Pernikahan Yang Tak Di Anggap

Pernikahan Yang Tak Di Anggap
Kesampaian


__ADS_3

Setelah sarapan, Pramana pun bersiap untuk pergi belanja dan mengajak Anisa untuk pergi bersamanya! tentunya disambut bahagia oleh sang ibu dan lainnya kalau mereka mau jalan berdua.


Mereka pun berpamitan dan kini keduanya sudah berada di dalam mobil. Pramana pun turut memasangkan bell safety di tubuhnya Anisa penuh perhatian.q


Di saat Pramana memasangkan bell safety di pinggangnya, Anisa seolah berhenti bernafas dia bisa menghirup bau wangi aroma dari tubuh Pramana.


Begitu juga dengan Pramana, hidungnya yang mancung berdekatan dengan wajah Anisa hingga tercium wanginya wanita tersebut.


Pramana mengembuskan nafasnya dengan teratur, lalu menyalakan mesin mobil dan kemudian memutar kemudi meninggalkan halaman kediamannya.


"Kita mau belanja ke mana?" tanya Anisa sembari melirik ke arah Pramana yang sedang fokus menatap jalanan.


"Kita ke supermarket terdekat saja!" jawabnya Pramana.


Anisa hanya menganggukkan kepalanya, serta melihat ke luar jendela menghirup udara yang sudah mulai tercemar dengan polusi dari kendaraan yang menggunakan jalanan tersebut.


Manik mata Anisa melihat ke arah jalanan yang tampak ramai dengan hiruk pikuknya penghuni kota.


Karena memang tidak terlalu jauh, sehingga dengan cepat Pramana bisa menjangkau tempat tersebut. Dan dia memarkirkan mobilnya di parkiran yang tidak terlalu banyak kendaraan alias tempatnya leluasa.


Kemudian mereka memasuki supermarket, lantas berbelanja apa saja yang diperlukan buat barbeque nanti bersama.


"Mau belanja apa? mungkin kamu mau sesuatu?" tawarnya Pramana pada Anisa yang sedang melihat-lihat ke barang-barang yang berada di hadapannya itu.


"Nggak ach, gak mau apa-apa." Jawabnya Anisa sambil sedikit menggeleng.


Di rasa cukup dengan belanjaannya. Pramana pun membayar dan membawa belanjaannya ke mobil.


"Em ... tunggu dulu sebentar ya? aku ada urusan dulu, jangan ... jangan kemana-mana! duduk di mobil tunggu Aku balik!" ucapnya Pramana setelah menyimpan belanjaan di bagasi.


Anisa berdiri di samping mobil merasa heran. "Emang mau ke mana dulu?"


"Pokoknya tunggu aja dulu! ayo masuk?" Pramana membukakan pintu mobilnya agar Nisa masuk dan duduk ke sana.


Walaupun merasa heran dan penasaran kalau Pram mau ke mana? Anisa diam saja dan menuruti kemauan Pramana untuk duduk di mobil, menunggunya.


Setelah memastikan Anisa sudah berada dalam mobil, Pramana pun membawa langkahnya pergi meninggalkan mobil tersebut yang mau ke mana, Anisa pun tidak tahu.


"Mau ke mana sih itu orang? masa meninggalkan aku sendirian." Gumamnya Anisa sembari celingukan melihat kanan kiri dan suasana sekitar dan ada rasa was-was sendirian di dalam mobil.


"Huuh ..." Anisa menggembungkan kedua pipinya setelah sekitar 5 menit lebih menunggu dan Pramana belum juga kembali.


Anisa sudah tampak gelisah dan kepalanya menoleh ke beberapa tempat. Tiba-tiba Pramana muncul lalu masuk ke dalam mobil dan memberikan sebuah kantong berwarna hitam kepada Anisa.

__ADS_1


"Ha? apa ini?" tanya Anisa kepada Pramana yang sedang memasang bell safety di tubuhnya.


"Buka saja! mungkin kau akan suka, atau ... jika tidak! buang saja!" ucapnya Pramana sembari menyalakan mobil tersebut.


Detik kemudian Anisa pun membuka kantong tersebut dan ternyata isinya adalah mangga yang dibentuk bunga yang pernah Anisa inginkan.


"Wah ... dari mana ini?" wajah Anisa tapak sumringah lalu melihat ke arah Pramana pergantian.


"Jangan tanya dari mana, kalau suka makan saja. Kalau nggak suka? ya buang." Jawabnya Pramana kembali sembari memutar kemudi nya.


"Ya Allah ... makasih, makasih ya?" Anisa tampak sangat bahagia dan tidak nyadar kalau tangannya menyentuh paha Pram.


Pramana mengulas senyumnya serta mengalihkan pandangan ke arah tangan Anisa yang berada di atas pahanya itu.


Manik mata Anisa bergerak melihat pada tangannya dan langsung menarik dari paha nya Pramana. "Maaf."


"Sama-sama." Pramana mesem-mesem sembari memfokuskan pandangannya ke depan.


Kemudian keduanya terdiam, apalagi Anisa merasa malu dengan barusan dimana dia menyentuh paha Pramana! dia memalingkan wajahnya ke wajah jendela.


Tidak lama di jalan. Mereka pun sudah tiba lagi di kediamannya dan di sana ternyata sudah ada Aisyah dan anak-anak tidak ketinggalan suaminya Mas Azis.


