Pernikahan Yang Tak Di Anggap

Pernikahan Yang Tak Di Anggap
Salah menilai


__ADS_3

"Gue tidak menyangka kalau lu berjodoh juga dengan sepupu gue, kalau tahu gini dari dulu aja gue kenalin kalian berdua!" ucap Deni sembari menatap ke arah Pramana.


Pramana menyesap rokok yang tinggal setengahnya itu di antara dua jari tangan nya tersebut. "Aku rasa ini bukan jodoh! tapi terpaksa, karena keadaan yang aku hadapi dan juga yang dia dihadapi."


"Maksudnya? bentar-bentar aku jadi bingung, maksudnya gimana?" Deni mengerutkan keningnya sambil merubah posisi duduknya biar lebih menghadap ke arah Pramana.


"Maksudnya ... ya pikir saja sama kamu, nggak mungkin aku menikah sama Anisa kalau saja kekasih ku nggak pergi ataupun kabur!" balasnya Pramana sembari menatap kosong ke depan.


"Oh, jadi kekasih mu kabur?" Deni menatap penasaran ke arah Pramana.


"Iya benar, sungguh malang nasib gue, gue ditinggal ketika hari H yang seharusnya ... pernikahan itu berjalan dengan lancar." Tambahnya Pramana.


Kemudian Pramana menceritakan ketika dia mau hampir gagal menikah dan dibuat kalang-kabut, karena tak datangnya sang mempelai wanita. Ketika disusul ternyata tidak tidak berada di tempat dan kabur keluar kota, sampai sekarang belum ketahuan di mana berada.


Hingga akhirnya pernikahan dengan itu terjadi, tapi bukan dengan sang kekasih hati melainkan dengan Anisa. Seorang gadis yang tadinya hanya menjadi undangan di acara pernikahannya Pramana dan Adisty yang seharusnya.


"Ck-ck." Deni berdecak sambil menggeleng-gelengkan kepalanya. Dia benar-benar tidak menyangka kalau sahabatnya itu ditinggalkan oleh sang kekasih.


"Ya ... mungkin ada sesuatu yang menguntungkan di balik pernikahan ini, aku nggak dicap gagal nikah dan Anisa yang katanya sedang berbadan dua tertutupi aibnya dengan keberadaan ku menjadi suaminya." Tambahnya Pramana


"Justru Anisa yang lebih malang, kenapa? karena dia gadis baik-baik di ambil kesuciannya di rumah gue malah. Sama temen gue sendiri sekaligus tetangga gue!" ucapnya Deni dengan suara yang agak pelan mengenang dan menerawang ke belakang.


"Apa? dia di ambil kesuciannya sama temen kamu? sekaligus tetangga kamu! nggak salah?" Pramana sangat terkesiap. Keningnya mengernyit dan menatap tajam ke arah Deni.


"Benar, Pram. Kejadiannya ketika Anisa menginap di rumah gue!sementara gue dan Dia pun sedang keluar, orang tua gue juga sedang ada acara di luar rumah. Lalu datang teman gue yang memang mereka juga sudah saling kenal, mungkin mereka ngobrol terus entah si prianya masukin obat apa gitu, sehingga Anisa tidak sadar dan akhirnya terjadilah!" Deni menjeda sesaat perkataannya.


Membuat Pramana tambah penasaran, sehingga dia menatap Deni seakan tidak berkedip dan rokok pun dibiarkan habis begitu saja.


"Dan paling gue marah semarah-marah nya itu laki nggak mau tanggung jawab. Jangankan tanggung jawab mengaku saja nggak, sungguh ngenes. Nyesel banget, rasanya sakit sampai ke ulu hati gue sepupu gue di buat seperti itu sama teman gue sendiri." Hati Deni mencelos kalau ingat itu.

__ADS_1


"Oh jadi ... dia hamil bukan sama kekasih nya?" selidik Pramana dengan tetapan yang semakin meneliti.


"Bukan, mereka nggak ada hubungan apa-apa. Cuman kenal biasa aja. Dan sayangnya Anisa nggak punya bukti sama sekali selain kehamilannya itu--"


"Ya ... gampang lah! nanti aja tes DNA, gimana hasilnya. Itu nggak akan berbohong kok kalau dia memang Ayah biologisnya dan gak akan pernah bisa mangkir!" Pramana memotong perkataan Deni.


"Iya juga sih ... bisa tes DNA nantinya memang benar. Tapi kan yang di butuhkan adalah bukti sekarang, untuk bisa menjatuhkan laki-laki itu yang telah menghamili anak orang." Deni menghela nafas dengan dalam lalu ia hembuskan sangat panjang. Dia sangat geram kepada pria yang sudah menghancurkan hidup Anisa dan selama ini hubungan Deni dan pra itu pun sudah tidak baik-baik saja.


Pramana mengambangkan kedua pipinya seolah-olah membuang nafas dari mulut, lalu kemudian dalam hatinya bergumam.


