Pernikahan Yang Tak Di Anggap

Pernikahan Yang Tak Di Anggap
So sweet


__ADS_3

Wajah Pramana menjauh dari wajah Anisa, sudah terhitung dua kali ini Pram menyentuh bibir manisnya Anisa. Baru saja dia menikmatinya lagi tanpa penolakan dari Anisa yang mulai menikmatinya.


Anisa membuka manik matanya yang beberapa saat barusan terpejam. Dan wajahnya berubah merah dan lantas tertunduk malu.


Bibir Pram tertarik ke samping membentuk senyuman. Tangannya menyentuh leher Anisa yang terasa nyess di hati Anisa.


Dengan ibu jari mengusap pipi Anisa yang halus nan lembut. "Tidak usah malu, kita akan terbiasa seperti ini." Lirihnya Pram sambil menatap lekat, wajah Anisa yang memerah tersebut.


"Em, aku ... aku!" Anisa tampak gugup.


"Nggak marah, kan. Aku menyentuhnya?" tatapan Pramana semakin lekat memandangi wajah Anisa.


"Aku, mau ke kamar dulu, sudah malam." Anisa buru-buru berdiri sehingga Pram menarik tangannya dari leher Anisa.


Pram menatap punggung Anisa dengan tatapan kecewa yang menutup pintu kamarnya. Lalu Pram menjatuhkan punggungnya ke tempat tidur dengan kasar.


"Hah ...."


Dengan bibir yang senyum mengembang, membayangkan yang terjadi barusan, mengusap bibirnya yang rasanya masih terasa hangat dan lembutnya dan lembab nya masih menempel.


Senyum Pram terus mengembang biarpun kedua matanya sudah mulai terpejam seiring dengan beberapa kali menguap.


Anisa pun tidak bisa cepat tidur. Dia malah melamun sambil baringan menatap langit-langit kamar. Terbayang dan masih terasa sentuhan dari Pram yang lembut dan menimbulkan sensasi yang aneh.


Jarinya menyentuh bibir yang rasanya masih menempel bibir Pramana di situ. Anisa tersenyum dengan wajah malu sendiri sehingga menutup nya dengan kedua telapak tangan.


Malam semakin larut dan berganti dengan pagi yang indah, terdengar suara kicauan burung yang berasal dari belakang rumah yaitu peliharaan pak Lukman.


Kebetulan hari ini adalah hari Minggu jadi Pramana pun bisa bersantai di rumah dan dia tampak sudah berada berjalan-jalan di sekitar kolam renang sambil berolah raga.


Nisa pun sudah menyediakan susu jahe kesukaannya Pram dan dia langsung membawakan nya ke belakang rumah, dimana Pramana berada di sana sedang meregangkan otot-otot nya.


"Aku simpan di sini ya? menyimpan gelasnya!" suara Anisa sembari menyimpan gelas susu di kursi yang berada samping kolam renang.


"Hem!" jawabnya Pramana sembari menggerak-gerakan tubuhnya sedikit bergaya olah raga.

__ADS_1


Kemudian Anisa pun kembali ke dapur untuk membantu bikin sarapan. Mamun baru Berapa langkah dia ingat sesuatu, kalau hari ini bukannya Minggu yang katanya Kak Aisyah akan datang bersama putranya dan Dea juga Dani akan datang, karena Pramana menjanjikan akan masak-masak.


"Hari ini jadi, kan? masak-masaknya?" Anisa kembali mengembalikan tubuhnya dan menghadap ke arah Pramana.


Pramana pun menoleh sembari mengangguk. "Jadi, kenapa emang?" Pramana tanya balik.


"Ach, nggak! soalnya Kak Aisyah belum ... belum bilang sama aku kalau mau jadi datang!" jawabnya Anisa sembari bersiap memutar tubuhnya kembali.


Pramana menghampiri dan dia menyentuh kedua tangan Anisa, membuat keduanya tampak saling berhadapan dan juga berpegangan tangan. "Nanti juga mereka datang. Dan ... setelah sarapan aku mau belanja, mau ikut nggak?"


Bibir Anisa tersenyum begitu manis, seneng mendengar ajakan dari Pramana yang tumben-tumbenan ngajak dia berbelanja. "Yakin mau ngajak aku pergi? maksud aku ... berbelanja!"


"Tawaran ku cuman sekali lho, kalau nggak mau ... nggak apa-apa!" Pramana menatap lekat.


Dengan masih mengulas senyumnya, Anisa mengangguk. "Iya mau."


"Masya Allah ... mudah-mudahan mereka itu akan saling menyayangi sampai seterusnya. Ya Allah ..." gumamnya Bu Bella yang mengintip dari jendela dapur.


"Ada apa, Bu ... och so sweet nya ..." suara Renita yang juga mengintip dan melihat Pramana dan Anisa saling berpegangan tangan tampak mesra sekali.


