Pernikahan Yang Tak Di Anggap

Pernikahan Yang Tak Di Anggap
Membakar


__ADS_3

Hari pun sudah sore. Keluarga Anisa pun berpamitan untuk pulang. Mereka akan bertemu kembali bulan depan di resepsi pernikahan Anisa di rumah nya pak Joni, tadinya mau ada resepsi di rumah Pram juga. Tapi setelah di pikir-pikir, nggak usah saja, cukup di rumahnya pak Jono saja.


"Sampai ketemu nanti deh di rumah ya," Aisyah memeluk sang adik dengan erat dan hangat.


"Iya Kak. Sampai ketemu nanti." Anisa mengangguk.


"Ingat ya ... yang manut pada suami." pesan sang Bunda sebelum pulang Ia pun memeluk Anisa kasih sayang. "Bunda akan kembali merindukan mu!"


"Aku juga Bunda. Aku pasti kangen sama Bunda tapi ... berapa hari sebelum hari H nya aku akan datang ke sana ya, Bun!" ucapnya Anisa sembari mengeratkan rangkulannya.


"Iya dong ... beberapa hari sebelumnya harus datang, masa datang pas hari H nya nggak mungkin lah!" jawabnya Aisyah sembari mengusap punggung sang adik yang sedang merangkul bundanya.


"Iya kak aku kan datang sebelumnya!" Anisa mengangguk dan memudarkan rangkulan nya pada sang Bunda.


"Jeung, saya pulang dulu ya, sampai jumpa nanti syukuran di rumah saya!" kata Ibu Farida kepada bu Bella.


"Oh iya, tentu! padahal nginep aja kenapa satu malam aja, biar kita masih bisa ngobrol-ngobrol." Balasnya Ibu Bella sembari merangkul Ibu Farida sebagai besannya.


Kini keluarga Anisa sudah pulang meninggalkan Anisa yang kini sudah sah menjadi istri dari seorang pramana. Mobilnya merayap keluar dari kediaman Pramana. Tinggallah keluarga Pramana yang berjalan memasuki ruang keluarga. Andre dan Anita pun masih di sana, mereka berencana pulang nanti setelah maghrib.


Mereka semuanya mengobrol di ruang tengah, beberapa kali ponsel Pramana berdering pun tidak dipedulikan oleh Pramana. Lagian itu tidak mungkin dari kantor karena jam kantor sudah tutup.


"Kenapa nggak diangkat? kali saja penting," kata Anisa menoleh ke arah Pramana yang tampak terdiam dan menumbuhkan sikunya di atas bahu sofa.


Semua pasang mata pun melihat ke arah Pram yang malah sengaja membiarkan handphone terus berdering.


"Hooh, kali saja penting angkat saja dulu lah." Tambahnya Andre. Lagian dia merasa terganggu dengan suara handphonenya Pramana.


"Lah, paling teman-teman yang menggoda! biarin saja lah!" Pramana tampak acuh, yang dia lakukan hanyalah mengklik pengaturan di ponsel supaya tidak terdengar suara dering dan tidak mengganggu waktunya bersama keluarga.


Kemudian mereka pun melanjutkan obrolannya di mana saat ini mereka sedang mengobrolkan gimana tentang resepsinya nanti yang akan diadakan di rumah pak Joni.


Saat ini Pram berada di balkon dan mengecek handphone yang tadi berdering terus, ternyata oh ternyata adalah panggilan dari Adisty.


Pramana tampak kesal, sudah dikasih tahu jangan pernah manggil-manggil. Biar dia saja nanti yang akan hubungi balik dan mengajak ketemuan tapi bukan sekarang! masih saja bolak-balik nelpon.


Pramana berdiri sembari kedatangan memegangi pagar palkon menatap ke arah langit senja yang tampak merah dan simpan bentar lagi tenggelam digantikan dengan gelapnya malam.

__ADS_1


Dan matahari akan berganti dengan sang rembulan yang akan hadir bersama bintang-bintang memberi sedekah sinyal dan harapan pada makhluk yang menikmati indahnya malam.


Terdengar suara adzan maghrib baru begitu malam indah rumah langkah Pramana mengambil air wudhu lalu turun untuk berjamaah di masjid yang berapa meter dari rumah tersebut dan terhalang beberapa rumah tetangga.


Sementara Anisa sedang mengeluarkan pakaiannya dari lemari yang akan dia pindahkan ke kamarnya Pram, karena kini mereka akan tinggal satu kamar lagi.


"Aku tidak suka bila aku lihat masih ada foto Adisty di kamarnya, aku sobek! aku lempar ke wajahnya. Tapi nggak-nggak, gak boleh seperti itu, gak sopan mamanya pada suami macam itu!" gumamnya Anisa sambil menggaruk tengkuknya. Lalu merapikan rambutnya yang ja ikat di atas mengekspos lehernya uang jenjang dan mulus.


"Terus gimana dong ... Kalau masih ada barang wanita itu? kan aku gak suka, masa punya istri masih menyimpan foto kekasihnya." Lagi-lagi Anisa bermonolog sendiri.


