
Setibanya di rumah. Seperti yang Andre bilang, mereka langsung ke lantai atas dan Anisa mengobati Pramana dengan cara mengompres terlebih dahulu dengan es batu.
"Jangan terlalu berisik, nanti Ibu dan Ayah bangun!" ucap Andre sambil menatap ke arah Pramana yang sedang duduk di atas tempat tidur dan sekarang bajunya pun dibuka karena bagian pinggang, perut dan dada terdapat luka-luka memar.
Sembari mengompres dan mengoleskan obat nya yang tadi di jalan Andre sempat membeli obat oles buat Pramana, tak kuasa juga Anisa meneteskan air mata. Anisa pikir ... Pria yang menjadi suaminya itu rela melakukan demikian demi membalas perlakuan laki-laki yang sudah menodainya dirinya.
"Kenapa kau menangis?" tanya Pramana dengan suara pelan sembari menatap wajah Anisa yang merah dan tampak sendu, matanya pun berkaca-kaca.
"Hooh, Nisa kenapa nangis? jangan nangis ... orang Pramana nggak kenapa-napa!" Renita mengusap pundak Anisa yang tampak sedih itu.
"Nggak ... aku, aku cuman sedih saja, semua ini gara-gara aku!" gumamnya Anisa dengan pelan sembari menunduk dan mengoleskan obat di bagian perut Pramana dan pinggangnya.
"Ini nih, bagian punggung ada nih." Andre menunjuk bagian punggung sang adik yang ada memarnya, lalu Anisa pun mengoleskan obatnya di sana dengan perlahan.
Kemudian Anisa sedikit mendongak melihat ke arah wajah Pramana, di bagian rahang dan pelipis juga ada luka memarnya sehingga dia mengaplikasikan obatnya lagi dengan tipis di bagian itu.
Tidak sengaja pasang mata mereka pun bertemu, saling bersitatap berpandangan begitu lekat. Namun detik kemudian Anisa langsung menunduk dalam dan merasa malu.
"Ehem, sayang. Sebaiknya ... kita segera ke kamar untuk istirahat, biarkan mereka berdua di sini." Andre lantas menarik tangan sang istri untuk ke kamarnya dan beristirahat.
"Oke, ya sudah Nisa ... obati Pramana ya ... buat dia sembuh!" Renita sembari menyentuh bahunya Anisa lalu mereka pun berjalan keluar dari kamar Pramana.
Tinggallah mereka berdua di sana. Anisa melihat-lihat dan mencari siapa tahu ada luka di bagian lain yang belum dirasakan sakitnya oleh Pramana. Namun sepertinya sudah tidak ada lagi dan semuanya sudah diolesi dengan salep.
Anisa menyimpan kotak obat dan lalu dia beranjak sembari berkata. "Aku mau bikin susu jahe dulu ya?"
Geph.
Pramana menangkap tangan Anisa, lalu keduanya saling bersitatap satu sama lain. Sesaat kemudian ... Pramana berkata. "Terima kasih ya sudah mengobati ku! dan juga sudah mengkhawatirkan ku."
Anisa masih membatu. Dan menatapi tangan yang masih dipegang oleh Pramana, lalu Pramana juga menatapnya, dan perlahan Pramana melepaskan tangan Anisa.
Anisa mengusap tangan yang barusan dipegang Pramana. Jantungnya dibuat berdegup sangat kencang serta dadanya terus berdebar, kemudian dengan masih menunduk Anisa meninggalkan Pramana untuk membuatkan susu jahe.
__ADS_1
Pramana memandangi punggung wanita yang sudah menjadi istrinya tersebut sampai hilang di balik pintu.
Sesaat Anisa berhenti di tengah-tengah tangga menoleh ke belakang ke arah kamar Pramana. Jadi kepikiran gimana kalau Pramana mengalami luka lebih parah, tentunya hati Anisa akan merasa sedih dan juga merasa bersalah.
Lalu kemudian, Anisa pun kepikiran gimana ya? kalau kejadian yang tadi ada yang melaporkan ke pihak yang berwajib, tentu masalahnya akan melebar! tapi dalam hati kecilnya terus berharap dan berdoa, semoga kejadian tadi tidak berbuntut panjang dan cukup menjadi urusan pribadi antara Pramana dan Hendar saja.
Nisa sudah berada di dapur dan dia mengambil kaleng susu dan gelasnya, tidak juga mencari seruas jahe untuk dijadikan susu jahe yang biasa Pramana konsumsi setiap pagi dan malam.
"Neng, belum tidur?" suara itu mengagetkan Anisa yang sedang menuang susu ke dalam gelas.
Anisa segera menoleh ke sumber suara, yaitu suara bibi. Rupanya dia terbangun mungkin karena mendengar suara-suara dari dapur yang di akibatkan oleh keberadaan Anisa di sana.
"Aku lupa belum bikinkan minuman buat Pram, maaf Bibi sudah merasa terganggu, aku berisik ya di dapur?" kata Anisa sembari mengulas senyumnya pada bibi.
"Gak kenapa-apa, Neng. takutnya ada tikus atau kucing he he he ... ya udah, kalau gitu Bibi kembali tidur." Balasnya Bibi sembari kembali ngeloyor ke kamarnya.