Sang ibu mertua menolah pada mantunya yang satu itu. "Semoga aja bunga-bunga cinta itu tumbuh semakin bermekaran dengan sendirinya ya? karena buat apa menunggu yang tidak pasti bahkan sudah jelas-jelas ninggalin."


"Pagi-pagi udah pada ngintip, nanti belekan lho ... lihat apa sih pagi-pagi gini?" suara Andre yang berada di belakang sang istri sehingga berkata juga. "So sweet ...."


"Oohc ... tadi kan ... tadi katanya jangan ngintip! nanti belekan, eh dia juga ngintip!" sang istri mendongak ke arah suaminya.


"Ya ... tidak apa-apa lah! cuma gitu doang, kirain lagi apaan! ha ha ha ...."


Ibu Bella beranjak dari tempatnya, kemudian berjalan mendekati tempat di mana dia sedang masak. "Ibu itu bahagia ... jika memang mereka saling menyayangi, mencintai dan itu akan memudahkan mereka untuk bersatu lebih dalam lagi. Karena Ibu ingin ... mereka menikah lagi setelah nanti lahiran Anisa, nya!"


"Tentu dong Bu ... keluarga ini sangat mendukung. Kalau Pramana nantinya mau lebih meresmikan pernikahannya dengan Anisa, buat apa sih dia masih mengingat-ingat Adisty yang sudah jelas-jelas meninggalkan dia! sementara Anisa sudah menjadi istrinya dan sudah kelihatan baiknya." Tambahnya Andre sembari mengikuti langkah sang Bunda.


"Hooh, tadi aku bilang gitu juga sama ibu. Iya kan, Bu? kamu ngopi ya ... apa yang aku katakan tadi. Atau kamu nguping?" Renita menunjuk pada sang suami yang perkataannya sama persis dengan yang dia katakan tadi.


"Mana ku tahu, boro-boro ngopi. Orang baru datang tadi, bagus kita satu pikiran berarti," jawabnya Andre.

__ADS_1


Setelah beberapa saat mereka berdiri dan kedua tangan Anisa masih dipegang oleh Pramana. Tanpa sedikitpun Anisa menepisnya atau menariknya.


Kepala Pramana sedikit membungkuk dan hidungnya mendekati pipi Anisa dengan niat mau menciumnya.


Namun Anisa segera menjauh seraya mundur. "Aku mau masak dulu membantu ibu membuat sarapan!"


Anisa menarik tangannya dari genggaman Pramana, lalu berjalan mundur. Berbalik meninggalkan tempat tersebut.


Pramana menggaruk tengkuknya seraya tersenyum malu-malu meong.


Kemudian mendekati tempat duduk dan perlahan meneguk minumannya itu. Menatap air kolam renang yang nampak begitu tenang.


Sejenak Pramana melamun sambil menatap gambaran langit pagi di dalam air kolam. Dia tertegun di sana sambil duduk mencondongkan tubuhnya dan menumbuhkan kedua sikunya di atas lutut.


"Woi ... melamun, jangan ngelamun bentar lagi dapat!" tiba-tiba suara Andre memecah lamunannya Pramana.


"Apaan sih ... kebiasaan bikin kaget orang aja!" Pramana menoleh pada sang Abang yang mendudukan dirinya di samping dia.


"Aku sih nggak ngagetin, kamu aja yang ngelamun. Makanya terkesan kaget, Gimana luka-lukanya masih memar atau masih terasa sakit?" tanya Andre sambil melihat-lihat ke arah tubuh Pramana yang hanya mengenakan singlet pendek dan juga celana pendek.


"Sepertinya agak baikan, karena nggak terlalu kerasa perih atau sakit!" jawab pram sembari mereguk minumnya.


"Oh baguslah kalau gitu, berarti nggak harus ke rumah sakit. Khawatirnya kamu kenapa-kenapa!" kata sang abang yang tampak khawatir.


"Nggak ... aku baik-baik saja! cuma tinggal dikit-dikit aja kali," sambungnya Pramana sembari mengusap rahangnya yang emang di situ masih terasa sakit sih, cuman nggak terlalu.


"Iya, baguslah Alhamdulillah." Andre menganggukkan kepalanya.


"Oya, aku mau barbeque sama teman kuliah ku dulu, yang ternyata sepupu nya Anisa dan juga katanya Aisyah pun akan datang ke sini." Ungkap nya Pramana.


"Wah ... asik tuh ... akan ramai di sini, siapa yang mau belanjanya?" tanya Andre dengan antusiasnya menyukai niat Pramana untuk kumpul-kumpul bersama teman-teman lama.


"Rencananya aku sama Anisa mau belanja sebentar lagi," kemudian Pramana beranjak dari duduknya dan menggerakkan semua anggota tubuhnya untuk kembali bergerak dan berolahraga.


Andre hanya melihat sang adik yang tampak lebih bersemangat dari tempat duduknya ....

__ADS_1


...🌼---🌼...


Bila ada typo, tolong langsung komen ya. Jangan lupa like komen dan lainnya makasih


__ADS_2