Pernikahan Yang Tak Di Anggap

Pernikahan Yang Tak Di Anggap
Perduli


__ADS_3

Kamu juga segera lah tidur." Pram menyentuh punggung tangan Anisa di elusnya dengan sangat lembut.


Manik mata Anisa mengarah pada tangan yang mengelus punggung tangannya dengan lembut. "Em, aku mau tidur!"


Anisa menarik tangannya dan membaringkan tubuhnya seraya menutup dengan selimut yang rasanya bila lebih lama lagi pegangan, jantungnya nanti mau lompat dari tempatnya sehingga dia lebih cepat memilih membaringkan tubuhnya saja.


Beberapa saat Pramana menatap ke arah Anisa yang mencoba memejamkan kedua menik matanya dan detik kemudian Pramana beranjak lalu keluar dari ruangan tersebut.


Anisa menurunkan selimutnya dan melihat ke arah pintu yang baru saja tertutup dan brahmana tidak berada di sana! kemudian menik mata Anisa melihat sang Bunda yang menggerakkan tubuhnya berbalik memunggungi dirinya.


bagaimanapun Anisa jadi kepikiran Pramana. Nggak bisa tidur, dia sendiri pun masih gelisah Terjaga Padahal malam semakin larut saja bahkan semakin dingin Pramana Malah keluar.


Pramana berdiri dan bersandar di tiang koridor rumah sakit, menatap jauh sebuah kegelapan kemudian dia mengeluarkan sebatang rokok dari sakunya, dia menghisap rokok tersebut setelah menyalakannya.


Wajah Pramana mendongak ke langit-langit. Seraya membuang asap rokok yang mengepul ke udara, sejenak Pramana menikmati sebatang rokok yang ada di antara dua jarinya.


"Bisa nggak! aku minta kamu untuk berhenti merokok? karena merokok itu dapat mengganggu kesehatan dan rokok saja sudah jujur, kenapa orang-orang tidak menerima kejujurannya?" tiba-tiba suara itu terdengar dari belakang Pramana.


Membuat Pramana langsung berbalik menoleh ke sumber suara, dia kaget Anisa menyusulnya keluar ruangan. "Kenapa kamu keluar ini? kan malam nanti kamu masuk angin! masuk sana?" titahnya Pramana kepada Anisa.


"Kamu tidak mendengarkan ku ya?" Anisa menatap lekat pria yang sedang menikmati rokoknya tersebut.


"Soal apa?" tanya Pramana sembari mendudukan dirinya di kursi yang panjang yang berada di sana.


"Boleh nggak aku minta sesuatu?" sambung Anisa.


"Sesuatunya apa? kan aku harus tahu dulu apa yang kamu minta." Pramana menatap penasaran.


"Aku minta kamu berhenti merokok! karena rokok tidak baik untuk kesehatan!" Anisa mengulang perkataannya.


Pramana terdiam menatapi ke arah Anisa yang masih berdiri sekitar satu meter darinya, lalu menghampiri tempat duduk yang kemudian duduk di sampingnya Pramana. "Emangnya kenapa kalau aku merokok? yang merasakan juga aku bukan kamu!"


"Memang benar yang merasakan nikmatnya enggaknya itu kamu, tapi nanti dikala sakit memang Iya kamu juga yang merasakannya tapi ... setidaknya orang lain merasa kasihan. Prihatin dan peduli sama kamu termasuk ..."

__ADS_1


"Termasuk Siapa? termasuk kamu!" tanya Pramana.


"Bukan, tentunya keluarga kamu yang sangat peduli, mereka nggak akan rela membiarkan kamu sakit!" ucapnya Anisa Dan dia mengelak kalau dirinya juga peduli sama Pramana.


"Emangnya kamu bukan keluargaku? kamu juga istriku. Emangnya kamu nggak peduli kalau aku sakit?' Pramana masih menyimpan setengah batang rokoknya di sela-sela kedua jari namun tidak ingin di isap kembali.


"Eem ... aku!" Anisa tampak kebingungan.


"Kenapa tidak menjawab? seharusnya kamu bisa menjawab Apa kamu peduli padaku?" Pramana mendesak Anisa agar menjawab.


"Emangnya ... kalau aku peduli, apa kamu akan menurutinya dan berhenti merokok?" Anisa kembali bertanya?


"Kalau kamu peduli sama aku, pasti aku akan menurutinya dan berhenti merokok sampai kapanpun!" Pram meyakinkan.


"Benar, kamu akan berhenti merokok? bukan untuk saat ini doang kan?" Anisa menatap sangat lekat seakan merasa ragu.


"Tentulah, aku akan berhenti merokok jika kamu peduli sama aku, lihatlah rokok yang berada di tanganku ini akan ku buang?" Pramana berniat membuang rokok yang tinggal setengahnya tersebut.


