Pernikahan Yang Tak Di Anggap

Pernikahan Yang Tak Di Anggap
Jangan marah


__ADS_3

"Kenapa Nisa, ada apa nih?" tanya sang ibu mertua sambil menatap ke arah Anisa yang sedang mengobrol dengan bibi yang tampak serius.


Anisa langsung menolehkan kepalanya ibu Bella. "Kenapa Ibu nggak bilang kalau waktu itu ada Adisty datang ke sini?" gini Anisa menatap pada ibu mertua dan menyelidiki kenapa semua orang di rumah ini nggak bilang-bilang kalau Adisty datang.


Sejenak Ibu Hajah bela terdiam, dia mengingat-ingat kembali waktu itu. "Ooh waktu itu. Iya Adisty datang ke sini tapi buat apa juga Ibu bilang? yang ada nanti Anisa cemburu sama dia, sementara wanita itu hanya masa lalu nya Pram."


"Tapi Ibu. Dia sangat mencintai Pram dia ingin kembali sama Pram! dia ingin menikah sama Pram, Bu ..." suara Anisa melemah.


"Mungkin, mungkin saja seperti itu! tapi salah siapa coba? apa Anisa tidak pikirkan! tidak mungkin kalian berdua bisa menikah kalau saja Adisty tidak meninggalkan Pram, sementara Anisa ke sini untuk menjadi tamu undangan saja! bukan untuk menjadi mempelai!" sang ibu mertua menggeleng sembari menatap lembut pada sang mantu.


Anisa menunduk dalam, perkataan dari ibu Bella memang benar, tapi dia merasa bersalah juga karena dia sudah keenakan untuk memiliki Pramana, keasikan menjadi istrinya! sementara wanita lain yang semula sangat mencintai Pram harus tersisih begitu saja. Hati Siapa yang tidak akan terkoyak dengan keadaan seperti ini pria yang sangat di cintai memilih wanita lain.


"Ibu tahu, sekarang Pram sangat sayang sama kamu! dia membutuhkan Nisa untuk menjadi istrinya. Makanya dia mengesahkan pernikahan kalian lebih cepat, dan ini bukan cuman kemauan kami sebagai orang tuanya! tapi kemauan Permana juga. Terus apa yang membuat Anisa risau? kalian sudah sah menjadi suami istri yang sesungguhnya! jangan dengar gonggongan di luar, dukunglah Pramana untuk menjadi suami yang setia dan sangat menyayangi istrinya," ujar Bu Hajah Bella dengan panjang dan lembut kepada mantunya yang satu ini.


"Tapi Bu ... Adisty meminta Nisa untuk meninggalkan Pram dan dia ingin menikah dengan Pram apa Nisa nggak jahat ... Bu, bila Nisa sudah keenakan hidup bersama dengan Pram, keasikan menjadi istrinya! sementara wanita yang seharusnya menjadi istri Pram harus mengalah dan tersingkir. Rasanya Anisa tidak enak hati, Bu ..."


Kedua tangan Ibu Bella menyentuh kedua bahu Anisa. "Nisa sayang, jangan salahkan dirimu. Karena kamu tidak bersalah apa-apa. Kamu berada di sini menjadi istri Pram dan menjadi mantunya ibu juga ayah itu karena takdir! dan jodoh kalian berdua yang kuat, Nisa nggak sama sekali merebut Pram dari Adisty. Justru Adisty itu sendiri yang meninggalkan Pram, Anisa tahu itu!"


"Anisa tahu Anisa tidak merebut Pram sebelumnya! tapi pada kenyataannya seiring berjalannya waktu, kan Pram lebih memilih aku ketimbang kembali sama dia dan itu yang akan membuat hatinya hancur! ibarat meminjam barang, seharusnya aku kembalikan tapi ini malah aku miliki!"


Ibu Bella menghela nafas dengan sangat dalam lalu ia hembuskan dengan sangat panjang. "Pram pun punya perasaan dan dia dapat memilih yang mana yang terbaik untuknya, antara Adisty dan kamu tentunya Pram punya penilaian!"


"Ibu benar, Nisa ... sebagai laki-laki Pram pasti bisa memilih kok yang terbaik untuknya! makanya dia lebih mempercepat mengesahkan pernikahan kalian berdua, ya kan Bu?" Renita yang baru saja datang langsung nimbrung dan nyambung.


Bu Hajah Bella mengangguk-anggukkan kepalanya.

__ADS_1


"Jadi sebenarnya Anisa tidak perlu lah merasa bersalah! merebut atau gimana! semua orang juga tahu Adisty yang salah yang sudah meninggal Pram. Dan seharusnya Nisa lebih paham dengan perasaan Pramana! jadi kalau Nisa marah sama Pram, itu salah! yang penting dia lebih memilih Anisa ketimbang wanita itu." Tambahnya lagi Renita.