"Mungkin aku sudah salah menilai Anisa, ternyata Anisa tidak murahan! dia hamil karena ulah pria yang tidak bertanggung jawab dan bukan siapa-siapa bagi dirinya! kok ada sih laki-laki seperti itu!" Pramana melamun.


"Setidaknya ... kalau sudah menikmati manisnya mau bertanggung jawab dong dan mengakuinya, heran banget ni orang, gak punya ibu apa? kalau saja aku ketemu sama dia, ingin ku hajar habis-habisan." Monolog kembali Pramana dalam hati.


"Kenapa lo, melamun?" tanya Deni ketika melihat Pramana hanya diam sampai-sampai rokok pun hampir membakar jarinya.


"Ach nggak, hanya berpikir ... gue kira Anisa hamil karena ulah kekasihnya!" gumam Pramana sambil menggosok hidungnya.


"Tapi dia sekarang istri gue!" gambar Pramana namun dalam hati.


Kemudian mereka pun beralih tempat menjadi di ruang keluarga, sementara di sana sudah tampak sepi.


Deni tiduran di sofa yang panjang berbantalkan, bantal sofa. Lalu adiknya, Dea membawakan bantal dan selimut untuk kakaknya.


Pramana hanya memandangi kepergian Dea yang berjalan ke arah belakang.


"Huamss!" Pramana beberapa kali tampak menguap dan dia merasa ngantuk sekali putaran jam, waktu pun sudah menunjukkan pukul 01.30.


Hening ...

__ADS_1


Yang terdengar hanya suara televisi yang tidak terlalu kencang dan dentingan suara jam dinding.


Pramana melihat ke arah Deni yang sudah tampak nyenyak dan terdengar mengorok. Pada akhirnya Pramana beranjak dari duduknya lalu berjalan membawa langkahnya yang lebar menuju anak tangga dan menapakinya satu persatu.


Pria itu terus-terusan menguap dan berdiri di depan pintu kamarnya Anisa. "Dikunci nggak ya! pintu kamarnya?" Pramana tampak ragu-ragu untuk membuka daun pintu tersebut.


Namun setelah berapa detik berdiri mematung di tempat tersebut, akhirnya tangan Pramana bergerak memegang handle dan mendorongnya! kebetulan pintu tersebut tidak dikunci, entah sengaja atau lupa.


Sehingga dengan perlahan kedua kaki Pramana terayun kan ke dalam sana, suasana kamar dalam keadaan remang-remang. Di atas tempat tidur terlihat ada yang meringkuk dan sepertinya itu Anisa. Terlihat dari rambutnya dan nggak wanita lain, Pram pun melanjutkan langkahnya menuju tempat tidur tersebut lantas mengambil bantal dari dekat Anisa.


Pramana memeluk bantal dan dia celingukan dia harus berbaring di mana? Di kamar itu nggak ada sofa panjang yang ada cuma kursi rias saja.


"Nggak ada selimut lain apa? masa aku harus ambil selimut Anisa yang sedang dipakai, tega amat." Gumamnya Pramana lalu mengarahkan pandangan ke arah lemari.


"Pasti di dalam lemari ada selimut atau kain sprei!" Pramana menghampiri lemari miliknya Anisa.


Yang tidak dikunci, sehingga dia bisa membukanya. Kedua netra nya menemukan tumpukan selimut dan sprei, membuat bibirnya tersenyum lalu tangannya mengambil barang tersebut.


Lantas dia gelar di lantai yang akan dia jadikan tilam buat dia berbaring, samping tempat tidur Anisa.


Pramana berbaring di sana, mulainya sulit untuk memejamkan kedua matanya. Tapi lama-lama dia bisa tidur juga.


Namun baru saja berapa saat Pramana terpejam, tiba-tiba bawa dia dibuat kaget. Sebab tubuh Anisa menggelinding dan terjatuh di atas tubuhnya, sementara Anisa dia tetap saja terpejam dan tidak menyadari kalau tubuhnya terjatuh dari atas tempat tidur.


Pramana bergeming kita bergerak sama sekali dengan mata pun tidak berkedip. Ingin menyadarkan Anisa tapi nggak tega! sehingga Pramana hanya bisa terdiam, namun sesaat kemudian tubuh Anisa bergerak seolah mencari kehangatan, lalu tangannya memeluk tubuh Pramana dengan sangat erat.


Tentunya Pramana semakin terkesiap jadinya. "Eeh, hei bangun gue itu ngelindur atau sengaja sih? ini aku, pindah lah tidurnya ke atas lagi sana!" pada akhirnya Pramana bergumam namun tidak membuat Anisa terbangun.


Pria itu sudah mencoba untuk menjauhkan tubuh Anisa dari tubuhnya, dengan cara dia menggeser tubuhnya tersebut. Namun Anisa kembali mendekat dan memeluknya dengan erat ....

__ADS_1


...🌼---🌼...


Jangan lupa like and comment ya dan juga dukungan lainnya agar author mu ini semakin semangat berkarya. Terima kasih


__ADS_2