Anisa menatap kuntung rokok tersebut. "Baguslah, kalau begitu buang saja. Buat apa nggak ada manfaatnya kok! yang ada bau mulut dan menimbulkan penyakit." Anisa mengangguk.


"Ya buang saja! masa aku nggak peduli sama kamu. Kalau selama ini aku nggak peduli sama kamu ... buat apa aku melayani kamu, menyiapkan semua keperluan kamu. Sudah aja aku biarkan, kamu juga nggak peduli sama aku dan nggak mau aku layani."


Sejenak Pram terdiam menatap setengah batang rokok yang berada di kedua jarinya, kemudian dia mematikan dan membuangnya ke tong sampah.


"Begitu kan yang kamu mau. Aku janji nggak akan merokok lagi, terima kasih kau sudah peduli padaku Dan berusaha menjadi istri yang baik buat aku selama ini, hanya ... Aku minta maaf jika banyak kekurangan dan belum bisa menjadi suami yang baik untukmu."


"Aku rasa kamu nggak perlu bicara seperti itu, karena kita Suami istri masih di atas kertas! sementara di mata agama kan belum." Kata Anisa dengan lirih.


Tangan Pram menyentuh tangan Anisa seraya berkata. "Aku tahu itu ... Em ..." Pramana menjeda kalimat yang di ucapkan nya.


Anisa pikir Pramana akan melanjutkan perkataannya atau mengatakan sesuatu. Tapi ternyata tidak. Dia malah menyuruh Anisa untuk masuk dan gegas tidur.


Kemudian Anisa pun beranjak dari duduknya. "Ya sudah ... aku masuk dulu ya? tapi kamu juga masuk nanti kena masuk angin lho,"

__ADS_1


"Iya aku juga ... sebentar lag, kamu masuk duluan saja! bentar lagi menjelang pagi, apalagi kondisi Kamu kan belum fit," jawabnya Pramana sembari dia pun berdiri dari duduknya.


Anisa mengangguk lalu di berjalan lebih dulu memasuki ruangannya! melihat sang bunda masih di posisi yang sama, kemudian dia berbaring di tempatnya yang semula setelah mengibaskan selimutnya dan menutup tubuhnya.


Detik kemudian Pramana pun masuk, dia segera membaringkan tubuhnya di sofa yang panjang. Namun sebelum tidur dia membuka kemejanya sehingga telanjang dada barulah dia mencoba untuk memejamkan kedua matanya.


Tik. Tik. Tik. Tik ....


Suara jarum jam yang terus berputar mengitari kolom dan kolom jarak antara satu 1 jam dan jam lainnya. Sehingga membawa sebuah pagi yang begitu cerah dengan suara kicauan burung yang entah dari mana datangnya.


Suaranya begitu nyaring dan merdu menghiasi gendang telinga yang baru saja terbangun.


Dengan perlahan Anisa membuka kedua matanya memicing melihat kanan dan kiri yang sudah tidak ada siapapun, dan sinar matahari yang menghangatkan memasuki ruang tersebut dari celah-celah jendela.


Tubuh Anisa menggeliat nikmat, menghadap ke arah jendela menyambut sang matahari yang menyapa wajah. Dia turun dan berjalan mendekati jendela yang besar! Berdiri. melepaskan pandangan ke area sekitar, dimana terlihat hiruk pikuknya kehidupan kota sudah dimulai.


Anisa menarik kedua sudut bibirnya tersenyum dengan tatapan mata yang entah ke mana tujuannya yang jelas hati ini rasanya lebih happy.


Namun tiba-tiba Anisa dikagetkan dengan kedua tangan yang melingkar di perutnya, dia terkesiap dan langsung membalikan tubuhnya. Namun justru keningnya membentur tubuh seseorang yaitu dada Pramana yang berusaha memeluknya dari belakang.


"Ka-kamu mau apa?" Anisa tanpa gugup dan kedua menik matanya celingukan ke belakang Pramana, khawatir ada ibundanya yang entah ke mana sang ibunda, sehingga tidak ada di ruangan tersebut.


Pramana yang seolah.tau apa yang menjadi kekhawatiran Anisa. Dia berkata. "Bunda tidak ada, dia pulang dulu ke rumah kita!"


"Pulang ke rumah ibu?" Tanya Anisa.


"Benar, jadi ... di sini kita cuman berdua saja!" ucap Pram.


"Em ... emangnya ke-kenapa?" Selidik Anisa yang tampak gelisah.


"Nggak kenapa-napa," jawabnya Pramana dengan kedua tangan masih berada di kedua posisi pinggang Anisa.


Sementara kedua tangan Anisa memegangi kedua lengan atas Permana ....

__ADS_1


...🌼---🌼...


Mohon dukungannya ya ...makasih


__ADS_2