
Pria itu mulai ingin bereaksi dan melecehkan sosok Anisa, Anisa gegas mendorong dada pria tersebut dengan sekuat tenaga. Namun pria itu tidak sedikitpun bergerak.
Tatapan pria itu semakin tajam dan wajahnya semakin mendekat ke arah Anisa, tentunya Anisa menghindar ke kana dan ke kiri saja, dan lantas menurunkan tubuhnya berjongkok lalu berdiri lagi sehingga dapat keluar dari kungkungan pria tampan namun menjijikan tersebut.
Anisa mendekati tombol dan ingin membuka pintu lift tersebut. Tapi dengan cepat pinggangnya Anisa ditangkap oleh pria itu ditariknya ke bagian lebih dalam.
"Tolong ..." jerit Anisa dan langsung memukul-mukul tangan pria itu agar dapat melepaskan diri dari rangkulannya.
Dan Anisa menggigit tangan pria itu yang satunya, sehingga tangan yang merangkul pinggangnya terlepas dengan refleks. Anisa kembali mendekati pintu dan alhamdulillah lift terasa berhenti dan pintunya pun terbuka.
Membuat seketika hati Anisa merasa lega. Tatkala melihat pintu mulai terbuka, si pria yang memang berniat jahat kepada Anisa hendak menarik kembali pinggangnya dan mengklik agar pintu tertutup kembali.
Namun langsung Anisa tepis. Dan di luar lift terdapat ada berapa orang termasuk Pramana yang berdiri menatap tajam ke arah dalam lift tersebut dan langsung bertindak.
"Sayang?" Pram menarik tangan Anisa pas Anisa hendak keluar dan langsung memeluk Pram sambil menangis.
Pram langsung mengarahkan tatapannya yang setajam elang, pada pria tersebut sambil menyingkirkan tangan Anisa yang memeluknya.
Dengan cepat kilat tangan Pramana menarik kerah baju pria itu keluar dari lift.
Jebetttth ....
Jebetttth ....
Pram melepas pukulannya di dada dan perut pria yang sudah dengan berani mengganggu istrinya. Membuat tubuh lawan itu membungkuk kesakitan memegangi dada dan perut.
"Kurang ajar kau, b****** kau, sudah mengganggu istriku! dia istriku. Dia milikku tidak boleh satu orang pun mengganggu dia!" teriakan Pramana kepada orang tersebut dengan mata melotot dengan sangat sempurna juga rahang yang mengeras.
Tidak puas dengan itu saja, kaki Pramana pun bermain. Menendang kaki dan punggungnya si pria, sehingga kini tubuhnya tersungkur di lantai.
Pria itu tidak melawan sama sekali kepada Pramana. Kemudian Pramana kembali melayangkan tangan kanannya di udara yang berniat menonjok wajah si pria agar dirinya merasa puas.
Tetapi Anisa menjerit dia tidak ingin suaminya terjerat hukum karena penyiksaan orang. Anisa pun memeluk pinggangnya Pramana meminta jangan meneruskan aksinya.
Anisa berkata. "Yank, jangan? aku nggak mau kamu kenapa-napa nantinya! aku nggak mau kamu terkena pidana, aku nggak mau!" suara parau itu menghentikan aksinya Pramana.
Pramana menurunkan tangannya yang sudah melayang di atas udara.
__ADS_1
"Sudah, Yank ... jangan lakukan itu lagi, kasihan dan aku nggak mau kamu berurusan dengan pihak berwajib! aku nggak mau kamu kena pidana karena sudah memukul orang." Suara Anisa terdengar kembali penuh permohonan, sambil terus memeluk tubuh Pramana.
Kini orang tersebut sudah diamankan oleh beberapa security dan di giring menjauh dari tempat tersebut.
Pramana membalikan tubuhnya dan berhadapan dengan sang istri, di tatapnya wajah yang lusuh tampak sangat ketakutan, gusar dan pucat. Memeluk dengan sangat erat.
"Aku sudah mencari mu dan berusaha menghubungimu tapi nomormu tidak aktif! kamu dari mana saja hem!" ucap Pram dengan lembut dan tangannya yang kanan mengusap-usap punggungnya Anisa.
"Aku tidak dari ke mana-mana! aku cuman jalan-jalan mencari angin dan suasana sekitar, karena aku bosan bila harus berdiam diri di ruangan meeting." Anisa membakas beserta suara yang serak-serak basah dari sudut matanya pun berjatuhan berapa tetes air mata membasahi pipi.
"Lain kali ... kau tidak boleh ke mana-mana tanpa aku, aku takut kamu kenapa-napa sayang! aku sangat khawatir tau gak?" Pramana semakin mengeratkan pelukannya pada Anisa yang kini menangis. Panik, shock dengan kejadian barusan.
Kemudian Pramana mengajak Anisa ke kamar hotel. Di gandengnnya pinggang Anisa yang sebelumnya merapikan dulu kerudung Nisa yang kusut dan sedikit berantakan.
"Lain kali jangan pergi sendiri ya? lebih baik tunggu aku dulu, takut kejadian seperti tadi lagi. Aku nggak mau kamu kenapa-napa dan aku takut!" Pramana menggandeng tangan sang istri.
