Retaknya Sebuah Kaca

Retaknya Sebuah Kaca
Bab 10 : Curiga ...


__ADS_3

"Yoga, sekali lagi makasih ya," ucap Zu.


"Sama-sama, Zu. Kalau begitu aku pamit ya. Jika kamu butuh bantuan, jangan sungkan-sungkan menghubungiku," pesan Yoga.


"Hmm ... biar aku antar sampai ke depan," tawar Zu lalu berjalan bersisian dengan Yoga hingga berada di ambang pintu. "Hati-hati ya. Kapan-kapan aku akan membuatkan sesuatu untukmu," kata Zu dengan seulas senyum.


Yoga hanya mengangguk sambil mengedipkan kedua matanya lalu masuk ke dalam mobilnya. Setelah memastikan mobil Yoga menghilang dari pandangan matanya, Azzura kembali menutup pintu lalu menuju dapur.


"Zu, belanjaanmu kok banyak banget. Padahal kalian hanya berdua saja di rumah ini," kata Nanda.


"Aku belanja untuk satu bulan ke depan. Kamu seperti nggak tahu aku saja," sahutnya sembari memasukkan sayuran, daging dan beberapa seafood ke dalam kulkas beserta minuman ringan.


Sedangkan cemilan, mie dan minuman instan ia taruh di lemari gantung.


"Nanda, sebelum kita ke rumah sakit, kita masak-masak dulu ya. Nanti kita makan bareng di sana," cetus Zu.


"Siap!" sahut Nanda. Sedetik kemudian ia menangkup wajah sahabatnya itu. "Zu ... jidatmu kenapa memar begini?" selidik Nanda.


"Oh ini ... aku terpeleset di kamar mandi lalu terbentur tembok," bohongnya.


Namun Nanda tidak percaya begitu saja.


"Zu ... kamu bohong."


"Beneran Nanda," sahut Zu sambil mengolah bahan masakan dan sedikit menghindar.


"Kamu berbohong Zu, itu terlihat karena kamu nggak berani menatap mataku," tegas Nanda.


Azzura berhenti sejenak lalu menatap sahabatnya itu. Seketika matanya berkaca-kaca dan langsung memeluk Nanda sambil menangis.


"Zu," lirih Nanda. "Apa yang terjadi padamu? Kenapa kamu seperti ini?"


Untuk sejenak Azzura hanya mampu menangis. Setelah merasa puas menumpahkan air matanya ia pun mengurai pelukannya lalu mengusap matanya.


Ia pun menceritakan semuanya pada sahabatnya alasan ia mau menikah dengan Close tanpa ada satupun yang ia sembunyikan.


Nanda terhenyak sambil mengepalkan kedua tangannya merasa tidak terima sahabatnya di perlakukan seperti itu.


"Nanda berjanjilah padaku, rahasiakan ini pada ibu. Cukup hanya kita berdua yang tahu," mohon Zu dengan mata yang berkaca-kaca.


"Azzura yang malang, aku nggak menyangka jika kamu akan menikah dengan pria brengsek itu," ucap Nanda sambil menyeka air matanya. "Berjanjilah ... jika kamu sudah nggak kuat, pergilah sejauh mungkin dan buka lembaran yang baru," lirih Nanda mengingatkan sahabatnya itu.


Azzura hanya mengangguk. Keduanya kembali melanjutkan acara masak memasaknya.


"Zu, kita buat soto ayam saja ya. Setelah itu kita buat kue untuk pencuci mulut," cetus Nanda sambil mengupas kentang.


"Iya, kita buat agak banyak, sekalian kita makan bareng dengan suster di sana," timpal Zu.


Mereka kembali melanjutkan aktivitas memasaknya dan sesekali keduanya saling melempar candaan dan tertawa cekikikan mengenang masa-masa saat kuliah walaupun keduanya kuliah di kampus yang berbeda.


Setelah kurang lebih satu jam berkutat di dapur, akhirnya semua olahan masakan Azzura dan Nanda Mateng.

__ADS_1


Azzura menaruh soto masakannya di sebuah termos sedangkan Nanda terlihat sedang mengiris brownis lalu menatanya ke dalam box makanan.


Setelah selesai, Azzura dan Nanda kembali membersihkan wadah bekas yang mereka gunakan tadi.


"Nanda, yuk kita istirahat sejenak di kamarku," ajak Zu lalu membuka pintu kamarnya. Walaupun kecil namun kamar itu cukup rapi dan bersih.


"Zu, bahkan pria brengsek itu memberikan kamar nggak layak ini untukmu?!" geram Nanda.


"Nggak apa-apa Nanda, setidaknya kamar ini sudah rapi dan bersih," kata Zu lalu berbaring di kasur lipatnya kemudian menyalakan kipas.


"Ini seperti gudang yang ada di rumahmu," kata Nanda lalu terkekeh.


Azzura ikut terkekeh mendengar, ucapan sahabatnya itu.


.


.


.


Sedangkan Close dan Laura yang saat ini berada di salah satu toko tas branded di Kota J, tampak masih setia menemani sang kekasih berbelanja.


Bahkan sudah beberapa toko yang mereka masuki dan sudah puluhan paper bag belanjaan barang branded yang sedang di bawa oleh Laura dan Close.


