Pernikahan Yang Tak Di Anggap

Pernikahan Yang Tak Di Anggap
Amplop


__ADS_3

Pram semakin menyerang dengan penuh gairah dan hasrat yang membuncah, jiwa lelakinya menggebu untuk traveling di tempat-tempat nan indah yang menjadi favoritnya.


Semakin lama Pram semakin jauh untuk melepas hasratnya, bermain di pegunungan dan juga lembah yang danau yang memanjakan mata.


Pram sangat menikmati travelingnya, sesekali melonjak kegirangan dan berhenti untuk beristirahat sebentar! lalu kemudian melanjutkan kembali berpetualang nya. Hingga peluh pun bercucuran membasahi sekujur tubuh, Nafas memburu tidak beraturan.


Anisa pun tak ayal turut menikmati ajakan Pram melepaskan hasrat yang terpendam. Menjelajahi Alam nan syahdu menyejukkan hati dan jiwa.


Beberapa kali tertegun ketika merasa ada kepuasan tersendiri yang menyelimuti hati. Bibir keduanya tersenyum indah terpancar sebuah kebahagiaan di kala itu.


Keduanya berpelukan dengan sangat erat. Menumpahkan segala rasa, tidak ada kata yang terucap dari keduanya selain Deru nafas yang terdengar masih memburu.


Sesekali Pram mengecup pucuk kepalanya sang istri dengan lembut dan membelai helaian rambutnya. "I love you!"


Anisa sesaat mendongak sembari tersenyum manis. "I love you to ...."


"Makasih sayang, makasih banyak atas semuanya!" cuph ... kecupan hangat kembali mendarat di keningnya Anisa.


Beberapa saat kemudian, rasa kantuk pun menyerang keduanya. Sehingga beberapa kali menguap.


"Huam ... ngantuk. Bobo ach." gumamnya Anisa sambil mengeratkan pelukannya dan menyembunyikan wajah di dada sang suami sembari menerbitkan senyumnya.


"Hem, bobo sayang. Aku juga ngantuk banget, caoek! habis sayang galak terlalu aktif dan ... jadinya aku capek." Bisiknya Pram sambil mengulum senyumnya.


Anisa langsung membuka kembali menikmatinya dan terbelalak ke arah Pramana. "Apaan sih ... ngarang! bukannya kebalikannya ya?" menepuk dada param gemas.


"He he he ..." Pramana tertawa kecil namun cukup bergema di sebuah ruangan kamar yang terasa hening itu. Lalu Pramana kembali mengeratkan pelukannya.


Anisa kini sudah berada di kediamannya Pram, dia bersih-bersih kamar yang beberapa lama ini ia tinggalkan.


Di saat bersih-bersih. Anisa menemukan sebuah sebuah amplop map berwarna coklat muda dengan ukuran sedang. Mulanya hanya Dia lirik saja sekilas, tapi lama-lama dia penasaran juga.


"Amplop apa ini? tapi masih disegel berarti belum Pramuka dari siapa ya?" tangan Anisa menyentuhnya dan mengangkat ya lihat depan belakang.


Anisa bolak-balik melihat depan belakang. Dia sangat penasaran dengan isinya yang lumayan tebal.

__ADS_1


"Jadi penasaran pengen tahu isinya, marah nggak ya? kalau dibuka," gumamnya Anisa dalam hati dan dengan perlahan dia membuka segelnya.


Tubuhnya bergerak berjalan mendekati sofa, lantas dia duduk di sana dengan pandangan mata yang terus tertuju kepada amplop besar tersebut.


Anisa mengeluarkan isinya dengan perlahan dan alangkah kagetnya dia, ternyata yang di dalam tersebut adalah foto-foto dan secarik kertas dan foto-foto tersebut itu adalah fotonya Pramana dan Adisty, dengan berapa adegan mesra seperti merangkul bahu, mencium pipi. merangkul pinggang. Berlarian di danau.


Tangan Anisa menjadi gemetar, memegang dan melihat foto-foto tersebut. Anisa melihat satu persatu beberapa lembar foto itu. Yang di belakangnya tertulis my love Adisty dan my love Pramana.


Setelah puas memandangi beberapa foto! kemudian Anisa membuka secarik kertasnya dan kemudian ia baca.


"Sayang, dengan kiriman foto ini aku harap kamu bisa mengingat lagi kenangan-kenangan tentang Kita, gimana waktu itu kita sangat saling menyayangi dan sang pada detik ini pun aku sangat mencintai kamu! kembalilah pada ku dan kita akan merajut kasih seperti dulu. Membangun bahtera Cinta yang bahagia, lupakanlah istri mu itu Dan ceraikan lah Dia, kita mulai dari nol lagi, aku yakin di hatimu yang paling dalam masih mencintai aku! bibirmu boleh mengatakan tidak. Tapi hatimu takkan bisa dipungkiri. Aku minta beribu-ribu maaf darimu atas segala kesalahan ku waktu itu, dan ... sekarang aku lagi-lagi memohon dan minta pada mu kembalilah padaku! aku tak sanggup hidup tanpa mu Pram! Aku tunggu kamu pukul 02.00 nanti siang di taman tempat biasa kita menghabiskan waktu berdua!"


