Pernikahan Yang Tak Di Anggap

Pernikahan Yang Tak Di Anggap
Jangan marah


__ADS_3

Hening ....


Suasana menjadi hening Dalam sejenak, tidak ada yang mengeluarkan suaranya sedikitpun. Lalu kemudian Anisa menggerakkan anggota tubuhnya untuk merapikan bekas makannya Pramana.


Anisa merapikan bekas makan nya Pramana. Melihat itu ... membuat Caroline menyunggingkan bibirnya penuh sinis.


"Sebenarnya kau itu sepupu rasa baby sitter ya? Sehingga melayani Pramana segitu detailnya!" ucapnya Caroline dengan nada yang gimana gitu.


"Emangnya kenapa? kalau aku menjadi baby sitter nya Pramana? setiap hari aku bertemu dia, wajar dong kalau aku perhatian sama dia!" jawabnya Anisa seraya melirik Pramana yang juga menatap datar ke arah dirinya.


Pramana beranjak dari duduknya dengan niat dia mau ke musholah. Lagian males mendengar perdebatan kedua wanita tersebut.


"Mau ke mana Pram? aku ikut!" Caroline langsung mengayunkan langkahnya untuk mengikuti langkah Pramana.


"Aku mau ke mushola mau salat! apa kau mau juga salat?" Pramana menoleh ke arah Caroline yang berjalan di sampingnya.


Namun tiba-tiba Pramana hentikan langkahnya, dia menoleh ke arah Anisa yang masih berdiri di tempat semula. "Kamu pulang saja. Nanti aku pulang lebih cepat!"


Kemudian Pramana melanjutkan langkahnya yang diikuti oleh Caroline.


Bibir Anisa tersenyum tipis mendengar perkataan Pramana barusan, yang bilang katanya mau pulang lebih cepat. Lalu Anisa pun segera membawa langkahnya keluar dari ruangannya Pramana.


Entah kenapa Anisa merasa malas jika harus melewati jalan yang tadi, sehingga dia mencari arah lain! yang penting tujuannya yaitu ke parkiran. Dimana Mang Pei menunggunya.


Waktu terus berputar, hari pun sudah beranjak sore senja merah sudah mulai terlihat dari arah Barat, walaupun barusan dihiasi hujan gerimis tak menghalangi munculnya sunset yang indah mewarnai langit di sore ini.


Saat ini Anisa tengah menyiapkan masakan buat makan malam. Dan kebetulan Bibi pun sudah datang sehingga Anisa tidak sendiri lagi.


"Memangnya Neng mau masak apa?" tanya Bibi kepada Anisa yang tampak bahagia.


"Aku ... mau masak semur ayam campur terong ungu, tempe mendoan tahu goreng sambal dan goreng apa itu namanya?" Anisa malah bertanya pada Bibi sembari menunjuk ke arah bulatan sayur.


"Itu kol, Neng!" jawabnya Bibi sambil tersenyum.


"He he he ... iya itu kol. Masya Allah aku lupa!" Anisa menggaruk tengkuknya.


Terdengar suara mesin mobil memasuki pekarangan dan itu pasti mobilnya Pramana. Anisa langsung meninggalkan dapur dan menyambut kedatangan Pramana. Walau untuk sekedar membukakan pintu.

__ADS_1


"Aku kira kamu nggak jadi pulang cepat! apa kau sudah membujuk wanita itu untuk pulang?" ucap Anisa sembari berdiri di depan pintu.


Pramana menggerakkan kedua netra matanya pada Anisa "Assalamu'alaikum?"


"Wa'alaikum salam ..." jawabnya Anisa sembari menutup pintu dan mengikuti langkah Pramana.


"Kau itu bicara apa sih tadi?"


"Nggak ... aku cuman nanya saja, kali aja kamu jalan sama dia sehingga tidak jadi pulang cepat!" jawabnya Anisa sedikit pelan.


Pramana hentikan langkahnya, sehingga keningnya Anisa menabrak punggung Pram.


"Aduh, kok berhenti secara tiba-tiba sih?" gumamnya Anisa sembil mengusap-usap keningnya.


"Emang kalau aku jalan sama dia kenapa? apa seperti yang kamu bilang pagar makan tanaman?" Pramana menatap lekat ke arah Anisa yang kini malah menunduk, dia merasa enggan untuk membalas tatapan dari pria yang memiliki tatapan tajam itu.


"Nggak kenapa-napa sih ... cuman tanya doang!" kemudian Anisa mendahului Pramana dia kembali ke dapurnya.


"Heh ... gajebo! gak jelas banget jadi orang." Kedua netra Pramana mengikuti langkah Anisa yang menuju dapur.


