
"Masya Allah semoga hujan ini menjadi berkah." Gumamnya Anisa sembari tersenyum lebar.
"Aamiin ... ya sudah! kita pulang sekarang nanti orang rumah khawatir," sahutnya Pramana sembari bersiap untuk mengemudikan mobilnya.
"Iya nih ... sudah pukul 10.00 malam!" Anisa menganggukan kepalanya dengan pelan lalu meneguk air minum yang berada di botol samping pintu.
"Tapi tidak apalah, kamu keluarnya juga sama suami bukan sama orang lain. Lain lagi kalau kamu pergi bukan bersama suami dan orang tua berhak marah!" ucapnya Pramana sembari mengemudikan kemudi dan melajukan mobilnya dengan kecepatan rendah.
Anisa yang menatap ke arah Pramana tanpa berkata apapun, namun dalam pikirannya dia teringat kembali yang tadi menghubungi Pramana siapa ya!
"Kenapa bengong begitu? apa ada yang dipikirkan?" tanya Pramana dengan sekilas melirik ke arah Anisa.
"Nggak, nggak mikirin apa-apa!" jawabnya Anisa sembari menggeleng.
"Kalau ada yang ingin ditanyakan ... tanyakan lah! aku akan menjawab sekiranya aku bisa," sambungnya Pramana kembali.
Namun Anisa tetap menggeleng seolah tidak ada yang ingin dia tanyakan, kepada pria yang berada di sampingnya tersebut.
Setibanya di kediaman Anisa! mereka langsung turun, namun sebelumnya Pramana mengunci dulu mobilnya yang tanpa dia masukkan ke dalam garasi, katanya berabe besok harus ngeluarin lagi.
Anisa berjalan di teras sambil menjinjing paper bag menuju pintu utama yang ternyata tidak dikunci, sehingga mereka langsung masuk.
"Pintunya tidak dikunci ya?" Gumamnya Pramana yang berada di belakang Anisa bari menjinjing belanjaan dapur.
Anisa menutup dan mengunci pintunya. "Biar kita pulang ... nggak mengganggu orang, yang harus membukakan pintu!" sahutnya Anisa.
"Tapi seharusnya dikunci dulu dan kita membawa kunci sendiri." Tambahnya Pramana sambil berjalan terus menuju dapur membawa semua belanjaan.
Dan Anisa langsung membereskannya ke dalam lemari pendingin, semuanya dia tata dengan rapi.
Sementara Pramana menuangkan air minum ke dalam gelas, tenggorokan terasa kering dan dahaga.
Kemudian Pramana menjinjing beberapa paper bag yang berisi pakaian Anisa. "Aku duluan ke kamar!"
Anisa hanya melirik sekilas dengan ujung matanya, kemudian dia melanjutkan membereskan belanjaan. Setelah semuanya selesai, barulah Anisa mematikan lampu dapur lalu dia berjalan menuju anak tangga menapakkan kakinya satu persatu hingga terdengar derap langkah kaki wanita tersebut.
Tangan Anisa mengarah menyentuh kenop pintu, namun belum dia putar kenop pintu tersebut. Sudah terbuka duluan.
Pramana yang membuka pintu tersebut dan langsung menunjukkan kalau dia sudah menyiapkan tempat tidurnya sendiri di lantai.
__ADS_1
"Aku tahu kamu pasti capek dan aku sudah menyiapkan untukku tidur di lantai!" ucapnya Pramana sembari menunjuk ke arah dalam kamar. Dimana tilam atau selimut sudah terhampar buatnya tidur.
Anisa hanya tersenyum ke arah Pramana sembari melangkah maju sembari membuka hoodie nya. Lantas detik kemudian dia ke kamar mandi sembari membawa piyama untuk ganti.
Pramana memandangi punggung Anisa yang hilang di balik pintu kamar mandi, kemudian dia membuka kaosnya sehingga bertelanjang dada lalu berbaring terlentang dengan memeluk selimut.
Lantas memejamkan kedua matanya dan entah memikirkan apa?
"Selimutnya dipakai, nanti kedinginan!" suara itu membuat Pramana membuka kedua matanya, lalu menoleh pada wanita yang kini sudah berada di atas tempat tidur. Dengan rambut yang terurai menyamping mengekspos sebelah lehernya.
"Tidak apalah kedinginan juga, kan ada kamu!" Pramana sembari mengulas senyuman nakalnya.
"Eeh ... apaan sih? nanti di dengar setan lho!" Anisa pun menunjukkan wajahnya yang penuh dengan senyuman.
"Tidak apa-apa, cuman peluk doang nggak mungkin ngapa-ngapain juga--"
"Iih dasar! pikirannya mesum mulu!" brugh ... Anisa melempar bantal ke tubuh Pramana yang langsung Pramana tangkap.
Pramana tertawa dan dia malah memeluk bantal Anisa yang tidak dia kembalikan kepada pemiliknya.
"Sini kembalikan padaku?" pintanya Anisa sembari mengeluarkan tangan meminta bantalnya kembali.
"Tidak boleh, apa yang sudah diberikan tidak akan kembali." Pramana memeluk erat bantalnya Anisa.
