
Sebelum masuk waktu magrib, Genta sudah tiba di kediaman Azzura. Setelah mengucap salam, ia pun membuka pintu.
"Mas," tegur Zu yang sedang menuruni anak tangga lalu menghampirinya.
"Anak-anak pada ke mana? Kok sepi?"
"Sejak tadi mereka di ajak jalan-jalan sama Radit," jelas Zu seraya melingkarkan kedua tangannya ke pinggang Genta.
"So ... hanya kamu dan baby F di rumah?" bisik Genta lalu mengecup keningnya.
"Iya," balas Zu lalu melepaskan kedua tangannya yang melingkar di pinggang sang suami.
"Mas ke kamar dulu. Kangen banget sama Fattah Faatih." Azzura hanya mengangguk lalu ke dapur untuk membuatkannya kopi.
Sesaat setelah berada di dalam kamar, Genta langsung tersenyum memandangi kedua putranya yang tampak sedang bergerak aktif.
"Hai ... jagoan ayah," sapanya lalu mengecupnya satu persatu kemudian berbaring di sampingnya.
Menyentuh jemari mungilnya lalu mengajak keduanya berbicara meski keduanya belum mengerti apa-apa.
Suatu kebahagiaan yang selalu ia rasakan sejak kelahiran putra kembarnya itu. Seolah menjadi mood booster baginya.
Saat sedang asyik-asyiknya berbicara pada Fattah Faatih, tak lama berselang Azzura menyapa sembari membawa secangkir kopi untuknya.
"Mas, ini kopinya."
"Ya, makasih ya, Sayang," ucap Genta lalu merubah posisinya menjadi duduk. "Kemarilah."
Azzura duduk di sampingnya lalu tersenyum. "Ada apa, Mas," tanyanya seraya mengelus rahangnya.
"Nggak apa-apa," jawabnya. Menatap lekat wajahnya seolah tak ingin melewatkan satu detik pun.
"Lalu ...? Kenapa menatapku seperti itu?" cecar Zu lalu menyandarkan kepalanya di dada bidangnya sambil menatap kedua putranya.
Genta bergeming lalu mengarahkan pandangannya ke arah yang sama dengan Azzura.
Keduanya sama-sama tersenyum memandangi Fattah Faatih yang sedang bergerak dengan mata terbuka.
**********
Setelah selesai makan malam di rumah itu, mereka terlihat duduk santai sambil mengobrol kecil. Sebelum akhirnya Genta dan Azzura berpamitan.
Apa lagi Devan dan Ayya yang sudah terlihat mengantuk dan merengek mengajak keduanya pulang.
"Nanda, Radit, kami pulang dulu ya," pamit Genta dan Azzura bergantian.
"Iya, Bang, hati-hati. Sepulang dari pulau B mampirlah sebentar di rumah," usul Radit.
__ADS_1
"Insyaallah, Radit," sahut Genta lalu menepuk pundaknya.
Radit dan Nanda menatap Azzura. "Zu makasih ya, sudah mengizinkan kami tinggal di sini. Sekalian sama mobilnya," kata Nanda lalu terkekeh.
"Sama-sama, Nanda."
Setelah itu Nanda dan Radit ikut mengantar hingga sampai di mobil Genta. Tak lupa Radit menyetel car seat untuk baby F.
"Kami pamit, jika ada waktu main-mainlah ke kota M," kata genta dan dijawab dengan anggukan kepala oleh Radit dan Nanda.
"Mas, Ayya biar duduk di depan saja. Aku dan Devan biar di belakang."
"Baiklah."
Setelah memastikan Azzura dan anak-anaknya duduk dengan tenang. Genta menekan klakson mobil lalu mulai meninggalkan halaman parkir rumah itu.
Baru beberapa menit dalam perjalanan pulang Ayya dan Devan sudah tertidur. Azzura terkekeh lalu memangku putranya itu kemudian mendekapnya.
Ia terus memandanginya wajah tampan bocah itu sambil mengelus rambut coklatnya. Sungguh saat menjalani sidang itu, ia begitu takut jika bocah blasteran itu akan jatuh ke tangan ayah kandungnya.
"Bunda menyayangimu, Nak," bisik Zu lalu mengecup lama kening putranya. "Tetaplah akur dengan kak Ayya dan dedek Fattah Faatih."
Genta hanya mengulas senyum menatap keduanya dari kaca spion tengah. Setelah itu ia kembali fokus menyetir hingga tiba di kediamannya.
"Mas, aku aku antar Devan ke kamarnya dulu," kata Zu lalu membuka pintu mobil.
"Ya sudah, duluan saja," balas Genta lalu melangkah ke belakang mobil untuk menurunkan stroller bayi.
"Nak Zu," sapanya.
"Bi, kebetulan banget, tolong bantuin mas Genta, Soalnya Ayya juga sudah ketiduran di mobil," pintanya.
"Baiklah."
Azzura kembali melanjutkan langkahnya menuju kamar Devan. Namun alisnya seketika bertaut saat menyadari sesuatu.
