
Pram membuka sebuah laci yang kemarin dia melihat ada sebuah amplop warna coklat muda dan amplop tersebut masih ada! kemudian diambil depan belakangnya.
"Kira-kira amplop apa ya? perasaan kalau urusan kantor nggak akan datang ke sini!" gumamnya Pram sembari memundurkan dirinya lantas duduk di tepi tempat tidur.
Tidak terlintas dibenaknya kalau amplop itu sudah ada yang membuka. Pram membukanya dan mengeluarkan semua isinya di atas tempat tidur, matanya Pramana terbelalak dengan sangat sempurna melihat isi dari amplop itu.
"Ini kan foto-foto aku sama Adisty, siapa yang mengirimnya?" Pramana mengerutkan keningnya seraya mengamati foto-foto tersebut! di belakangnya pun tertulis my love Pramana dan Adisty.
Dan di antara foto-foto tersebut ada secarik kertas sepertinya itu sebuah surat yang kemudian Pramana baca. Yang intinya dirinya ditunggu di danau tempat biasa mereka menghabiskan waktu berdua. Pukul 02.00 di hari ini.
Kemudian Pramana menoleh ke arah jam dinding yang sudah menunjukkan 17.45 menit.
"Mungkin tadi siang dia menunggu ku. Dan karena nomor kontaknya sudah aku blokir, makanya dia mengirimkan ini ke rumah. Dan ... siapa yang menerimanya? tapi perasaan ketika aku pulang dari tempatnya Nisa, amplop ini sudah ada!"
Huuh ... Pramana menghembuskan nafasnya dengan kasar melalui hidung dan mulut. "Aku harus singkirkan foto ini agar Anisa tidak tahu dan aku gak bisa membayangkan gimana perasaannya kalau tahu isi amplop ini."
Pramana mencari cara untuk menyingkirkan amplop tersebut mencari sebuah korek, namun dia bingung masa mau di bakar di dalam kamar. Di balkon juga pasti akan tercium baunya, nanti dikira kebakaran dan pada akhirnya tahu apa yang dibakar.
"Harus gimana dong?" gumamnya Pramana sembari setengah sadar dia menyobek-nyobek foto dan suratnya menjadi bagian kecil bak bubur, kemudian dimasukkan ke dalam amplop tersebut. Lalu diremas-remas sehingga amplop itu menjadi sangat kecil.
Pramana bergegas memasuki kamar mandi untuk membersihkan diri, setelah sebelumnya membuang amplop tersebut ke dalam tong sampah ke bagian dalamnya.
Sekitar 15 menit Pramana melakukan ritualnya di kamar mandi, kemudian dia keluar dan langsung menyiapkan diri untuk berjamaah Maghrib di masjid yang berada di area perumahan tersebut.
Ketika mau ke masjid, Pramana berpapasan dengan sang istri di tangga rumah kediamannya itu.
"Sayang aku berjamaah dulu ya!" kata Pramana kepada Anisa.
"Oh iya, aku kira kamu ketiduran dan belum bangun. Ternyata sudah mandi dan siap," balasnya Anisa sembari menatap Intens ke arah sang suami.
"Nggak ... nggak ketiduran kok! ya udah! aku pergi dulu ya, Assalamu'alaikum." Pram melanjutkan kembali langkahnya untuk melancarkan niatnya yang mau ke masjid dan bertemu dengan sang ayah! sehingga berbarengan lah perginya.
__ADS_1
"Wa'alaikumus salam warahmatullahi wabarakatuh!" balasnya Anisa sejenak menatap ke arah punggungnya sang suami yang kini berjalan bersama Sang ayah mertua.
Anisa pun melanjutkan langkahnya menuju kamar! segera mengambil air wudhu yang lantas melaksanakan kewajibannya sebagai umat muslim, selepas membaca doa yang ia khususkan buat sang bunda, serta ucapan Aamiin. Dia teringat kepada amplop yang tadi menjembatani dia bertemu dengan Adisty di danau tersebut.
"Eeh, amplop itu sudah nggak ada! sudah raib. Apa diambil sama Pramana? tapi disimpan di mana? dan kenapa harus diumpetin segala? aku sudah tahu kok." Gumamnya Anisa sambil celingukan mencari sebuah amplop yang waktu itu dia buka.
"Apa memang iya Pramana simpan? mungkin dia pikir takut ketahuan sama aku! mungkin dia tidak tega kalau aku melihat Foto-foto itu akan gimana-gimana? bodo ach!" Anisa menggelengkan kepalanya dia, tidak mau pusing memikirkan amplop tersebut bodo amat lah.
