Pernikahan Yang Tak Di Anggap

Pernikahan Yang Tak Di Anggap
Puji diri sendiri


__ADS_3

"Bun, kami pergi dulu ya!" ucapnya Anisa pada sang Bunda dan juga sang ayah yang berada di ruang tengah sedang menonton televisi.


"Oh iya hati-hati ya ... jalannya jangan ngebut-ngebut dan juga jangan terlalu malam, angin malam kurang baik buat kesehatan!" balasnya sang Bunda.


Kemudian mereka pun terus berjalan melintasi pintu utama mendatangi mobil Pramana yang terparkir di depan, yang memang tidak dimasukkan ke dalam garasi.


Kemudian Pramana membukakan pintu mobil agar Anisa masuk. Lantas Anisa masuk dan duduk langsung di dalam mobil serta memasang bell safety di tubuhnya.


Sementara Permana mengitari mobilnya. Untuk menjangkau kursi di belakang. Detik kemudian dia sudah duduk di belakang kemudi dan langsung menyalakan mesin mobil sambil memasang sabuk pengaman.


Beberapa saat kemudian mobil pun melaju dengan kecepatan sedang. Membelah jalanan yang tampak lumayan sepi dan berhiaskan lampu-lampu jalan yang berdiri di pinggiran menerangi jalanan di malam ini.


"Sebenarnya kita mau ke mana sih dan mau belanja apa?" akhirnya Anisa bertanya juga akan tujuan Pramana yang mengajaknya pergi dari rumah.


"Swalayan, berbelanja keperluan dapur dan mungkin kamu juga mau belanja apa yang diperlukan!" ucapnya Pramana tanpa menoleh ke arah Anisa.


"Ooh, keperluan dapur. Mau beli apa ya yang aku butuhkan?" Anisa seolah bertanya pada dirinya sendiri.


"Itu suara yang terdekat, Emangnya kamu mau belanja apa maksud aku mau dimasukin apa?" Anisa kemarin bertanya sembari menuju ke swalayan yang berada di depan.


"Em ..."Pramana menampilkan mobilnya di depan swalayan tersebut kemudian dia turun lebih dulu dan berjalan menghampiri pintu yang akan Anisa gunakan untuk keluar.


Kemudian Anisa menurunkan kedua kakinya bergantian manapaki lantai dengan tatapan ke depan, sebelum berjalan Pramana mengunci dulu mobilnya. Dan setelah itu barulah Dia berjalan bersamaan bisa memasuki sebuah suara yang untuk belajar.


Kini Anisa berjalan mendorong troli belanjaan, di sampingnya Pramana Tengah melihat-lihat apa saja yang ingin dia beli.


Kemudian Pramana mengambil daging ayam sapi ada telur, kangkung. Kol ungu, bayam, jamur, keluar tol. Terong ungu dengan ukuran setengah kilo.


"Ya ampun ... banyak amat belanjanya! kan kamu makan cuman sarapan dan malam aja aku nggak masak buat siang lho," Anisa menatap isi troli yang banyak dengan belanjaan yang hampir semua Pramana yang ambil.


"Iya, emangnya kenapa! buat bikin sarapan. Terus buat makan malam, terus kita mau cari di mana kalau mau beli ikan basah?" ucap Pramana diakhiri dengan suatu pertanyaan.

__ADS_1


"Kalau ikan basah ... seperti ikan mas, lele itu bisa pesan sama tukang sayur!" Jawabnya Anisa dengan tetap menatap ke arah troli yang hampir penuh sebab barusan Pramana tambah lagi dengan kacang buncis, kacang panjang dan kentang.


"Ya sudah! kalau gitu kamu aja yang ngurus ikan basahnya pesan sama tukang sayur, ikan mas satu kilo dan ikan nilanya juga." Tambahnya Pramana sembari kini dia yang mendorong trolinya.


"Ikan mas dan ikan nilanya buat dimasak apa aja?" tanya kembali Anisa sembari melangkahnya yang santai mengikuti langkah-langkah Pramana.


"Ikan nila digoreng biasa kering! kalau ikan masnya di balado boleh, pakai banyak daun nawang dan juga bawang bombay. Jangan lupa juga banyak kemanginya." Jawabnya Pramana sambil terus melihat-lihat belanjaan yang sekiranya apa yang belum diambil.


"Kamu menyuruh ku untuk masak?" Gumamnya Anisa sambil melirik ke arah Pramana.


Pramana menoleh. "Emangnya aku harus suruh siapa? masa suruh bunda yang memasak untuk ku, nggak sopan dong!"


Kemudian mereka pun mendatang kasir untuk membayar semua belanjaan yang ada di troli.


"Terus kamu mau beli apa?" selidiknya Pramana.


