
Langkah Anisa berhenti di dekat taksi yang langsung ia ketuk pintunya. Sopirnya ada di dalam tapi entah kenapa pintunya tidak segera terbuka, mungkin saja sopir tersebut sedang tidur.
Dan pada akhirnya Pramana pun sampai di sana menarik tangan Anisa, menjauhi taksi tersebut. "Sayang. Kita pulang sama-sama! tidak baik seperti ini dan semuanya bisa dibicarakan dengan baik-baik. Bukan dengan marah kayak gini, kita sama-sama sudah dewasa."
"Pokoknya aku mau pulang ke rumah Bunda dan aku tidak mau pulang sama kamu, apalagi ke rumah kamu!" Suara Anisa dan menarik tangannya.
"Sayang dengar aku dulu? rumah Bunda itu jauh dan masalah kita tidak harus diketahui orang banyak apalagi orang tua kita! kita bisa bicarakannya dengan baik-baik di rumah, bukan seperti ini." Serunya Pramana sembari menarik pinggangnya Anisa.
Anisa mendorong dada Pramana dan dia berusaha untuk melepaskan diri dari pria tersebut. "Ini semua kamu yang buat, kamu yang sedang bohongi aku tidak jujur padaku. Apa susahnya sih ngomong sama aku kalau Adisty sudah kembali dan pada kenyataannya dia ingin kembali sama kamu. Terus buat apa pernikahan kita, ha buat apa?"
"Pernikahan kita adalah salah satu jalan, untuk kita membuka lembaran baru. Hidup bahagia, karena aku sangat membutuhkan dirimu, bukan untuk saat kemarin saja tapi juga untuk seterusnya! menjadi istri ku untuk selamanya, mendampingi hidupku dan menjadi ibu dari anak-anak ku!" ucapnya Pramana dengan nada yang semakin rendah dan tangannya tetap memeluk pinggang Anisa.
"Duh ... so sweet di bawah air hujan yang gerimis-gerimis begini mereka berdua saling berpelukan, bertatapan. Ooh indahnya dunia ini bagai milik berdua saja dan yang lain hanya ngontrak! Ah ngomong apa sih gue?" Caroline menepuk jidatnya di saat melihat Pramana dan Anisa sedang berhadapan di bawah kucuran air hujan, dan mobilnya sengaja berhenti melihat pemandangan itu.
Dan perkataan Carolin itu membuat tubuh Adisty memanas dia merasa cemburu banget-banget ketika melihat Pramana dan Anisa berhadapan mesra, bahkan kedua tangan Pramana terlihat jelas memegang erat pinggang Anisa dan menariknya.
Adisty memutuskan untuk turun dari mobilnya tersebut dan menghampiri Pramana dan Anisa. Brugh ... suara pintu yang setengah dibanting Adisty dan dia membawa langkahnya dengan tergesa-gesa.
"Eeh, kamu mau ke mana Adis? ini hujan lho!" Suara Carolin sedikit memekik. Lalu menyunggingkan bibirnya dengan lebar.
__ADS_1
Panggilan dari Carolin tidak diindahkan oleh Adisty, dia terus berjalan menghampiri Pramana dan Anisa. Setelah dekat dengan kedua orang itu Adisty menghentikan langkahnya.
"Pram, buat apa sih kamu mencegah dia pergi? biarkan saja dia pergi dari hidup mu, dari kita! karena kita akan segera menikah dan menjalani hidup baru! membuka lembaran baru yang penuh bahagia, aku berjanji sama kamu. Kalau aku akan menjadi istri yang baik dan tidak akan mengulangi kesalahan ku lagi!" Suara Adisty tidak jauh dari Pram dan Anisa berdiri.
Keduanya menoleh ke arah sumber suara melihat keberadaan Adisty yang berdiri di sana, sesekali keduanya mengusap wajah dari air hujan yang terus jatuh membasahi.
Kemudian Pramana menolehkan kepalanya dan membingkai wajah Anisa dengan kedua tangannya tersebut seraya berkata. "Nisa ... percayalah padaku, kalau aku tak ada niat lagi untuk kembali padanya dan sekarang ini aku hanya milik mu, suami mu, maka percayalah padaku! Aku ingin kita berdua selalu bersama menjalani biduk rumah tangga dan insya Allah akan bahagia!"
Di bawah kucuran air hujan, Anisa menatap wajah Pramana yang juga basah dengan air hujan tersebut. Anisa menatap sorot matanya dan seakan-akan mencari kejujuran di sana, dia bingung harus percaya atau mengikuti egonya yang ingin pulang ke tempat Bunda dan menenangkan diri di sana untuk sementara waktu.