Anisa menghela nafas dalam-dalam setelah membaca secarik kertas tersebut dan tidak dapat dipungkiri penglihatannya bak berkaca-kaca, dadanya terasa sesak! sakit, nyeri di ulu hati.


"Kenapa dia menulis surat ini? bukannya dia sering telepon, dan foto-foto pun kenapa nggak lewat WA saja, buat apa juga kirim ke rumah segala? siapa yang menyimpannya di sini ya? seandainya Pram ... kenapa masih disegel juga amplopnya belum dibuka sama sekali, apa Pram tidak mengetahuinya?" beberapa pertanyaan menumpuk di dalam hati Anisa.


Kemudian dia langsung membereskan kembali foto dan kertasnya seperti semula, kemudian ia bawa keluar kamar menemui Bibi. Siapa tahu dia tahu siapa yang menyimpan amplop tersebut.


"Bi? Bibi ... Bibi di mana?" suara Anisa sembari menuruni anak tangga dan langsung mencari Bibi di dapur yang ternyata kosong.


Setelah menutup kembali pintunya, Anisa mendengar suara kucuran air dari WC dapur.


"Bi, apa Bibi di kamar mandi?" pekiknya Anisa sembari berdiri di depan pintu.


"Iya Neng Mimi di dalam, sebentar!" suaranya Bibi dari dalam kamar mandi.


Setelah menunggu beberapa menit akhirnya Bibi kembali muncul dari balik pintu. "Iya Neng ada apa?"


Anisa menunjukkan amplop besar tersebut pada Bibi saya bertanya. "Bibi tahu ini dari mana? dan siapa yang menyimpannya di kamar?" suara Anisa sedikit bergetar.


Bibi menatap benda yang berada di tangannya Anisa kemudian dia menjawab. "Oh ... itu Bibi yang menerima, entah dari siapa Neng, yang jelas katanya buat Aden dan juga Neng Nisa, makanya Bibi simpan aja di dalam laci."


"Oh jadi Bibi yang menyimpannya di dalam laci di atas Anisa menganggukkan kepalanya.


"Bener, Neng ... itu Bibi yang menyimpannya berapa hari yang lalu datangnya. Dan Bibi lupa untuk bilang sama Aden atau Eneng tadi!" tambahnya bibi sambil menatap ke arah Anisa.

__ADS_1


"Oh ya sudah, Bi makasih ya?" Anisa langsung memutarkan badan dan kembali naik ke lantai atas.


Setibanya di kamar, Anisa mondar-mandir berjalan bak setrikaan sembari memegangi amplop tersebut.


"Kemungkinan Pramana belum tahu dengan amplop ini ataupun isinya! aku kasih tahu atau gimana ya? lagian dia ngotot amat sih, sudah tahu laki orang! malah nyuruh cerai lagi! kamu pikir aku akan kena gertakan apa?" umumnya Anisa dengan diri sendiri.


"Aku nggak akan menyerah begitu daja. Dan aku nggak akan memberikan apa yang sudah menjadi milik ku sama orang lain, suruh siapa dulu di tinggalkan? sekarang mohon-mohon yang kembali dan dinikahi lu kemana aja Bu?" Anisa terus bermonolog.


Anisa menyimpan kertas tersebut di laci yang lebih dalam kemudian diambil siapa untuk memasak buat makan siang Prambanan nanti. Di kepalanya sambil kepikiran danau itu di mana ya?


Kini Anisa sedang berkutat di dapur, menyiapkan bahan untuk memasak buat makan siang suaminya di kantor.


"Neng tampak serius banget masaknya? apa sih dengan yang dipikirkan?" suara bibi memecahkan keheningan mengganggu keseriusan Anisa dalam memasak.


Anisa menoleh sembari tersenyum. "Nggak juga, Bi ...."


"Nggak gimana Neng dari tadi diam sambil melamun Masih mending itu kerjaannya nggak belepotan!" tambahnya bibi. "Oh iya Neng. Bibi ikut bela sungkawa ya atas meninggalnya Ibu, dan bibi tidak bisa ke sana karena rumah Ini kan kosong!"


Sejenak Anisa terdiam Sembari yang memotong bawang yang ada di tangannya. "Em ... tidak apa-apa bi, iya makasih."


"Tadinya sih Bibi juga mau ke sana setelah keesokan harinya sama mang Pei, tapi ... waktu itu putra Bibi nggak enak badan--"


"Iya nggak apa-apa Bi ... doanya aja cukup kok!" potong Anisa. sambil senyum tipis.


Bibi pun melanjutkan aktivitasnya memasak untuk makan siang yang di rumah.


"Oh ya, Bi ... tau nggak di mana danau tempat Pramana menghabiskan waktunya dengan adisty?" dengan ragu ... Anisa bertanya pada bibi barangkali saja Bibi tahu.


"Aduh Neng ini gimana? mana bibi tahu Neng danaunya di mana! lagian kan aden nggak pernah cerita dia bermain di mana? menghabiskan waktu sama siapa? Neng ini ada-ada saja tanya sama Bibi he he he ..." Bibi malah terkekeh.


Di saat mengobrol terdengar suara derap langkah langkah kaki mendekati ke arah bibi dan Anisa ....


.


Bersambung.

__ADS_1


__ADS_2