Pernikahan Yang Tak Di Anggap

Pernikahan Yang Tak Di Anggap
Pengganti


__ADS_3

"Mungkin dia bukan jodohmu, sudahlah kita pulang saja!" Andre membantu Pramana untuk masuk dan duduk di kursi yang sebelumnya dia duduki dan biar dia sendiri yang menyetir atau membawa mobilnya pulang.


"Kamu duduk di sini dan biar aku yang bawa mobilnya!" Andre mengitari mobil tersebut lalu duduk di belakang kemudi.


Andre menyalakan mesin dan lalu melajukan mobil tersebut dengan cepat.


"Adisty kenapa kau pergi meninggalkan ku? di saat kita mau menikah. Apa salahku padahal kita sudah sepakat dengan pernikahan ini yang sudah dipersiapkan dari awal," tiba-tiba Pramana berteriak-teriak menyebut-nyebut nama Adisty sambil memegang kepalanya yang berdenyut sakit.


Rasanya Andre pun tidak tega melihat sang adik seperti itu. "Tenang Pram! istighfar, mungkin ini takdir dan dia bukanlah jodohmu. Istighfar?"


"Bang, aku sangat tidak mengerti apa salahku dan di mana letaknya? padahal kami sudah sepakat untuk menikah dan persiapan pun sudah 95% tapi kenapa dia meninggalkan ku kenapa seperti ini Bang?" ucap Pramana dengan nada tinggi melihat sang kakak yang sedang menyetir.


"Ya mana ku tau, kan kamu sendiri yang jalani hubungannya sama dia. Mungkin dia nggak cinta sama kamu sehingga dia rela meninggalkan mu disaat detik-detik pernikahan," Andre menaikkan dua bahunya.


"Kamu tega, tega meninggalkanku seperti ini. Padahal aku akan menerima keputusannya jika dia bicarakan dulu padaku atau menikah dulu baru dia menerima tawaran pekerjaannya itu!" Pramana kembali berteriak.


Kedua sudut matanya terlihat ada buliran air bening. Pramana menangis kecewa dengan keadaan ini, yang seharusnya hari ini penuh dengan kebahagiaan! sesuatu yang ditunggu-tunggu malah kebalikannya.


Langit yang mulanya cerah mendadak mendung hitam menjelma dan matahari pun tertutup awan kelabu. Langit ikut bersedih melihat Pramana yang berduka karena ditinggalkan sang kasih yang tidak berperasaan meninggalkan hari pernikahan mereka.


Akhirnya langit menangis menciptakan air hujan walaupun mulanya hanya gerimis namun cukup membasahi jalanan sehingga membuat sedikit licin dan pengendara harus lebih berhati-hati begitupun dengan Andre yang tengah mengemudikan mobil Pramana.


Dan setelah melewati jalan berliku di bawah kolong langit yang gelap dan hujan yang semakin deras akhirnya mobil tersebut memasuki pekarangan rumah nya pak Lukman.


Kedatangan mereka disambut oleh keluarganya dengan tatapan sendu dan merasa sedih, karena mereka pun sudah mendengar kabar dari Andre bahwa mempelai wanita itu sudah terbang dan meninggalkan pernikahan ini.


Lagi-lagi Andre menggandeng sang adik dan kini sang ayah pun turut memegangi tangan Pramana yang tampak lesu dan kacau. Dibawanya ke ruang keluarga yang tertutup tanpa adanya orang luar yang tidak berkepentingan.

__ADS_1


Pramana dipeluk oleh sang ibu sambil menangis. Melihat putranya terpuruk seperti itu, seharusnya ini hari yang dangan membahagiakan justru sangat bertolak belakang, pernikahannya pun gagal karena mempelai wanita telah pergi.


"Bu, Adisty pergi dan tidak mau menikah dengan ku. Apa salahku? sehingga dia pergi begitu saja dan seandainya dari awal dia bilang tidak mau menikah denganku, tidak akan ada pernikahan seperti sekarang ini!" ucap Pramana dengan wajahnya yang basah dan suara yang bergetar.


"Sabar, Nak ... sabar! mungkin dia bukan jodohmu, mungkin dia bukan yang terbaik untukmu kamu harus sabar ya!" lirih sang Bunda sembari mengusap-usap punggung putranya, tak ayal dia pun ikut menangis.


