
Biarpun waktu masih jam 03.00 di mana suasana masih pagi buta dan suasana pun masih sangat dingin mencekam.
Semuanya sudah terbangun dan bersiap-siap untuk di make up dan beberapa perias pengantin pun sudah mulai sibuk merias kedua mempelai dan juga keluarganya.
Wajah-wajah yang bahagia terpancar dari raut wajahnya masing-masing. Hari ini adalah hari di mana hari yang ditunggu-tunggu oleh Pram dan Anisa.
Pramana dan Anisa akan seperti Raja dan Ratu duduk di atas pelaminan nantinya. Di datangi oleh semua tamu yang akan mengucapkan selamat dan bertabur doa.
Anisa tampak sangat cantik dengan gaun pengantin panjang, glamor. Namun tetap terlihat sopan, dia tampak anggun. Begitupun dengan Pram yang mengenakan setelan pengantin warna senada dengan mempelai wanitanya. Gaun pengantin berwarna biru pastel. Juga dengan yang lainnya, dengan pakaian yang sudah fitting sebelumnya. Tidak ketinggalan ponakan Anisa, Ferly dan Fika yang tampak ganteng nan cantik dengan pakaian pesta.
Acara di mulainya puku 08.00. Para tamu pun mulai berdatangan dan musik gambus sudah mulai menyambut kedatangan para tamu. Wajah berseri yang khususunya kedua mempelai begitu tampak menghiasi menjadi pemandangan yang sangat mencolok.
Keluarga jauh dan para undangan lainnya pun berdatangan mengucapkan selamat kepada kedua pengantin tersebut. Termasuk para pembaca novel karya yang berjudul. "Pernikahan Yang Tak Di Anggap"
Seperti ... Occa47, Jar Waty . Maulana-ya manna. Pingka 77, Emn SC. Putri Bungsu. Nana Batu. Kurniaty yaty. Retno harningsih. Empat suparwati. Baya Azka. Bu Yudi Wahono. Mariammarife. Hanisah Nisa. Diah Darmawati. Yuyun Hasanah. U_lee. Rinabilqis Bilqis. Izal Zikri. Viela. Jumiatun nupus. Vie MOI. Isa sriwidodo. yurn hasans. Ummi Alfa.
Semuanya datang dan turut bahagia dengan kebahagiaan nya Anisa dan Pram. Mengucapkan selamat pada kedua mempelai. Selamat berbahagia sampai bila-bila dan menjadi rumah tangga yang sakinah mawaddah dan warahmah.
Kemudian para tamu menikmati hidangan yang sudah tersedia dan di hipnotis dengan sajian musik gambus dan alunan lagu-lagunya.
“Selamat ya ... selamat menempuh hidup baru yang sesungguhnya, biarpun kalau soal belah duren sudah menjadi makanan sehari-hari dong ...” ucap teman-temannya Pram yang waktu itu reunian.
“Ach biasa saja, dan makasih ya ... sudah menyempatkan datang dan semoga suka dengan hidangannya. Kapan nyusul nih?” Pram berjabat tangan dengan temannya bergantian dan bertanya kapan nyusul pada yang belum menikah termasuk Deni.
__ADS_1
“Nanti aku akan menyusul, santai saja ... kalian datang ya. Kalau ku undang--"
"Lah, iya kalau di undang. Kalau tidak! ya lewat." Pram menggeleng sambil mesem.
"Gue juga kalau menikah mau di gedung seperti ini. Biar menampung tamu dengan sangat banyak dan lebih dari ini dan kalian semua akan ku jamu dengan hidangan mewah." Deni sambil menggerakan tangannya.
"Dijamu dengan apa? gue jadi curiga, jangan-jangan dengan hidangan dari tanah liat ha ha ha ..." ucapnya teman-teman Pramana mengejek penuh canda kepada Deni.
Tak ayal ketawa Mereka pun menghiasi pelaminan tersebut.
"Kalian ini bercandanya gitu amat sih. Pamali. Siapa tahu memang rezekinya lebih dari itu kita Aamiin kan saja!" timpalnya Pramana dengan halus memprotes perkataan dari temannya itu.
"Iya nih ngejek banget jadi orang, lihat ya, nanti waktunya. Gini-gini aku sudah siapkan uang untuk menikah, tapi buat akad doang ha ha ha ..." tambahnya Deni sambil ketawa lepas.
Setelah acara musik gambus selesai, dilanjutkan dengan pengajian yang dibawakan oleh seorang ustadz terkenal dan suasana pun yang tadinya riuh. Ramai. Sekarang menjadi tenang, tentram dan damai.
