
Sore-sore Andre dan Renita datang kedua kalinya menjenguk Anisa berbarengan dengan kedatangan Pramana.
"Assalamu'alaikum ... apa kabar Nisa ..." Renita memeluk Anisa.
"Wa'alaikum salam ... Alhamdulillah ... Kak!" Anisa membalas pelukan Renita.
"Wahhh ... bentar lagi bisa bisa belah duren ... Pram ... bentar lagi belah duren!" Renita heboh sambil melihat ke arah Pram yang hanya mesem.
"Pasti lah sayang ... siapa yang gak mau, aku aja mau! gak bosan-bosan kalau soal itu. pengen terus ..." timpalnya Andre pada sang istri.
"Apalagi kamu, soal itu ... gak mau berhenti maupun sehari gak ngerti istrinya lagi hamil." Tambahnya Renita sambil mengulum senyumnya.
Semua yang ada di sana hanya tersenyum dengan omongan Renita dan suaminya soal belah duren.
"Kalian ngomongin apa sih?" gumamnya Pramana sembari menggeleng.
"Ya ampun ... masa gak ngerti ini ngomongin kamu yang bentar lagi mau belah duren alias malam pertama gitu." Kata Renita yang di arahkan kepada Pramana.
"Hooh, jadi dong ijab kabu lagi?" tanya Andre sambil mendudukan dirinya di sofa.
Pramana dan Anisa saling melempar pandangan lalu detik kemudian, Anisa menunduk.
Lalu Anisa mengalihkan pandangan pada Renita dan bunda Farida. Besok aku pulang dari rumah sakit. Tapi mau ke tempat orang tua ku!"
"Apa, mau pulang ke tempat bunda?" Renita melihat ke arah bunda Farida dan Anisa bergantian.
"Iya, Nak Nita ... sampai dia benar-benar pulih, baru lah nanti kembali lagi ke tempatnya nak Pram. Ini untuk ... kepulihannya saja." Balas bunda Farida.
"Yah ... pisah dong ... gak bisa ehem-ehem!" Renita menatap ke arah Pramana yang terdiam.
"Pram kesepian dong Bun ... tanpa ada Anisa, kasian lah Pram!" Andre mengarahkan pandangannya pada bunda Farida.
"Nggak lama kok ... sampai Anisa benar-benar pulih, nanti juga boleh dijemput lagi!" liriknya bunda Farida.
"Ya ... memang sih, tapi kan setidak nya juga lama dan nggak mungkin satu minggu! pastilah lebih lah. Mungkin satu bulan atau juga lebih!" timpalnya Andre kembali.
__ADS_1
"Lusa aku mau keluar kota! antara dua atau tiga hari!" ucapnya Pramana.
"Oo! kasihan mau berjauhan. Gimana cara melepaskan rindu? kalau ditelepon sih nggak akan cukup! karena kalau aku sih pengennya peluk, ngahchhh ... gimana dong?" Renita sembari memeluk pinggang suaminya.
Lagi-lagi Pramana menggeleng. "Jangan lebay deh--"
"Eeh, bukannya lebay Pram ... kalau kita kan saling merindukan ya? sayang, saling merindukan dan melengkapi. Emangnya kamu, nggak kangen apa sama Anisa, kalau dia sudah jauh sama kamu? jangan nyesel deh!" Tambahnya Renita.
"Apa yang yang harus di sesali, Kak ... aku cuma keluar kota urusan kerja." Timpalnya lagi Pramana.
"Assalamu'alaikum ... Anisa ... Masya Allah ..." suara Aisyah yang baru saja melintasi pintu dan langsung mendatangi sang adik, Anisa.
"Wa'alaikum salam ..." jawab semuanya yang ada di sana dengan serempak.
"Kak Aisyah ... baru datang ya? Aku kangen sama Kak Aisyah." Anisa langsung memeluk sang kakak ada rasa haru di dalam hati yang paling dalam.
"Nisa ... yang sabar ya Dek ... mungkin ini sudah jalannya! yang Allah berikan yang terbaik untukmu! dan nanti insya Allah akan digantikan lagi." Suara Aisyah sambil memeluk sang adik Anisa.
"Iya Kak, Nisa juga berpikir mungkin itu yang lebih baik untuk Anisa dan juga anak itu! makanya Nisa nggak mau terpuruk dalam kesedihan!" jawabnya Anisa Seraya memudarkan rangkulannya.
"Hai Kak Aisyah ....apa kabar?" Renita memeluk Aisyah.
"Alhamdulillah ... baik! gimana kebar sebalik bumil? wah ... kehamilannya sudah semakin gendut nih, yang sehat ya ... bumil!" balasnya Aisyah sembari mengusap-usap perutnya Renita.
