
"Hem ... kok aku merasa nyaman banget sih ... gulingnya hangat sekali." Gumamnya Anisa sambil mengeratkan pelukannya pada pinggang Pramana, tanpa sedikitpun membuka matanya.
Pram menjadi gugup di peluk Anisa, wajah mereka yang begitu dekat sehingga nafas Anisa pun menyapu kulitnya.
Sementara Pramana menahan nafasnya dan jantungnya seakan berhenti berdetak. Matanya tidak berkedip menatap wajah Anisa yang kini berada dekat dengan wajahnya itu, lalu menyelusup ke atas dada bidang miliknya.
"Ck, gimana aku bisa tidur kalau kaya gini? heh, gak nyadar apa! orang nih ... bukan guling," gumamnya Pram pelan sembari mulai mengontrol deru nafasnya dengan sangat teratur.
Lama-lama kedua tangan Pramana merangkul punggung Anisa yang mulanya hanya direntangkan saja.
Malam yang begitu dingin dan juga ditambah AC membuat tidak berasa, bahkan merasa kepanasan keringat dingin pun bercucuran dari pelipis Pramana. Begitupun dari sekitar wajah Anisa yang begitu tampak lelap sekali tidurnya.
Tok, tik. Tik, tik ... jarum jam terus saja berputar.
Tidur Anisa begitu nyenyak sambil memeluk tubuh Pram yang dia rasa sebuah guling.
"Ini orang kayak kebo tidurnya! nggak merasakan apa. Aku nggak bisa tidur! mana junior aku bangun lagi, tegang dan ngilu. Huuh ..." Pramana menghembuskan nafasnya dari mulut.
Sementara Pram tidak bisa tidur sama sekali apalagi merasakan ketegangan yang menyiksa dirinya, dia pun sudah berusaha untuk menjauhkan tubuh Anisa dari dirinya. Namun tetap saja Anisa kembali dan memeluk lagi.
"Ya Allah ... dosa nggak ya? aku seperti ini dengan Anisa, biarpun kami sudah menikah tapi kan dia dalam keadaan hamil. Ya Allah ampuni dosaku ya Allah! tapi kan kalau dibiarkan juga saya kasihan dan sayang mubazir he he he!" bibir Pramana menyungging seraya bermonolog dalam hati.
Perlahan tangan Pramana bergerak dan menyingkirkan anak rambut Anisa yang menghalangi kening nya.
"Kalau dilihat-lihat sih ... cantik juga, pantas kalau pria itu punya niat jahat dan bejat sama kamu, habis kamu cantik sih!" suara Pramana dalam hati sambil terus menatap wajah cantik nya Anisa yang bikin mata terus melek.
"Huuh ..." Pramana terus mengontrol nafasnya agar terus memompa dengan sangat teratur, dia tidak ingin terlihat nafasnya memburu ataupun terengah-engah. Dalam suasana seperti ini, dingin mencekam dipeluk seorang wanita cantik sehingga kedua tubuh mereka menyatu! menempel satu sama lain, bagaimanapun Pramana laki-laki normal dan keadaan itu membuat miliknya menegang.
Sekitar pukul 03.30 sudah terdengar suara-suara dari masjid sekitar dan pada waktu itu Pramana masih saja terjaga. Matanya terus melek tidak bisa dipejamkan sama sekali dan posisi tubuh pun tidak bisa bergerak, tetap saja seperti itu terlentang.
Begitupun dengan tubuh Anisa yang terbaring di sampingnya dan memeluk sangat erat! seolah-olah tubuh Pram adalah sebuah guling yang menghangatkan. Walau terkadang dia bergumam dan menggerakkan kepalanya.
"Ck. Bangun dong aku nggak bisa tidur nih kalau kayak gini kepala pusing. Atas bawah keringat dingin terus bercucuran nih Huuh ... jangan tegang dong please ... ku mohon jangan tegang terus, hanya akan menyiksa diriku saja. Berhenti dong? berhenti ... tidurlah yang tenang." Pramana terus bergumam seolah-olah mengajak seseorang untuk bicara.
__ADS_1
Dan sekitar pukul 04.00 Anisa menggerakkan anggota tubuhnya meregangkan otot-otot yang lama dalam satu posisi, Anisa menggeliat nikmat dengan bibir senyuman manis.
Pramana hanya memandangi gadis itu dalam jarak yang begitu dekat, wangi rambutnya bau tubuhnya semua tercium oleh penciuman hidung Pramana.
Anisa yang masih juga terpejam dengan lebih mengembangkan senyuman, kembali memeluk. namun kali ini dia menggerakkan tangannya untuk meraba-raba dan dia merasa heran. "Kok gulingnya bertulang sih!"
"lho, kok ... guling ku bertulang sih kayak dada ... terus ada tangannya juga." Gumamnya Anisa dengan sedikit-sedikit membuka matanya dan memicing.
Pramana hanya tersenyum melihat ekspresi Anisa dengan muka bantalnya, yang terlihat menggemaskan.
Semakin lama, pandangan Anisa semakin melebar dan yang pertama dia lihat adalah dada bidang yang tanpa baju. Lanjut menik matanya naik ke atas di mana wajah Pramana terus menatapi dirinya dengan jarang yang begitu dekat.
