Pernikahan Yang Tak Di Anggap

Pernikahan Yang Tak Di Anggap
Merindukan


__ADS_3

Setelah berunding yang cukup menegangkan, akhirnya mendapat kesepakatan kalau Anisa akan tetap tinggal bersama keluarga Pramana, bagaimanapun Anisa tetap sah menjadi istri Pramana. Di mata hukum Negara, namun mereka akan dipisahkan kamarnya.


Pak Lukman akan menyediakan kamar untuk Anisa yang letaknya tidak jauh dari kamar Pramana. Yang jelas mereka berdua tidak boleh duduk satu kamar lagi dan bila nanti Anisa sudah melahirkan akan mengadakan ijab kabul ulang untuk mengesahkan pernikahan mereka di mata agama.


Kini Anisa mengerti kenapa Pramana bicara seperti itu. Ternyata pernikahan dia dan pria tersebut ibaratkan mengambang.


"Biarpun seperti itu ....kalian gak usah khawatir, karena Anisa tetaplah mantu kami di sini!" katanya Pak Lukman sembari mengedarkan pandangan ke semua orang yang berada di sana yaitu keluarga Pak Joni.


"Kami percaya kalau kalian akan menyayangi Anisa seperti anak kalian yang lainnya! maka dari itu aku titipkan dia pada keluarga ini!" lagi-lagi Pak Joni berucap kata titip putri nya, Anisa.


"Nisa, di sini rus juga pandai menjaga diri dan patuh ke keluarga baru nya ini. Kan kalau Anisa tidak main ke tempat bunda dan ayah, Kak Aisyah akan main ke sini menemui kamu." Ungkap Aisyah kembali, Ini pertama kalinya dia melepaskan sang adik di tempat yang baru.


"Iya Kak, baiknya Kak Aisyah sering-sering main ke sini sama Mas Azis tolong ya ijinin Kak Aisyah untuk menemu aku di sini!" Anisa mengalihkan pandangannya pada Azis yang langsung mengangguk.


"Tentu, nanti mas yang antar Kak Aisyah ke sini untuk bertemu dengan mu!" jawabnya Azis merespon perkataan dari Anisa.


"Baik-baik ya di sini. Bunda mau pulang dulu, Bunda pasti akan merindukan mu! oh iya, barang apa saja yang akan kamu ambil dari rumah? nanti bunda kemas dan menyuruh orang untuk mengirimkan ke sini!" kini Bu Farida memeluk erat Sang Putri bungsunya tersebut.


"Untuk sementara ini Anisa tidak membutuhkan apa-apa, Bun. Karena di sini juga ada! nanti saja kalau Anisa butuh akan Nisa ambil ke sana, Anisa juga akan merindukan Bunda dan Ayah." ungkapnya Anisa sembari mulai menderaikan air mata.


"Tante Nisa ... jadi Tante mau tinggal di sini? nggak mau pulang sama kami. Emang di sini tante Anisa mengurus apa? apa Tante Anisa di sini bekerja?" selidiknya Ferly kepada Anisa.


"Emangnya kenapa Tante Nisa nggak ikut pulang sama kami? kan rumah tante bukan di sini, tapi di rumah oma!" tatapan mata yang bening dan berbinar dari Fika mengarah pada Anisa.


"Eh ... jangan salah! ganteng ... cantik ... di sini juga! mulai hari ini rumahnya tante juga, kan Tante sudah jadi mantu Oma baru!" ucap Ibu haji Bella seraya tersenyum kepada kedua anak itu.


"Oh gitu ya Bunda?" Ferly malah bertanya kepada Aisyah sang bunda.


"Iya sayang! oma baru benar! di sini juga akan menjadi tempat tinggalnya tante!" jawabnya Aisyah dengan lembut.


"Kalian jangan nakal ya? kalian harus pintar rajin belajar agar menjadi kebanggaan tante!" serunya Anisa pada kedua anak itu lalu memeluknya bergantian.


"Tante-Tante, kenapa menangis? kok Tante seperti anak kecil sih menangis!" suara Fika kembali, sambil mengusap buliran bening dari sudut mata Anisa.

__ADS_1


"Nggak kok. Tante cuman sedih aja mau pisah sama kalian dan tak tahu kapan kita bisa ketemu lagi!" ucap Anisa sembari mencium pipinya Fika.


"Ibu dan ayah pergi dulu ya?" Ibu Farida mengusap rambutnya Anisa sangat lembut dengan tatapan yang agak berat.


Rasanya berat juga melepaskan anak itu, walaupun bersama keluarganya yang baru.


"Kakak juga pulang dulu ya! Nisa yang betah di sini yang nurut juga sama suami, semoga ke depannya Anisa mendapatkan keberkahan!" pamitnya Aisyah sembari mencium pipi kanan kiri Anisa.


"Iya Bu, kak Aisyah aku minta maaf ya? atas semuanya!" suara Anisa bergetar.


Sang Bunda dan sang kakak kembali memeluk Anisa dengan sangat erat.


"Jangan bicara seperti itu sudahlah jangan ingat-ingat lagi, itu sudah takdir yang harus Anisa terima dengan lapang dada! percayalah pasti ada pelangi setelah hujan!" Aisyah mengusap punggung Anisa sejenak.


"Nisa Ayah pergi dulu ya! maafkan Ayah salah yang sudah menuduh mu yang bukan-bukan!" pak Joni menghela nafas dalam-dalam.


