
Setelah belanja semua keperluan Anisa, dan semuanya Pramana yang membayar. Anisa pun diajak Pramana untuk makan malam di mall tersebut.
"Gimana kalau kita makan dulu? kamu mau makan di mana dan makan apa?" tawarnya Pramana pada Anisa yang tengah berjalan menenteng beberapa paper bag.
"Terserah mau makan di mana dan mau makan apa? apa aja aku suka kok!" jawabnya Anisa dengan nada datar.
"Apa aja kau sukai emangnya mau? kalau saya berikan kamu rumput," ucap ucap Pramana sembari menggelengkan kepalanya dengan bibir mesem.
"Ya tidak apa-apa! kalau kamu mau ngasih aku rumput, asal rumputnya berbalut daging he he he ..." balasnya Anisa sembari nyengir.
"Hah. Nggak lucu!" seru Pramana.
"Ya, aku mau lah dikasih makan rumput. Bila aku nya seekor hewan." Jawabnya kembali Anisa yang terus berjalan menuju sebuah restoran yang ada di dalam Mall tersebut.
Dan pada akhirnya Anisa hanya memesan spaghetti saja, sementara Pramana memilih daging dan mie tiaw, juga minumannya jus buah.
"Seandainya ... disaat seperti ini kamu bertemu dengan orang yang pernah menghamili mu, apa yang akan kau lakukan?" tiba-tiba Pramana bertanya seperti itu kepada Anisa.
Membuat Anisa melongo. "Apa maksud dia bertanya seperti itu? batinnya Anisa kemudian menundukkan pandangannya.
"Kenapa diam! tidak menjawab, ini kan seandainya ... seandainya kamu bertemu laki-laki yang bejat dan tidak bertanggung jawab itu! apa yang akan kamu lakukan?" ulangnya Pramana sembari menatap lekat ke wajah Anisa yang tengah menunduk.
"Apa ya?" Anisa mengangkat wajahnya namun pandangannya tetap melihat ke arah meja. "Aku ... tidak akan melakukan apa-apa! karena aku tidak ingin melihatnya lagi!"
Sejenak Pramana pun terdiam dan mengunci pandangannya ke arah Anisa, yang tiba-tiba Gadis itu mengangkat wajahnya kembali melihat ke arah Pramana. Sehingga Pramana segera mengalihkan pandangan ke arah lain.
"Kenapa kau melihatku seperti tadi? apa ada yang aneh dengan penampilan ku?" tanya Anisa karena bagaimanapun dia tahu kalau Pramana tadi melihatnya terus.
"Hah ge'er. Siapa juga yang lihat kamu! mana ada," elaknya Pramana sembari meneguk minumnya.
"Emangnya aku nggak tahu apa! dari tadi lihat mulu," gumamnya Anisa yang nyaris tidak terdengar, namun Pramana dapat mendengar gumaman Anisa tersebut.
"Benarkah aku melihat mu terus!" Pramana terlihat kikuk sembari mencoba menyembunyikan perasaannya.
Kemudian Anisa terdiam dan kepikiran akan tadi siang di kantor Pramana, yang tidak sengaja dia melihat keberadaan hendar di sana. Ingin sekali Anisa menanyakan hal itu pada Pramana, siapa tahu Pramana mengenalnya! tapi dia pikir ... bisa saja Pram tidak mengenalnya, mungkin saja hanya kebetulan hendar berada di sana dengan urusan lain.
__ADS_1
"Kenapa melamun memikirkan apa? itu spaghetti nya kenapa cuma di aduk-aduk doang ?makan dong!" suara itu mengagetkan Anisa yang tengah melamun.
"Oh nggak kok!" lama-lama kemudian Anisa mengaduk kembali dan memasukkan ke dalam mulutnya spaghetti tersebut.
Saat ini Anisa dan Pramana sedang menikmati makan malamnya, keduanya yang memilih duduk di pojokan yang tepatnya dekat dengan jendela kaca.
Dapat melihat dengan jelas siapa saja yang datang memasuki tempat tersebut, begitupun dengan Anisa. Dia melihat seorang pria yang datang ke tempat tersebut.
Dan membuat hati Anisa berdegup sangat kencang seakan ingin lompat dari tempatnya. Dia segera memalingkan mukanya karena Anisa tidak mau bertemu dan melihat laki-laki itu, yang tiada lain dan tiada bukan adalah Hendar.
"Ya Allah ... kenapa ya diomongin sama Pram menjadi kenyataan, kenapa realitanya sesuai dengan ekspektasi?" Anisa menempelkan tangannya di kening.
Melihat wajah Anisa yang mendadak pucat Pramana merasa heran. Dan dia khawatir kalau Anisa kenapa-napa. "Kamu kenapa! sakit?"
Anisa menoleh pada Pramana seraya berkata dan memalingkan kepalanya. Tidak kenapa-napa."
"Terus kenapa wajah mu kayak gitu! kayak orang ketakutan, sudah. Makan? Pramana menunjuk spaghetti milik Anisa yang masih setengahnya itu.
