
"Nisa sudah siang nih, suamimu belum sarapan! bangunin sana?" kata sang Bunda kepada Anisa yang sedang mengobrol bersama di ruang tengah.
"Iya, Nisa. Kasihan ya belum sarapan, apa semalam dia tidak tidur!" tanya sang kakak Aisyah.
"Semalam sih, waktu aku nganterin selimut sama bantal buat Kak Deni dia masih ada di ruang tv! kayaknya dia nggak tidur dia." Dea menimpali dan Anisa melirik ke arah Dea.
"Aku bangunin dulu ya? takut kebablasan katanya mau pulang!" namun sebelum melangkahkan kakinya Anisa kembali berbalik melihat ke arah sang Bunda. "Bun, boleh kan aku menginap lagi berapa hari di sini?"
Ibu Farida dan Aisyah saling bertukar pandangan dengan bibir yang tertarik membentuk senyuman.
"Bunda sih ... Nggak masalah, Nisa mau nginep berapa hari lagi juga. Cuman diizinin nggak sama suaminya? itu aja!" kata sang bunda dengan lirih.
"Tapi biarpun diizinin, Bun ... kasihan juga dia nggak ada yang ngurusin!" Aisyah sedikit protes pada bundanya, karena dia kurang setuju kalau Anisa menginap lebih lama tanpa suaminya.
"Iih Kakak kok gitu sih ... nggak boleh ya aku nginep di sini?" Anisa mengalihkan pandangannya kepada Aisyah dengan raut wajah yang sedih.
"Bukan nggak boleh, Dek ... tapi kan nggak enak sama suami dan siapa yang ngurusin dia di sana!" timpalnya nya Aisyah.
"Tapi kan dia nggak mau. Sebenarnya aku urusin--"
"Biarpun dia nggak mau, itu cuman di mulut aja. Laki-laki itu sebenarnya pengen dimanjakan sama istri, jadi biarin aja dia ngomong nggak mau padahal mau kok! kakak apal sifatnya laki-laki, Dek!" sambung Aisyah sembari memeluk Fika yang sepertinya dia agak ngantuk.
"Gitu kali ya laki-laki? Apa bedanya sama kita perempuan yang kadang bilang terserah tapi ada maunya, bilang nggak mau Padahal mau." Dea menaikkan kedua bahunya.
"Ya ... begitulah kadang-kadang!" Aisyah tersenyum. "Tempat istri itu berada di dekat suami, surga istri ada di kakinya suami dan suami surganya di kaki ibunya, ngerti Dek?" Aisyah mengedarkan pandangannya kembali pada Anisa yang masih berdiri di tempat.
"Tapi, Kak ... kita kan--"
"Sssttt ... jangan banyak tapi-tapi berbaktilah pada suami mu agar menjadi istri yang sholehah dan pahala yang kamu dapatkan akan mengalir kepada kedua orang tuamu juga!" Aisyah menatap lekat ke arah sang adik yang akhirnya mengayunkan langkahnya mendekati anak tangga.
Dengan langkah gontai, Anisa merasa sedikit kecewa seolah-olah dia tidak diperbolehkan untuk menginap lebih lama di rumah orang tuanya, padahal Pramana pasti mengijinkan apalagi katanya senang karena tidak ada yang ngurusin lagi.
Sejenak Anisa berhenti dan berdiri di depan pintu. "Apa jam segini belum bangun juga? udah hampir jam 11.00 nih." Anisa menghembuskan nafas dari hidungnya kemudian mendorong handle pintu sehingga terbuka dengan lebar.
Namun di dalam, tidak ada siapa-siapa. "Lho, ke mana dia? Masa kabur, apa sembunyi di bawah kolong!" Anisa celingukan dan malah dia berjongkok melepas pandangannya ke bawah kolong tempat tidur.
Lalu terdengar suara air yang mengalir dari keran di kamar mandi. "Oh dia lagi di kamar mandi. He he he ... bisanya aku pikir dia sembunyi di bawah kolong! ah dasar Anisa ... ada-ada aja!"
Sesaat kemudian, Pramana keluar dari kamar mandi, dengan menggunakan handuk yang melilit di pinggangnya! melihat Anisa berada di sana dia langsung berkata. "Baju ku kotor dan aku nggak ada ganti."
Sesaat Anisa menatapi tubuh Pram yang bertelanjang dada. Lagi-lagi dia menelan Saliva nya kemudian segera menundukkan pandangan dari pria yang berada di hadapannya itu.
