
"Gimana Pram?" tanya sang bunda langsung kepada Pramana yang baru saja datang.
"Apanya yang gimana, Bu? aku baru saja menyelesaikan administrasi agar Anisa segera ditangani, dia ... keguguran!" jelas Pramana begitu lemas dan lesu bagai tak ada gairah!" di bajunya pun banyak bercak-bercak darah dari pendarahan nya Anisa.
"Astagfirullah ... ya Allah ... kamu kenapa sih Nak? sampai begini," Ibu Bella menutup wajah dengan kedai telapak tangan.
Pak Lukman berdiri dan menarik nafasnya dalam-dalam, lalu kemudian mengusap bahunya Pramana seraya berkata. "Bajumu kotor!" lalu menoleh ke arah mang Pei.
"Sebaiknya Mamang pulang aja dulu, ambilkan pakaian bersih buat Pramana, lihat pakaiannya kotor banyak bercak darahnya!" kata Pak Lukman kepada mang Pei.
Bu Bella pun melirik peda mang Pei bergantian dengan Pramana. "Bawakan saja pakai yang bersihnya Pramana dan juga Anisa, pinta saja sama Bibi agar dia yang menyiapkannya."
"Baik, Tuan. Ibu, kalau gitu Mamang pergi dulu." Mang Pei mengangguk lalu membungkuk hormat membalikan tubuhnya Kemudian pergi meninggalkan tempat tersebut.
Sesekali Pramana berdiri di depan pintu ruang UGD dan mendongak ke langit-langit sambil memegangi kepalanya. Tampak sekali kalau hatinya tengah gelisah dan cemas.
Tidak lama ... mang Pei kembali dengan menjinjing tas yang berisi pakaian Pramana dan Anisa yang di satu tas kan.
Pramana mengarahkan pandangannya ke dalam tas. Dengan perlahan mengambil pakaiannya.
Pramana berlalu sambil menenteng baju hendak ke mushola dengan perasaan yang mengambang, langkah yang gontai dan pikiran pun melayang entah kemana.
Di ruang tunggu bu Bella dan suaminya menunggui Anisa. Sementara mang Pei kembali pulang dengan suruhan sang majikan.
Wajah-wajah cemas pun masih menyertai pak Lukman dan Bu Bella.
“Ya Allah ... semoga penanganan nya lancar dan Anisa baik-baik saja ya.” Gumamnya bu Bella sambil menghela nafas dalam-dalam.
“Aamiin ya Allah ... semoga saja.” timpalnya pak Lukman sambil berdiri dan menggoyangkan kedua kakinya bergantian yang terasa pegal-pegal.
“Siapa yang chat, Yah?” tanya bu Bella ketika melihat suaminya membaca pesan di ponselnya.
__ADS_1
“Joni, katanya mobil mereka terjebak macet.” Jawabnya pak Lukman sembari menyimpan handphone nya ke dalam saku.
“Astagfirullah ... ada-ada saja ya Yah ...” lirihnya bu Bella sambil terduduk lesu dengan pandangan ke arah pintu UGD.
Pintu ruangan UGD terbuka beriringan dengan datangnya Pramana yang kembali dari mushola. Yang langsung menghampiri dokternya tersebut. “Gimana Dok istri saya?”
“Alhamdulillah ... berkat doa kalian semua, penanganannya selesai dan berjalan dengan lancar. Sekarang ini istri anda mau di pindahkan ke ruang inap dan menunggu dia siuman atau sadarkan diri.” Dokter mengucap syukur atas lancarnya tugas dia bersama rekan lainnya.
Bu Bella, pak Lukman dan Pramana pun tampak bahagia dan tidak lupa mengucapkan syukur pada yang Maha kuasa! karena atas kehendaknya semua yang terjadi pada kita semua.
“Terima kasih Dok, terima kasih?” ucap Pramana dengan wajah yang kembali berwarna tidak sepucat semula.
Lalu berangkar yang membawa Anisa pun di keluarkan dari ruang UGD untuk di pindahkan ke ruang VIP dan Pramana pun ikut mendorong mengantarnya ke ruang inap.
Bu Bella dan pak Lukman mengikuti dari belakang dengan perasaan yang sedikit lega karena masa kritisnya sudah lewat dan tinggal menunggu pasien sadar saja.
