Pernikahan Yang Tak Di Anggap

Pernikahan Yang Tak Di Anggap
Masih mencintai


__ADS_3

Pramana menjatuhkan bokongnya di atas kursi sehingga kursi tersebut bergoyang mundur. Pramana mendongak dan mengusap wajahnya dengan sangat kasar, namun dengan cepatnya dia beranjak kembali lalu mengambil air wudhu di kamar mandi lantas dia melaksanakan salat Dzuhur terlebih dahulu sebelum meneruskan pekerjaannya.


...-------...


Di sebuah tempat, tepatnya di sebuah kamar yang berkonsep warna ping. Ada seorang gadis tengah menangis tersedu. Dia tampak sangat menyesali dengan apa yang sudah dia lakukan terhadap seseorang! dia sangat menyesal telah meninggalkan pria yang sesungguhnya sangat dia cintai.


"Aku-aku minta maaf bila menyakiti mu. Aku sangat mencintai mu sampai dengan detik ini aku sangat mencintai mu! bukan niat ku untuk menyakiti mu Pram ... karena aku terpaksa, demi karier ku, aku tau karena seharusnya aku membicarakan itu terlebih dahulu dengan mu!" Suara gadis itu terbata-bata dan bergetar.


Dia terduduk lesu setelah menelpon orang yang sangat dia cintai, merosot ke lantai memeluk kedua lututnya dan menenggelamkan wajahnya di sana yang banjir dengan air mata yang terasa hangat.


"Adis ... kamu kenapa menangis seperti itu? tidak perlu kau menangis semuanya, cuman ... yang sudah terjadi ya tinggallah kamu perbaiki semuanya!" suara sang Bunda yang baru saja memasuki kamar Adisty yang tengah menangis pilu.


Kemudian wanita itu berjongkok dan lantas duduk merangkul bahunya Adisty yang sepertinya merasa sangat terluka.


Adisty mengangkat wajahnya melihat pada sang Bunda, palu membalas pelukannya. "Mam, aku menyesal sudah meninggalkan Pram di hari pernikahan kita, apakah Pramana masih mau menerima ku Mam? Hik-hik-hik!" Kini Adisty malah menangis di pelukan sang bunda.


"Mama yakin kalau Pramana pasti mau memaafkan mu, dan menerima mu kembali! jelaskan alasannya karena ditangisi atau disesali juga percuma. Bicaralah baik-baik dengannya, Mama yakin dia pasti masih sayang sama kamu." Ungkap sang Bunda sembari mengusap punggung putrinya tersebut.


"Benarkah, Mam ... dia masih mau menerima ku kembali, tadi aku telepon dia dan dia terdengar sangat kecewa dengan kejadian waktu itu! katanya dia datang ke sini, aku nggak ada. Ke bandara juga aku nggak ada! aku yang jahat kan Mam? aku yang jahat sama dia." Suara Adisti kembali dan sekarang dia mulai menghentikan tangisnya.


"Mama yakin sih ... kalau Pramana itu sangat sayang sama kamu dan pasti mau memperbaiki hubungannya dengan mu!" ucap sang Bunda dengan seolah memberikan harapan kepada putri nya.

__ADS_1


Mendengar perkataan sang Bunda seperti itu ... Adisti melepaskan pelukannya pada sang Bunda, lalu dia mengusap wajahnya dan juga menggosok kedua manik matanya. Kemudian membuang ingusnya dengan bajunya.


"Baiklah, Mam. Aku akan jelaskan sedetailnya kepada Pramana, agar dia mengerti dan memahami keadaan ku dan aku ingin memperbaiki semuanya! aku ingin menikah dengannya, nggak apa-apa nggak pesta juga asalkan aku dan dia menikah. Setidaknya untuk menembus semua kesalahan ku padanya!" ucapnya Adisty dengan sorot mata yang sedikit berbinar dan wajahnya yang kembali bersinar.


Wajah Adisty sangat cantik setara dengan Anisa hanya ... Anisa kalau keluar rumah sering menggunakan kerudung dan sementara Adisty tidak. Ukuran tubuhnya pun sama tingginya pun sama. Makanya baju yang Pramana siapkan untuk Adisty sangat pas di tubuhnya Anisa dan semuanya Anisa kenakan.


"Begitu dong ... harus semangat, buat apa nih pakai nangis segala, percuma, karena semua itu kesalahan yang dibuat kamu sendiri. Saat pernikahan kamu menghilang dan bukan hanya membuat malu keluarga mereka, begitu itu juga keluarga kita Adis ..." Lirihnya sang Bunda.


"Aku minta maaf, Mam minta maaf? Sebenarnya aku tidak bermaksud untuk membuat kalian semua malu akhirnya aku terlalu egois dan keras kepala!" ucapnya kembali Adisty seraya memeluk sang Bunda sebagai permintaan maaf.


