Pernikahan Yang Tak Di Anggap

Pernikahan Yang Tak Di Anggap
Membantu mu


__ADS_3

Jemari Pramana mengusap bibir Anisa yang lembab dan keringat dingin pun tampak semakin bercucuran dari bagian-bagian pelipis dan leher nya Anisa. Sorot matanya terkunci pada wajah cantik Anisa.


Sementara Anisa tidak berani menatap wajahnya Pramana barang sekilas pun, ekspresi wajahnya Anisa begitu merah merona dan menunjukan kalau dia sangat malu.


"Kenapa mesti malu? ini bukan yang pertama kali kita lakukan. Gimana kita bisa melakukan yang lainnya kalau kamu malu-malu begini!" ucapnya Pramana sembari mengulum senyumnya.


Degh.


Perkataan Pramana seakan menghujam jantung. Bikin jantung Nisa semakin berdegup sangat kencang dan bikin dia bertambah malu.


"Oh iya, bisa kan mengoleskan salep lagi ke bagian-bagian tubuh ku yang lainnya? kalau bagian wajah sudah Alhamdulillah ... makanya Ibu tidak curiga. Tapi di bagian perut, pinggang dan punggung rasanya masih sakit." Ungkap Pramana.


Sambil menatap Gadis itu yang masih tampak malu-malu dan sesekali Pramana menguap pelipisnya Anisa yang terus berkeringat.


Anisa pun mengangguk setuju, kemudian mengarahkan pandangannya ke arah atas nakas dimana salepnya ada tergeletak di sana kemudian Anisa mengambilnya.


Setelah Anisa mengangguk setuju, Pramana pun membuka kaos yang melekat sehingga mengekspos tubuhnya yang kekar dada bidang dan perut sixpack.


Sebelum Anisa mengoleskan salep ke bagian-bagian yang luka, dia malah bengong melihat pemandangan yang memanjakan mata, sehingga dia tampak beberapa kali menelan saliva nya.


Bibir Pramana tersenyum melihat Anisa yang tampak gugup dan tak berkedip. "Mau mengoleskannya nggak?"


"I-iya mau!" Anisa menanggung lalu menggerakkan tubuhnya lebih mendekat, kemudian yang pertama dia olesi di bagian perut dan dada.


Lalu kemudian bagian pinggang dan punggung, dioleskan nya dengan sangat lembut. Antara panas dan adem dirasakan oleh Permana membuat kedua matanya terpejam.


"Sudah, aku mau kembali dulu ke kamar! em ... sudah malam." Suara Anisa membuat Pramana membuka kedua matanya.


"Oh ya, sudah! terima kasih! tapi wajah mu kenapa kok pucat seperti itu?" ucap Pramana yang di akhiri dengan pertanyaan.


Apalagi melihat Anisa sedikit meringis dan memegangi pinggangnya, Pramana merasa cemas.

__ADS_1


"Aku ... aku gak kenapa-napa!" jawabnya Anisa sembari berdiri dan memegangi pinggang yang terasa panas.


Namun Pramana tidak tega kalau membiarkan Anisa berjalan sendiri ke kamarnya. Sehingga Pramana langsung menurunkan kedua kakinya dan merangkul bahu Anisa untuk berjalan.


Tapi tampaknya Anisa semakin meringis, tubuhnya semakin berkeringat dingin. Pramana langsung memangku tubuh Anisa yang mungil itu keluar dari kamarnya.


Dibawa ke kamar pribadinya yang tidak jauh dari kamar Pramana. Tubuh Anisa melayang dalam pangkuan Pramana, tak ayal kedua tangan Anisa pun melingkar di pundaknya pria tersebut.


Manik matanya Anisa bisa menatap wajah Pramana dengan jarak dekat. Begitu penciumannya bisa menghirup aroma tubuhnya Pramana yang baru maskulin.


"Kamu kenapa? aku panggilkan ibu ya?" kata Pramana setelah membaringkan tubuh Anisa di tempat tidurnya dan menumpukan bantal agar tubuh Anisa sedikit naik, lalu dia berniat untuk memanggilkan sang ibu karena dia kebingungan tidak tahu harus berbuat apa untuk membantu Anisa.


"Aku mohon ... jangan dulu bilang Ibu, jangan buat repot dia apalagi Ibu pasti sudah istirahat. Aku nggak kenapa-napa kok! bentar lagi juga aku sembuh, mungkin aku cuman kecapean aja tadi berdiri kan ... ketika menyetrika!" suaranya lembut Anisa, mencegah Pramana untuk memanggil sang ibunda.