Anisa hanya mengangguk sembari berjalan bersamaan dengan Pramana yang menggandengnya! keluar dari gedung kantor tersebut.
Setibanya di kamar hotel yang tidak jauh dari gedung kantornya Pramana yang dipakai meeting barusan, Anisa langsung menjatuhkan bokongnya di atas tempat tidur.
Dia masih tampak shock dengan kejadian barusan. Beberapa kali mengusap wajahnya dengan telapak tangan, serta helaan nafas yang terlihat berat.
Anisa menolehkan kepalanya kepada Pramana seraya menggeleng dan berkata. "Tidak, aku tidak kenapa-kenapa kok! jangan khawatir."
"Yakin, sayang nggak kenapa-napa? apa yang sakit dan apa saja yang sudah dia lakukan padamu?" selidiknya Pram sembari mendudukan dirinya di samping Anisa dan tangan kanannya merangkul pinggang sang istri, kening di kecupnya.
"Aku yakin, aku nggak kenapa-napa. Dan dia nggak sempat yang lebih macam-macam kok!" jawabnya Nisa kembali seraya menempelkan kepalanya di bahu Pramana. "Lihat aja hasil cctv-nya Biar kamu percaya!"
"Iya sayang! aku percaya sama kamu, cuman aku mohon banget sama kamu kalau sedang di luar kota seperti ini ... jangan pergi sendiri ya? aku takut sayang ada yang mengganggu lagi." Pintanya Pramana sembari mencium kepala Anisa yang sedang menyender di bahunya.
"Iya, bawel!" Anisa mesem kembali semakin menyusupkan kepalanya di dada Pramana.
"Aku mau pesan makan dulu ya! sayang mau makan di sini aja atau dimana?" tanya Pramana pada sang istri sembari membelai rambutnya.
"Em ... di sini sajalah! aku malas keluar lagi, lagian sebentar lagi Kamu akan ke kantor lagi kan? aku mau istirahat saja di sini, boleh ya?" Anisa mendongak melihat wajah Pramana yang menundukkan pandangan melihat dirinya.
Pramana terus membelai rambutnya Anisa yang berada dalam pelukannya sembari menunggu datangnya makanan yang Pramana pesan.
__ADS_1
Ting!
Ting!
Suara notifikasi chat dari ponselnya Pramana.
"Pram, apa kamu tahu? kalau saat ini Adisty alias mantan kekasih mu berada di RS, tengah dalam pengobatan. Dia mengalami depresi dan kemarin aku temukan dia mau bunuh diri."
Begitu isi chat dari Deni pada Pram yang langsung bergeming memandang kosong.
Anisa menatap heran kepada Pramana lalu bertanya. "Ada apa?chat dari siapa?"
"Chat dari Deni, katanya dia menemukan Adisty yang mencoba bunuh diri dan sekarang Adisty sedang di rawat di Rumah sakit! karena mengalami depresi ringan," ungkapnya Pramana sembari memberikan ponselnya kepada Anisa.
Karena merasa penasaran, Anisa pun mengambil ponselnya Pramana dan lalu membaca chat dari Deni yang belum Pram balas.
Setelah berulang kali membacanya, Anisa mengembalikan ponsel Pram. "Astagfirullah ... terus gimana? aku nggak larang kamu untuk menjenguk nya, cuman pasti ada konsekuensinya."
Pram sejenak bengong sembari menatapi pada sang istri. Ia pun kepikiran kalau seandainya dia datang. Mungkin justru akan memperkeruh keadaan dan pada akhirnya Adis bukan melupakannya bahkan mungkin akan kembalikannya.
"Kalau menurut aku ... seandainya kamu datang itu justru akan memperkeruh keadaan! bagaimana dia bisa melupakan mu? jika seandainya kamu berada di depan matanya, di saat proses dia mau melupakan--"
"Iya sayang aku mengerti dan aku tidak akan menemuinya kecuali mendoakan agar dia segera sehat kembali seperti semula. Dan semoga dia mendapatkan jodoh yang lebih baik dibandingkan aku!" potongnya Pramana sembari menghela nafas dalam-dalam.
"Kalau mau ... tanyakan aja sama Deni gimana kabarnya dan perkembangannya." Sambungnya Anisa yang menyalahkan Pramana untuk menanyakan kabar Adisty kepada Deni.
"Iya sayang, aku minta izin ya? kalau seandainya lain waktu aku chat Deni untuk menanyakan kabarnya Adisty, tapi aku nggak ada niat macam-macam sayang! cuma ingin tahu aja kabarnya." balasnya Pramana sambil menempelkan bibir di kening Anisa.
Anisa menganggukkan kepalanya. Kemudian menempelkan kembali kepalanya di dada Pramana! namun tidak lama kemudian ada yang datang mengetuk pintu kamar hotel yang mereka berdua tempati.
Ternyata dia pelayan hotel yang di utus untuk mengantarkan buat makan siang mereka berdua.
"Makasih kang!" ucapnya Pramana kepada yang mengantar makanan sembari memberikan uang insentif.
Lalu kemudian ... mereka pun menikmati makan siang nya dengan sangat lahap, tanpa memikirkan suatu hal apapun selain menikmati makan siang nya saat ini ....
...🌼---🌼...
__ADS_1
Jangan lupa like comment dan jejak lainnya ya terima kasih🙏