"Justru Anisa yang minta maaf sama Ayah, aku mohon ampun Ayah, dan terima kasih Ayah sudah mempercayaiku kalau aku tidak bersalah!" Anisa memeluk sang ayah dan menyembunyikan wajahnya di dada pria yang masih tampak gagah tersebut.


Lalu kemudian setelah mereka berpamitan dan keluarga Anisa mewanti-wanti kepada Anisa agar dia menurut dan pandai menjaga diri selama di sana.


Anisa dan yang lainnya melambaikan tangan ke arah mobil Pak Joni yang merayap meninggalkan kediaman pak Lukman, sekaligus meninggalkan putrinya yang bernama Anisa di tempat tinggal yang baru itu.


Setelah mobil sang ayah hilang dari pandangan, Anisa terdiam dan melamun di tempat menatap kosong dengan pikiran yang melayang entah ke mana.


Tiba-tiba dia dirangkul oleh seseorang yaitu wanita sepuh yang kini menjadi mertuanya Anisa.


"Anisa! masuk yo? orang tuamu sudah pergi, kirimkan lah doa Semoga perjalanannya dilancarkan! selamat sampai tujuan dan sampai kita bisa ketemu lagi berkumpul seperti kemarin-kemarin," tuturnya wanita sepuh tersebut.


Anisa menolehkan kepalanya kepada sang ibu mertua. "I-iya Tante ... Aamiin!"


"Lho ... kok. Tante sih? Ibu, kan sekarang sudah jadi mertua Anisa, gimana sih!" tutur lembutnya Bu Hajah Bella.


Anisa mengangguk sembari menunduk dan mengulas senyumnya yang tipis! kemudian mereka meninggalkan teras rumah tersebut.

__ADS_1


Di kediaman pak Lukman masih ada banyak orang yang sedang membongkar dekorasi pelaminan, membuat suasana ramai. Dan asisten rumah tangga pun masih sibuk menyediakan makan dan minum buat mereka.


"Sekarang Ibu mau tunjukkan kamar buat Anisa yang berhadapan dengan kamarnya Pramana! yuk!" sang ibu mertua menuntun tangan Anisa diajaknya naik ke lantai atas.


"Oh ya, Kak Renita ke mana?" tanya Anisa sambil celingukan mencari keberadaan Renita yang belum lama ini ada bersamanya tapi sekarang tidak ada.


"Mungkin dia sedang ada di kamarnya nanti juga dia akan mencari kita berdua!" sahutnya Bu haji Bella.


Keduanya terus menapaki lantai dengan langkah yang teratur dan langkah tersebut berhenti di depan sebuah kamar, yang berhadapan dengan kamarnya Pramana, seperti yang Ibu Hajah Bella bilang kamar itu tidak jauh dengan kamarnya Pramana.


Blak ....


"Nah ... ini kamar buat kamu Nisa!" Ibu haji Bella membuka pintu kamar tersebut yang tidak kalah bagus dari kamarnya Pramana


"Hanya saja karena Kamar ini tidak ada penghuninya! jadi tidak begitu terawat. Tapi kalau sudah ditinggalin oleh oleh Anisa, pasti akan lebih hangat." Bu haji Bella mengajak Anisa untuk masuk.


Anisa hanya terdiam dan mengedarkan pandangannya ke setiap sudut ruangan tersebut. Lalu melihat kamar mandinya yang sama saja lengkapnya! seperti yang ada di kamarnya Pramana.


"Biar nanti bibi yang memindahkan semua pakaian wanita yang ada di lemarinya Pramana ke sini, karena Buat apa juga kan di sana? nggak ada yang pakai dan sangat kebetulan pas ya di tubuh Nisa." Tambahnya Bu haji Bella.


"Iya, Bu, mungkin ukuran tubuhnya sama kali ya! dengan calonnya itu! Oh ya kenapa ya Bu? calonnya sampai hati meninggalkan Pram di hari pernikahan!" Anisa menyelidik.


"Entahlah, Nisa ... mungkin bukan jodohnya Pram, ya sudahlah kan sekarang sudah selesai, pernikahan pun tetap berlangsung dengan hikmat dan kini Anisa lah yang jadi mantu Ibu dan ayah di sini." Kata sang ibu mertua sambil mendudukan dirinya di tepi tempat tidur.


Kamar itu memang cukup luas cuman tidak ada sofa di sana, hanya saja kursi rias yang menunggui di depan cermin.


"Cuman ... gak habis pikir saja, Bu ... kan bukannya pernikahan atas dasar paksaan! kalau mereka sudah lama hubungan berarti pernikahan sudah disepakati--"


"Intinya bukan jodoh, digimanain juga nggak akan bisa bersatu, Nisa ... sudahlah, sekarang Pramana itu sudah menjadi suami Anisa di mata hukum Negara. Anisa yang lebih berhak terhadap Pramana sekarang dan jangan khawatir nanti setelah Nisa lahiran pernikahan ini akan disahkan lagi, Hem!" ujar Bu haji Bella sembari mengusap punggung tangan Anisa.


Anisa menghembuskan nafasnya melalui mulut, lalu mengedarkan pandangan ke gorden yang masih tertutup, lantas Anisa hampiri dan membukanya ....


...🌼---🌼...

__ADS_1


Makasih ya yang sudah memberi dukungannya.


__ADS_2