Retaknya Sebuah Kaca

Retaknya Sebuah Kaca
119. Anggaplah aku sebagai sahabat atau kakak


__ADS_3

Sepeninggal Yoga, Clarissa masih berdiri di tempat sambil menelaah kembali ucapan yang terlontar dari sang psikolog.


Sudah seminggu terakhir ia berada di tempat itu namun selama itu pula, ia masih enggan mengungkapkan masalahnya.


"Terlalu sakit jika harus diingat dan di ceritakan," ucapnya dalam hati.


Namun kalimat terakhir dari Yoga barusan seketika sedikit membuat hatinya melunak.


"Percayalah ... sesuatu yang terus menghantui kita, itu rasanya nggak enak. Namun jika kamu berusaha melupakannya lalu bangkit, aku percaya kamu bisa lepas dari bayang-bayang kelam itu."


Sedangkan Yoga yang kini sudah berada di ruangan kerjanya tampak sedang memijat pangkal hidungnya.


Sedetik kemudian ia meraih map pasien milik Clarissa lalu kembali membaca lembar demi lembar riwayat tentang gadis itu.


"Yoga ... ayolah ... jangan menyerah begitu saja. Yakinlah jika kamu bisa menyembuhkan dan mengembalikan gadis itu kembali seperti semula," ucapnya pada dirinya sendiri.


Ia kembali memejamkan matanya sejenak. Seketika wajah gadis blasteran itu menghiasi benaknya ketika menatap lekat manik berwarna hazelnya.


Sepasang mata itu kembali mengingatkan dirinya akan bola mata indah Azzura. Hanya saja warnanya yang berbeda.


Yoga memegang dadanya yang tiba-tiba saja berdebar. Setelah empat tahun berlalu, debaran itu kembali ia rasakan.


"Ada apa ini? Situasi ini nggak pernah aku rasakan ketika bersama Sya," gumam Yoga lalu kembali memijat pangkal hidungnya.


Ia melirik jam tangan yang melingkar di pergelangan tangannya. "Sudah hampir jam empat," gumamnya. Sebaiknya aku lihat dulu keadaannya."


Yoga kembali melangkahkan kakinya menuju kamar rawat Clarissa. Sesaat setelah berada di depan pintu, ia mengetuk lalu perlahan membukanya.


Seketika ia terenyuh menatap gadis itu yang sedang tertidur dengan posisi meringkuk sambil memeluk kedua kakinya.


Karena tak tega, Yoga perlahan menghampirinya lalu menepuk pipinya.


"Clarissa ... Rissa?!"


Merasa seperti disentuh oleh seseorang, ia spontan merubah posisinya menjadi duduk karena kaget kemudian berteriak histeris.


"Jangan!!! Jangan!!! Jangan lakukan itu lagi padaku!! Aku mohon bebaskan aku!!! Jangaaaan aku mohooon!! Tolong!!! Toloooggg!!!!" teriak gadis itu sambil terus menyilangkan kedua tangannya di dada seperti mempertahankan dirinya.


Yoga langsung mendekapnya dengan mata berkaca-kaca. Tak tega melihat kondisinya yang benar-benar terlihat urakan dan ketakutan.


Bahkan dalam dekapannya, gadis itu masih histeris seraya meronta-ronta ingin membebaskan dirinya.


"Clarissa Saraswati Imanuel!! I'ts me!! Yoga, psikologmu!!" tegas yoga dengan nada satu oktaf lebih tinggi.


Setelah itu ia mengurai dekapannya lalu memegang kedua bahu gadis itu lalu sedikit mengguncangnya.


"Sadarlah!! Kamu aman di sini," kata Yoga merasa iba menatapnya. Setelah itu ia meraih segelas air yang berada di atas lemari nakas lalu memberikan padanya. "Ini ... minumlah dulu lalu tenangkan dirimu," bisik Yoga.


Dengan tangan gemetaran, Clarissa meraih gelas itu lalu meneguknya hingga tandas.


Hening ...


Yoga menghela nafas pelan lalu merapikan rambut panjang gadis itu yang terlihat acak-acakan seperti rambut Mbak Kunti. 😆✌️


Clarissa hanya bergeming sambil menunduk dengan tubuh yang masih gemetaran. Untuk beberapa menit, Yoga memberinya waktu untuk menenangkan dirinya.


Setelah merasa gadis itu mulai terlihat tenang, barulah Yoga duduk di hadapannya sambil memandangi wajahnya dengan lekat.


"Apa kamu mau seperti ini terus? Terus terpuruk dengan bayang-bayang menakutkan itu? Sampai kapan?" cecar Yoga.


"Sampai kapan kamu akan terus menutup dirimu dan terus terjebak dengan rasa trauma itu? Apa kamu nggak ingin sembuh? Apa kamu nggak ingin menikmati keindahan dunia luar lagi bersama orang-orang yang begitu peduli dan perhatian padamu? Katakan padaku!" cecar Yoga lagi sambil menghela nafasnya dengan kasar.


Clarissa menunduk sambil menangis mendengar serentetan pertanyaan dari sang Psikolog.

__ADS_1


"Apa kamu nggak kasian pada orang tuamu yang setiap detik sangat mencemaskan dirimu. Hingga mereka rela menitipmu di sini hanya untuk melihatmu kembali normal?"


"Lalu ... apa peranku sebagai psikolog jika tidak biasa membantumu. Aku merasa gagal di sini."


Tak ada jawaban melainkan hanya suara tangisan gadis itu yang terdengar dengan tubuh yang masih gemetaran.


"Jika kamu merasa berat ingin mengatakan yang sejujurnya karena aku orang asing bagimu, maka anggaplah aku sebagai sahabat atau kakakmu."