Pramana langsung menapakkan kaki di anak tangga. Menuju kamar pribadinya dan ingin segera membersihkan diri, gerah di tubuhnya terasa sangat lengket. Yang bermandikan keringat.


"Ck, Sebenarnya aku malas untuk pergi besok ke tempatnya Pak Joni. Kalau bukan perintah ibu, aku nggak mau pergi, ck!" gumamnya Pramana Setelah dia membersihkan diri.


Dan berdiri di depan lemari, entah apa yang sedang dia cari, karena terus bolak-balik mencari suatu dari tumpukan dan gantungan baju.


"Kemana kaos panjang ku? perasaan lama nggak dipakai, jadi nggak mungkin kalau sudah dicuci." Suara Pramana sembari mencari-cari kaos yang dia maksudkan.


Karena dia merasa lelah, yang dicari tidak ditemukan, pada akhirnya dia meninggalkan kamarnya. Berjalan mendekati pagar di ujung tangga.


"Bi, apa melihat shirt yang warna hitam panjang? aku sudah cari di lemari tidak ada!" tanya Pram yang berdiri di ujung tangga, dengan suara agak keras agar jelas terdengar ke lantai bawah.


"Em, Bibi tidak tahu. Den, kan yang beres-beres nya Neng Anisa. Bukan Bibi lagi, jadi bibi tidak tahu!" Jawabnya bibi sambil mendongak ke arah Pramana yang berdiri tanpa memakai baju dan hanya mengenakan handuk saja.


Lalu Anisa yang sedang memasak pun menoleh ke arah Pram yang berdiri memegangi pagar tangga. Lalu melihat ke arah bibi. "Bi. Tolong urus ini dulu ya? sudah aku bumbui kok! aku mau cari kaos nya dia dulu."


Anisa berjalan setelah menitipkan masakannya pada bibi. Buru-buru berjalan menaiki anak tangga.

__ADS_1


Pramana melihat langkah Anisa dan sekilas dia melihat ke arah perutnya yang mulai ketara membulat. "Siapa sih yang sudah menanam benih di perut mu itu, tega banget atau kau yang murahan." Batinnya Pram sambil menyusul Anisa yang barusan melintasinya. Dan kini sudah memasuki kamar.


Anisa langsung membuka pintu lemari dan mencari kaos panjang yang berwarna hitam yang katanya tidak ada.


Dalam hitungan detik. Anisa bisa menemukan sebuah kaos panjang berwarna hitam. "Ini bukan yang kau cari?" Anisa menunjukan yang berada di tangannya tanpa melihat ke arah Pramana yang jelas-jelas bertelanjang dada.


"Iya itu, dari mana? aku sudah cari dan ku acak-acakan gak Nemu." Pramana mengambil kaos dari tangan Anisa.


"Ada kok, di tumpukan dengan yang lain. Lagian ngapain di acak-acak juga, orang kelihatan kok ..." jawabnya Anisa sambil berlutut untuk membereskan barang yang berantakan.


"Aku gak lihat. Kalau aku lihat juga gak bakalan aku acak-acak," ucapnya Pramana sambil mengenakan kaosnya yang berdiri tidak jauh dari tempat Anisa berlutut.


"Mencarinya dengan teliti pakai mata, jangan langsung acak." Anisa yang tidak berani menoleh ke arah Pram yang dia rasa masih mengenakan handuk.


"Jangan marah. Nanti cepat tua!" Pram mendudukan dirinya di tepi tempat tidur.


"Siapa juga yang marah? aku bukannya marah! cuman bilangin aja," Anisa menimpali perkataan Pram.


"Kalau boleh tahu, kehamilan mu sudah berapa bulan?" selidik Pramana.


Anisa melirik sekilas sebelum menjawab pertanyaannya. "Sekitar 3 bulan."


"Periksakan ke dokter gak?" tanya Pramana kembali.


"Tidak!" Anisa singkat.


"Kenapa?" Pramana mengerutkan keningnya.


"Tidak apa-apa, malas di tanya-tanya saja." Jawab nya Anisa sambil berdiri karena semuanya sudah rapi kembali.


Diam-diam Pramana melihat ke arah Anisa yang mengenakan daster batik. Dan kedua netra nya mengarah ke perutnya wanita cantik yang berambut di kepang itu yang nampak bulat . "Siapa bapaknya? kenapa tidak mau bertanggung jawab? sudah menanam benihnya kok tidak mau bertanggung jawab, aneh sekali."


Anisa berdiri mematung, tadinya dia mau meninggalkan kamarnya Pramana.


"Makanya jangan terlalu murahan jadi cewe. Yang rugi siapa juga." Tambahnya Pram tanpa memperdulikan perasaannya Anisa ....


...🌼---🌼...

__ADS_1


Jangan lupa ya like komen dan subscribe ya, makasih


__ADS_2