mendudukan kembali bokongnya di tempat semula.
"Em, kamu mau tahu atau mau tahu banget?" Anisa dengan tenangnya dan ia memesan minumnya.
"Dasar wanita gila! di tanya malah tidak nyambung," Adisty tampak dihinggapi rasa kesal dibuatnya.
"Kenapa, kau bilang aku gila? apakah aku seperti itu? makanya aku meninggalkan calon suami ku!" sindir Anisa sambil menarik gelas yang di suguhkan penjual minuman.
"Kau! kau tidak perlu menyindir ku, tidak kamu sindir pun aku tahu. Buat apa kamu berada di sini? dan tahu dari mana tempat ini!" Adisty melepas tatapannya yang tajam pada Anisa.
"Ups, aku tidak menyindir mu. Buat apa aku menyindir mu? aku cuma bilang. Kalau aku gila. Dan kamu bilang seperti itu kan?" Anisa masih bersikap tenang.
"Tentu aku selalu bersama dia, dan dia tidak pernah jauh dari ku!" Anisa memotong perkataan dari Adisty.
Mendengar perkataan demikian, membuat hati Adisty memanas bak terbakar api. "Kamu itu tuli atau apa sih? sehingga tidak menjawab pertanyaan ku?"
"Kalau kamu bilang aku tuli ... mungkin iya karena aku tidak mau mendengar wanita yang terus merengek minta suami orang. Dan aku tidak ingin mendengar kalau dia terus merajuk meminta suamiku kembali padanya! Padahal dia tahu sendiri kalau Pramana itu sudah menjadi suami ku dan itu karena ulahnya sendiri kenapa dulu di tinggalkan?" mendengar jawaban itu seakan-akan membuat adisty terkena mental.
Tangan Adisty mengepal kesal, giginya beneran dia marah karena omong Anisa selalu mengingatkan pada dirinya. "Apa maksudmu ha?"
__ADS_1
"Aku. Aku tidak punya maksud apa-apa! aku hanya ingin mengingatkan saja pada mu! kalau suami ku itu sudah menjadi milik ku! jadi aku berharap kamu tidak pernah berharap lagi untuk kembali padanya." Jelasnya Anisa kembali menyedot minumnya yang terasa segala tenggorokan.
"Heh dasar wanita tidak tahu diri, kau itu sudah dipinjamkan. Kau itu bagai menyewa barang dan sekarang sudah waktunya barang yang kamu pinjam itu dikembalikan bukan dimiliki!" ucapnya Adisty sambil sedikit menggebrak meja.
Anisa menyunggingkan bibirnya! ia tunjukkan senyumnya kepada Adisty dengan sangat tenang.
"Tapi sayang sekali, kalau Pramana itu bukanlah barang yang dapat dipinjam atau dikembalikan kapan saja! dia manusia dan dia juga suamiku. Aku yang lebih berhak akan dirinya, bukan wanita lain yang sekalipun wanita yang dulu sangat dia cintai!" Anisa menatap lekat pada wanita yang tampak marah kepada dirinya.
"Dengar ya wanita kurang ajar, tidak tahu diri. Kamu itu hanya wanita pengganti untuk menjadi mempelai sementara dan sekarang aku sudah kembali dan seharusnya kamu itu sedikit tahu diri kalau waktu kamu bersama dia itu sudah habis. Sudah waktunya kamu kembalikan dia padaku bukan dimiliki terus menerus!" ucapnya Adis di penuh dengan nada cemoohan.
Anisa memejamkan matanya kuat-kuat, di saat Adisty berkata serta hinaan. "Saya memang tidak tahu diri emang saya juga mungkin kurang ajar karena aku sudah memiliki dia! menghabiskan waktu bersamanya, tetapi Apa aku salah karena sementara diri kamu sendiri memberi kesempatan itu!"
"Saya sudah bilang ... dan itu semua kesilapan,Anisa : kini saya akan merubah diri, manja"di istri yang baik yang sempurna :i Pramana. Emangnya cuma kamu saja yang bisa?" Adisty mencibirkan bibirnya tersenyum sinis.
"Saya juga saat ini ingin bilang sama kamu, kalau Pramana itu tetap akan menjadi suamiku. Bukan kah Pramana sudah bilang kalau dia tidak ingin kembali padamu apapun alasannya!" jelasnya Anisa.
Bikin Adisty semakin geram, marah pada Anisa yang sedari tadi beradu mulut dan di sudutkan tersenyum.Tidak terpikirkan sama sekali di danau ini bukannya Pramana yang dia temui! yang ada malah ketemu istrinya.
"Hem, baiklah mulai sekarang kita akan bersaing secara sehat dan siapa yang akan mendapatkan Pramana, dan kau jangan mentang-mentang sekarang telah memiliki dia saat ini. Karena nanti dia akan menjadi milikku kembali!" Adisty sangat percaya diri.
"Silakan saja jika kamu menganggap kita akan bersaing untuk mendapatkan Pramana! karena pada kenyataannya aku sudah memilikinya bahkan dengan seutuhnya, palingan ... bila nanti kamu mendapatkannya lagi, apa akan menjamin? kalau kamu tidak akan pergi lagi di hari pernikahan membuat Pramana kecewa dan sakit hati!" Anisa mengerahkan suaranya ke dekat telinga Adisty sembari pergi meninggalkan tempat itu begitu saja.
Adisty tidak mampu berkata-kata lagi, Dia hanya bisa menggebrak meja dengan gigi yang menyengat dan kepalan tangan yang berada di bibir meja, matanya Adisty melotot ke arah punggung Anisa yang berlalu tampak tenang tenang ....
__ADS_1
...🌼---🌼...
Apa kabar reader semua! semoga baik ya, hanya doa dari jauh yang bisa kuberikan pada kalian semua!