Pak Lukman mengembuskan nafas dalam-dalam dihembuskan dengan sangat panjang. "Intinya Adisty bukan jodoh mu sehingga dia tega meninggalkan mu di saat-saat seperti ini, kalau saja dia jodohmu gak mungkin dia pergi tanpa bicara lebih dulu."


Di tengah-tengah keluarga Pak Lukman, terdapat keluarga Pak Joni yang sudah datang dari pukul 08.00 tadi. Termasuk Anisa tampak duduk di samping Aisyah.


"Apa kata dari calon besan?" kini sang ayah mengalihkan pandangan kepada Andre.


"Mereka tidak bicara apa-apa, Yah. ya mungkin mereka pun sedang kalut, karena kepergian putrinya bahkan mungkin yang jadi masalah terbesar yaitu gagalnya pernikahan. Di sana sudah berkumpul siap untuk berangkat." jawabnya Andre menceritakan yang dia lihat dan dia dengar.


"Astaghfirullah!" pak Lukman terdengar berkali-kali beli istighfar berharap dia bisa tetap tenang dan berlapang dada.


"Gimana ini yah? apa kita akan membatalkan pernikahan ini begitu saja, sementara undangan Sudah pada datang sebagian begitupun dengan pihak dari penghulu sudah hadir!" terdengar keluh sang Bu haji Bella yang ditujukan kepada pak Lukman.


"Entahlah, Bu ... Ayah juga bingung," jawabnya Pak Lukman sembari menatap ke arah Pramana yang tak bergeming.


"Eeh ada Aisyah. Apa kabar? makin cantik aja nih!" suara Andre yang baru menyadari kalau di sana ada Aisyah dan juga adiknya Anisa.


"Wah ... Anisa ya? sudah besar sekarang, semakin cantik juga. Dulu sih masih kecil makanya sering dijahilin sama Pramana masih ingat nggak?"


Aisyah menyambut perkataan Andre dengan senyuman lalu mengangguk. "Bisa aja Bang Andre ini, masih ingat ya sama aku? Masya Allah ... Alhamdulillah masih diingat!"


"Tentu dong ... saya masih ingat kalian berdua juga paman dan tante," langsung mengulurkan tangan ke arah Pak Joni dan istri.

__ADS_1


"Ini pasti suamimu ya?" Andre menunjuk ke arah Azis yang senyum lalu mengangguk hormat.


"Iya, Bang Andre ini Mas Azis suaminya Aisyah." Aisyah mengangguk lalu mengenalkan mereka berdua.


"Terus suami Anisa mana? kenapa nggak diajak?" selidik Andre sambil melihat ka arah Anisa yang sedari tadi hanya senyum Dan senyum saja.


"Kalau Anisa belum menikah. Bang Andre, masih nyari!" jawabnya Aisyah sembari melirik pada sang adik.


"Oh belum nikah, betulan sekali!" Andre merasa mempunyai ide.


"Ini sangat pas. Bagaimana kalau misalnya Pramana di nikahkan dengan anisa? ganti calon mempelai wanita yang kabur. daripada pernikahan ini gagal Dan kita pun akan merasa malu!" Andre menoleh pada ayah dan ibunya dan juga pada Pramana yang tampak melamun.


Degh.


Anisa merasa spot jantung, mendengar perkataan Andre yang menyebut namanya.


Mendengar saran Andre yang spontan barusan. Pak Lukman maupun sang istri merasa mendapatkan angin segar lalu menatap ke arah Pramana yang sedang menunduk dalam, lantas ke arah Annisa yang tampak gugup.


Kemudian pak Lukman melirik pada sang istri. "Bu ... sepertinya saran Andre oke juga, daripada pernikahan ini gagal! mendingan kita cari penggantinya saja ya ... syukur-syukur rumah tangganya langgeng!"


Bu Hj Bella pun menoleh pada Anisa anak gadis Pak Joni dan Bu Farida yang memang sudah lama mereka kenal bahkan saling membantu dulunya. Tentunya tahu babat bebet dan bobotnya.


"Kalau ibu sih setuju, apalagi kalau Anisa itu anaknya pak Joni dan Farida yang tentunya kita tahu siapa mereka dan akhlaknya gimana! tinggal tanya saja Pramana, Ayah." Bu haji Bella mengangguk setuju ....


...🌼---🌼...


Jangan lupa like comment dan subscribe terima kasih

__ADS_1


__ADS_2