
Drettttt ....
Drettttt ....
Ponsel Pram berdering dan sang empu langsung menggelinjang dari sisi Anisa dan mengambil ponselnya yang terus bergetar.
"Siapa Yank?" tanya Anisa sambil merapikan pakaiannya.
Sejenak Pram terdiam dan menatap ke arah layar ponselnya. Di mana tertera di sana kontak yang bernama Adisty memanggil.
Kemudian Pram memberikan ponsel tersebut kepada Anisa. "Ini sayang aja yang bicara sama dia dan tanya apa maunya!"
Awalnya Anisa terdiam dan tidak segera mengambil ponsel tersebut. Namun karena Pramana kembali memberikan handphone nya, pada akhirnya Anisa mengambil dan menggeser ikon warna hijau.
Dengan tampak ragu-ragu Anisa menjawab telepon tersebut. "Halo ... maaf Ada perlu apa ya?"
"Saya ingin bicara sama Pram ada kan orangnya?" Suara Adisty dari ujung telepon sana.
Anisa melirik ke arah Pram yang menetap dirinya. "Ada, tapi dia sedang tidur apa ada perlu ... nanti aku sampaikan!"
"Bisa nggak bangunin? soalnya saya ingin bicara sama dia penting!" ucap kembali suara Adisty dari ujung telepon.
"Maaf, tidak bisa. Aku nggak berani bangunin dia, kalau ada perlu bicara saja sama aku nanti aku sampaikan kok sama dia, dan itu pesannya yang pernah dia berikan kepada ku. Kalau seandainya ada telepon dari kontak Adisty, bicara saja denganku!" jelasnya Anisa sembari kembali menoleh ke arah Pramana yang tersenyum kepadanya lalu juga mengucup keningnya.
"Ck. Oh ya, gimana? kamu mau kan melepaskan Pramana untukku? lagi pula kamu sudah berbulan-bulan hidup bersamanya! sudah cukuplah untuk menjadi pengganti bahkan mungkin kamu sudah mendapatkan semuanya dari Pram, dan ... sekarang giliran aku untuk mendapatkan nya!" Suara Adisty yang terdengar sedikit menekan.
Degh.
__ADS_1
Sesaat Anisa terdiam dia menatap kosong ke arah Pramana. Sementara itu dia menyiapkan diri untuk berkata sesuatu yang tentunya akan berkualitas. Anisa mengumpulkan keberaniannya untuk mengatakan sesuatu pada Adisty.
"Dulu mungkin iya saya hanya sebagai pengganti mempelai wanita yang telah kabur tapi untuk saat ini aku dan Pram sudah menikah dengan sah. Dan tak ada alasan saya untuk meninggalkan nya Dia sangat mencintaiku. Begitupun aku yang tidak akan membuatnya kecewa jadi maaf ya aku tidak bisa meninggalkannya apalagi untuk seseorang yang pernah mengecewakan nya!" suara Anisa sedikit bergetar, dalam hati yang paling dalam rasanya ... tidak tega juga harus berkata seperti itu.
Pram yang mendengarkan perkataan dari Anisa setengah bertepuk tangan, dia merasa sangat senang istrinya berkata demikian dan berapa kali dia mencium pucuk kepala sang istri.
"Kamu jangan kurang ajar ya? aku meninggalkannya karena terpaksa, karena sebuah tujuan dan kini aku kembali untuk dia. Aku ingin menikah dengannya dan memperbaiki diri, aku sangat mencintainya dan kamu perlu tahu! kalau sebenarnya dia itu tidak cinta sama kamu cuma terpaksa doang! karena wanita satu-satunya yang dia cintai hanya aku." Sepertinya Adisty sedikit kesal mendengar pengakuan dari Anisa.
Anisa menatap ke arah Pram yang menggelengkan kepalanya, seolah-olah dia tidak membenarkan perkataan dari Adisty dan Anisa tidak perlu termakan omongannya Adisty.
Karena Anisa terdiam Adisti pun kembali terdengar berkata. "Dengan ya kamu itu seorang wanita yang lumayan cantik menarik dan kamu akan begitu dengan mudahnya mendapatkan pria yang lebih baik dari Pram, dan aku tahu ternyata kamu menikahi plam itu karena untuk menutupi aibmu kan?"
Kedua menikmati Anisa melotot dengan sangat sempurna ke arah Pram, kenapa Adis bisa tahu dengan apa yang sudah menimpa dirinya. Apa Pramana yang cerita?