Kini Anisa sudah berbaring di tempat tidur di ruangan tersebut, dengan beberapa jarum infus di tangannya Anisa juga berpakaian pasien. Pramana duduk di hadapan Anisa yang masih belum sadar dan di tatapnya wajah Anisa yang pucat dengan sangat lekat.
Perlahan tangannya Pramana menyentuh tangan Anisa yang terpasang jarum suntiknya, dengan pelan Pramana berkata. “Aku senang kau sudah melewati masa tritis. Segera lah sadar, aku ingin melihat senyuman manis mu lagi. Aku sangat khawatir bila kamu seperti ini.”
“Iya Bu ... benar itu. Anak hanya titipan bahkan bukan Cuma itu saja. Istri, suami. Harta dan anak adalah titipan sang maha pencipta.” Timpalnya sang suami.
“Nisa ... kamu kenapa Nak?” suara bu Farida yang baru saja datang dan setengah melompat mendatangi putrinya yang terbaring belum sadarkan diri.
“Assalamu’alaikum ... Kenapa bisa terjadi seperti ini?” pak Joni menghampiri sang sahabat+besan yang berada di
sofa.
“Wa’alaikum salam ... alhamdulillah kalian dah sampai.” Balasnya pak Lukman langsung menyambutnya.
“He'eh,” kemudian pak Joni pun menghampiri Anisa yang belum yang di peluk istrinya.
__ADS_1
Bu Farida pun tak kuasa menahan tangis, melihat kondisi putrinya seperti ini. “Apa yang terjadi pada mu Nisa? Hingga terjadi seperti ini?” bu Farida terus berkata-kata sambil mencium keningnya Anisa.
Pramana mencium punggung tangan pak Joni yang berdiri tidak jauh dari dirinya. Lalu mempersilakan untuk duduk dan dia mengambil kursi lainnya.
Pak Joni lalu bertanya apa yang sudah terjadi pada putrinya, sehingga terjadi tidak sadarkan diri seperti ini? dan apa penyebabnya.
Pramana pun menceritakan dari mula dia datang dan tidak menemukan Anisa di kamarnya, melainkan di kamar mandi yang terkunci dalam keadaan pingsan dan pendarahan. Sehingga terjadinya keguguran.
“Apa? keguguran?” bu Farida tampak kaget sekali mendengar kalimat keguguran serta melihat pada ke arah bu Bella dan Pramana bergantian.
Pramana mengangguk pelan sambil menundukkan wajahnya dan terima dengan ikhlas bila kedua orang tua nya Anisa menyalahkan dirinya yang lalai.
Bu Bella menghampiri bu Farida lalu di peluknya. “Mungkin ini yang terbaik buat Anisa. Anak adalah titipan dari yang maha kuasa dan semoga nanti di gantikan dengan yang lainnya.”
Bu Farida menghela nafas dalam-dalam. Hingga beberapa kali dan dia berusaha tegar dan sabar, dia pun sadar bila ini sudah ketentuan dari yang maha kuasa yang harus di terima dengan sabar.
Pramana sedang berdiri di dekat Anisa dan membenarkan kantong infusan, hatinya masih diliputi rasa gusar melihat Anisa belum sadar juga sampai detik ini, dan ingin rasanya segera melihat wanita itu siuman.
“Nak Pram. Berapa membayar admistrasi semuanya dan total kan berapa semuanya? Nanti Ayah transfer ke nomor rekening mu,” ucap pak Joni sambil menatap lekat ke arah Pramana.
“Ha? nggak-nggak, gak usah, Yah. Itu sudah kewajiban ku kok.” Pramana tampak kebingungan.
“Joni, itu sudah kewajibannya Pramana dan itu sudah hak dia sebagai suami untuk memenuhi keperluan Anisa. Biar saja, jangan mentang-mentang dia ... bukan, ach sudah lah. Biar saja Pramana yang bertanggung jawab.” Timpalnya pak Lukman dengan lirih pada pak Joni.
“Nggak pa-pa nih Pram?” pak Joni menatap ke arah Pramana yang langsung mengangguk. Bukan apa-apa ... masalah nya yang di kandung Anisa bukan darah dagingnya Pramana. Makanya pak Joni merasa riskan.
“Tidak apa-apa, Yah. Biar itu menjadi kewajiban ku saja," ucap Pramana kembali.
Hening ....
...🌼---🌼...
__ADS_1
Mohon dukungan ya, makasih sebelumnya.
Bersambung