
Anisa baru saja mau melangkah ke dalam rumah. Datang lah sebuah mobil yang merupakan mobilnya Andre, dan turunlah Renita yang mengenakan gamis hitam salur putih.
Membuat Anisa kembali melangkah ke teras dan menyambut kedatangannya Renita dan Andre.
"Assalamu'alaikum ... Hai pengantin baru ... apa kabar dan tambah cantik saja juga semakin berseri." Kata Renita sambil memeluk Anisa.
"Wa'alaikum salam ... Alhamdulillah baik. Gimana sebaliknya kak Renita dan Abang ..." Balas Anisa sambil membalas pelukan Renita.
"Mana ibu dan ayah? Abang mau berangkat kerja nih ..." Andre setengah berlari ke dalam rumah untuk menemui orang tuanya.
Karena Andre sebenarnya dikejar-kejar waktu, dia harus ngantor namun harus mengantarkan dulu sang istri ke rumah orang tuanya tersebut.
"Ayo Kak masuk?" Anisa menarik tangan Renita agar masuk ke dalam rumah menyusul Andre yang lebih dulu menemui orang tuanya.
Sementara waktu mereka saling bercengkrama, dan sesaat kemudian Andre berpamitan untuk ngantor.
Andre melirik jam tangan yang melingkar di tangannya. "Oke, aku mau pergi dulu hampir kesiangan nih, Yah. Ibu, aku pergi dulu? titip badut yang satu ini ya? Assalamu'alaikum!"
Manik matanya Renita melotot dengan sangat sempurna pada sang suami yang berlalu pergi, yang sudah menyebutnya badut. "Dasar suami kurang ajar, suami lukcnat kau. Istrinya yang sedang hamil mengandung anaknya dibilang badut!"
Tak ayal orang-orang yang berada di sana tersenyum, mendengar seperti gerutu Renita pada suaminya. Andre yang sudah memasuki mobilnya Daan bergegas pergi ke kantor.
"Ibu, abang suka begitu deh ... masa aku yang tengah mengandung anaknya dibilang badut! kurang ajar pake banget itu Abang!" kata Renita pada sang ibu mertua.
"Tidak usah dimasukkan ke dalam hati, dia itu kan cuman bercanda. Hi hi hi ..." timpalnya sang ibu mertua sambil mengusap perutnya Renita yang gendut.
"Tuh kan Ibu juga kayak gitu. Berarti aku kayak badut--"
"Tidak apa-apa Kak ... tetap cantik kok ... biarpun seperti badut, lagian bukannya emang kayak gitu ya? kalau wanita hamil, mungkin aku juga pasti seperti itu bila saja tidak keguguran kemarin!" Anisa menimpali perkataan dari Renita.
'Bener kata Anisa, Nita ... namanya juga wanita hamil, ada isinya! ya kaya gitu ... biar aja orang bilang kaya badut atau gimana juga, toh semua wanita pasti merasakannya jadi santai aja. Lagian suamimu itu kan emang jail kan ..."
"Assalamu'alaikum ..." terdengar suara ucapan salam dari luar, dan tentunya suara itu sudah tidak asing lagi bagi mereka. Yaitu suara Aisyah dan sang ibunda.
Anisa langsung beranjak dan menyambut kedatangan mereka, Anisa setengah berlari lalu memeluk sang ibunda dan sang kakak bergantian.
"Wa'alaikum salam ... Bunda. Kak Aisyah. Kalian sudah datang? Ayah mana?" Anisa mencari keberadaan sang ayah.
"Kami ke sini cuman berdua saja, Nisa ... dan juga naik taksi, karena ayah bekerja, mas Azis juga bekerja dan aku pun tidak mengajak anak-anak. Karena mereka berdua sekolah!" Jawabnya Aisyah sembari memegangi kedua tangan adiknya.
__ADS_1
"Oh iya, anak-anak juga nggak diajak ya? Iya ... sepi dong. Yo masuk? Bunda, Kak Aisyah." kemudian Anisa menyilakan Bunda dan kakaknya untuk masuk dan bergabung bersama mertua dan kakak iparnya.