"Sedang mikirin apa sayang? melamun, sudah di keluarin semua barangnya?" suara Pram yang mengagetkan Anisa yang sedang melipat pakaiannya.


Pram langsung menghampiri sepulang dia dari masjid. Menarik kepala Anisa dan di kecup keningnya.


"Nggak mikirin apa-apa, aku cuma tidak suka saja bila di kamar mu--"


"Kamar kita." Pram memotong perkataan dari Anisa.


"Iya, kalau di sana ada barang-barang yang berkaitan dengan Adisty. Pokonya aku tidak suka dan harus di singkirkan." Kata Anisa dengan jelas.


Pram terdiam sejenak dengan bibir mengatup, netra mata menatap ke arah Anisa yang duduk di tepi tempat tidur. Lalu Pram mendekat berdiri di hadapan wanita cantik itu, membingkai wajah Anisa dan di tatapnya sangat lekat.


"Tapi kan mana ku tahu itu barang siapa. Kecuali foto yang yang jelas-jelas aku tahu itu siapa. Oya, yang di kantor juga?" Anisa jadi ingat foto Adisty dan Pram yang di meja kerja nya Pram di kantor.


"Em ... Yang di kantor itu ... Sudah tidak ada sayang, sudah ku buang--"


"Bohong ..." Anisa menatap curiga pada Pram yang masih di posisi yang sama.


"Beneran, kalau gak percaya cek aja. Sebentar ku perlihatkan cctv ya ... Tunggu sebentar." Pram mundur lalu membawa langkah kakinya yang lebar untuk mengambil ponsel di kamarnya.


Anisa menatap punggung suaminya tersebut dengan tatapan datar.


Dan beberapa saat kemudian Pram kembali dengan memperlihatkan cctv di kantornya Pram. "Coba lihat, nggak ada kan fotonya? Tidak lagi bertengkar di sana. Dan aku akan pasang foto setelah akad tadi."


"Di simpan di mana emang?" selidik Anisa.


"Nggak di simpan sayang ... sudah ku buang." Jawabnya Pram dengan jelas.

__ADS_1


"Awas ya kalau masih ada dan aku lihat di kantor--"


"Kenapa? emang kenapa Hem? tidak percaya sama aku?" Pram menatap lembut ke arah Anisa yang berada di sampingnya.


"Em ... aku ngambek," Anisa mengerucutkan bibirnya.


"Jangan ngambek ach. Masa sinhari akad kita kamu ngambek sih! mendingan kita bawakan semua pakaian mu ke kamar kita." Pram menyimpan ponsel ke saku nya lalu mengambil pakaian Anisa untuk di pindahkan ke kamar nya.


Begitupun Anisa memeluk sisa pakaiannya, berjalan mengekor di belakang Pram. Manik matanya mengedar ke seluruh ruangan kamar tersebut. Mencari siapa tahu masih terpajang foto atau apa yang sekiranya berkaitan dengan Adisty.


Pram menyimpan pakaian Anisa di lemarinya yang besar. Lalu membuka laci-laci dan mengambil barang-barang yang dari Adisty.


Anisa melihat Pram sambil menggantung dan membereskan pakaiannya di lemari.


Album yang berisi foto-foto bersama Adisty, Pram sisihkan akan dia buang. Ada juga barang mahal seperti jam tangan dan itu masih ada kotaknya.


"Barang yang berharga, jangan di buang. Mendingan di kembalikan atau di kasihkan orang!" ucapnya Anisa.


Pram menolehkan kepalanya pada Anisa, lalu dia membuka lemari. Dia mengambil beberapa kemeja, kaos. Topi dan dasi.


"Ya ampun ... Banyak sekali barang-barang yang dari Adisty." Gumamnya Anisa sambil melihat ke arah Pram.


Semuanya Pram masukan ke dalam kardus yang sekiranya mau dia buang, kecuali barang yang lebih berharga. Seperti jam tangan dan topi yang memang ada harga nya.


Anisa membuka album foto dan melihat-lihat fotonya Pram dan Adisty. Kemudian Pram ambil albumnya lantas dia masukan ke dalam kardus.


Pram bawa ke belakang rumah untuk di bakarnya. Sejenak Anisa hanya melihat punggung Pramana dengan langkahnya yang lebar, membawa kardus yang berisi barang-barang yang sekiranya mau dibakar.


Lalu Anisa melihat ke arah atas tempat tidur, karena di sana ada 2 jam tangan tergeletak begitu saja! mungkin dia akan di kembalikan kepada yang memberi.


Detik kemudian Anisa beranjak dari tempatnya keluar dari kamar tersebut, berjalan ke luar dan turun ke lantai dasar. Lagian sudah waktunya makan malam.


"Tadinya Ibu mau memanggil kamu Nisa ... Eeh sudah turun, Pram kemana?" sapa sang ibu mertua.


"Em ... Pram keluar, itu di belakang!" Anisa menunjuk ke arah belakang rumah dengan ibu jarinya.


Bu Bella menoleh ke arah belakang rumah sambil mengerutkan kening nya, sebab dari jendela terlihat ada api ....

__ADS_1


...🌼---🌼...


Jangan lupa dukungannya ya ... dan makasih


__ADS_2