
"Seharusnya kalian tidak tidur satu kamar. Takutnya ada setan lewat yang akhirnya ach, Kakak gak bisa bayangkan. Dan rasanya gak mungkin kalau kalian itu tidak--"
"Kak, percaya deh ... kalau kita punya batasan." Anisa terus meyakinkan sang kakak soal itu.
"Pokonya kamu harus segera menikah, kalau tidak nanti jatuhnya fitnah, Dek ..." kata Aisyah sambil menatap ke arah sang adik. Dia tidak percaya lagi kalau Pram dan adiknya tidak macam-macam, bagaimanapun mereka sudah semakin dekat satu sama lain.
"Kakak kenapa melihat ku seperti itu sih?" tanya Anisa yang merasa tidak enak hati di pandangi seperti itu oleh sang kakak.
"Sepertinya Kakak harus bicara dengan Pram deh, Kaka ingin kalian segera menikah lagi agar kalian bebas satu kamar pun!" jelas Aisyah sambil menoleh juga pada sang bunda.
"Nanti bunda sampaikan dengan ayah, dan kamu pun sudah mengobrol kan tentang dengan keluarga Pram, cuma ... Belum sepakat kapan-kapannya saja." Kata sang bunda.
Pram sedang sibuk dengan pekerjaannya dan dia menerima chat dari Adisty kalau dia mengajak ketemuan nanti malam. Membuat Pram kebingungan, sementara dia belum siap untuk bertemu.
"Maaf, Adis. Aku belum siap ketemu, dan aku masih butuh waktu untuk itu," gumamnya Pram sambil menyimpan ponselnya di meja.
Pram belum siap untuk bertemu dengan Adisty. Antara rindu dan benci rasanya bercampur menjadi satu.
Ting.
Ting.
Ting.
Beberapa pesan masuk lagi, setelah di lihat itu dari Adisty kembali. Dan dia bilang kalau dia mau datang ke kantor nanti siang. Padahal sudah Pram katakan kalau dia masih butuh waktu untuk bertemu, tetapi dia malah kekeh. Membuat Pram merasa panik, apa yang harus dia katakan agar dia tidak datang ke kantor.
"Aduh, gimana nih? aku bukannya benci sama kamu, tapi aku belum siap aja. Aku harus gimana agar tidak bertemu dan aku masih bingung untuk mengatakan yang sebenarnya." Pram kebingungan, di hari kecilnya ingin ketemu itu jelas.
Namun di balik itu, bagai mana dengan Anisa yang dalam waktu dekat pun dia berniat untuk menikahinya kembali dan itu tidak mungkin di batalkan dan itu akan sangat di tentang oleh keluarganya yang memang sudah menyayangi Anisa.
Pada akhirnya Pramana memutuskan untuk pulang saja ke tempat Anisa dengan alasan ke staf kurang sehat dan pada Adisty, dia mau keluar kota.
"Ya ... Aku mau pulang saja. Ke tempatnya Anisa dan bilang saja pada Adisty kalau sku ada urusan keluar kota, ya-ya ..." Pram membereskan meja kerja nya dan gegas menemui sekretarisnya.
Setelah berbincang sebentar dengan sang sekertaris, Pram langsung pergi meninggalkan kantornya.
__ADS_1
Selang beberapa waktu di perjalanan. Pram tiba di kediaman Anisa, pas ketika mau pulangnya Aisyah yang kebetulan Aisyah merasa punya kesempatan untuk bicara dengan Pram soal satu kamar itu yang cukup mengganggu pikirannya.
"Tumben pulang jam segini, Pram?" tanya sang ibu mertua.
"Em ... Lagi kurang enak badan Bun. Makanya pulang." Pram menatap pada ibu mertua, Anisa dan Aisyah yang tatapannya penuh kecurigaan.
"Uluh-uluh ... kasian sekali mana jauh pulang kesini." Kata sang ibu mertua merasa iba pada mantunya itu.
"Sakit apa?" Selidiknya Anisa yang menatap penasaran pada Pram setelah menyajikan sebelas air minum untuk nya.
"Kurang enak badan,!" balasnya sambil meneguk minumannya itu.
"Kebetulan sekali Pram, kita bertemu. Ada yang ingin saya bicarakan dengan mu!" ucap Aisyah sambil menatap serius pada Pramana.
Pram menyandarkan punggungnya ke belakang sofa memandangi wanita berkerudung hitam itu dengan rasa penasaran. "Ada apa ya?"
"Pertama-tama saya meminta maaf bukannya niatengajari mu, cuma mengingatkan saja, kalau kalian itu sebaiknya segera mengesahkan pernikahan kalian, mengingat kamu di sini satu kamar dengan Anisa yang memang hubungan kalian sudah menikah tetapi kan belum sah!" ujar Aisyah dengan nada serius.
