Pernikahan Yang Tak Di Anggap

Pernikahan Yang Tak Di Anggap
Ultah


__ADS_3

"Tidak usah, kamu kan baru datang! aku aja. Lagian Bukankah kamu ke sini agar bisa menikmati minuman buatan ku kan?" ucap Anisa sembari menatap ke arah Pramana yang tengah menatap dirinya.


Pramana menyunggingkan bibirnya. Rupanya Anisa bisa membaca pikirannya saat ini. "Ya sudahlah kalau begitu!"


Kemudian Anisa melanjutkan langkahnya keluar dari kamar tersebut, meninggalkan Pramana yang duduk tampak capek.


"Hem, sok-sokan mau bikin sendiri orang pengen dibikinkan juga! dasar pura-pura!" gumamnya Anisa sembari tersenyum dan terus berjalan menuruni anak tangga.


Pramana mengedarkan pandangannya ke seluruh ruangan kamar Anisa yang tidak ada yang aneh dan semua tampak biasa saja.


Pramana sedikit membuka kancing kemeja di dadanya. Lalu mengedarkan pandangan ke arah pintu dimana Anisa sudah muncul, membawa sebuah nampan berisi segelas air susu yang masih tampak mengepul dan sepiring cemilan.


"Ini aku bawakan cemilannya juga," Anisa menyimpan nampan di atas tempat tidur. Kemudian mengambil botol minum air putih dari nakas.


Pramana langsung mengambil gelas lalu di seruput dengan perlahan.


"Oh ya, aku ada sesuatu untuk kamu. Aku nggak tahu kamu suka atau tidak!" Pramana sembari menyimpan gelas ke tempatnya lalu dia mengambil paper bag yang dengan ukuran sedang, diberikannya kepada Anisa.


"Apa ini?" tanya Anisa sembari mengambil paper bag tersebut.


"Buka saja sendiri kalau kamu suka syukur, kalau nggak suka juga ... nggak apa-apa buang saja--"


"Oho ... masa sih aku buang. Nggak mungkin lah, kalau dikasih orang itu ... harus diterima dengan baik sekalipun tidak suka," ucapnya Anisa sambil duduk di sebelah Pramana dan mengeluarkan sebuah dus dari paper bag.


Breekkkk. Anisa menyobek kardus dan mengeluarkan isinya yang di bungkus plastik. "Apa sih ... Bikin penasaran deh, Selamat ulang tahun!"


Anisa melihat Pramana dan kertas yang bertuliskan Selamat ulang tahun Anisa. Padahal dia sendiri tidak mengingatnya. Dan memang tipikal orang yang gak pernah merayakan ultah.


"Kok kamu tahu sih aku ulang tahun!" ucap Anisa dengan wajah yang merona menatap ke arah Pramana yang sedang menikmati susu jahenya dan juga sepiring cemilan.


"Ya tahulah, masa nggak! kan data kamu aku tahu ," jawabnya Pramana dengan nada sok dingin.


"Terus Apa ini isinya ya?" gumamnya Anisa seraya menatap dan mengusap suatu barang yang terbungkus plastik yang bergambar bunga dan love love-nya.


"Makanya dibuka dulu biar tahu isinya apa!" tambahnya Pramana.


"Bismillah ..." Anisa mulai membuka kantong plastik tersebut. Walau sedikit susah payah dan Pramana biarkan saja agar Anisa bisa membukanya sendiri.

__ADS_1


Kemudian kantong pun terbuka dan Anisa mengeluarkan isinya, rupanya sebuah boneka yang masih kempes pas di keluarkan dari kantong nya. Membesar, membesar dan membesar sehingga besarnya melebihi tubuhnya sendiri. Sebuah boneka panda yang cantik.


Mulut Anisa menganga yang ditutupi dengan telapak tangannya, tatapan matanya berbinar melihat ke arah boneka yang terus mengembang.


"Masya Allah ... makasih ..." dan dengan refleks Anisa memeluk Pramana.


Membuat tubuh pria tersebut membatu bahkan seakan berhenti mengunyah, jantung pun berhenti berdetak. Apalagi ketika merasakan benda-benda empuk menghantam dadanya. Mana kayanya gak pakai bra lagi, beda aja rasanya. Semakin membuat Pramana tak bisa berkutik darah di tubuhnya mengalir begitu deras, berdesir begitu hangat menyeruak ke seluruh tubuh hingga rasanya naik ke ubun-ubun.


"Terima kasih ya ... terima kasih banyak?" ucap Anisa kembali sembari mengeratkan pelukannya.


Kedua netra mata Pramana terpejam sembari menghirup wanginya sampo dari rambut Anisa, perlahan kedua tangannya pun bergerak menyentuh punggung wanita tersebut yang entah sadar entah tidak memeluknya sangat erat.


Pramana tidak bisa menyembunyi kan perasaannya dan suara nafasnya yang begitu berat. Dan dia berusaha menahan hasratnya sebagai laki-laki yang normal.


"Sama-sama, tapi sadar nggak? kalau dada ku terasa sesak. Dan dada mu itu menghantam dada ku. Mana gak pakai bra kayanya." Dengan nyelenehnya Pramana berkata demikian.


