Pernikahan Yang Tak Di Anggap

Pernikahan Yang Tak Di Anggap
Favorit


__ADS_3

Hening ....


Suasana begitu hening, tanpa ada kata-kata yang terucap diantara Carolin dan Adisty yang terlihat sesekali Adisty mengusap matanya yang menggenang buliran air bening.


Setelah beberapa saat, keduanya saling diam Carolin mulai kembali perbincangannya.


"Emangnya kamu yakin ... kalau Pramana akan kembali pada mu? di saat dia ingin mempertahankan pernikahannya sama wanita itu! Apa kamu juga yakin kalau Pram masih mencintai mu seperti dulu?" tanya nya Carolin dengan tatapan yang menyelidik.


"Aku yakin dia pasti mau kembali padaku, secara dia sangat mencintai ku dan kamu tahu itu, Cer ... Pramana sangat mencintai ku, sementara dia bukan siapa-siapa!" jawabnya Adisty penuh keyakinan.


"Begitukah? terus gimana kalau seandainya Pramana memang mulai mencintai wanita itu? secara mereka setiap hari bersama, tinggal satu atap ... satu kamar! tidak ayal tumbuh benih-benih cinta diantara mereka--"


"Tidak, tidak boleh! Pram hanya milik ku! milik ku seorang .Tidak boleh wanita lain yang memilikinya selain aku!" jawabnya Adisty penuh ambisi.


"Tapi ... by the way, bos kamu itu ganteng juga. Emangnya kamu nggak tertarik sama dia?" Carolin mengalihkan pembicaraan tentang Pramana dengan bosnya Adisty yang lumayan ganteng, hitam manis dan juga baik.


"Dia punya istri dan anak satu, ya nggak lah! cinta'ku cuma sama Permana aja nggak ada laki-laki lain di hati ku selain dia--"


"Tapi apa salahnya, kamu membuka hati dan apa bedanya dengan Pramana yang sekarang punya istri juga?" Carolin menimpali perkataan dari Adisty.


"Ya ... beda lah, Pram itu kekasih yang aku cintai! sementara dia hanya bos aku dan aku hormati!" sahutnya Adisty dengan tegas kalau dia bisa membedakan antara Pramana dan bosnya! biarpun sama-sama mempunyai istri.


"Huuh ..." Carolin membuang nafasnya dari mulut. "Tapi nggak ada salahnya juga jika kamu membuka hati untuk pria lain. Kamu itu cantik! masih muda, buat apa kamu berharap sama laki-laki yang sudah mempunyai istri?"


"Pokoknya tidak, aku hanya ingin Pramana yang menjadi suami ku." Adisty dengan tegas.


Lalu Adisty mengambil gelas minumnya yang dia teguk sedikit demi sedikit, untuk menghilangkan rasa dahaga pada tenggorokan yang terasa kering. Tatapan nya yang kosong ... memorinya mengingat masa-masa indah bersama Pramana dan ingin mengulang kembali masa-masa itu.


"Oke, bagaimana kalau kita jalan-jalan yok? atau kita makan ke tempat favorit kamu dulu bersama Pramana! ya itung-itung membuang penat dan mengenang masa lalu!" ajaknya Carolin sembari melirik ke arah Adisty yang tampak melamun.


Adisty menolehkan kepalanya ke arah Carolin, dia pikir ... ada benarnya juga jalan-jalan membuang penat dan membuang kebosanan, mengusir rasa sepi.

__ADS_1


"Oke lah, tapi kamu yang nyetir ya? aku lagi males!" Adisty setuju dengan ajakan Carolin. "Sekarang aku mau siap-siap dulu!"


"Boleh, soal nyetir sih ... gampang!" balasnya Carolin sembari dia pun mengeluarkan tempat make up nya dari tas kecil miliknya.


Begitupun dengan Adisty, dia turun dari tempat tidur. Berjalan ke kamar mandi untuk membasuh mukanya terlebih dahulu yang tampak pucat dan lusuh.


Selepas sekitar 20 menit menghabiskan waktu untuk bersiap-siap, pada akhirnya mereka pun meninggalkan kamar Adisty untuk jalan-jalan dan makan di restoran yang pernah menjadi favorit Adisty dan juga Pramana.


"Sebenarnya sih Cer ... kalau ke tempat favorit seperti itu, harus nya bersama Pramana agar dia mengenang kembali dan dia menumbuhkan rasa cintanya sama gue lagi!" kata Adisty samari melirik pada Carolin.


"Itu gampang ... kan ada ponsel, nanti kamu berfoto di tempat itu dan ungkapkan perasaan mu, nanti juga dia ingat kembali!" jawabnya Carolin sembari mengambil kunci mobil dari tangan Adisty.


"Kalian itu mau ke mana? tampak rapi sekali?" tanya ibunda Adisty yang sedang menyiram tanaman di dekat teras, beserta tetapan yang meneliti kepada putrinya dan Carolin.