"Amin-amin, ya Allah ....mohon doanya ya?" balasnya kembali Renita dengan raut wajah yang sumringah.
"Apa kabar Pram?" Aisyah tersenyum seraya menyatukan kedua tangannya di depan dagu yang diarahkan kepada Pram juga Andre.
"Alhamdulillah, Kak!" Pramana mengangguk serta mengulas senyumnya.
Begitupun dengan Andre yang mengangguk juga. "Berdua aja nih datangnya! anak-anak mana?" tanya Andre kepada Aisyah Dan suaminya, Azis.
"Iya nih, Kak Andre ... anak-anaknya gak di ajak repot lah! nggak di ajak ke sini. Sebentar diajak ke rumah saja lain kali," jawabnya Aisyah.
"Iya kan Fika dan Ferly emang gak pengen ikut mereka berdua?" tanya Nisa kepada sang kakak.
__ADS_1
"Mau ikut juga, cuman Kakak larang! cuman ke rumah sakit kok, nanti saja kapan-kapan ke rumah Omanya. Biar ketemu di sana kan," balasnya Aisyah sembari mendudukan dirinya di dekat sang adik.
Kemudian mereka pun mengobrol sampai sekitar pukul 09.00 malam dan barulah mereka berpamitan, Aisyah dan Azis, Andre beserta sang istri, karena sudah terlalu malam mereka di sana.
Untuk kepulangan besok ... akan dijemput sama Pak Joni dan tentunya yang akan menguruskan semuanya administrasi dan lainnya, Pramana.
"Jadi besok pulang langsung ke tempat Bunda?" Pramana menatap ke arah Nisa dan Bunda Farida bergantian.
"Iya, besok ayah akan jemput ke sini dan kita langsung aja ke sana pulangnya nggak usah ke rumah kamu dulu!" ucap sang Bunda sembari mengarahkan pandangan ke Anisa.
"Aku gimana baiknya saja!" ucapan Anisa sembari menunduk.
"Ayolah Nisa ... come on! bilang sama bunda mu kalau kamu tidak mau ikut ke sana. Dan Kamu ingin tinggal bersama ku! ayolah bilang Nisa ..." batinnya Pramana sembari menatap ke arah Anisa yang seolah tidak perduli padanya.
Bagaimanapun Pramana tidak terlalu mengizinkan! seandainya Nisa pulang ke rumah orang tuanya. Sekalipun alasan untuk pemulihan tapi dia sendiri nggak berani ngomong gak berani ngelarang.
"Kenapa sih nggak ngelarang aku untuk pergi? setidaknya kalau kamu butuhkan aku bilang ... dan larang aku untuk pulang katakan juga kalau kamu ingin bersama ku!" monolognya Anisah dalam hati.
Pramana tidur di sofa yang panjang, sementara Ibu Farida tidur di tempat sebelahnya Anisa dan Anisa biarpun sudah larut malam! kedua menik matanya masih terjaga sesekali melihat ke arah sang Bunda yang tampak lelap dan ke arah Pramana yang terlihat gedebagh-gedebugh di atasnya sofa panjang, tampak gelisah.
Pramana bangun dan mendudukan dirinya dengan tegak. Serta mengerahkan penglihatannya ke arah Anisa yang kebetulan sedang menatap pada dirinya.
Anisa segera menundukan pandangan ke lain arah, serta menarik selimutnya yangberada di perut.
"Kenapa belum tidur?" suara Pramana yang tiba-tiba berada di dekat Anisa.
"Ha? kamu sendiri kenapa belum tidur?" Anisa malah balik bertanya pada pria yang menghampirinya itu.
"Aku belum ngantuk!" jawabnya Pramana agak singkat. Kemudian menoleh ke arah Bunda Farida yang tampak gelap sekali dan waktu pun sudah menunjukkan pukul 00.00.
"Sebaiknya ... kamu cepat tidur. Kan besok mau kerja juga! nanti ngantuk lho!" ucapnya Anisa dengan sangat lirih, lalu menundukkan dirinya serta menyandarkan punggung di bahu ranjang.
Kedua pasang mata mereka berdua pun bertemu dan tatapan itu nampak sangat dalam, menimbulkan sebuah getaran yang tak tahu apa itu namanya. Mereka sendiri pun tidak dapat menjabarkan dengan detail apa yang mereka rasakan ....
...🌼---🌼...
__ADS_1
Tidak bosan-bosan aku mengingatkan jangan lupa like comment dan dukungan lainnya ya, dan bagi yang sudah makasih banyak banget karena itu yang membuat autor remahan ini bersemangat untuk berkarya.