Kini Adisti sudah berpindah posisi duduknya! sekarang dia duduk bersama sang Bunda di atas tempat tidur. Adisty tiduran di pangkuan bunda nya.


"Aku sadar, kalau seandainya aku tidak egois dan keras kepala selama ini. Nggak akan terjadi, entah setan Apa yang sedang merasuki ku saat itu sehingga aku berani pergi di sela waktu yang sangat penting untuk kebahagiaan ku dan Pramana! namun sampai saat ini di dalam lubuk hati ini. Aku masih mencintainya dan aku yakin kalau Pramana pun masih mencintai ku!" ungkap nya Adisty dengan sebuah senyuman yang manis di bibirnya.


Siapa tahu kalau Pramana sudah terlanjur sakit hati karena dibikin malu, pernikahannya dibuat gagal karena keegoisan Adisty. Syukur-syukur kalau Pramana memaafkan Adisty apalagi menerimanya, tapi jika tidak ... dia harus berlapang dada.


Adisty bangun dan dia duduk dengan tegak di hadapan sang Bunda, keningnya mengerut menatap dengan tajam kepada wanita paruh baya yang berada di hadapannya tersebut. "Kenapa Mama jadi pasrah begini? tadi memberi aku semangat, tapi sekarang Mama malah pasrah! gimana sih?"


"Em ... Mama memang ngasih semangat dan memberi dukungan, tapi bagaimanapun kita harus memikirkan kemungkinan-kemungkinan yang bakalan terjadi, karena siapa tahu aja Pram terlanjur sakit hati dengan kepergian mu waktu itu, atau mungkin Pram memang masih menyayangi kamu. Tapi keluarganya merasa terluka karena acara yang mereka bikin harus sia-sia karena ulah dirimu sendiri, ngerti dong Nak ..." jelaskan sang bunda dengan sangat lirih.


Sejenak Adisti terdiam mencoba mencerna apa yang dimaksudkan oleh sang Bunda, tapi dia tetap bersemangat dan bertekad kalau dia akan mendapatkan kembali hati Pramana, dia harus mampu menebus dosanya kepada Pramana dan juga keluarganya! sehingga dia ingin menikah sekalipun tidak pestapora .

__ADS_1


"Tidak mau, aku yakin kalau Pramana pasti masih mencintai ku sehingga kami akan menikah dan hidup bahagia doakan aku yang Mam?" Adisty penuh harap serta mencium tangan sang bunda.


"Tentu ... Mama akan mendoakan mu yang terbaik, hanya Mama meminta kamu agar siap dengan kemungkinan-kemungkinan yang akan terjadi, itu saja Adis ..." lagi-lagi suara sang Bunda dengan lirih mengingatkan kalau intinya kenyataan itu tidak seindah Harapan. Tidak selalu kenyataan seindah ekspektasi.


"Ya sudah Mam aku mau mandi dulu dan perut ku rasanya lapar! ada Mas kenapa belum di bawah aku lapar nih!" Adisty beranjak dari posisinya semula berniat mau mandi terlebih dahulu. Sebelum dia turun dan mencari makanan.


"Kalau soal masakan ... tentu Mama sudah menyiapkan semua makanan kesukaanmu ya sudah mandi dulu sana bau, nanti setelah mandi dan wangi kamu turun dan makan." Balasnya sama Bunda sembari tersenyum melihat ke arah Adisty.


Gadis yang sedang mengenakan celana pendek tersebut. Meraih dan Menenteng handuk handuk memasuki kamar mandi.


Sementara sang Bunda pun berdiri meninggalkan tempat itu dan mau menyiapkan, buat makan siang putrinya yang baru hari ini pulang ke rumah.


Sebenarnya ... Adisty itu sudah kembali dari luar daerah semenjak beberapa hari yang lalu, namun dia tidak langsung pulang ke rumah orang tuanya, melainkan dia menginap di sebuah hotel bintang lima bersama teman prianya yang selaku bos untuk Adisty.


Dan dia bekerja di sebuah perusahaan besar yang menjadi impian Adisty selama ini. Dari luar pulau gadis itu kembali dengan bosnya tersebut dan diajak menginap di sebuah hotel.


Tetapi biarpun menginap di sebuah kamar hotel bersama bosnya tersebut. Namun Adisty hanya sebagai menemani saja. Menemani ngobrol, makan dan minum juga tidur.


Dan meskipun begitu ... Adisty bisa memastikan kalau dia masih bisa menjaga kesucian dirinya, dari pria yang mungkin memang mengincar dirinya bukan sekedar membutuhkan tenaga dan pemikirannya saja ....


...🌼---🌼...

__ADS_1


Jangan lupa like dan komennya dong ... masa yang baca banyak tapi yang like-nya nggak ada, jangan pelit jempol nya ya.


__ADS_2