Kemudian Pramana duduk di tepi tempat tidur, samping Anisa. "Tapi aku nggak tahu harus berbuat apa untuk menolong mu. Terus apa yang kamu keluhkan?"


"Aku cuma sedikit kepala aja dan pengang ku rasanya sakit. Insya Allah akan sembuh, jangan merepot kan ibu!" ucapnya Anisa kembali dia tidak mau merepotkan sang ibu mertua.


Pramana yang melihat itu, berinisiatif menggerakkan tangannya ke pinggang Anisa dan perutnya, di usapnya juga memijat ke bagian pinggang samping dan belakang.


Membuat kedua manik mata Anisa terbuka melihat Pramana. Lalu menyisir ke arah pintu yang tidak tertutup rapat dan itu mungkin lebih baik karena Pramana ada di sana.


"Apa kau memerlukan sesuatu? biar aku ambilkan, minum misalnya! atau kamu mau makan?" tawarnya Pramana.


Anisa yang tadi yang menatap ke arah pintu beralih menoleh ke arah Pramana Seraya mengulas senyumnya yang getir. "Aku ini lagi kesakitan! masa pengen makan!" suaranya yang pelan membuat Pramana ikut tersenyum juga.


"Oke-oke tapi ... minum aja ya? mau kan aku bikinkan minuman hangat ya!" lagi-lagi Pramana menawarkan diri.


"Kalau kamu nggak keberatan ... nggak apa-apa aku pengen minum air hangat!" pada akhirnya Anisa mengangguk.


Setelah itu Pramana pun beranjak dan memutar tubuhnya meninggalkan Anisa yang masih terbaring dan tampak lesu, dalam hati dia sangat khawatir tapi untuk minta tolong pada ibunya ataupun Bibi Rasanya nggak enak juga.

__ADS_1


Apalagi Anisa sendiri yang melarang, hingga akhirnya Pramana hanya bergerak sendiri untuk menemani anisa. Pramana turun ke dapur untuk membuatkan minuman hangat! namun dengan langkah yang benar-benar sangat pelan dan hati-hati, agar keberadaanya di dapur tidak membangunkan orang lain.


Sekembalinya ke kamar Anisa, Pramana memberikan air hangat tersebut dan juga membantu Anisa untuk duduk.


"Terima kasih ya?" ucapnya Anisa dengan sangat lirih.


Lantas Anisa berbaring kembali dan Pramana juga mengusap antara perut dan pinggang memijat seperti tadi. Tampak Anisa memejamkan kedua matanya.


"Gimana apa sudah mendingan?" gumamnya Pramana sambil menatap ke arah Anisa.


Perlahan Anisa membuka matanya seraya berkata. "Sudah agak mendingan! kamu boleh kembali kamar mu, sudah malam dan kamu istirahat! besok kan mau bekerja."


"Tapi yakin, kamu nggak kenapa-napa ?" Pramana menatap cemas.


"Aku nggak kenapa-napa kok ... sudah agak baikan. Kembalilah ke kamar mu takutnya besok kesiangan." Kata Anisa sembari mendudukkan dirinya dan menarik selimut, yang kemudian Pramana pun menariknya untuk menutupi tubuh Anisa.


"Baiklah, kalau begitu aku akan kembali ke kamarku. Kalau ada apa-apa panggil saja aku ya?" sesaat Pramana menyentuh tangan Anisa.


Lalu kemudian dia berdiri dan meninggalkan Anisa sendirian, Pramana menghentikan langkahnya setelah beberapa langkah dan menuju ke pintu menoleh ke arah Anisa.


Setelah beberapa saat memandangi Anisa, Pramana pun melintasi pintu dan tidak lupa untuk menutupnya dengan rapat.


Anisa menghela nafas dalam-dalam! kemudian dia membaringkan kembali tubuhnya. dan alhamdulillah rasa sakitnya sudah sedikit berkurang.


Setelah keluar dari kamar Anisa, Pramana terdiam di depan pintu. Kemudian kepalanya sedikit menoleh ke arah belakang yaitu daun pintu kamar Anisa. Entah apa yang dia pikirkan! selanjutnya dia mengayunkan kedua langkah menuju kamar dia yang tepatnya berhadapan dengan kamar Anisa.


Waktu terus berputar, malam pun terus beranjak, suhu dingin semakin menyelimuti tubuh Pramana yang tampak kedinginan. Biarpun berbalut selimut rasanya dingin menusuk tulang sekalipun AC sudah dimatikan.


Membuat pria itu terbangun seketika. Apalagi tidurnya pun memang semalaman tak lena, karena pikiran terus melayang-layang terbang jauh menerawang ....


...🌼---🌼...

__ADS_1


Jangan lupa like dan komen ya makasih.


__ADS_2