"Lah kan dari kemarin aku bilang, kamu nggak bawa baju ganti, tapi kalau kaos yang putih sudah aku cuci kok. Sudah bersih Anisa mendekati lemarinya dan mengambilkan kaos Pramana yang kemarin dia sempat cuci.
"Pakaian yang lainnya, kan nggak ada! dan semuanya kotor." Kata Pramana dengan nada dingin.
Anisa menoleh ke celana panjang Pramana yang menggantung. "Apa itu juga kotor?"
"Kalau itu sih ... mungkin masih bisa dipakai, tapi yang lainnya seperti pakaian dalam aku kotor semua." Tambahnya Pramana.
"Terus gimana?" tanya Anisa tampak kebingungan.
"Ya beli. nggak mungkin kan aku pinjem sama orang tuamu! aneh, suruh Deni untuk membelikan pakaian dalam! kasih uangnya, itu ambil di dompet." Pramana menunjuk ke celana panjang yang menggantung. Karena dompet miliknya ada di sana.
__ADS_1
Anisa langsung mengambilkan celana itu dan diberikannya pada Pramana.
"Aku kan suruh kamu ngambil dompet, bukan celana--"
"Tapi kan dompetnya ada di celana! terus apa salahnya?" jawab Nisa sembari memegang celana panjang Pramana.
"Salahnya ... ambil dompetnya doang dan Ambil juga uangnya berikan pada Deni, bilang belikan ****** ***** untuk ku! gitu aja kok repot!" kata Pramana sambil berdiri di depan cermin, mengeringkan rambutnya dengan handuk kecil.
"Iih. Aku aneh deh sama kamu, katanya kamu nggak mau di ngurusin ini itu, aku nggak boleh ikut campur. Tapi kenapa nyuruh aku? kan aku nggak enak ngambil dompet ataupun uangnya kamu!" Anisa menatap heran ke wajah pria itu yang dari pantulan cermin.
"Ck. Terus aku harus nyuruh siapa? Masa aku harus kayak gini keluar! kalau di rumah aku sih nggak apa-apa. Ini kan bukan! masa kamu nggak ngerti?" Pramana menolehkan kepalanya kepada Anisa dengan wajah datarmya seolah memberi penekanan.
Anisa membuang nafasnya dengan kasar, sehingga menggerakkan kedua bahunya. "Baiklah, aku akan mengambilnya!" lalu Anisa merogoh saku celana Pramana dan mengambil dompetnya lantas dengan ragu-ragu dia mengambil uang secukupnya dari dompet tersebut.
Sebelum membawanya, Anisa memperlihatkan lebih dulu kepada Pramana kalau dia mengambil uang sekian.
"Ya!" Gumamnya Pramana sangat irit bicaranya.
Sebelum melintasi pintu, Anisa baru ingat belum menanyakan ukurannya. Sehingga tubuhnya kembali namun sebelum bicara Pramana sudah menegur lebih dulu.
"Apalagi, Nisa?" tanya Pramana dengan tetap menghadap ke arah cermin.
"Aku lupa ukurannya berapa?" Anisa balik bertanya sambil menunjukkan barisan gigi putihnya.
"Bilang aja sama Deni, satu ukuran sama dia! kan tubuh aku sama dia sama." Pramana tampak malas untuk bicara.
"Memang ukuran tubuh kalian sama, tapi bagaimana kalau Deni ukurannya besar? ups!" Anisa langsung menangkap mulutnya dan memunggungi tubuh Pramana. Dia menjadi malu sendiri.
Mendengar perkataan dari Anisa seperti itu ... Pramana sejenak berpikir. "Iya juga! gimana kalau ukuran dia lebih kecil atau sebaliknya. "Ya sudah, bilang saja ukuran XL kecil."
Anisa langsung melangkahkan kakinya ke lantai bawah dan mencari Deni yang sedang bersantai di teras.
"Kak Deni. Tolong dong!" ucap Anisa pada Deni setelah berhadapan dengan pria itu.
"Tolong apa Nisa? datang-datang minta tolong! nggak jelas banget gajebo." Deni mengerutkan keningnya.
"Kata Pramana belikan ****** ***** buat dia! dan ukurannya XL kecil. Ini uangnya!" Anisa langsung memberikan sejumlah uang kepada Deni.
Sambil mengambil uang tersebut, Deni malah tertawa. "Emang kenapa sih! Pramana datang bulan pengen ganti gitu? ha ha ha ...."
"Kak Deni ... dia ke sini nggak bawa pakaian ganti, orang gak ada niat nginep dia. Sudah! buruan nanti dia marah! tolong ya?" Anisa pun langsung meninggalkan tempat tersebut.