Sontak Anisa melepaskan pelukannya dan menjauh dari tubuh Pramana dengan wajah merah merona meras malu serta tangannya sejenak menyilang di dada yang memang begitu adanya. “Maaf?”


“Em ... tidak apa sih ... aku gak rugi dan—“


Anisa kini memeluk bonekanya yang besar dan lebih besar dari tubuhnya Pramana juga. Senyum di bibirnya mengembang dengan indah yang Pramana pandangi dengan anteng.


“Syukurlah, kalau kamu suka dan aku tidak sia-sia membawanya dari luar kota.” Kata dari bibir Pramana sambil sedikit tersenyum tipis.


“Aku suka kok. Sangat suka. Eeh ... itu kan jam tangan dari ku.” Anisa menajamkan pandangan pada jam tangan yang sedang Pramana kenakan.


“Siapa bilang kalau ini jam dari mu?” elaknya Pramana sambil menyembunyikan jam tangan yang dia pakai dengan tangannya sebelah lagi.


“Iih ... beneran kok, itu dan aku masih apal kalau itu dari ku yang tadinya buat kado pernikahan mu dengan ... aku masih ingat kok.” Anisa dengan yakinnya.


“Sudah ach, aku numpang mandi dulu, gerah nih dan aku mau ambil tas ku di mobil.” Pramana beranjak dari duduknya berjalan keluar dari kamar Anisa.


Anisa memandangi punggung pria tersebut sambil terus memeluk boneka besar dan masih tercium baunya masih baru.


Lalu Anisa berdiri untuk mengambil handuk yang masih bersih buat Pramana yang katanya mau mandi. Setelah menyiapkan handuk, Anisa kembali duduk di tempat semula sambil memeluk boneka nya. Tatapan Anisa mengarah ke pintu yang terdengar suara derap langkah kaki. Lalu masuklah Pramana membawa tas nya. Menyimpan tidak jauh dari Anisa.


“Aku mandi dulu lah,” ucapnya sambil meraih handuk yang sudah Anisa siapkan untuknya.

__ADS_1


Anisa pun mengambil tas milik Pramana lalu mengambil kaos dan celana pendek Pramana dan lainnya yang sekiranya akan di pakai setelah mandi.


Sekitar 15 menit kemudian ... Pramana muncul dari balik pintu. Dengan handuk yang melilit di pinggang.


Pramana melihat baju yang sudah di siapkan oleh Anisa. Lalu memakainya di sana dan depan Anisa yang menunduk malu dan sedikit miring tidak menghadap ke arah pria itu.


Netra Pramana melihat ke arah Anisa yang menunduk dalam. “Aku tidur di mana?”


“Ha? di mana? kamu—“


“Jangan bilang aku harus tidur di ruang tamu, mendingan aku tidur di lantai saja dari pada harus tidur di ruang tamu nanti aku masuk angin dan gak bisa masuk kerja besok.” Pramana sambil mengenakan kaosnya.


“Ya sudah kalau mau seperti itu, nanti aku siapkan!” Anisa berdiri dan mendekati lemari mengambil selimut, bantal buat tilam dan juga buat selimut yang lalu dia ampar di lantai.


Pramana melihat gerak gerak-gerik nya Anisa yang memasang selimut. Dan meneliti wanita itu dari atas sampai bawah. Menjadi tambah bergelora, jiwa lelakinya bergelora dan meronta sehingga dia langsung mengalihkan


pandangannya ke tempat lain.


“Sudah. Sekarang kamu bisa istirahat, sudah malam dan kamu pasti capek,” ucap Anisa sambil berjalan lalu merangkak naik ke atas tempat tidur.


“Baiklah, aku akan tidur.” Pramana langsung duduk di lantai dan berbaring terlentang tidak lupa menyembunyikan si Joni yang berada bangun dan menegang dengan selimut. Menatap langit-langit serta pikiran yang mulai traveling.


Anisa pun berbaring dengan memeluk bonekanya. Berusaha untuk memejamkan matanya yang tidak ada ngantuk-ngantuk nya, melirik pada Pramana yang juga kebetulan melirik ke arah dirinya.


“Kenapa belum tidur? Sudah jam berapa nih.” Kata Pramana sambil memiringkan tubuhnya menghadap ke tempat tidur yang ada Anisa nya.


“Mau ini juga, mau tidur kok.” Balasnya Anisa sambil berusaha memejamkan kedua manik matanya.


Walaupun susah namun pada akhirnya keduanya bisa tidur juga dengan lelap dan melayani mimpi-mimpi indah. Malam semakin larut dan membawa mereka kesebuah pagi dengan tidur yang kualitas cukup baik.


Anisa terbangun ketika terdengar  suara adzan subuh. Menggeliat nikmat dan mengibaskan selimutnya lalu turun ke sebelah kiri dan berjalan menuju kamar mandi sambil melihat ke arah Pramana yang masih tampak tertidur nyenyak.


Tidak lama kemudian, Anisa muncul dari balik pintu dan kedua manik matanya yang indah mendapati Pramana sudah tampak terduduk di tepi tempat tidurnya ....


...🌼---🌼...


Jangan lupa like komen dan dukungan lainnya ya makasih.

__ADS_1


__ADS_2