Pernikahan Yang Tak Di Anggap

Pernikahan Yang Tak Di Anggap
Kepo


__ADS_3

Pram menangkap tangan Anisa yang mau meninggalkannya.


"Aku membuat sarapan mau sarapan apa?" Anisa menatap ke arah Pram menyusun dari tangan agar mendekat kepadanya.


"Bikin kerajinan nasi goreng telurnya kebanyakan ya?" ucap Pram sambil menarik pinggang Anisa agar duduk di atas pangkuannya.


"Apa sih. Aku mau masak!" Anisa berusaha beranjak namun sulit, sebab pinggangnya di kunci oleh tangan Pramana.


"Bikin sarapannya nanti aja, masih pagi kok baru jam 6 kurang!" ucapnya Pram sambil mendekatkan wajahnya ke wajah Anisa.


"Tapi kan butuh proses. Jadi butuh waktu buat memasaknya," kata Anisa sembari menjauhkan wajahnya dari Pram.


"Bentar lagi aja. Sebentar temenin aku dulu Napa!" Pram semakin mengeratkan rangkulannya di pinggang Anisa.


Akhirnya tangan Anisa pun melingkar di pundaknya Pram takut terjatuh. Dalam beberapa saat mereka berdua melakukan sesuatu yang bikin Pram merasa puas. Hingga senyum-senyum sendiri.


Anisa merapikan putama nya. Berdiri juga merapikan rambutnya yang sedikit acak-acakan. Kemudian Anisa meninggalkan Pram di kamar yang kini menikmati minumannya.


Langkahnya Anisa menapaki tangga satu demi satu dan langsung menyiapkan untuk membuat sarapan.


"Emangnya Pram mau sarapan apa Nisa?" tanya sang ibu mertua yang sedang duduk di kursi meja makan.


"Em ... dia mau nasi goreng katanya Bu ..." Jawabnya Anisa sambil menoleh sesaat lalu mengambil telur dua biji.


Bu Bella berdiri membawa secangkir kopi yang dia bawa ke teras, untuk suaminya yang ada di sana.


Anisa berkutat membuat nasi goreng rekuesan dari Pram. Pram tampak tidunsambil menenteng jas dan tas berisi keperluan kerjanya.


"Belum pasa sarapan ya? sepi!" Pram mendudukan dirinya di kursi dekat meja makan.


"Belum ibu sama ayah kayak nya lagi di teras deh!" jawabnya Anisa sembari menoleh, kemudian menuangkan nasi ke dalam piring yang sudah disiapkan. Lalu dia taburi dengan bawang goreng, setelah itu di bawahnya ke hadapan Pram.


"Sarapannya udah siap!" gumamnya Anisa lalu mengambil gelas dan di isi air putih.


"Makasih ya tapi sarapan di mana? Ini untuk berdua saja ya!" Pramana menarik piringnya.


"Nggak-nggak, aku belum lapar ... nanti saja agak siangan, lagian aku nggak ke mana-mana kok." Anisa menggeleng.


Sesaat kemudian Bu Bella dan suami pun mendatangi tempat makan, lalu mereka sarapan bersama.


Selesai sarapan Pram pun berpamitan untuk pergi ke kantor. Dan Anisa memakaikan jas pada Pramana.

__ADS_1


"Em. Buat makan siang, mau dimasakin apa?" Tanya Anisa sembari mengancingkan jas Pramana.


"Yang mudah-mudahan saja lah, seperti ikan goreng. Ayam goreng dan jangan lupa sambalnya." Balasnya Pramana.


"Oke, kalau begitu nanti aku anterin ke sana!" Anisa menganggukan kepalanya lalu meraih tangan Pram dan menciumnya, ini hari pertama dia berlaku seperti itu karena untuk saat ini mereka sudah lebih jelas statusnya! yaitu suami istri.


Lalu Pramana pun menyentuh pipi Anisa mencium keningnya dengan durasi yang lama lalu pipinya kanan dan kiri. "Ya sudah aku pergi dulu Assalamu'alaikum!"


"Wa'alaikum salam hati-hati? dah ..." Anisa melambaikan tangan pada Pramana yang berlalu setelah berpamitan kepada orang tuanya.


Anisa membereskan bekas sarapan, lalu mencucinya di wastafel.


"Nisa kan belum sarapan. Sarapan dulu lah, nanti kamu sakit apalagi lihat wajah mu tampan pucat. Kayaknya semalam kurang tidur ya?" kata ibu Bella yang tentunya ditujukan kepada Anisa.


"Ha! Emang iya gitu, wajah Anisa agak pucat? masa sih ... perasaan Nisa biasa aja kok!" Anisa menyentuh kedua pipinya.


"Kalau Nisa nggak percaya ... tanya aja sama Bibi. Beneran kan Bi Neng Nisa wajahnya agak pucat kayaknya kurang tidur semalam," Bu Bella melirik ke arah bibi yang sedang berdiri di pojokan mau mencuci.


"Iya, Bu ... Neng Nisa wajahnya agak pucat!" Bibi pun membenarkan perkataan dari majikannya.


Anisa mengatupkan bibir dan terdiam, memang iya sih semalam dia kurang tidur. Makanya sekarang saja ini mata terasanya ngantuk berat.


Lalu dia ingat kalau nanti siang mau masak apa yang lantas dia membuka lemari pendingin, apakah ada stok buat nanti siang yang bisa dia masak atau sebaliknya. Nggak ada ayam ... nggak ada ikan, ada juga daging sapi.