Pram cukup mengerti dengan perkataan dari Aisyah, maksud dan tujuannya. "Saya mengerti itu."
Pram menarik senyumnya seraya menoleh pada Anisa yang terdiam dan sedikit menggeleng. Maksud Anisa menggeleng, kalau dia tidak bercerita apapun tentang mereka berdua.
"Soal itu sih ... Tidak perlu satu kamar, kalau pisah kamar pun bisa, he he he ..." Batinnya Pram sambil terus tersenyum.
"Saya sudah pikirkan itu, dan rencananya lusa pun saya akan ajak Anisa pulang dan ... saya akan merundingkan ini dengan ayah dan ibu! yang jelas ... akan secepatnya mungkin biar tenang, begitu kan baiknya?" Pram menoleh pada Aisyah yang langsung mengangguk setuju.
"Kami sangat lah setuju, dahulukan lah ijab dan kabul nya dan ... Kalau soal resepsi sih ... Itu terserah. Yang penting adalah kalian sudah sah di mata agama dan tentunya kalian akan lebih tenang juga tidak akan risih lagi." Ujar Aisyah kembali.
"Ibu juga setuju itu." Timpalnya Bu Farida sembari menganggukan kepalanya.
Anisa yang sedari tadi terdiam tidak sepatah kata pun yang dia keluarkan dari bibirnya akhirnya bersuara juga. "Aku sih ngikut saja."
"Nggak punya pendirian ya Non?" kata Pram sambil tersenyum pada Anisa.
"Emangnya kamu mau mendengarkan kata ku?" Anisa menatap tajam pada Pram yang berada tidak jauh dari nya itu.
__ADS_1
"Pasti akan ku dengarkan, apa emang pendapat mu? resepsi yang megah gaun yang inda? Bulan madu ke luar Negeri mungkin--"
"Bukan. Aku justru ingin mengatakan sesuatu, tapi ... gak jadi sudah lupakan saja." Kara Anisa yang tidak ingin melanjutkan perkataannya.
"Kok gitu Dek? Kalau kamu ingin katakan sesuatu ya ... Katakan saja kenapa harus ragu coba?" sang kakak menatap heran pada sang adik.
Namun Anisa menggeleng. "Tidak Kak, nggak penting kok!"
"Oke, kalau begitu, Kakak tunggu kabar selanjutnya dan sekarang Akak mau pulang kasihan anak-anak pulang sekolah pasti nyari," ucap Aisyah sambil beranjak dan memeluk sang ibunda.
"Oh, oya ... anak-anak gak di bawa ya?" Pram pun berdiri lalu mengulurkan tangan pada Aisyah yang hanya di balas dengan menyatukan kedua tangan di dada, Aisyah memang beda dari Anis yang lebih alim.
"Assalamu'alaikum, sampai jumpa lagi lain kesempatan." Suara Aisyah sambil membawa langkahnya ke teras.
Di antar oleh ibunda dan Anisa yang mengantar Aisyah ke teras.
"Kasian taksinya dah nunggu sedari tadi." Aisyah menunjuk pada taksi yang menunggunya agak lama.
"Hati-hati ya Kak?" Anisa memeluk sang kakak sebelum pergi.
"Ingat ya Dek, jaga diri dan jangan satu kamar lagi. Kalau Pram di kamar kamu, kamu nya di kamar akak saja. harus pandai menjaga diri, kerena sesungguhnya setan itu banyak akalnya." Pesan Aisyah pada sang adik.
"Iya, Kak ... Aku akan jaga diri kok, lagian Pram bukan pria itu yang memaksaku disaat tidak sadar, Kak Aisyah percaya deh." Anisa berusaha meyakinkan.
"Bukannya tidak percaya, Dek ... Cuma. Kalian kan ... Sudah lah, Akak rasa kalian pun pasti mengerti maksud Kakak." Aisyah menggeleng rasanya nggak mungkin juga bila harus berkata sewajarnya toh adiknya sudah dewasa.
Aisyah menoleh pada sang bunda. "Bun Aisyah pulang dulu, sehat-sehat ya, salam buat ayah!"
"Iya, dalam juga pada Azis dan cucu Bunda." Mereka pun kembali berpelukan sampai akhirnya Aisyah pun berjalan mendatangi taksinya.
Setelah melambaikan tangan mengiringi kepergian taksi yang membawa Aisyah.
Anisa langsung masuk ke dalam, namun Pram tidak ada di tempat sehingga Anisa menyusulnya mungkin dia ke kamar, bagaimanapun Anisa khawatir karena katanya kurang enak badan, dari semalam juga bilangnya kurang fit dan kedinginan ....
...🌼---🌼...
__ADS_1
Jangan lupa like dan dukungan lainnya ya, makasih banyak.