Setelah mendapatkan tas yang ia inginkan, Close kembali membayar menggunakan kartu kreditnya.


"Sayang, apa masih ada lagi yang ingin kamu beli?" tanya Close.


"Ya sudah, kita cari makan dulu, perutku sudah lapar," cetus Close.


"Hmm, baik lah."


Keduanya pun meninggalkan toko tas itu lalu menghampiri mobilnya.


Lelah ...


Itulah yang sedang Close rasakan, selama beberapa jam menemani sang kekasih ia terus mengikuti langkah dan kemauan Laura.


Di sepanjang perjalanan menuju restoran, Close tampak diam. Benaknya masih bertanya-tanya ke manakah istrinya itu?


Setelah tiba di salah satu restoran mewah, keduanya pun segera masuk dan memesan makanan.


Tak jauh dari meja Close dan Laura, Yoga yang sejak tadi bersama Radit begitu terkejut saat melihat Close menggandeng mesra Laura di restoran itu.


"Yoga, itu kan boss mu dan pacarnya? Mereka terlihat mesra banget," bisik Radit.


Yoga hanya bergeming dan merasa curiga jika pernikahan Close dan Azzura seperti ada yang tidak beres. Entah mengapa ia sangat mengkhawatirkan istri boss-nya itu.


Saat menjemputnya di rumah sakit, ia bisa melihat sorot mata gadis berhijab itu menyiratkan kesedihan mendalam dan seolah-olah merasa terpaksa dengan pernikahannya.


"Radit, aku sudah selesai. Sebaiknya kita tinggalkan restoran ini," ajaknya lalu meninggalkan sejumlah uang di meja itu lalu meninggalkan restoran.

__ADS_1


Sedangkan Laura dan Close masih betah di restoran itu sambil menyantap makanan pesanan keduanya. Sesekali Laura menyuapinya dengan manja.


Kembali ke Azzura dan Nanda, keduanya kini tampak sedang bersiap-siap menuju rumah sakit.


"Nanda, singgah sebentar di toko helm ya, soalnya helm dan motorku di bawa sama temannya Yoga," pintanya.


"Siap!" sahut Nanda sambil mengangkat jempolnya.


"Ya sudah, cepat berangkat, ini sudah jam 11.00," desak Zu lalu terkekeh.


Nanda ikut terkekeh dan segera memacu motornya menuju rumah sakit. Namun sebelumnya, keduanya terlebih dulu membeli helm.


Dua puluh menit kemudian, akhirnya keduanya tiba di rumah sakit. Sambil bergandengan tangan keduanya sama-sama melangkah menuju kamar rawat Bu Isma.


Ketika membuka pintu, Bu Isma langsung tersenyum menatap Azzura dan Nanda. Kebetulan ada dokter Aida dan sang suster yang sedang berada di kamar itu.


"Dok, Sus, kebetulan kalian di sini, kita makan bareng ya," tawar Zu lalu meletakkan termos yang ia bawa dan Nanda meletakkan wadah box brownis di tempat yang sama.


"Zu, Nanda, apa kalian habis masak-masak, Nak?" tanya Bu Isma, sambil memperhatikan Nanda dan Azzura yang tengah menata makanan di atas meja.


"Iya Bu," kata Zu dan Nanda serentak lalu tertawa. "Yah sudah ... ayo dimakan makanannya. Aku di sini saja sambil menyuapi ibu," kata Zu yang kini duduk di sisi bed ibunya.


Seketika ruangan itu terlihat seperti acara kumpul keluarga. Setelah menyicipi makanan itu, dokter Aida membuka suara.


"Zu, aku nggak menyangka jika kamu pintar masak," celetuk dokter Aida.


"Alhamdulillah bisa, Dok," sahut Zu. "Sayangnya aku belum punya modal buka restoran atau cafe kecil-kecilan." Azzura terkekeh. "Sudah ah, makan dulu nanti kita sambung ceritanya."


Dokter Aida hanya mengulas senyum sambil mengangguk.


Beberapa menit kemudian ....


"Zu, ternyata soto dan brownies buatanmu enak banget. Beruntung banget suamimu memiliki istri sepertimu," puji dokter Aida.


Azzura dan Nanda saling berpandangan.


"Beruntung apanya!! Pria brengsek seperti Close nggak pantas memiliki Azzura!" gerutu Nanda dalam hatinya.


Sedangkan Azzura hanya tersenyum tipis merasa miris.


"Sayang, kapan-kapan, ajaklah suamimu kemari. Itupun jika dia nggak sibuk," pinta Bu Isma.


"Iya Bu," kata Zu dengan seulas senyum.


"Zu, aku dan suster Tiara tinggal sebentar ya, soalnya masih ada pasien yang harus saya tangani," izin dokter Aida.


"Iya, Dok, silahkan," kata Zu.


...🌿----------------🌿...


Jangan lupa masukkan sebagai favorit ya. Like, vote dan komen. Bantu like dan vote setidaknya readers terkasih telah membantu ikut mempromosikan karya author. Terima kasih ... πŸ™β˜ΊοΈπŸ˜˜

__ADS_1


__ADS_2