"Boleh, tapi nanti siang juga pasti ke sini--"


"Memang pasti ke sini ya, Bu ... tapi takut kehabisan ayam sama ikannya," timpalnya Anisa memotong perkataan dari sang ibu mertua.


"Hooh. Ya sudah kalau gitu Anisa duluan aja belanjanya, uangnya ada nggak?" tanya sang ibu mertua bertanya soal uang kepada mantunya.


"Ada kok, Bu ... Nisa masih masih pegang," jawabnya Anisa lalu dia sedikit mempercepat langkahnya menaiki anak tangga dia berniat ke kamarnya untuk mengambil uang.


Sang ibu mertua hanya tersenyum dan melihat ke arah punggungnya Anisa yang berjalan cepat menuju lantai 2.


Kini Anisa sedang berjalan cepat keluar dari pintu utama dan dia mau ke pangkalan sebelah, di mana tukang sayur masih barada di sana. Sebab kalau ditunggu datang ... kemungkinan apa yang dia mau beli kehabisan, sehingga Anisa berinisiatif untuk mendatanginya saja.


Ini kali pertamanya Anisa keluar untuk berbelanja, terutama berbaur dengan ibu-ibu di sana, biasanya juga paling belanja ya di depan rumah menunggu tukang sayurnya datang.


"Eh ... tumben Neng Nisa belanja ke sini, biasanya juga nunggu di rumah,," sapa seorang ibu tetangganya Ibu Bella.


"Iya Bu ....ada yang ingin aku beli dan kalau nunggu datang ke sana takut kehabisan!" Anisa tersenyum menjawab dengan ramah.

__ADS_1


"Iya tumben nih, biasanya juga nunggu di rumah ya?" kata si ibu-ibu yang lainnya.


Dan Anisa hanya mengulas senyuman ramahnya saja kepada Ibu tetangga yang lain.


"Sok, Neng belanja yang banyak, iya kalau nunggu ke sana suka banyak kehabisan! itu benar," Kata si abang tukang sayur.


Anisa mesem dan langsung melihat-lihat apakah ada yang dia tuju. Dan untungnya ada ikan mas juga ayam. "Itu bang ayamnya satu kilo dan ikannya juga sama satu kilo, harganya berapa bang?"


"Ayam sekilo dan ikan sekilo semua totalnya rp70.000 Neng," si abang tukang sayur langsung mengtotalkan belanjaannya Anisa.


"Oke, tapi aku butuh bumbunya deh bumbu kuning ... Iya deh bumbu kuning aja." Anisa menunjukkan pada bumbu kuning lalu memberikan selembar uang kertas yang berwarna merah yang dia keluarkan dari sakunya.


"Oh iya Neng, kemarin itu ada apa kok ramai-ramai di rumah Pak Lukman, ada acara apa,?" tanya si Ibu yang pertama kali menyapa Anisa.


Anisa terdiam sejenak, Oh iya kemarin kan akad dan orang lain nggak tahu kecuali keluarga saja dan orang-orang penting lainnya, karena tetangga tahunya kan sudah menikah di berapa bulan yang lalu.


"Em ... Itu sedang ada acara keluarga aja Bu." Jawabnya Anisa sembari menganggukan kepalanya.


"Tapi kayak acara formal gitu, sempat melihat ada yang berkebaya segala!"


"Iya ada acara keluarga itu Bu!" lagi-lagi Anisa menjawab seperti itu. Kemudian dia buru-buru berpamitan karena dia takut ditanya-tanya lagi dan dia sendiri nggak tahu harus menjawab apa.


"Acara keluarga apa ya? kok pakai kebaya kayak pengantenan begitu! sementara Pramana dan gadis itu kan sudah menikah berapa bulan yang lalu," si Ibu tadi dan mendapatkan anggukan dari yang lainnya.


"Iya bener! mereka kan sudah menikah, resepsi kemarin."


"Mungkin saja menikah yang kedua kalinya ibu-ibu, lagian ngapain kepo sengala? nggak ada gunanya, mending mikirin gimana caranya bisa terus berbelanja kepada saya ha ha ha ... Dan yang punya hutang sama saya cepat membayar!" Kata si abang tukang sayur sembari terkekeh sendiri.


Anisa berjalan yang terburu-buru menuju kediamannya, dia merasa malas jika harus ditanya-tanya! lagian dia sendiri bingung harus menjawabnya.


Setibanya di dapur Anisa langsung mencuci ikan dan ayamnya dengan bersih Padahal dia masukkan ke dalam freezer biar nanti jam 10.00 dia masak dan sekarang dia ingin tidur dulu sebentar. Untuk mengganti jam tidur malamnya yang terganggu semalam.


"Bi. Kalau ibu nanyain, Nisa mau tidur dulu ya sebentar! sebelum nanti masak." Anisa menoleh pada bibi yang sedang menggantungkan cuciannya.


"Oh iya, Neng apa ada cucian? biar Bibi yang nyuci!" kata bibi.


"Em ... Biar nanti aja aku cuci sendiri, ya sudah biar aku naik dulu ya!" Anisa bergegas naik ke lantai atas dengan niat mau tidur sebentar.


Anisa langsung menjatuhkan tubuhnya di atas tempat tidur, dengan tidak membutuhkan waktu yang lama, dia pun langsung tertidur sangat nyenyak ....


...🌼---🌼...

__ADS_1


Jangan lupa like dan komennya ya agar autor ini tambah semangat dan terima kasih


__ADS_2