
Di saat-saat tengah melamun, dengan tidak sengaja tangannya Pramana menyenggol gelas yang berisi air. Sehingga airnya tumpah dan gelasnya pun pecah di lantai.
Sejenak, Pram hanya menatap pecahan gelas yang berserakan di lantai. Lalu kemudian barulah dia beranjak dari duduknya berjongkok untuk membersihkan pecahan tersebut.
Dia benar-benar tidak bisa konsen dalam bekerja, sehingga ... dia jadi melamun. Pramana memanggil office boy untuk membersihkan yang sudah setengahnya ia bersihkan.
"Benar-benar aku hilang konsentrasi, ya Tuhan ... Apa yang sedang aku pikirkan?" Gumamnya sambil melihat office boy yang sedang bersihkan pecahan gelas.
Waktu terus berputar, hari pun sudah menunjukan pukul dua. Dan Pramana memilih untuk pulang dan bersiap untuk keberangkatan ke luar kota nanti sore.
Kini Pramana sudah berada di dalam mobil melaju dengan kecepatan tinggi, menuju kediaman nya yang hanya membutuhkan sekitar 20-25 menit saja.
Bagh!
Suara pintu mobil yang Pramana tutup setelah tiba di kediamannya. Pramana menenteng tas nya berjalan melintasi pintu utama yang sudah di bukakan oleh bibi.
"Assalamu'alaikum ... Bi. Ibu dan ayah kemana?" suara Pramana sambil terus berjalan memasuki ruang tengah.
"Wa'alaikum salam ... Ada, Den ... kayanya sedang istirahat," jawabnya bibi.
"Oh ..." Pramana terus berjalan menaiki anak tangga.
Setelah berada di lantai atas. Langkahnya terhenti dan menghadap ke arah kamar Anisa. Berdiri di sana beberapa saat dan membukanya pintunya melepas pandangan ke seluruh ruangan tersebut yang kosong juga tampak rapi.
"Sedang apa kau sekarang di sana?" gumamnya Pramana dalam hati seraya menatap ke tempat tidur yang kosong melompong! kemudian dia memundurkan dirinya serta menutup pintu dengan rapat.
Mengayunkan langkah gontai menuju ke kamar pribadinya. Dia duduk dan membuka sepatunya di tepi tempat tidur, lantas dia merapikan pakaian yang akan dia bawa ke luar kota nanti sore! setelah itu dia menjatuhkan tubuhnya di atas tempat tidur.
Menghadap ke langit-langit dengan pikiran yang melayang entah ke mana menerawang dan sekali bibir Pramana tersenyum, entah mengingat sesuatu yang membuat bibirnya mengembang.
Lama-lama kedua netra matanya terpejam seiring dengan beberapa kali menguap. "Huam ... ngantuk dan baiknya aku tidur sebentar."
Jarum jam terus berputar dan sudah menunjukkan pukul 04.00 sore Pramana sudah bersih-bersih dan bersiap untuk pergi menuju luar kota dengan urusan pekerjaan.
Pramana berjalan dengan menenteng tas kerja dan juga tas pakaian, dengan langkah yang bergegas menuruni anak tangga. Menghampiri kedua orang tuanya yang berada di ruang tengah.
Ibu Bella dan pak Lukman menatap ke arah putranya tersebut yang berjalan mendatangi mereka.
"Sudah siap berangkat Pram?" tanya sang ayah.
"Iya, Yah. Ibu ... aku mau berangkat! mohon doanya." Pramana mencium punggung tangan sang ibu dan ayahnya bergantian.
"Hati-hati ya Pram ... jangan lupa kabari kami dan jangan ngebut-ngebut bawa mobilnya." Pesan sang Bunda sembari memeluk putranya.
__ADS_1
"Insya Allah, Bu ... doakan saja semoga urusan aku juga lancar di sana, biar segera pulang!" Pramana menganggukkan kepalanya.
"Tentukan kami akan selalu mendoakan anak-anaknya di manapun berada," balasnya sang ibu yang mendapat anggukan dari sang ayah.
"Ya sudah aku pergi dulu. Nanti keburu sore, Assalamu'alaikum ..." Pramana berjalan membawa tas kerja dan pakaiannya, menuju mobil yang terparkir di halaman rumah.
..._____...
"Assalamu'alaikum ... Nisa ... Di mana kamu berada?" Suara Dia yang baru saja datang. Dia baru sempat menjenguk Anisa karena dia sedang sibuk dengan kuliahnya.
"Wa'alaikum salam. Dea Anisa berada di kamarnya! nggak bilang-bilang apa, kamu mau ke sini? Anisa ada di kamarnya," sambut ibu Farida.
"Tidak. Tante, aku mau bikin surprise. Anisa sekarang di mana? di kamarnya ya?" ucap Dea setelah bersalaman dengan tantenya, kemudian dia menapaki anak tangga menuju kamarnya Anisa.
Blak ....
"Nisa. Aku datang ..." suara Dea yang langsung menghampiri Anisa yang sedang duduk-duduk memeluk guling di atas tempat tidurnya.
Tentunya Anisa pun terkejut dengan kedatangan Dea, karena dia nggak bilang-bilang kalau Dea akan datang menemuinya. Kemarin pun dia bilang minta maaf kalau dia nggak bisa datang menjenguk ke rumah sakit! karena dia sedang sibuk dengan kuliahnya.