Hampir saja Anisa menjerit. Kaget dan shock, dia pikir pasti dari semalaman dia tidur berpelukan dengan Pramana.
Untung saja tangan Pramana dengan cepat menutup mulut Anisa sembari berkata. "Shuuut ... jangan teriak. Nanti orang rumah pada bangun."
Kemudian keduanya melonjak bangun, duduk di tempat yang sama.
Dan Anisa melotot ke arah Pramana. "Apa yang terjadi semalaman, kita tidur di sini. Seperti tadi?" Anisa tampak gugup dan suaranya pun bergetar.
"Semalaman? kau ambil kesempatan ya!" ucap Anisa sambil memperhatikan dirinya yang masih berpakaian lengkap, hanya Pramana saja yang bertelanjang dada
"Menurut kamu apa yang kita lakukan?" suara Pramana dengan tenang dan duduk bersila, menutupi bagian tubuhnya yang tegang dengan selimut yang menumpuk.
Sejenak Anisa terdiam sembari mengumpulkan jiwanya yang belum sadar sepenuhnya, dan mengingat-ingat apa saja yang terjadi semalaman, yang dia ingat ... dia cuman tidur sendirian di atas tempat tidur, serta Pramana tidak ada di kamar itu.
Anisa menggerakkan posisi duduknya menjadi berhadapan dengan Pramana.
"Ngaku, apa aja yang kamu lakukan? kamu curi-curi kesempatan kan mumpung aku lagi tidur." Anisa mantap curiga ke arah Pramana sambil menunjuk dengan telunjuknya.
"Kau ini ngomong apa sih? kamu itu tidur apa tidur? masa dari atas jatuh ke bawah lantai sampai nggak merasa sama sekali. Kau pikir aku ini guling yang bisa kau peluk-peluk dan semalaman aku nggak bisa gerak, tahu nggak? aku nggak bisa tidur sama sekali!" ujar Pramana sambil menggerakkan tangannya menunjuk tempat tidur sampai lantai.
"Apa?" lalu Anisa bengong dan terus mengingat-ingat apa saja yang dilakukan, dia nggak ingat sama sekali kalau tubuhnya terjatuh di atas tempat tidur menimpa tubuh Pramana.
__ADS_1
"Apa?" Pramana menirukan ulang perkataan Anisa.
"Kenapa tidak bangunkan aku? seharusnya kau itu membangunkan ku!" Anisa mencabikkan bibirnya dengan perasaan yang campur aduk.
"Kenapa apanya? aku sudah bangunin kamu berkali-kali yang tidak ku lakukan adalah ... membanting mu tapi kan tidak bangun-bangun! malah balik lagi, balik lagi memeluk ku. Nggak nyadar? kenapa sih suka banget menggoda ku?" Pramana menatap tanpa ekspresi kepada Anisa.
Mendengar perkataan dari Pramana yang katanya dia dibangunkan berkali-kali, namun tak bangun-bangun membuat Anisa merasa malu. Sehingga dia menutup wajahnya dengan kedua tangan.
"Benarkah aku nggak bangun-bangun, ih jadi malu kenapa tidak kau banting saja biar aku bangun!" Anisa malah menantang.
Membuat Pramana berniat bangun dan menarik selimut Anisa. "Sekarang aja biar terasa sakitnya langsung, di bangunkan semalam nggak sedikitpun menghiraukan ku!"
"Ach ... nggak-nggak. Nggak-nggak, gak mau!" Anisa langsung berlanjut naik tidak lupa membawa selimutnya.
Kemudian Anisa membawa langkahnya ke kamar mandi. Untuk membersihkan diri yang sudah memiliki kebiasaannya mandi subuh-subuh.
Pramana yang mengembangkan bibirnya dengan lebar. Kembali berbaring di tempat semula, dan memejamkan matanya. Namun bukanlah tidur! yang ada dia melamun membayangkan semalaman pelukan dengan wanita yang sebenarnya sudah menjadi istri dia.
"Kenapa aku mikirin dia sih? Adisty sampai sekarang, belum ketemu mikirin wanita lain!" Pramana langsung terbangun kembali duduk disini menoleh ke arah pintu kamar mandi yang terdengar suara air mengucur.
Sekitar 15 menit kemudian Anisa pun keluar di kamar mandi. Dengan mengenakan kimono handuk yang selutut, yang gak memperlihatkan kakinya yang mulus.
Beberapa kali Pramana menelan Saliva nya memandangi betis Anisa yang putih dan mulus tak ada bintik hitam sedikitpun.
"Woi-woi-woi ... lihat apaan? ngapain masih di situ, bukannya siap-siap ke masjid!" suara Anisa memecah lamunan Pramana.
"Iya ini juga mau kok. Lagian siapa yang lama-lama di kamar mandi?" Pramana bangun dan meninggalkan tempatnya, langsung masuk ke dalam kamar mandi gantian.
"Eeh ... nukannya dilipat dulu bekas tidurnya!" gumamnya Anisa namun tak ayal Anisa pun langsung merapikan dan dimasukkan nya kembali ke dalam lemari.
Di saat Anisa beberes tempat tidur, terdengar pintu diketuk dari luar ....
...🌼---🌼...
__ADS_1
Menyenangkan buat author itu ... adalah komenan like dan dukungan lainnya terima kasih