Ya, keberadaan sus Mimi yang tak terlihat di rumah itu. Sesaat setelah membaringkan Devan di atas ranjangnya, ia pun mengecup putranya lalu keluar dari kamar.
"Sus Mimi ke mana ya? Kok nggak kelihatan. Apa dia sudah tidur ya?" gumam Zu lalu melanjutkan langkahnya menuruni anak tangga untuk membantu bi Titin.
"Bi, apa sus Mimi sudah tidur? Soalnya aku nggak melihatnya," tanya Zu sesaat setelah berada di lantai satu lalu mengendong putranya
"Sudah dikembalikan ke habitat asalnya," kata bi Titin.
Sontak saja jawaban ambigu dari bi Titin membuat Azzura terkekeh. "Memangnya dia hewan langkah, Bi? Sampai-sampai harus dikembalikan ke habitat asalnya. Haaaahh ada-ada saja."
Keduanya kembali melanjutkan langkahnya menapaki anak tangga menuju kamar baby F. Lagi-lagi Azzura semakin dibuat terheran-heran saat tak mendapati pengasuh dari baby F itu.
__ADS_1
Karena tak ingin ambil pusing, Azzura memilih membersihkan tubuh mungil putranya dengan tisu basah lalu mengganti pakaiannya.
Setelah itu ia mengecup gemas keduanya sebelum akhirnya ia membaringkan Fattah Faatih di box bayinya.
"Bi, aku ke kamar ya," izinnya dan dijawab dengan anggukan kepala oleh bi Titin.
Beberapa menit berlalu ...
Azzura tampak berbaring dengan posisi terlentang demi meluruskan pinggangnya yang terasa pegal.
Tak lama berselang, Genta menghampirinya lalu ikut merebahkan tubuhnya di samping istrinya.
"Mas ..."
"Hmm ..."
"Kok, sejak tadi aku nggak melihat sus Mimi?"
Mendengar pertanyaan dari istrinya, Genta menghela nafas pelan. Ia merubah posisinya menjadi miring dengan menjadikan sebelah tangannya sebagai penopang kepalanya.
"Mau tahu, apa mau tahu banget," selorohnya lalu terkekeh. "Duduk Yuk," cetusnya lalu mendudukkan dirinya kemudian diikuti Azzura.
"Mas sudah memecatnya," aku Genta.
"Tapi kenapa Mas?" tanya Zu sekaligus terkejut.
"Karena mas merasa nggak nyaman dengan keberadaan gadis itu di rumah kita. Dia bisa saja membuat rumah tangga kita merenggang dan mas nggak mau itu terjadi. Cukup kita pernah gagal sekali dan mas nggak mau gagal untuk yang kedua kalinya," tegas Genta.
"Mas," bisik Zu lalu mendekapnya erat merasa terharu. "Apa itu alasannya membiarkanku keluar rumah dengan anak-anak?"
"Hmm, karena jika kamu ada di rumah tadi, kamu pasti memprotes," lanjut Genta sembari mengelus rambut Azzura. "Mas nggak suka caranya dia menatap mas. Mas bisa merasakan jika dia menyukai mas. Meski mas nggak menunjukkan rasa ketidak sukaan mas padanya, tetap saya mas merasa risih."
"Salah siapa?" bisik Zu lalu terkekeh kemudian melepas pelukannya.
"Salah mas tapi nggak sepenuhnya juga. Tadinya mas mengira yang akan di kirim ke rumah kita seumuran bi Titin, nyatanya gadis yang bakal menjadi pelakor," jelas Genta. "Sudahlah ... yang penting sekarang dia sudah mas pulangkan ke tempat asalnya."
"Apa mas ada rencana lagi ingin mencari pengasuh untuk Fattah Faatih?" ledek Zu.
"Nggak, cukup lah bi Titin yang menjadi pengasuh baby Fattah Faatih. Lagian dia juga sudah seperti ibu bagi kita."
Hening sejenak ...
"Jadi ... bagaimana rasanya digodain dengan daun muda, Mas?" ledek Zu lagi. "Sepertinya sus Mimi benar-benar nekat. Soalnya tadi pagi, saat aku ke kamar baby F, dia berpakaian dengan pakaian yang bisa membuatku masuk angin. Hahahaha." Tawa Zu langsung pecah di kamar itu. "Jangan-jangan Mas sudah melihatnya tadi."
"Nauzubillah ... tumben-tumbennya juga mas nggak ingin masuk ke kamar itu tadi. Ternyata dia sudah menyiapkan jebakan Batman," aku Genta sambil mengusap dadanya. "Sudahlah ... nggak usah membahasnya lagi. Rasanya mas jijik pada gadis itu."
"Ya sudah, tidur yuk," cetus Zu yang terlihat sudah mengantuk.
__ADS_1
Genta hanya mengangguk lalu beranjak dari tempat tidur lalu mematikan lampu dan hanya menyisakan lampu tidur.
...----------------...