"Membeli apa? aku nggak tahu aku mau apa? bingung juga apa yang aku butuhkan." Anisa malah menggelengkan kepalanya dia mapah kebingungan nggak tahu apa yang dibutuhkan.


"Ck, Butuh pembalut kah, bedak, parfum dan lainnya ... mungkin pakaian ingin beli. Mungkin pakaian dalam, kerudung atau ... Apa? bingung amat jadi orang!" Pramana sedikit berdecak kesal.


"Ya udah deh. Kalau gitu ke toko aja aku mau beli sesuatu!" Kata Anisa sembari keluar dari swalayan tersebut.


"Ke toko mana? toko material?" Pramana menoleh Anisa sembari mengulum senyumnya.


"Emangnya kau pikir, aku tukang bangunan yang harus ke toko Material untuk membeli semua bahan bangunan? perasaan tadi kamu nawarin aku beli pakaian atau apa ya ... tentunya ke toko pakaian lah, masa ke toko material mau beli semen atau batako." Sambarnya Anisa dengan sedikit ketus.


"Ha ha ha ..." Pramana malah ketawa lebar hingga suaranya begitu nyaring.


"Ih kenapa sih! ketawa gitu banget ada yang lucu?" Anisa hentikan langkahnya sembari menoleh ke arah Pramana.


Lantas tangan Pramana yang satunya meraih tangan Anisa, sehingga kesannya ia menuntun wanita cantik tersebut yang berjalan di sampingnya untuk mendatangi mobilnya yang terparkit di depan.

__ADS_1


Anisa tidak komentar apapun selain diam dan berjalan serta tangan yang dituntun oleh Pramana. Hatinya dag-dig-dug ser.


Kemudian menyimpan semua belanjaannya di bagasi mobil, begitupun dengan yang Anisa bawa mereka berjalan memasuki mobilnya kembali.


Sambil menjalankan mobilnya sorot mata Pramana melihat-lihat pada toko pakaian yang masih terbuka. "Apa kita ke mall saja belanjanya di sana?" sekilas melirik Anisa yang melihat keluar jendela.


"Mall di sini agak jauh. Lagian banyak kok toko yang masih buka, nah itu toko yang masih buka!" Anisa menunjuk sebuah toko di depan sana dan pengunjungnya masih ramai.


"Ya sudah, kalau begitu!" Pramana semakin mempercepat laju mobilnya dan berhenti di depan sebuah toko yang Anisa tadi tunjuk.


"Neng sendirian saja! mau abang temenin?" goda beberapa pemuda yang ada di depan toko tersebut, ketika melihat Anisa turun dari mobil sendirian.


Anisa hanya menunjukkan senyumnya yang manis kepada mereka tanpa menjawab sedikitpun.


Pramana yang mendengar istrinya digoda sama pemuda-pemuda. langsung mendekati dan menggandeng pinggangnya. Membuat Anisa terkaget-kaget, mereka terus berjalan untuk memasuk toko tersebut dengan tangan Pram yang masih di posisi yang sama! ya itu melingkar di pinggangnya Anisa.


Tentunya para pemuda yang tadi menggoda Anisa pun tidak berani melanjutkan mengganggunya karena melihat Anisa langsung digandeng oleh seorang pria tampan yang berbulu halus di rahangnya.


Bibir Anisa sedikit menyungging sembari menoleh ke arah samping mendongak melihat ke arah wajah Pramana yang tampak dingin dan berhias topi Dior berwarna hitam.


"Tampan juga kalau dilihat-lihat, apalagi memakai topi seperti sekarang lebih tampak manis." Anisa berkata dalam hati.


"Kenapa lihat-lihat jatuh cinta ya? apa baru nyadar kalau aku ini tampan?" suaranya Pramana sembari mesem tanpa menoleh ke arah samping di mana Anisa berada.


"Ohek," Anisa sok mual. "Sebel deh kamu puji diri sendiri!" Anisa menggeleng sembari tersenyum.


"Kan sudah kubilang, dipuji sama istrinya nggak pernah! ya ... memuji diri sendiri sah-sah aja lah," sahutnya pria tampan tersebut yang malah menarik pinggang Anisa ke dekat tubuhnya.


Namun Anisa segera menyingkirkan tangan Pramana dari pinggangnya. Kemudian dia menjauh dan melihat-lihat pakaian yang akan dia beli dan yang pertama dia datangi adalah pakaian dalam.


Pramana memandangnya Anisa yang sedang memilih-milih pakaian dalamnya. Dengan ukuran nya sendiri, buat pria bertopi itu senyum-senyum sendiri ....

__ADS_1


...🌼---🌼...


like nya ya jangan lupa, dan makasih banyak atas dukungan lainnya.


__ADS_2