"Baiklah! tunggu aja 2 jam, bilang sama suami mu." Deni sembari berdiri kemudian dia berpamitan kepada pak Joni dan Azis.
"Om Deni, om Deni ... aku ikut dong ... perlu ikut ya, please?" rengeknya Ferly yang ingin ikut sama Deni.
"Om Deni nggak akan lama, bentar lagi juga balik lagi." Cegah sang ayah.
"Nggak mau apa Ich. Pokoknya mau ikut!" anak itu langsung lompat dan nangkring di belakang punggung Deni yang sedang berada di atas motornya.
"Hati-hati om Deni, titip Ferly ya!" pesannya Azis kepada Deni dan putranya.
"Sudahlah, biarkan saja mending kita lanjutkan lagi caturnya!" kata Pak Joni pada sang mantu yang langsung mengangguk, mengiyakan perkataan darinya.
__ADS_1
Anisa yang langsung kembali ke kamarnya dan dia berniat untuk mencuci pakaian kotor Pra, kedua manik mata Anisa melihat Pramana sedang duduk-duduk di atas tempat tidur yang tadi Anisa bereskan.
"Gimana, Deni nya sudah pergi belum?" tanya Pramana sambil melirik ke arah Anisa.
"Sudah, sudah berangkat kok!" Nisa langsung memasuki kamar mandi dan mencari pakaian kotor bekas Pramana.
Lantas Anisa mencuci pakaian kotor di sana. "Heran deh, katanya nggak mau diurusin tapi soal gini aja nggak mau kerjakan sendiri. Emangnya di sini ada pembantu apa? kan tahu nggak ada! emangnya mau di cuciin sama bunda gue apa? heran tuh orang." Anisa ngomong sendiri dari mulai mencuci sampai menjemur.
"Ku dengar dari tadi kamu berceloteh terus? nggak capek tuh mulut--"
"Ha? aku nggak berceloteh kok. aku lagi berzikir! nggak tahu ya?" Anisa nyengir.
"Kamu masak apa hari ini?" Pram menatap ke arah Anisa.
"Kamu lapar?" Anisa malah bertanya sambil berdiri tidak jauh dari Pramana yang kini malah berbaring telungkup.
"Lapar lah, emangnya kau sudah berikan aku sarapan? kan belum." Jawabnya Pramana sambil menempelkan pipinya di bantal.
"Aku ambilkan dulu!" Anisa langsung capcus keluar dari kamar itu dan bergegas untuk ke lantai bawah mau mengambil makan.
"Kemana Nisa ... Pram nya kenapa gak turun?" Aisyah menyapa sang adik.
"Mau ngambil makan, Kak. Yang bangun tidur katanya lapar." Anisa membuka pintu lemari pendingin.
Mengambil ungkep ayam dan telor. Anisa memasak buat sarapan+makan siangnya Pramana.
Dari luar terdengar suara Deni yang sudah kembali dan terlihat menjinjing keresek.
Beriringan dengan Anisa yang membawa makan buat Pramana.
"Mana si Pram itu? aku godain dia!" Deni berjalan beriringan dengan Anisa.
"Kak Deni makasih ya!" ucap Anisa sambil melirik ke samping di mana Deni tengah berjalan di tangga bersamanya.
"Hai ... Pram? kau lagi datang bulan ya kehabisan ****** ***** segala! ha ha ha ..." suara Deni setelah berada di dalam kamar Anisa.
Pramana terbangun duduk yang memang masih handukan dan kaos putih. "Kau ini ada-ada saja. aku gak bawa baju ganti, karena niatnya juga gak nginep."
"Nih, muat gak?" Deni melempar pesanan Pramana ke dalam pangkuannya.
"Makasih," Pram mengambil dan membukanya.
"Yoi, ups sorry bila gue ganggu kalian berdua!" Deni melirik ke arah Pram dan Anisa bergantian.
"Nggak juga. Aku mau ke kamar mandi dulu," Pram menurunkan kakinya ke lantai lalu membawa langkahnya ke kamar mandi setelah menyambar celana panjangnya.
Sementara Anisa, setelah menyimpan makannya Pram di meja dan lalu dia mendekati lemari dengan niat mau mengambil beberapa pakaian yang akan dia bawa ke rumah nya Pram nanti.
"Bro, kita jalan yo? jarang-jarang kita jalan mumpung kita bertemu." ajak Deni sambil sedikit memekik sebab Pram berada di dalam kamar mandi.
Anisa menatap ke arah Deni yang malah duduk lesehan alias duduk di bawah ....
...🌼---🌼...
__ADS_1
Jangan lupa like komen dan subscribe-nya bagi yang belum. Makasih.