"Tante, Adisty perlu jalan-jalan untuk menetralkan pikirannya yang kacau balau. Bagaimanapun Adisty perlu hiburan dan suasana yang lain!" jawabnya Carolin kepada ibundanya Adisty.


Mereka berdua pun memasuki mobilnya, setelah sebelumnya berpamitan kepada sang Bunda.


"Dulu aku sering makan di restoran yang berada di jalan xx dan aku sangat suka dengan masakan guritanya, begitupun dengan Pramana! makanya kita sering makan di sana. paforit aku adalah gurita asam manis dan gurita baby pedas." Ungkap Adisty seraya menelan Saliva nya yang hampir ngeces.


"Oke kita ke sana aja bukan itu tempatnya tidak terlalu jauh ya dari kediaman Pramana Caroline menganggukkan kepalanya.


"Iya ... jauh juga sih, mungkin hampir setengahnya perjalanan!" timpalnya Adisty sambil menengok kanan dan kiri jalanan, yang mereka lewati tampak ramai dengan kuda-kuda besi lainnya.


Senja begitu nampak indah dengan cahaya langit yang memerah, jingga menandakan bahwa sore ini akan berganti dengan malam.


...-------------...


"Sayang Apa kamu suka dengan ikan laut seperti gurita cumi?" Anisa yang tampak sedang melamun memandangi keluar jendela.


"Ha! ikan laut ... aku suka kok, emangnya kenapa? kita mau makan seafood seperti itu? nggak masalah kok, tapi ada nasinya nggak? karena kalau nggak pakai nasi, nggak kenyang he he he ..." Anisa menunjukkan barisan giginya yang putih.

__ADS_1


"Ada dong ... kalau mau pakai nasi ya boleh, nggak juga nggak apa-apa. Ya sudah! kita ke restoran itu aja ya? dan aku suka masakannya di sana!" ucapnya Pramana seraya mengangguk kecil.


"Lho. Katanya lebih suka makan di rumah, masakan ibu. Tapi kok ... ternyata ada restoran favorit segala?" Anisa menatap heran suaminya tersebut.


"Iya benar, aku lebih suka masakan di rumah. Tapi kan ada kalanya aku makan di luar, dan itu salah satu masakan favorit ku!" akunya Pram sembari menoleh kanan dan kiri.


"Tapi kamu gak bilang kalau kamu suka gurita dan cumi? kalau tahu suka, kan ... aku bisa masakin di rumah dan aku bisa belajar untuk memasaknya." Kata Anisa sembari bergerak merubah posisi duduknya menghadap ke arah Pram.


"Aku belum bilang saja, sekarang kan sudah tahu. Jadi bisa suatu saat nanti kamu masakin aku di rumah seperti itu." Pramana tersenyum yang percaya kalau istrinya ini bisa membuatnya bahagia, termasuk dengan menu masakan yang ia sukai.


"Apakah dulu ... sama Adisty. Kau sering makan di luar dan itu tempat favorit kalian berdua?" Anisa menjadi menyelidik tentang Pramana dan Adisty.


Sesaat Pramana terdiam. "Ach, kenapa jadi bahas Adisty sih? gara-gara makanan favorit!" batinnya Pramana.


"Aku tahu jawabannya dan gak perlu kamu jawab!" Anisa sudah bisa menerka jawaban yang akan Pramana berikan padanya.


Sesaat Pramana menatap ke arah Anisa yang kini ekspresi wajahnya berubah agak jutek.


"Jangan marah dong sayang. Itu kan cuma masa lalu dan kalau soal makanan itu nggak ada kaitannya!" Pramana menyentuh pipi Anisa dengan lembut dan dia tidak ingin Anisa tampak merajuk.


Kepala Anisa menoleh dan dia berusaha menyembunyikan perasaannya yang jealous ataupun perasaan cemburu kepada Adisty. dengan senyuman yang semanis mungkin. "Siapa yang marah sih nggak ada yang marah kok!"


"seandainya kamu tidak suka dengan tempat itu ataupun makanannya nggak apa-apa Kita pindah aja kita cari tempat lain--"


"Nggak-nggak, nggak usah. Sudah aja di situ! sekalian aku pengen tahu rasanya gimana masakan di sana, siapa tahu aku bisa memasaknya di rumah!" timpalnya Anisa yang tidak ingin menunjukkan rasa cemburunya.


"Makasih sayang, dengan niatnya yang ingin bisa memasak setiap masakan kesukaan ku!" ucapnya Pramana sembari menarik kedua sudut bibirnya dan Lagi-lagi menyentuh pipinya Anisa yang lembut dan halus.


"Huuh ... aku tidak boleh memperlihatkan rasa cemburu ku ini, apa lagi cemburu buta! yang hanya akan membuat keruh suasana rumah tangga!" batinnya Anisa sembari melepaskan pandangannya ke luar ....


...🌼---🌼...

__ADS_1


Semoga saat ini kalian semua dalam ke adaan yang sehat walafiat. Dalam lindungan yang maha kuasa. Aamiin.


__ADS_2