"Bunda kangen sama kamu Nisa ..." Bu Farida merangkul bahu nya Anisa.
"Aku juga. Bunda ... Bunda sehat bukan?" Anisa menatap sang bunda dengan ekspresi wajah yang sangat bahagia.
Kemudian mereka pun saling sapa satu sama lain dan mengobrol dengan hangat. Penuh kekeluargaan. Sebelum berangkat nanti ke butik.
Sementara Anisa berdiri untuk ke kamar serta menyiapkan dirinya yang masih mengenakan piyama.
Namun tidak lama kemudian Aisyah dan Renita pun langsung menyusulnya, Anisa ke dalam kamarnya bersama Pramana.
"Cie-cie ... sekarang kamarnya udah pindah lagi! gimana udah belah duren belum?" Celetuknya Renita sambil mendudukkan dirinya di atas tempat tidur.
"Apaan sih, Kak Renita nanya kayak gitu ih?" Anisa malu-malu.
"Tentunya belum dong ... sabar aja dulu, sampai nanti waktunya juga nggak akan ke mana. Itu sudah kodratnya wanita, hamil. Melahirkan dan nifas, datang bulan yang tidak bisa digantikan dengan yang lain apalagi sama laki-laki. Makanya ... suami itu harus cukup mengerti dengan kodrat kita sebagai wanita." Ujarnya Aisyah sambil berdiri di dekat jendela kaca yang besar menatap ke arah luar.
"Itu memang benar sih ... semua yang jadi kodrat wanita itu tidak bisa digantikan oleh laki-laki termasuk suami kita. Mereka mah cuma mau tau enak-enaknya saja. Kita lagi halangan ... Uring-uringan. Apalagi masa nifas yang cukup lama sebulan lebih, huuh bisa-bisa pecah tu kepala. Repot pastinya merajuk terus. Di kasih satu Minggu saja panas nih telinga." Timpalnya Renita.
Aisyah tersenyum melihat ke arah Renita yang berkata-kata sembari menggerakkan tangannya kemudian Aisyah pun berjalan mendekati Renita dan Anisa. "Makanya wanita harus pandai-pandai memanjakan dia, sekalipun keadaan kita tidak mungkin kan. Agar dia merasa tenang dan nyaman."
"Adapun jika si wanita telah suci dengan berhentinya darah, berarti ia dalam keadaan suci, meskipun sebelum 40 hari. Untuk itu hendaklah ia mandi, shalat, berpuasa dan boleh digauli oleh suaminya."
"Berarti ... biarpun belum 40 hari tapi pendarahan sudah berhenti, kita mulai bersuci? bisa melayani suami?" tanya Anisa dengan ekspresi malu-malu.
"Tentu boleh biarpun belum 40 hari," Aisyah mengangguk dan membenarkan perkataan dari sang adik.
"Hah ... Kak Renita tahu. Kamu pasti pusing kan ... menghadapi suamimu yang selalu merajuk dan minta dilayani kan ..." Renita menunjuk ke arah Anisa.
"Itu wajar saja bila merajuk sama istrinya, itu sudah seharusnya ketimbang sama wanita lain, kan? Mendingan sama istrinya." Lanjut Aisyah kembali sambil mesem.
"Gimana hukumnya melayani suami di saat kita sedang haid atau sedang masa nifas Kak? Menurut kak Aisyah gimana?" tanya Renita sambil merapikan kerudungnya.
"Diperbolehkan, bagi suami bercumbu dengan istri baik yang sedang haid maupun nifas, selama dia tidak sampai memasukkan Mr p ke dalam mis v nya. Jadi boleh seorang suami melakukan apa yang dia inginkan dari atas perut ke atas atau dari paha ke bawah, asal tidak yang satu itu, karena haram hukumnya kalau menggauli istri yang sedang haid dan nifas sekalipun suami istri." Ujar Aisyah kembali.