Wanita itu yang biasa menggoda dan usil kepada Anisa, saat ini sangat serius dan mengemukakan pandangannya terhadap Pramana.


"Hem ... biasanya kak Renita itu malah menggoda aku! mengolok-olok aku, kok sekarang tampak serius banget hi hi hi ..." Anisa memicingkan sebelah matanya kepada Renita.


"Aish ... ini anak dikasih tahu malah ngeyel. Aku memang suka menggoda mu, tapi bukan berarti selalu seperti itu! karena di sisi lain aku pun orangnya sangat serius!" Renita memonyongkan bibirnya seraya mendudukkan bokong di kursi yang ada dekat meja makan.


"Renita benar, Nisa ... rasanya justru Nisa percaya dan merasakan apa yang Pram rasakan dulu, hampir saja kegagalan dalam pernikahannya! untung saja Anisa berada di sini waktu itu! sehingga pernikahan pun tidak gagal di mata orang-orang dan mempelai wanita pun tergantikan!" sambungnya itu Bella.


Kemudian terdengar suara Bibi yang berpamitan untuk membeli apa yang Anisa butuhkan! sehingga ketiga wanita tersebut menoleh pada bibi yang berlalu pergi.


"Sudahlah, sekarang tunjukkan saja bahwa Anisa istri yang terbaik untuk Pramana jangan mau terhasut dengan omongan orang, tetap kuat jalan di tempat pertahankan Pramana sebagai suami mu. Jangan biarkan wanita lain mengambil Pram dari genggaman mu Nisa!" ungkap Bu Bella sambil mengusap punggung mantunya itu.


Setelah beberapa saat kemudian, sarapan pun siap di meja tertata dengan sangat rapi dan Anisa langsung meninggalkannya ke atas! untuk melihat Pramana apa sudah siap atau masih berolahraga.


Blak ....


Daun pintu kamar Anisa dorong ke dalam dan membukanya, dan terlihat Pram sedang menggunakan kemejanya. "Aku kira masih asyik berolahraga."


"Nggak lah, aku kan harus ngantor! aku harus tambah semangat demi menghidupi istriku dan siapa tahu sebentar lagi aku akan mendapatkan momongan hehe hen ..."


Anisa pun menghampiri Pram lalu membantunya untuk mengenakan kemeja, memasangkan dasi. Mengenakan jas dan juga menyiapkan sepatu.


"Emangnya mudah begitu, punya momongan?" balasnya Anisa.

__ADS_1


"Buktinya kemarin kamu langsung aja!" sambungnya Pramana.


"Tapi pada kenyataannya ... banyak atau tidak sedikit pasangan yang sudah lama menikah tapi tidak juga dikasih momongan, harus menunggu sangat lama dan bagi yang kecelakaan ... kenapa cepat ya mungkin sudah takdirnya." Anisa menaikkan kedua bahunya sembari memasang dasi di lehernya Pram.


"Iya sih ... aku juga tahu dan bagi yang kecelakaan dengan mudahnya hamil dan melahirkan dengan mudah, karena nikmatnya sudah dicabut sama Allah yang Maha kuasa." Pram mesem sambil mencolek dagu nya Anisa.


"Apa sih! colek-colek emangnya aku sabun colek apa!" Anisa mengulum senyumnya.


"Oh iya, aku lupa, bukan dicolek ya! tapi seperti ini!" Cuph, Pramana membungkukkan kepalanya lantas mengecup pipi Anisa penuh kehangatan.


Anisa tampak malu menunduk dalam sambil merapikan jasnya Pram.


"Eh kenapa malu-malu? kan nggak mau dicolek, berarti maunya di kecup dan disayang!" Pram Lagi-lagi mengecup pipi Anisa dengan durasi yang lebih lama.


Lantas Anisa menyembunyikan wajahnya di dada Pram yang bidang. Ia mengingat semua perkataan dari sang ibu mertua dan Renita barusan di bawah, kalau dirinya tak ada alasan untuk marah kepada Pramana! pertahankan rumah tangga jangan kalah dengan omongan orang yang ingin menghancurkan rumah tangganya.


Pramana pun memeluk tubuh Nisa dengan sangat erat menempelkan dagunya di atas pucuk kepala sang istri seraya bergumam. "Aku sayang sama kamu. Jangan marah lagi ya? atau merajuk seperti semalam."


Dalam pelukan Pramana, Anisa mengangguk pelan. Menandakan kalau dia nggak akan marah lagi sama Pram ataupun merajuk, cuek dan menjauhinya.


"Terima kasih sayang!" cuph ... ciuman mesra kembali mendarat di pucuk kepala Anisa.


Selanjutnya Pram dan Anisa keluar dari kamar, berjalan menuruni anak tangga menuju ruang makan ....


Bersambung ....

__ADS_1


__ADS_2