Suasana terasa hening yang ada hanya denting jarum jam saja yang terdengar begitu nyaring.
Anisa yang sudah memejamkan kedua manik matanya hampir saja tertidur, kembali terjaga lalu menolehkan kepalanya ke arah belakang. Karena dia merasakan ada pergerakan seseorang di belakang tubuhnya.
Yang bikin Anisa terkaget-kaget, karena Pramana ada di belakang tubuhnya. Dia baru saja naik ke atas tempat tidur Anisa sambil membawa bantal Anisa yang tadi, yang kini dia letakkan dan menempelkan kepalanya di sana.
"Ngapain kamu naik? sana tidur di bawah!" gumamnya Anisa yang terdengar pelan sembari menggeser tubuhnya.
"Aku nggak kuat tidur di bawah, tubuhku lagi kurang fit! rasanya aku kedinginan," jawabnya Pramana seraya menggerakan tangan ke pinggangnya Anisa.
"Tapi!"
Yang membuat jantung Anisa semakin berdegup sangat kencang, yaitu Pramana memeluknya dari belakang.
"Ih-ih, Anisa menyingkirkan tangan Pramana dari pinggangnya. "Ya sudah, kamu di sini dan ... biar aku yang di bawah aja."
__ADS_1
Anisa berusaha bangun namun tangan Pramana kembali memeluknya dan mengunci tubuh Anisa sehingga tidak bisa bangun apalagi berpindah.
"Ich ... lepasin?" Nisa menepuk-nepuk tangan Permana yang melingkar di pinggangnya.
Namun bukannya terlepas, malah semakin erat dan dada Pramana pun semakin menempel ke punggung Anisa dengan matanya yang terpejam.
"Ya ampun ... lepasin aku? aku takut, aku risih Pram ... aku takut!" lagi-lagi suara Anisa terdengar memenuhi gendang telinga Pramana.
"Apa yang harus kamu takutkan sih? aku nggak ngapa-ngapain, cuman peluk doang, aku cuman butuh kehangatan." Gumamnya Pramana kembali tanpa membuka matanya, karena memang terasa ngantuk berat.
"Iya, makanya pakai selimut. Kamu tidur di sini dan aku tidur di bawah!" lagi-lagi Anisa mengajak Pramana bernegosiasi.
"Tidak mau! lagian kenapa sih? aku pasti tanggung jawab kok, aku bukan laki-laki bajingan itu yang mengambil madumu dan tidak mau mengakuinya sama sekali." Serunya Pramana dengan masih di posisi yang sama.
Setelah Pramana bicara seperti itu dan mengaitkannya dengan Hendar. Anisa tidak bicara lagi, walaupun hatinya tetap merasa risih dan jantungnya terus berdegup dengan sangat kencang.
Beberapa saat kemudian, sudah terdengar suara dengkuran dari Pramana dan tubuhnya semakin menempel ke punggungnya Nisa, sementara Anisa masih terjaga. Dia belum bisa tidur. Ini kali pertama dia tidur dalam pelukan seorang laki-laki.
"Ya ampun ... aku nggak bisa tidur, mana kamu mendengkur gitu!" suara parau Anisa sembari melirik ke arah belakang.
Anisa berusaha menyingkirkan kembali tangan Pramana karena dia yakin pria itu sudah tidur! orang mendengkur kok. Tetapi tangan itu terasa berat dan sangat mengunci, sehingga Anisa tidak bisa menyingkirkannya.
"Euh ... Pram, aku pengen pindah! aku risih dan gak bisa tidur!" rajuk Anisa lagi-lagi menoleh ke arah belakang.
Rupanya biarpun tidur dan ngorok, namun telinganya masih berpungsu dengan baik dan menampung suara dari Anisa.
"Diam dong Nisa ... aku ngantuk sekali dan aku bisa kedinginan kalau kamu terus merajuk, mau aku paksa?" gumamnya Pramana tanpa membuka mata dan tangannya bergerak naik ke atas.
Sehingga langsung Anisa tepis karena dia takut tangan Pramana itu menyentuh salah satu asetnya yang berharga.
Pramana mengembangkan senyumnya ketika Anisa menepis tangan dia yang bergerak naik. "Makanya diam, jangan banyak bicara. Kalau nggak mau aku macam-macam! apalagi memaksa mu!"
"Uuh ... menyebalkan dikasih hati minta jantung, di kasih jantung minta ampela--"
"Bukan, di kasih jantung minta paha. Setelah di kasih paha minta dada, biasa nya juga begitu ... tapi jangan kuatir! aku nggak minta itu kok, makanya kamu cukup diam dan aku peluk dari belakang!" suara parau itu kembali terdengar.
Anisa tidak berani berbuat apa-apa lagi selain berusaha memejamkan matanya.
Dan bibir Pramana semakin mengembang. Kembali mengeratkan pelukannya di pinggangnya Anisa yang memeluk guling dan sibuk dengan pikirannya, juga menggerutu! bisa-bisanya Pramana berani tidur di tempat yang sama dengannya ....
__ADS_1
...🌼---🌼...
Ayo ayo mohon dukungannya ya? biasakan setelah membaca tekan like-nya, oke? makasih banyak.