"Hi ... Kok kamu nggak bilang-bilang sih akan datang? katanya sibuk kuliah, kok sekarang datang?" Anisa dalam pelukan Dea.
"Kan aku mau bikin surprise. Lagian kalau bilang-bilang bukan surprise dong ... ada-ada aja deh, gimana keadaan kamu sudah lebih sehat kan?" seru nya Dea sembari mendudukan dirinya di tempat tidur bersama Anisa.
"Syukurlah kalau sudah agak pulih. Lagian kenapa sih kamu istirahat di sini? emangnya di sana nggak bisa istirahat apa? Di tempatnya Pramana?" tanya Dea kembali.
"Aku cuma menuruti saja, pada Bunda yang ingin menjaga ku di sini ya ... aku ikut aja!" jawabnya Anisa.
"Terus, Pramana izinkan gitu?" selidiknya Dea.
"Dia ... dia mengijinkan kok, lagian sekarang dia sedang keluar kota!" sambung Anisa.
"Oh gitu!" Dea membulatkan mulutnya.
"Nah ... ini tante bawakan minuman nih buat kalian berdua. Dan yang ini minuman sehat buat Anisa khusus buat kesehatan rahimnya jadi Dea nggak boleh minum ini!" suara Bunda Farida sembari menyimpan sebuah nampan yang berisi 2 gelas minuman buat Dea dan juga Anisa di meja.
"Duh kebetulan sekali Dea haus deh," Dea langsung mengambil gelas tersebut dan meneguknya.
Sementara Nisa masih menatap gelas yang berisi air minuman herbal mungkin yang dibuatkan oleh Bunda Farida untuknya.
"Nisa, diminum airnya biar lekas sembuh. Dari luar memang seperti sehat tapi di dalam itu banyak luka! makanya harus banyak minum obat-obatan untuk yang di dalam tubuh." Ungkap sang Bunda sembari memberikan gelasnya kepada Anisa yang tampak melamun.
Anisa pun segera meneguknya dan sang Bunda menyuruh dia untuk menghabiskan di hadapannya juga, takutnya nggak diminum kalau gak di habiskan sekarang.
__ADS_1
"Apa ini Bunda ya? rasanya getir gak enak---"
"Ha ha ha ... yang enak itu madu sama ayam goreng baru enak tuh," Dea memotong perkataan dari Anisa.
"Biarpun getir ... ya dipaksain namanya juga obat nggak ada yang enak! dan insya Allah ... khasiat nya mujarab. Biar kesehatan yang di dalam perutmu itu lebih cepat pulih," kata sang bunda.
Setelah ramuannya habis, Ibu Farida meninggalkan kembali mereka berdua.
"Oh, ya Anisa ... ada salam lho ... dari seseorang buat kamu." Kata Dea setelah Bu Farida keluar dari kamar Anisa.
Anisa mengangkat keningnya. "Siapa dari siapa emang?"
Coba tebak siapa?" Dia malah menyuruh Anisa untuk menebak siapa seorang yang menitipkan salam padanya.
"Nggak ach, aku males untuk menebak-nebak." Kepala Anisa menggeleng, dia malas untuk menebak siapa yang menitip salam.
"Ih ... nggak seru deh ..." Dea mengerucutkan bibirnya hingga Berapa cm ke depan.
"Lagian harus nebak segala, males deh harus nebak." Anisa menghela nafas dalam-dalam, kemudian dia menyandarkan punggungnya ke bahu tempat tidur.
"Coba ingat-ingat, Siapa yang pernah kamu taksir dulu?" Dea memicingkan sebelah matanya.
"Siapa? aku lupa. Lagian aku nggak mau mengingatnya lagi." Jawabnya Anisa dengan nada dingin.
"Mentang-mentang sekarang udah punya suami dan sangat dicintai nggak mau mengingat mantan, mantan orang yang ditaksir." Lagi-lagi Dea mengerucutkan bibirnya. "Ya sudahlah, kamu juga nggak peduli."
Dea menaikkan kedua bahunya kemudian dia beralih posisi. Kini dia duduk di samping Anisa dan menyandarkan punggungnya di bahu tempat tidur.
"Kamu tahu nggak? kabarnya Hendar sekarang!" tanya Dea kini menatap ke arah Anisa yang berada di sampingnya tersebut.
"Emangnya kenapa?" Anisa balik bertanya.
"Dia ditangkap polisi, atas dugaan penyalahgunaan obat." Jawabnya Dea.
"Emang kapan?" tanya kembali Anisa yang cukup merasa penasaran dan juga dia merasa bersyukur juga puas, Hendar bila ditangkap polisi dan dipenjarakan .
"Sekitar 2 hari yang lalu tuduhan bukan cuman itu aja, juga tuduhannya mengedarkan dan juga soal pele-cehan." Jelasnya Dea.
"Syukurlah, anggap saja itu karena atas semua yang telah dilakukan padaku! dan aku cukup puas jangan apa yang didapatkan sekarang," tambahnya Anisa.
Dea pun yang merasa geram pada Hendar, menganggukan kepalanya. Dia juga merasa puas dengan apa yang Hendar dapatkan sekarang ini ....
...🌼---🌼...
__ADS_1
Jangan lupa like dan lainnya ya ... makasih