"Rumah tangga itu jangan manis di awalnya saja, di awal manis ... semanis madu. Tetapi setelah lama pahitnya ... seperti empedu, alias pahit. Pas awal-awal ... Bu-ibu ... pa-bapak dan khususnya kedua mempelai, di awal pernikahan itu sangatlah manis tapi nantinya akan terasa pahitnya! pas menikah nih yah ... berjalan berdua, istrinya jatuh langsung manggil suaminya. Sayang aku jatuh! si suami langsung tanggap dan langsung menggendong sang istri disayang-sayang dengan perkataan yang sangat lembut. Aduh Sayang ... hati-hati jalannya, makanya pegangan sama aku. Sakit nggak? kacian ... tapi pas sudah lama menikah dan punya anak satu masih terasa manis, tapi sudah dua, tiga bu-ibu, pa-bapak juga kedua mempelai neng Nisa dan Den Pramana ... si istri sibuk menuntun anak, repot deh bawa a-nak, bawa tas kecil sampai yang besar, payung dan sebagainya. Si suami jalan aja gitu di depan dengan santainya, tidak peduli sama istrinya yang repot. Bahkan jatuh pun bukannya di tolongin, bukannya disayang-sayang seperti di awal-awal. Apa coba yang dilakukan suaminya? malah di kata-katain! makanya punya mata itu dipakai, bukan cuman buat melototi duit doang, pakai buat jalan dong ... jadinya tidak akan jatuh, manja amat jadi si istri!"
Semua para tamu undangan, keluarga dan juga kedua mempelai saling tersipu. Tersenyum mendengar ceramah dari Pak ustaz tersebut.
"Jangan seperti itu ya? keharmonisan itu harus terus terjaga demi kebahagiaan rumah tangga, apalagi sampai ada yang namanya pelakor artinya apa pelakor ibu-ibu para muda-mudi? pedagang lampu dan koran ya?"
"Bukan ..." jawab bu-ibu dan yang lainnya sangat keras.
__ADS_1
"Ooh, bukan ya! maaf kalau saya salah. Pencuri laki orang bukan ibu muda-mudi? nah jangan sampai seperti itu makanya dijaga keharmonisannya! kasih sayangnya, tidak suaminya diambil orang, istrinya yang diambil orang. Tapi insya allah tidak akan pernah terjadi ... jika rumah tangga terus saling menyayangi, mawadah warohmah sampai ke Jannah! tidak akan ada namanya pelakor atau semacamnya. Selisih dalam rumah tangga itu biasa, jangankan dalam rumah tangga yang menyatukan dua kepala. Dua kepribadian! dua sifat yang berbeda. Dalam keluarga pribadi pun banyak perselisihannya! biasa."
"Kalau rumah tangga tidak ada kerikilnya, mulus-mulus aja itu terlalu monoton tidak ada tantangannya. Pokoknya harus saling mengerti dan memahami, saling percaya! saling menyayangi satu sama lain. Dan tentunya saling memberi dan menerima kekurangan masing-masing. Jika satunya marah! satunya harus menjadi air untuk mendinginkan, untuk menenangkan. Jangan sama-sama panas! yang ada buyar deh ... hancur dunia peranjangan, ha ha ha ... semoga dari uraian barusan dapat kita semua dapat mengambil hikmahnya yang baiknya ambil dan yang buruknya di buang saja, dan ... cukup segitu saja uraian dari saya dan pesan saya kepada kedua mempelai khususnya, persiapkan diri kalian. Mental kalian untuk menghadapi lika-likunya rumah tangga. Karena jika kalian kurang siap ... kemungkinan besar badai prahara itu akan mudah datang. Sebelum saya turun dari tempat ini ... saya ucapkan banyak-banyak terima kasih atas undangannya keluarga dan kedua mempelai, dan semoga Allah selalu menjaga dan memberkati kalian semuanya Aamiin Aamiin ya Allah ya rabbal alamin!"
Semua orang yang berada di sana, mengusap wajahnya dengan kedua telapak tangan. Setelah Pak ustad menutup uraiannya dengan sebuah doa khususnya untuk kedua mempelai dan umumnya untuk semuanya.
Setelah mendapatkan bingkisan cenderamata dari mempelai. Para tamu pun berangsur-angsur pulang.
Begitupun dengan teman-teman Pram. Para staf dan karyawan Pramana. Mereka pulang setelah acara selesai dan di sana tidak terlihat Carolin datang. Padahal dia pun di undang dengan atas nama perusahaan.
"Huuh ... akhirnya acara demi acara selesai juga dan Alhamdulillah semuanya lancar sesuai harapan!" ucapnya Aisyah yang kini tengah berkumpul di pelaminan.
"Iya alhamdulillah wa syukrulillah, kami sangat bersyukur acara ini berjalan dengan sangat lancar. Dari pagi sampai sekarang ini!" tambahnya hajah Bella sembari melihat ke arah semuanya yang juga mengucapkan Aamiin dan bersyukur.
"Selesai sudah acara kita dan tamu pun sekarang sudah pada pulang. Tinggal rasa pegalnya nih kaki!" gumamnya Anisa seraya menghela nafas lega juga Anisa melepas alas kakinya.
"Kalau pegal-pegal, kalian istirahat saja. Acaranya kan sekarang sudah selesai, kalian segeralah beristirahat di kamar." Titahnya sang Bunda Farida yang melihat putrinya tampak lelah.
Pram menoleh pada Anisa yang kini sudah melepas alas kakinya, dengan alasan kakinya pegal-pegal. "Nanti aku pijitin di kamar ya kakinya, segitu masih mending tidak seharian, apalagi kalau berdiri seharian!"
"Kalau berdiri seharian sih, gempor nih kaki." Sambarnya Renita.
"Hooh. Benar Kak. Mungkin aku nggak bisa berdiri lagi kali ya? saking pegelnya," tambahnya Nisa sembari menggerak-gerakan kakinya yang terasa pegal sekali itu ....
__ADS_1
Bersambung.