Pernikahan Yang Tak Di Anggap

Pernikahan Yang Tak Di Anggap
Butik


__ADS_3

Pagi-pagi Pram dan Anisa sudah bersiap untuk pergi ke butik bersama ibu Bella juga katanya mau ikut.


Kini mereka sedang berkumpul yang katanya dari pihak Anisa akan segera datang. Sehingga sebelum pergi, mereka menunggu terlebih dahulu.


“Katanya mereka sebentar lagi akan sampai dan akan ikut juga ke butik. Jadi tunggu saja dulu,” tutur bu Bella sambil celingukan melihat ke arah luar.


Anisa pun mengangguk sambil menyatukan kedua tangannya yang terasa berkeringat dingin. Belum apa-apa sudah panik dan gelisah begini.


“Kenapa tampak gugup begitu?” bisik nya Pram sambil mesem dan mendekatkan wajahnya pada telinga Anisa.


“Nggak, biasa saja. Siapa yang gugup?” elaknya Anisa sambil menggeleng pelan.


“Masa sih? terlihat gugup begitu kok. Belum apa-apa nih ... boro-boro malam pertama. Ha ha ha ...” Pram malah ketawa renyah.


“Apaan sih ...” Anisa tampak malu-malu sambil menepuk pahanya Pramana.


“Itu hal yang biasa di saat menjelang waktunya pernikahan.” Ungkap dari bu Bella sambil tersenyum pada Anisa.


“Padahal ini bukan yang pertama ya.” Timpalnya Pram yang menggeser posisi duduknya mendekati Anisa. Membuat Anisa pun malah menggeser dan menjauh sampai ke ujung sofa.


“Kenapa sih ... geser-geser? Sudah duduk di situ.” Anisa tampak gelisah dan kepikiran tentang Adisty yang dia yakini akan kembali pada Pram suatu saat nanti.


Bu Bella ngeloyor ke dapur. Ada sesuatu ang harus di persiapkan dan meminta bantuan bibi.


“Kanapa sih ... kau tampak gelisah begitu? ada apa, bicara lah pada ku hem?” lirihnya Pram sambil menyentuh tangan nya Anisa yang terasa sangat dingin.


“Em ... aku takut saja bila suatu saat nanti ... kekasih mu akan kembali dan meminta kau kembali.” Anisa menatap ke arah Pram sesaat.


Cuph. Pram mengecup punggung tangan Anisa dengan sangat lembut. “Tidak perlu berpikir yang tidak-tidak ach, kita pikirkan saja gimana caranya kita berdua akan bahagia, dan selalu bersama.” Pram meyakinkan seolah-olah Adisty belum kembali.


“Tapi!”


“Jangan banyak pikiran ya ... kita akan akan tetap menjadi pasangan suami istri yang saling membutuhkan.” Pram kembali mengecup punggung tangan nya Anisa yang tampak resah.


Padahal dalam hati pun mengakui kalau Adisty sudah kembali. Kalau saja Anisa di beri tahu sekarang akan kedatangannya Adisty. Pram takut kalau Anisa akan kecewa dan meninggalkannya. Mana Pram sudah penasaran banget pada Anisa dan juga sayang dia, tidak mau kehilangan wanita yang sudah menjadi istrinya itu.


“Oo! calon pengantin romantis banget. So sweet ...” suara Renita yang baru saja datang dan tampak dia datang sendiri.


“Kak Renita ... sama siapa ke sini? mana abang Andre?” sambutnya Anisa pada Renita.

__ADS_1


“Hi ... tambah cantik saja nih pengantin baru.” Renita dan Anisa berpelukan sangat erat.


Pram menatap ke arah Renita dan Anisa. “Iya, abang mana? kerja ya?”


“Hooh, abang kerja dulu, nanti pulang siang dan ... lagian belum jelas kapan waktunya jalan ke KUA kan?” Renita mendudukan dirinya di sofa dekat Anisa yang mengusap perutnya.


“Dede bayi nya pasti sudah tidak sabar ingin segera keluar. Perutnya sudah besar begini.” Anisa mengusap perutnya Renita.


“Masih lama tante ... ini besar karena sudah beberapa bulan saja, kalian ingin segera merasakan anu ya ... hingga mau cepat-cepat menikah?” Renita menunjuk keduanya.


“Kata ayah juga yang baik itu, harus di percepat dan jangan di tunda-tunda. Jadi kami ingin segera saja menikah.” Jawabnya Pram sambil menyandarkan punggungnya ke bahu sofa.


“Ach ... ngaku saja kalian sudah ngebet ya ... masih masa nifas lho ...” Renita lagi-lagi menunjuk pada keduanya dan lalu berdiri ketika datang bu Bella.


“Assalamu alaikum ... kamu datang sama siapa? Andre kerja bukan?” bu Bella memeluk sang mantu dan mengusap perutnya di ajak bicara.


“Iya, Bu ... aku naik taksi, habis Andre masuk kerja dulu kan? apa kabar Ibu kangen deh sama Ibu.” Renita kembali memeluk mertuanya.


