
"Astagfirullah ... aku tidak serendah itu, ini tidak seperti yang kau bayangkan. Kamu tidak tahu apa-apa dan tidak perlu menghakimiku demikian." Suara Anisa bergetar, hatinya terasa sakit disebut murahan oleh pria yang menjadi suaminya tersebut. Tanpa tahu kebenarannya.
"Oh sorry? jika kata-kataku menyinggung perasaan mu! sebab aku nggak tahu." Pramana menaikkan kedua bahunya sambil terus menatap ke arah Anisa.
"Kamu tidak tahu apa-apa, jadi tidak perlu berkomentar apapun. Apalagi berkomentar pedas! karena itu hanya akan menyakiti hati seseorang, ingat ya mulutmu adalah harimau mu!" Anisa melirik dengan pandangan yang berkaca-kaca.
"Ya-ya ....aku tahu dan aku minta maaf? tapi kalau boleh aku tahu ... kenapa dia nggak mau tanggung jawab? itu aja." Pramana menyatukan kedua tangannya di dada sebagai permintaan maafnya yang sudah menyinggung hati Anisa.
Namun Anisa tidak ingin menjawab! Dia malah mengayunkan kakinya untuk meninggalkan kamar tersebut.
Geph.
Dengan refleks tangan Pramana menangkap pergelangan Anisa dan tidak sengaja ketarik ke belakang. Sehingga tubuh Anisa oleng dan menabrak tubuh Pramana yang sedang duduk di tepi tempat tidur! menjadikan keduanya.
Blak ....
Keduanya terjatuh ke atas tempat tidur dengan tubuh Anisa di atas! menindih tubuh nya Pramana, membuat keduanya terkesiap dan sejenak saling bertukar pandangan dengan perasaan yang tidak menentu. Rasanya jantung Anisa pengen melompat dari tempatnya.
Begitupun dengan Pramana yang merasakan begitu dag-dig-dug, dada pria yang masih mengenakan handuk itu bawahannya, tampak naik turun dan menelan Saliva nya berkali-kali.
Anisa semakin terkesiap ketika ada yang menusuk di bagian pahanya. Buru-buru Anisa berusaha bangun dari atas tubuhnya Pramana, namun tangan yang menopang tubuhnya malah terpeleset sehingga brugh.
"Ach!" tubuh Anisa malah terjatuh lagi di atas dada Pramana yang bidang, sehingga Pramana pun merasakan ada benda empuk yang menimpa dadanya dan ini yang kedua kalinya dari tadi.
Kedua pasang mata mereka melotot dengan sangat sempurna. Dan kini kedua tangan Pramana memegangi pinggang Anisa dengan niat mau membantu agar dia berdiri.
Anisa semakin shock dengan adanya yang bergerak di bawah sana. Kini Anisa menegakkan kedua tangannya menopang kembali tubuh agar tidak lagi menindih dada Pramana, kemudian ia berkata dengan suara bergetar. "Lepas-lepas kan pi-pinggang ku!"
Dengan buru-buru Pramana menarik tangannya dari pinggang Anisa. "Sorry. Aku tidak bermaksud menjatuhkan tubuhmu?"
__ADS_1
Anisa tidak menjawab, wajahnya sangat merah merona dia merasa malu, malu banget. Beda dengan Pramana yang tampak santai padahal dia pun menyimpan rasa yang entah gimana? sulit diungkapkan dengan kata-kata, apalagi merasakan sesuatu yang mencuat. Tiba-tiba bangun di saat bersentuhan dengan Anisa.
Malu, iya Pramana juga cuma namanya laki-laki lebih kuat malu.
Anisa buru-buru keluar dari kamar tersebut sembari menundukkan wajahnya begitu dalam, Perasaannya saat ini dihinggapi rasa malu yang teramat sangat.
"Huhhh ... gila, ngapain juga sih aku tangkap tangan dia? jadinya terjatuh! bodoh-bodoh, bodoh-bodoh. Bodoh-bodoh, bodoh ..." Pramana merutuki dirinya sembari mengetuk-ngetuk jari ke keningnya sendiri.
"Mana si Joni bangun lagi, sialan banget bikin malu." Gerutunya Pramana sembari menangkupkan tangan di bawah yang terasa bangun dan menegang. "Astagfirullah, ini tidak seharusnya terjadi."
Anisa terus berjalan menuruni anak tangga dengan perasaan yang kacau sangat kacau, bagaimanapun Anisa baru tahu kalau si Joni bangunnya seperti itu, karena waktu kemarin yang menyebabkan dia hamil, kan dia Nggak sadar! nggak tahu detail atau merasakannya gimana-gimana.