"Ya Allah ... Kak Aisyah sudah datang! Masya Allah ..." sambutnya Anisa sembari berlari mendatangi kakak nya yang berada di teras. Kemudian mereka pun berpelukan saling melepas rindu.


"Assalamu'alaikum. Kak Aisyah, Masya Allah ... aku kangen banget! kabar Aku baik deh ... Gimana kabar Kak Aisyah dan juga anak-anak? Mas Azis juga?" sesaat kemudian Anisa melepas pelukannya dan mencium tangan mas Azis penuh hormat.


Setelah itu Anisa kembali memeluk tubuh Aisyah, masih kangen katanya.


Pramana pun menghampiri mereka sembari menjinjing belanjaan, dan dia bersalaman dengan Azis dan juga bercakap-cakap! sementara belanjaannya langsung diambil sama bibi di bawahnya ke dapur.


"Ngobrolnya di dalam deh Nisa ..." kata sang ibu mertua Anisa.


"Tidak apa-apa, Tante di sini aja. Gerah kalau di dalam, enak ngadem di teras," sahutnya Aisyah sembari mendudukan dirinya di kursi yang berada di sofa.


Begitupun dengan Anisa duduk di samping sang kakak.


"Sampai lupa sama keponakan ku yang pada come-comel, Fika dan Ferly ... Tante kangen deh!" Anisa memeluk keduanya bergantian.


"Tante Anisa semakin gemuk deh, ih ... nanti jelek, nggak cantik lagi." Kata Ferly sembari menatap intens ke arah Anisa.


"Iih ... kak Ferly kan, Tante sedang hamil di perutnya Ada dede bayi. Jadi wajar kalau dia gemuk!" timpalnya Fika.


Dan Anisa mencabikan bibirnya ke depan, mendengar perkataan dari kedua ponakannya tersebut. "Capek nggak? Tante bikin minuman buah mau?" tawarnya Anisa menatap keduanya.

__ADS_1


"Sudah ada di dalam, sudah di sediain kan udah dari setengah jam yang lalu datangnya." Kata Kak Aisyah.


"Oh, Tante dari mana sih sama omnya jalan-jalan ya?" tanya Fika dan Ferly bergantian.


"Ya ampun ... tante lupa! kenapa Tante nggak beli makanan ya buat kalian? Tante lupa bener deh." Tambahnya Nisa sembari menepuk jidatnya.


Dia benar-benar lupa kalau dia tidak membeli makanan buat keponakannya, padahal barusan habis dari supermarket.


Sementara Pramana hanya senyum-senyum saja melihat ke arah kedua ponakan Anisa.


"Om ganteng, kapan nih masaknya Ferly laper nih!" Ferly menoleh ke arah Pramana yang sedari tadi cuma senyum-senyum doang.


Membuat semua pasang mata melihat ke arah Pramana dan Aisyah berkata kepada putranya tersebut.


"Ferly, kan masih pagi. Lagian teman-temannya Om belum datang, seperti om Deni dan tante Dea kan mereka mau ke sini lho!" lirihnya Aisyah kepada putranya.


"Oh iya, Om Deni sama tante Dea mau ke sini ya? lupa aku!" sembari menepuk pipi nya, lalu Ferly berjalan menuju taman yang diikuti oleh sang adik, Fika.


Anisa menoleh pada sang kakak, Aisyah. "Belum pada sarapan ya?"


"Sudah kok, di rumah sudah sarapan! di jalan juga jajan mereka, namanya juga anak-anak nggak usah didengerin." Kata Aisyah sembari mengibaskan tangannya.


Pramana beranjak dari duduknya dan dia ke belakang menemui sopir nya, lalu menyuruh kedua anak itu belanja ke supermarket.


Ferly dan Fika menyambut riang dan mereka langsung naik ke dalam mobil yang sudah ada sopirnya tersebut.


"Eh, anak-anak ku mau di bawa ke mana?" tanya Aisyah ketika melihat kedua buah hatinya naik mobil Pramana.


Sementara Pramana berdiri di dekat mobil tersebut.


"Biar mereka ke supermarket sama sopir!" jawabnya Pramana seraya melihat mobil tersebut merayap keluar dari halaman.


"Ya ampun ... ngerepotin deh, padahal biarin aja! orang tadi juga di jalan-jalan jajan kok ..." kata Aisyah kepada Pramana.


"Maunya, diikutin mulu. Nanti kebiasaan lho, Om!" kata Azis.


"Nggak apa-apa, Mas orang jarang kan ke sini nya juga," Pramana kembali mendudukan dirinya di tempat semula.


"Apa itu sayang?" tanya sang ibu mertua setelah melihat Anisa memakan buah yang dibentuk bunga.


"Ini mangga manisan kembang," jawabnya Anisa sambil menikmatinya potongan buah yang berada di tangannya itu, mau dari dulu baru kesampaian sekarang.


Sejenak Anisa terdiam dan berhenti mengunyah, lalu melihat ke arah Pramana yang sedang melihat dirinya juga. Seharusnya yang memperhatikan dia saat-saat ngidam adalah orang yang sudah menanam benihnya di rahimnya. Tapi ini lain membuat hati Anisa sedikit mencelos ....

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2