"Hem ... dengar tuh Nisa ... eh aku juga juga dengarkan buat nanti bekal setelah melahirkan," ucapnya Renita yang ditujukan kebenaran Anisa dan juga dirinya sendiri.
Sementara Anisa hanya tersenyum sembari mengangguk ke arah Renita dan Aisyah.
__ADS_1
"Oh ya Dek, katanya mau siap-siap Ayolah siap-siap," kata Aisyah sembari mengedarkan pandangan ke arah lemari.
"Oh iya, tunggu ya aku mau siap-siap dulu," balasnya Anisa sembari beranjak dari duduknya berjalan menghampiri lemari dan mengambil setelan pakaian yang akan dia kenakan saat ini, serta kerudung pashmina dengan warna senada.
"Kak, Aisyah ... gimana cara mengatasi suami yang lagi tegangan tinggi? di saat kita nggak bisa melayaninya, terkadang aku menjadi bingung sendiri!" ucapnya Renita setelah Anisa pergi ke dalam kamar mandi.
"Iya ... kan banyak cara untuk itu Kak Reni ... di antaranya memanjakan dia, bermesraan dengannya. lakukan aja dengan ikhlas asal jangan, ya ... mendekati itu yang tidak boleh. Yang penting dia senang kita pun bahagia, sama-sama menikmati satu sama lain. Sebab itu termasuk juga ibadah. Jika dilaksanakan dengan ketulusan dan keikhlasan." Tambahnya kembali Aisyah.
Renita menganggukkan kepalanya tanda mengerti dengan apa yang dijabarkan oleh Aisyah.
Mereka berdua pun mengobrol sambil menunggu kembalinya Anisa dari kamar mandi.
"Kalian berdua anteng banget ya? ngobrolnya ... sampai-sampai aku nggak tahu apa yang diobrolkan! kasih bocoran dong ..." suara Anisa dari balik pintu kamar mandi.
"Nggak ada yang aneh kok Nisa masih bahas yang tadi!" sahutnya Renita sembari menoleh ke arah Anisa yang berjalan mendekati cermin. Dan menenteng kerudungnya.
Beberapa saat kemudian, mereka pun keluar dari kamar tersebut dan siap untuk pergi menuju butik dengan mobil Alphard yang akan dikemudikan oleh mang Pei.
Dan pak Lukman memilih tidak ikut, biar itu jadi urusan perempuan saja. Dia memilih keluar sendiri dengan urusannya pribadi.
Mobil Alphard yang dikemudikan oleh mang Pei membawa para wanita cantik menuju butik.
"Oh ya, Aden kapan nyusul ke bukit? apa nggak fitting?" tanya mang Pei dari depan, belakang kemudi.
"Haduh mang Pei ... Aden mah tiap hari juga pasti naik bukit dan itu bukan untuk fitting tapi untuk bermain-main, kalau untuk fitting baju itu namanya butik. Bukan bukit Mang, he he he ..." Renita menimpali mang Pei yang salah pengucapan.
"Ha ha ha ... Iya Neng, mang Pei salah ucap. Maklum sudah tua bicara saja belibet." Mang Pei cengengesan.
"Hem ... masalah naik bukit mah ... nggak usah ditanya kali, paling hobi. Dan sebentar lagi pasti akan bermain di pulau kecil yang bermadu. Sesuatu yang membuat setiap insan menjadi candu--"
"Ach ... Ibu kok tahu sih. Jangan-jangan Ibu masih gitu sama ayah, masih kaya gitu ya? ha ha ha ..." goda Renita sambil mesem, melihat sang ibu mertua.
Aisyah dan Anisa hanya saling melempar senyuman, mendengar dan melihat perdebatan sang ibu mertua dan mantunya Renita.
Mobil semakin melaju dengan kecepatan yang lebih tinggi sehingga dengan cepat bisa tiba di depan salah satu butik tujuan ....
...🌼---🌼...
Jangan lupa like komen dan dukungan lainnya. Makasih
__ADS_1