"Astagfirullah ... gitu kali ya? aku baru tahu kalau si Joni itu bangunnya kayak gitu, Iiy ..." Anisa bergidik, bahunya bergoyang.
Tangan Anisa mengusap-usap bagian pahanya yang masih terasa gimana bergeraknya si Joni di bagian tersebut, membuat lagi-lagi Anisa bergidik geli.
"Kenapa, Neng kok gusar dan itu wajahnya juga pucat, apa Den Pram marah-marah ya sama Neng?" tanya bibi ketika melihat Anisa turun dengan wajah yang pucat dan tampak gelisah.
"Oh, tidak apa-apa. Bi ... aku baik-baik saja kok. Gimana masakannya dah matang ya? maaf ya aku agak lama di sana." jawabnya Anisa berusaha mengalihkan pembicaraan dan planga-plongo melihat masakan yang sudah matang.
"Sudah nih, sebagian dah matang. tinggal yang ini yang belum di bumbui. Terus itu juga belum, biar Neng yang bumbui!" jawabnya Bibi sembari menunjuk beberapa masakan yang belum dia kasih bumbu.
Sayup-sayup terdengar suara adzan maghrib membuat Anisa segera menyudahi aktivitasnya di dapur.
"Bi. Aku masuk dulu ya?" ucap Anisa kepada bibi seraya mencuci tangannya di wastafel.
"Iya Neng ... ini biarkan Bibi yang bereskan, Neng santai aja jangan terlalu capek!" balasnya Bibi sambil tersenyum ke arah Anisa.
Setelah itu Anisa pun bergegas membawa langkahnya menaiki anak tangga, satu persatu dia tapaki sembari sedikit melamun. Kejadian yang tadi itu terbayang lagi membuat kepalanya Anisa beberapa kali menggeleng dan berusaha membuang semuanya dari pikiran dia.
__ADS_1
"Ya ampun ... ngapain sih kebayang lagi?" Anisa bergidik kembali.
Memasuki kamarnya, Anisa berdiri di depan pintu tersebut dan menoleh ke arah kamar Pramana yang tertutup rapat. Lalu dia mengayunkan kakinya setelah mendorong handle pintu sehingga terbuka setengahnya.
Anisa langsung ke kamar mandi untuk mengambil air wudhu. "Oo ..." sesekali Anisa merasa mual dan ingin muntah tapi tak ada yang dia muntahkan.
"Huuh ... aku nggak mau tersiksa dengan kehamilan ini, aku nggak mau ngidam apa apapun! jadi tolong baik-baiklah di sana, dan jangan pernah mengganggu ku!" gumamnya Anisa sembari mengusap perutnya.
"Bukan berarti aku nggak menyayangi mu! justru aku nggak mau menjadi beban dengan kehadiran mu itu, kalau bisa ... buat orang yang menanam kecebong di rahim ku ini yang merasakan semua gejala kehamilannya, aku nggak mau menanggungnya sendiri," lagi-lagi Anisa bermonolog sendiri sambil membasuh mulutnya.
Beberapa saat kemudian Anisa sudah selesai melaksanakan kewajibannya sebagai umat muslim, dan sesaat dia membaca ayat-ayat suci dengan suara yang lumayan merdu.
Pramana mendengar sayup-sayup mendengar suara yang tengah mengaji. Menjadikan Pramana beranjak dari duduknya dari atas sajadah.
Kakinya mengayun ke arah pintu dan me melepas pandangannya ke arah kamar Anisa. Pramana semakin mendekati daun pintu tersebut, memasang telinganya dengan mempertajam pendengaran! meyakinkan dirinya kalau suara itu memang keluar dari kamar nya Anisa.
Pramana berdiri dekat pintu kamarnya Anisa! yang terus mengarahkan pendengaran nya, namun suara merdu itu tiba-tiba terhenti.
"Kemana suara itu?" gumamnya pria yang masih mengenakan sarung itu.
Beberapa saat kemudian tiba-tiba pintu terbuka, berdirilah Anisa memandangi ke arah Pramana. "Kau sedang apa di situ? Apa ada perlu dengan ku?" tanya Anisa pada Pramana.
Yang sedang berdiri dan tampak gugup, ketahuan mengintip. "Oh iya, eh nggak. Aku nggak ada perlu apa-apa! aku mau turun makan malam," akunya Pramana sembari menunjuk ke arah belakang.
Pria yang sedang mengenakan sarung beserta Koko juga pecinya, tampak sangat tampan dan wajahnya sedikit kikuk. Mungkin dia malu dikira mengintip atau mungkin berkaitan dengan kejadian tadi, entah lah ....
...🌼---🌼...
Mohon dukungannya ya! makasih
__ADS_1