Anisa mengangguk lalu dia mengaduk-aduk susu yang sudah berada di gelas. Yang kemudian dia bawa ke lantai atas yaitu ke kamarnya Pramana.
Sesaat Anisa berdiri di depan pintu, menatap ke arah Pramana yang menyambutnya dengan tatapan yang sulit Anisa artikan. Entah apa yang Pramana pikirkan sehingga menatap Anisa begitu lekat.
Pada akhirnya Anisa pun meneruskan langkahnya berjalan mendekati Pramana. Pria itu terus menatap ke arah Anisa membuat wanita itu pun merasa minder alias malu dan tidak berani membalas tatapannya.
"Ini susunya, diminum dulu mumpung masih hangat!" Anisa menyodorkan segelas susu jahe kepada Pramana tanpa melihat wajahnya.
"Terima kasih?" gumamnya Pramana sembari mengambil gelas tersebut. Lalu meneguknya dengan perlahan.
"Em ... aku ke kamar dulu ya? kalau perlu sesuatu panggil saja aku," ucapnya Anisa seraya menunjuk ke arah luar kamar Pramana dengan ibu jarinya.
Pramana hanya mengangguk serta menggerakkan bola matanya seolah berkata silahkan.
Setelah itu barulah Anisa mengembalikan tubuhnya berjalan mendekati pintu dan keluar dari kamar tersebut.
Anisa berjalan mondar mania di kamarnya sembari memegangi pakaian tidur yang mau dia pakai, Anisa menjadi kepikiran Pramana, khawatir kalau seandainya pria itu luka-luka lebih dari yang sekarang, Anisa pasti akan merasa lebih sangat bersalah karena semua itu gara-gara dirinya.
__ADS_1
Kemudian Anisa buru-buru mengganti pakaiannya dengan piyama, setelah beberapa saat kemudian Anisa memutuskan untuk kembali ke kamar Pramana. Karena dia ingin mengatakan sesuatu.
Dengan langkah yang ragu-ragu, Anisa membawa dirinya menuju kamar Pramana. Sejenak Anisa berdiri di depan pintu lalu mengetuknya dengan perlahan tok ... tok ... tok ... "Apa kamu sudah tidur?" suara Anisa yang pelan nyaris tidak terdengar! namun dengan jelas bisa didengar oleh Pramana dari dalam.
"Iya, ada apa?" suara Pramana dari balik pintu. "Masuk saja."
Tangan Anisa bergerak memegang handle pintu dan mendorongnya, lalu pintu terbuka setengahnya! lantas Anisa masuk tanpa menutup kembali pintunya.
Anisa mendapatkan Pramana masih di posisi yang sama, namun kali ini dia sedang memangku laptopnya tampaknya Dia sedang sibuk dengan laptop tersebut.
"Apa kau sedang sibuk? kenapa belum tidur?" tanya Anisa setelah berdiri tidak jauh dari Pramana.
Pramana mengembuskan nafasnya dari hidung dengan perlahan, menatap intens ke arah Anisa yang berdiri dengan menggunakan piyama bunga-bunga dengan rambutnya diikat di atas hingga mengekspos lehernya yang jenjang. "Ada apa?"
"Em ... Aku cuman ... mau bilang. Aku minta maaf, kamu luka-luka begini gara-gara aku! kalau saja kamu nggak tahu tentang pria itu ... nggak mungkin akan terjadi seperti ini, sekali lagi aku minta maaf!" ucapnya Anisa sembari menunduk dalam. Dia merasa bersalah atas yang menimpa pada Pramana.
Tangan Pramana menyentuh jari Anisa. Seraya ditarik dengan perlahan agar Anisa duduk di hadapannya. Anisa pun dengan refleks mendudukkan dirinya di hadapan Pramana, tanpa mengangkat wajahnya sedikitpun dan jarinya masih berada di tangan Pramana.
"Aku tidak apa-apa dan kamu nggak usah khawatir!" ucap Pramana dengan lirih serta tatapannya terkunci pada wajah Anisa.
"Tapi aku ... merasa nggak enak sama ibu dan ayah, gara-gara aku putranya luka-luka kayak gini!" tambahnya Anisa dengan masih juga menundukkan kepalanya.
Anisa tidak sadar kalau tubuh Pramana semakin dekat dengan dirinya, terutama bagian wajah sehingga hidung Pramana bisa mencium bau wangi aroma tubuh Anisa.
"Tidak apa-apa, Ibu dan Ayah nggak akan menyalahkan mu atas kejadian ini. Karena mereka pun akan mengerti akar masalahnya!" seru Pramana kembali yang suaranya begitu dekat di telinga Anisa.
Membuat Anisa mengangkat wajahnya dan alangkah terkesiap nya Anisa, karena wajah mereka menjadi begitu dekat. Gegas Anisa memundurkan wajahnya serta menatap wajah yang begitu dekat menatap dirinya, dengan perasaan yang entah apa dan tidak menentu itu.
Jantung semakin berdebar cukup kencang dada Anisa berdebar-debar, begitupun dengan Pramana dia tidak bisa mengendalikan dirinya lagi, gejolak di jiwanya semakin meronta-ronta. Tatapan matanya yang diliputi dengan kabut hasrat semakin menebal ....
...🌼---🌼...
Jangan lupa dukungannya ya makasih banyak
__ADS_1