“Giman calon cucu Ibu sehat?” tanya bu Bella pada Renita.


“Alhamdulillah, Bu ... calon cucu Ibu sehat dan tidak kurang suatu apa pun.” Renita pun tersenyum.


“Assalamu'alaikum semuanya ...” ucap salam dari Aisyah dan keluarga.


“Wa’alaikum salam ... “ Di balas dengan serempak oleh orang-orang yang berada di sana.


“Apa kabar besan?” bu Bella langsung menyambut besannya bu Farida dan pak Joni.


“Baik ... gimana sebaliknya sehat?” balik bertanya bu Farida sambil berpelukan dan cium pipi kiri dan kanan.


“Pak Lukman mana?” tanya pak Joni sambil bersalaman dengan bu Bella.


Kemudian bu Bella mengatakan kalau suaminya sedang pergi ke kantor kua membuat perjanjian nanti Pram dan Anisa melaksanakan kembali ijab dan kabul.


Sementara waktu mereka pun berbincang di ruang tengah sambil menikmati minumnya. Lalu kemudian mereka pergi ke butik untuk sekalian memesan gaun untuk resepsi nanti. Namun karena pak Lukman sudah pulang dan pak Joni pun memilih di rumah saja dengan pak Lukman.


Jadi yang ke butik para wanita saja dan kedua anaknya Aisyah dan laki-lakinya hanya Pram dan supir. Yang ikut ke butik.


Mobil meluncur menuju sebuah butik dan supir membawa bu Farida juga keluarganya. Mengikuti mobilnya Pram yang membawa Anisa, Renita dan ibunda.

__ADS_1


Setibanya di butik yang di tuju mereka turun dan masuk, di sambut oleh pihak butik yang ramah. Anisa dan Pram langsung memilih pakaian buat akad nanti. Begitupun yang lain memesan gaun buat resepsi nantinya yang paling selang beberapa hari dari sekarang.


“Em ... yang ini warnanya, aku suka dan pas dengan kulit mu.” Pram menyodorkan kebaya dengan warna keemasan yang Pram sukai.


“Tapi aku kurang suka dan itu terlalu mewah, aku suka yang sederhana tapi cantik. Nggak mau yang ini terlalu anu.” Anisa mengembalikan kebaya tersebut ke tempatnya.


Lalu Anisa melihat-lihat kebaya lainnya. Lalu Anisa tergoda pada kebaya pengantin yang berwarna biru pastel.


“Aku lebih suka yang ini. Jadi kamu juga kemeja yang senada kan ... kemejanya hitam.” Anisa menoleh pada Pram yang malah sibuk dengan ponselnya.


Beberapa saat tidak ada respon dari Pram yang sibuk dengan ponselnya yang membalas chat dari kantor yang tentunya tentang kerjaan. “Pram ...” panggil Anisa sambil menatap ke arahnya Pram.


Pram menoleh dan mengangguk. “Iya sayang, kenapa?”


“So sweet ... panggilan nya sayang,dan itu sangat romantis kalau menurut ku sih,” kata renita sambil memilih-milih pakaian yang pas dengan tubuhnya yang dengan perut buncit.


Aisyah tersenyum, melihat ke arah Renita dan adiknya Anisa. “Iya ini warna nya kalem lho Nisa,”


“Bener Kak. Dan aku mau mengambil yang ini saja.” Jawabnya Anisa sambil mengambil kebayanya untuk dia coba.


“Kalau kemeja ku putih saja, untuk akad. Kecuali kalau buat pesta baru harus senada.” Kata nya Pram sambil menunjuk kemeja putih yang menggantung.


Tidak lama kemudian, Anisa kembali dari ruang ganti dan tampak sangat cantik dengan kebaya pengantin yang dia kenakan nya saat ini.


Sejenak Pram menatap ke arah Anisa sampai tidak berkedip. Yang lain pun mengagumi kecantikan Anisa meskipun belum di make up.


“Kerudungnya yang mana?” akhirnya Pram bersuara dan menanyakan kerudung yang akan di kenakan sebagai temennya kebaya.


Aisyah mengambil dua kerudung dengan warna senada untuk dalaman dan luaran nya. “Ini kerudungnya. Mau langsung ke KUA kan? eh salah, mau langsung ke salon kan?”


Anisa melihat ke arah Pram yang memberikan jawaban kalau setelah ini akan ke salon dan setelahnya ke KUA, mengingat kata sang ayah kalau akad mereka berdua sekitar pukul 1 siang.


“Oo! kita langsung ke salon,” Aisyah buru-buru memilih baju untuk anak-anak dan dirinya.


Selesai mendapatkan pakaian yang akan di kenakan hari ini mereka pun langsung keluar yang akan langsung ke salon. Sementara pakaian buat resepsi sudah di pesan dan tinggal proses saja yang tidak lama juga katanya akan segera jadi ....


...🌼---🌼...


Apa kabarnya reader ku semua, semoga kabar baik ya di hari ini. Jangan lupa tinggalkan jejak ya agar aku tambah semangat Terima kasih banyak.

__ADS_1


__ADS_2