Dan Pram terus menggelengkan kepalanya, dia tidak mengakui kalau dia pernah cerita tentang Anisa kepada Adisty dan rasanya tidak pernah cerita sama siapapun. Sebab itu terlalu pribadi bagi Pramana.
Membuat wajah Anisa merah padam, Anisa tidak sanggup lagi melanjutkan perdebatannya dengan Adisty dia menyimpan ponsel tersebut di atas tempat tidur dan kedua tangannya menangkup wajah yang tampak marah kesal sakit hati sehingga dia pun tidak kuasa untuk menahan air matanya yang berjatuhan.
Pram langsung mengambil ponselnya dan mematikan sambungan telepon tersebut. "Sayang demi Tuhan aku tidak pernah cerita sama siapapun tentang kamu, dan dengarkan kata-kata Adisty."
"Kalau seandainya kamu tidak cerita sama siapapun terus dia tahu dari siapa kamu tega ya? hik-hik-hiks ..." Anisa menoleh serta suara yang parau, kemudian dia kembali menutupi wajahnya yang banjir dengan air mata yang begitu derasnya. Luapan dari perasaan hati yang teramat sakit.
Lantas Pram memeluk Anisa yang mulanya menolak, tidak ingin dipeluk. Tapi pada akhirnya dia malah menyembunyikan wajahnya di dada Pramana yang bidang dan tanpa memakai baju tersebut.
"Sayang menangislah sampai kau puas. Sampai hatimu merasa tenang dan aku akan selalu ada di sini bersamamu!" Pram terus memeluk Anisa dan sekali mencium baju kepalanya.
Dan Anisa terus saja menangis sampai terisak-isak, meluapkan rasa sesak di dadanya. Tapi lama-lama Nisa pun menyadari, buat apa ditangisi? dan buat apa sakit hati? toh yang dikatakan Adisty memang benar begitu adanya, kalau waktu itu dia tengah hamil dan kebetulan Pramana kehilangan mempelai wanitanya.
__ADS_1
Sehingga pada akhirnya pelaminan menyatukan mereka berdua dan bahkan sampai dua kali acara akad untuk mengesahkan pernikahan antara ia dan Pram.
Tinggallah kini Anisa harus berusaha untuk mempertahankan apa yang menjadi miliknya, jangan sampai menjadi milik orang lain sementara dia tersisihkan ke belakang ataupun terhempas.
Kemudian Anisa mengusap wajahnya yang basah dengan air mata tersebut, Pramana pun mengambilkan tisu yang berada di atas nakas samping dia. Ikut mengeringkan wajahnya sang istri.
"Sudah selesai nangisnya?" Tanyakan sembari menyimpan tisu kembali ke tempatnya dan mendapat anggukan dari Anisa.
"Mau menangis lagi nggak? Apa Nanti aja nangisnya kalau kita sudah--"
"Sudah apa? Jangan mesum ya, aku sedang sedih." Anisa memotong perkataan Pramana sembari mengusap kembali sudut matanya itu.
"Nggak-nggak ... Gak mesum, he he he ..." lalu menarik kembali kepala Anisa ke dalam pelukannya.
Anisa pun kembali menenggelamkan wajahnya di sana, membalas pelukan pria itu yang penuh dengan kehangatan kenyamanan dan ketentraman.
"Aku mau kamu menjadi wanita yang kuat yang tidak mudah terkena katakan orang apalagi dengan wanita yang ingin merebut suamimu ini," ucap Pram dengan lirih.
Anisa mendongak sesaat melihat wajah Pramana. Merasa ganteng banget ya sehingga diperlukan sama wanita?" lantas kembali menyembunyikan wajahnya tidak di dadanya Pram.
"Ha ha ha ... tentunya aku merasa bangga karena banyak dicintai oleh beberapa wanita tapi tentunya yang ada di hati aku hanya satu orang saja bila pun lebih itu pasti ada masa lalu dan masa depan dan masa depan aku adalah dirimu!"
"So sweet ... benarkah seperti itu?" lagi-lagi wajah Anisa mendong dan langsung mendapat kecupan di kening dari suaminya. Sehingga membuat kedua manik Anisa terpejam.
Nyess ...
Rasanya hati ini tenang ... mendapat kecupan dan perhatian dari sosok suami. Berasa tiada lagi wanita yang sangat bahagia di dunia ini selain dirinya sendiri ....
__ADS_1
Bersambung