Tetapi yang dikatakan oleh Pram ada benarnya juga, bahwa masalah dalam rumah tangga tidak boleh ada yang tahu termasuk orang tua, karena mereka akan sedih jika ada masalah dalam rumah tangga anak-anaknya, dan bila pasangan itu bisa menerima lagi kekurangan dan kelebihan pasangannya masing-masing tersebut. Tapi orang tua belum tentu bisa menerimanya kembali.
"Sebaiknya kamu dengarkan kata hati bukan ego! pulanglah dengan ku, kita akan selesaikan masalah ini baik-baik dan kamu harus tahu kalau aku sangat mencintai mu dan aku nggak bisa jauh darimu, siapa yang akan melayani ku, memanjakan ku. Jika kamu pulang ke tempat Bunda!" Pramana terus membujuk Anisa, tidak peduli di sana ada Adisty yang sedang memandangi mereka berdua.
Pramana menggeleng kecil. "Tidak sayang, aku tidak ingin kehilangan kamu. Aku membutuhkan mu, aku ingin kita terus bersama dan tak ada kata perpisahan di antara kita!" cuph ....Pram mengecup kening Anisa di hadapan Adisty yang juga bertahan di bawah jatuhnya air hujan.
Anisa memejamkan kedua matanya di saat bibir Pram menempel di keningnya.
Adisty benar-benar dibuat kesal dengan pemandangan yang semakin membakar hati dan perasaannya. Yang semakin lama mereka berdua semakin mesra seolah-olah dengan sengaja menunjukkan itu padanya.
__ADS_1
"Pram, dengar aku. Biarkan dia pergi! mari kita merajut kasih kembali dan menikahlah dengan ku! Pram ... aku akan membuat mu laki-laki yang paling bahagia di dunia ini!" Adisty kembali mengeluarkan suaranya yang tentunya ditujukan kepada Pram agar membiarkan Anisa pergi.
"Sayang pulang denganku ya! aku mohon jangan pergi? nanti saja ke tempat bundanya sama-sama di saat mendekati hari resepsi, please ... banget! aku mohon sama kamu jangan tinggalin aku! seperti Adisty meninggalkan ku dulu!" ucapnya Pramana penuh permohonan.
Dan Anisa mulai berpikir apa bedanya dia sama Adisty? kalau meninggalkan Pram begitu saja, apalagi Pram saat ini mohon-mohon agar dirinya tidak pergi, jadi apa salahnya kalau ia bertahan untuk Pram.
Dengan pelan wajah Anisa yang masih dibingkai kedua tangan Pramana mengangguk, membuat terbitlah senyuman dari Pramana dan dia langsung menarik wajah itu ke dalam dadanya memeluknya dengan sangat erat. "Makasih sayang, makasih banyak. Makasih sudah mau mengerti aku!"
Anisa pun membalas pelukan Pramana, menyentuh punggungnya dengan pelan mengusapnya! dalam hati yang paling dalam Anisa pun mengakui kalau dia tidak ingin kehilangan Pramana, pria yang dalam berapa bulan ini hidup bersama satu atap dengannya.
Sungguh pemandangan itu sangat menyakitkan bagi Adisty, rasanya dia ingin menjambak kepala Anisa agar menjauh dari pelukan Pramana dan dengan refleks memang tangannya bergerak ingin menarik kerudung basah wanita itu. Namun dengan tidak sadar ada jarak di antara mereka, sehingga tangan Adisty tidak mampu mencapai apa yang dia ingin sentuh.
Dan pada akhirnya Pramana memudarkan pelukannya kepada Anisa dan menggenggam tangannya menarik dan berjalan menghampiri mobilnya berada.
Adisty hanya bisa memekik memanggil nama Pramana, serta mengepalkan tangannya. Kesal. Marah, orang yang sangat dia cintai ternyata sudah benar-benar berubah dan memilih wanita lain ketimbang dirinya yang dulu sangat dicintainya.
"Pram. Aku cinta sama kamu Pram ... kenapa kamu lebih memilih dia? ingatlah kalau kamu itu sangat mencintai ku, sangat menyayangi ku ... dan ingin hidup bersama dengan ku Pram!" Pekiknya Adisty yang lantas tubuhnya luruh dan berlutut di tempat.
Sementara Pramana terus menuntun tangan Anisa di bawanya ke dalam mobil dan sesaat kemudian mobil tersebut melaju dengan kecepatan yang sangat tinggi, meninggalkan tempat tersebut yang memberi kenangan. Di tengah hujan mereka beradu argumen dan pada akhirnya mampu melewatinya dengan cukup baik ....
__ADS_1
...🌼---🌼...
Makasih ya pada yang sudah menunggu Pram dan Anisa hadir di antara kalian. 🙏