"Tapi aku sudah kenyang!" Anisa beralasan, padahal bukan sudah kenyang tapi ... rasanya bercampur aduk. Tidak karuan membuat mood makannya pun turun.
Dan Anisa pun langsung mengangguk lalu pada akhirnya Pramana mengambil piring spaghetti Anisa untuk dia habiskan.
Perasaan Anisa yang bercampur aduk, sehingga kadang-kadang merasa ingin ke toilet, tapi justru kalau dia sendirian. Takut bertemu atau berpapasan dengan orang itu! yang sekarang entah duduk di mana Anisa tidak ingin menoleh kembali.
"Kau ada di sini? sedang diner ya?" tiba-tiba suara itu menghampiri dan menyapa.
"Oh, iya nih ... kamu di sini juga?" balas Pramana langsung berdiri dan mengulurkan tangan untuk bersalaman dengan orang tersebut.
Dan alangkah terkejutnya Anisa, ternyata orang yang menghampiri Pramana itu adalah Hendar, ternyata mereka saling mengenal. Membuat Anisa semakin menundukan wajahnya lebih dalam dan tidak ingin memperlihatkan wajahnya pada pria tersebut.
Namun Hendar malah duduk di hadapan Anisa, kebetulan Pramana yang menyilahkan nya. Anisa tidak tahu harus menyembunyikan wajahnya bagaimana lagi.
"Baru kali ini aku melihatmu makan berdua sama wanita cantik." Namun Hendar merasa curiga dan penasaran dengan wajah wanita yang dihadapannya itu berasa kenal.
"Ach baru lihat saja." Gumamnya Pramana.
__ADS_1
"Aduh gimana dong? aku nggak mau ketemu dia, dan aku nggak mau lihat dia lagi!" ucap Anisa dalam hati.
Pramana melihat keadaan Hendar yang terus-terusan melihat dan memperhatikan ke arah Anisa yang tampak menunduk dalam.
"Hem, cincin pernikahan kita mana?" suara Pram memudarkan konsentrasi Anisa sehingga wajah Anisa yang sedang menunduk dan menutupi dengan tangan! terbuka juga. Karena di jari Anisa tidak ada cincin pernikahan yang Pramana maksud.
"Ha? cincin. Aku lupa menyimpannya di mana? tapi sepertinya di kamar sih," jawabnya Anisa dengan refleks.
Dan Hendar dibuat sangat terkejut karena ternyata wanita yang dihadapannya itu adalah Anisa, wanita yang pernah dia gagahi dan terakhir ketemu tadi siang di kantor Pramana.
"Ka-kamu Anisa?" suara Hendar menghentak namun bergetar dan pandangannya terkunci ke arah Anisa.
Tetapi Anisa tidak menjawab sama sekali, jangankan menjawab. Mengangguk pun tidak.
"Apa kalian saling mengenal?" tanya Pramana sembari melihat ke arah Hendar dan Anisa bergantian dengan tatapan yang penasaran.
Anisa kembali menundukkan kepalanya sangat dalam, dia benar-benar tidak ingin bertemu dengan Hendar, namun gimana caranya untuk menghindar? sudah terlanjur.
"Te-tentu aku mengenal dia ... dia itu!" suara Hendar terbata-bata.
Dan Anisa langsung mengangkat wajahnya melihat ke arah Hendar yang masih juga melihat ke arah dirinya, dengan tatapan seakan tak berkedip.
"Dia ... saudaranya tetangga ku! sepupunya Deni, bener kan?" Hendar berkata seolah tidak ada apa-apa yang signifikan antara mereka berdua.
"Oh, kau kenal juga sama Deni? dia sahabat kuliah ku!" timpalnya Pramana.
"Deni yang adiknya Dea itu, iya kenal dia tetangga ku, jaga teman ku!" tambahnya Hendar kembali sambil terus memandangi ke arah Anisa yang sekarang lebih tampak cantik dan terawat.
Namun Pramana menangkap sesuatu yang aneh. Bahkan dia mencurigai sesuatu. "Apa mungkin orang ini yang telah menghamili Anisa? apa mungkin dia yang sudah mengambil kesuciannya Anisa? kalau benar, kurang ajar sekali, ternyata laki-laki ini, tapi aku nggak mau bertindak gegabah! Siapa tahu bukan dia." Monolog Pramana dalam hati.
Hampir saja Pramana ngezas orang yang ada di hadapannya itu atas kecurigaan yang lahir dari perasaannya sendiri. Tetapi ketika memperhatikan sikap Anisa yang begitu kaku dan tampak gusar, sementara Hendra pun memang sedikit aneh. Membuat Pramana yakin! kalau antara Anisa dan Hendar pasti ada suatu ....
...🌼---🌼...
Ayolah jangan pelit-pelit gunakan jempolnya untuk like dan komen juga dan aku banyak-banyak ucapkan terima kasih.
__ADS_1