Selesai makan malam ... Pram mengobrol dengan orang tuanya sebentar, lalu dia naik dan dia ingat kalau masih ada tugas kantor yang harus diselesaikan nya malam ini juga.
Sementara Anisa masih berkutat di dapur dan kebetulan dia sedang kepengen makan puding! sehingga dia membuatnya sendiri.
Setelah matang, Anisa pun menyajikannya kepada kedua mertua yang masih berada di depan televisi. Lalu dia pun membawanya ke atas untuk makan bersama dengan Pramana.
Anisa berdiri di depan pintu. Mendorongnya dengan tangan kanan dan menemukan Pramana sedang sibuk dengan laptop nya di atas sofa, dan Anisa pun langsung menghampirinya lantas duduk di samping pria yang menjadi suaminya itu.
"Yank, rasain deh pudingnya! enak gak?" Anisa langsung menyuapi suaminya.
Kemudian Pramana membuka mulutnya menyambut suapan dari Anisa.
"Gimana enak nggak?" tanya Anisa ketika Pramana mengunyah puding tersebut.
"Em ... enak manisnya pas dan aku suka!" Pram mengangguk dan mengakui kalau dirinya sangat suka dengan puding buatan Anisa.
"Makasih, Yank!" bibir Anisa menerbitkan sebuah senyuman yang ditunjukkan kepada Pramana.
Sekarang Anisa punya trik baru, bahwa dia akan siap lebih memanjakan Pramana, agar pria tampan pemilik rahang berbulu halus itu lebih tergantung sama dirinya. Dan pada akhirnya tidak ada namanya wanita lain ataupun mantan kekasih dalam hati juga pikiran Pramana selain dirinya.
"Sama-sama sayang, aku suka apapun yang kamu masak! apalagi makan nya pun disuapin seperti ini. Aku berasa seorang Raja yang dilayani oleh sang permaisuri!" ucapnya Pramana sambil tersenyum lebar pada Anisa.
Balasan Anisa hanya tersenyum manis seraya terus menyuapi sang suami, sampai pudingnya pun habis dan dia hanya mencicipi sedikit saja.
__ADS_1
"Oh ya Sayang minggu depan kita akan ke Bandung ya!" ucapnya Pramana sambil menengguk minumnya.
"Apa, kita?" mengulang kata dari sang suami sembari menatapnya.
"Iya, kita berdua akan ke Bandung! jalannya cuman sehari sih pulang pergi, tapi aku ingin kamu menemani ku dan ... keesokan harinya kita akan pergi ke Surabaya, menginap di sana untuk beberapa hari!" tambahnya Pram.
"Acara kerjaan?" selidik Anisa kembali.
"Iya sayang, acara kerjaan. Karena untuk bulan madu paling bulan depannya. Dan kita akan pergi kemana?" Pram bertanya soal bulan madu mau kemana.
"Entah, aku bingung! terserah kamu saja lah. Maunya kemana dan aku ngikut saja--"
"Lho, kok begitu sih sayang ... sayang maunya kemana? aku akan menuruti maunya kamu kemana, ke Bali atau ke luar Negeri mungkin!" Pram menutup laptopnya lalu duduk berhadapan dengan Anisa seraya membelai rambutnya Anisa yang ada beberapa helai terurai.
"Em ... kamana ya? kalau ke Bali itu ... takut ketemu orang asing nya. Nanti naksir aku dan mengajak ngobrol aku gimana, sementara aku paling jago--"
"Jago bahasa inggris?" potong Pram penasaran.
"Lah, jago tidak ngerti nya. Ha ha ha ..." Anisa terkekeh sendiri.
"Hem ... aku kira jago bisa, ada-ada saja ah!" Pram menjepit hidungnya Anisa gemas.
"Iih, sakit!" Anisa menarik hidungnya.
"Bersiap ya, kita akan ke Bandung selanjutnya ke Surabaya. Sekalian kita jalan-jalan sebelum bulan madu yang sebenarnya." Pram mengembuskan nafasnya di bagian telinganya Anisa. Membuat perasaan Anisa meremang.
Seakan memberi rangsangan, sesuatu yang meningkat dari dalam diri. Keduanya sama-sama merasakan derasnya darah yang mengalir memanas menyebar ke seluruh tubuh. Dalam benak Anisa terus bergumam. Manjakan suami mu, agak tidak ada celah sedikitpun buat yang lain ....
.
Bersambung
__ADS_1