"Apapun yang ingin kamu ungkapan silakan ungkapkan agar aku bisa memberikan solusi yang terbaik," kata Yoga seraya menggenggam tangan gadis itu sekaligus menguatkannya.


Perlahan Clarissa mendongak menatap Yoga. Ketulusan pria itu kembali membuat hatinya mulai melunak.


"Baiklah, ini sudah waktunya aku pulang. Tenangkan dirimu serta yakinlah jika kamu pasti bisa melewati semua yang telah kamu alami sebelumnya," kata Yoga lalu melepas genggaman tangannya kemudian melangkah pelan menuju pintu.


.


.


.


.


Malam harinya ...


Di kediaman Genta dan Azzura ... keduanya tampak sedang duduk di ruang santai bersama bi Titin.


Sejak tadi Genta terus menggendong putranya sambil mengajaknya bicara. Sedangkan yang satunya sedang digendong oleh bi Titin.


"Nak Zu, bibi jadi teringat saat Devan masih bayi," celetuk bi Titin lalu tersenyum tipis kemudian memandangi Genta. "Apa kamu masih ingat? Saat itu Nak Genta tak ingin melepaskan Devan dari gendongannya."


Azzura dan Genta langsung terkekeh. "Pasti saat itu, Mas serasa menjadi suami beneran. Ya nggak Mas. Hayoo ngaku?" ledek Zu.


"Kok, kamu tahu sih, Sayang," sahutnya lalu terkekeh sekaligus membenarkan. "Akhirnya jadi suami beneran juga kan. Hingga menghasilkan Fattah Faatih."


"Jika mereka nggak pulang palingan menginap di rumah Galuh. Kamu tahu sendiri kan jika mereka sudah bertemu pasti lupa waktu," kata Genta.


"Iya ya, Mas," balas Zu.


"Nak Zu, biarkan saja. Lagian mereka sudah jarang-jarang bertemu," timpal bi Titin. "Sebaiknya kamu bawa putramu ke kamarnya lagian sejak tadi dia sudah tertidur."


"Iya, Bi."


Setelah meletakkan baby F ke dalam box bayi, Azzura kembali lagi ke lantai satu sambil menemani bi Titin menyiapkan makan malam.


Keduanya sekaligus tampak mengobrol bahkan sesekali tertawa bersama hingga hidangan makan malam siap disajikan dan ditata rapi di atas meja makan.


Tak lama berselang, Genta menghampiri keduanya lalu duduk di kursi yang bersebelahan dengan sang istri.


"Bi, Sayang, yuk kita makan sekarang. Perutku sudah lapar," aku Genta.


Ketiganya pun mulai menyantap hidangan makan malam itu bersama hingga tuntas.


Beberapa menit berlalu ...


Genta memilih ke ruang kerjanya menyelesaikan beberapa laporan kantor sekaligus memeriksa laporan perkembangan yayasan sekolahnya.


Selang satu jam kemudian setelah menyelesaikan semua pekerjaannya, ia menyandarkan punggungnya sejenak sambil memejamkan matanya.


Sedetik kemudian ia meraih sebuah surat dari pengadilan yang dikirimkan ke kantornya tadi pagi.


Ia tersenyum sinis menatap surat surat itu sekaligus merasa geram.


"Ternyata kamu nekat juga ya," gumamnya. "Aku harap kamu nggak kena stroke setelah keputusan pengadilan tetap berpihak padaku."

__ADS_1


Genta kemudian melipat kembali surat itu lalu meletakkannya kembali ke atas meja. Mengingat sosok ayah kandung dari Devan itu, rasanya darahnya langsung mendidih.


Tak lama berselang Azzura membuka pintu sambil membawakannya secangkir kopi hangat.


"Sayang, kenapa kamu repot-repot. Jika bisa, kamu jangan terlalu banyak bergerak dulu. Mas khawatir bekas operasi di perutmu, lama sembuhnya," kata Genta.


Azzura hanya mengulas senyum lalu meletakkan cangkir kopi itu di atas meja.


"Kemarilah," pinta Genta seraya menarik pelan lengannya kemudian membawanya duduk di pangkuannya.


Azzura kembali tersenyum, menangkup wajah suaminya lalu menyatukan Keningnya. Sedetik kemudian ia mengecup singkat bibir tipis suaminya.


"Ada apa, Mas? Sepertinya kamu lagi memikirkan sesuatu," bisik Zu sambil mengelus dada telanjang suaminya.


"Nggak apa-apa, Sayang. Mas ingin saat pelantikan itu, kamu ikut mendampingi Mas. Suatu kebanggaan bagi mas jika kamu ikut hadir di sana," balas Genta.


"Insyaallah, Mas. Itu artinya si kembar juga harus ikut."


"Hmm." Genta mengangguk lalu mengelus pelan bekas sayatan di perut Azzura.


"Mas, diminum kopinya mumpung lagi anget," pinta Zu lalu beranjak dari pangkuan suaminya. Setelah itu ia pun meninggalkan suaminya lalu menuju ke kamar baby Fattah Faatih.


Sepeninggal Azzura, senyum Genta kembali terukir di wajahnya. Ia mengelus bibirnya mengingat kecupan singkat dari istrinya barusan.


"Haaah, perlakuan tiba-tiba nan lembut itu selalu saja membuatku baper meski ia nggak selalu menunjukkannya," gumam Genta. "Jujur saja, aku malah iri dengan anak-anakku yang selalu dinomor satukan. Sedangkan aku ..."


Genta tak melanjutkan kalimatnya melainkan tertawa lucu. Setelah menghabiskan kopinya ia pun merapikan meja kerjanya.


Baru saja ia akan beranjak dari kursi kerjanya, ponselnya bergetar. Saat melihat nama kontak yang memanggil ia langsung menjawab.


"Assalamu'alaikum, Galuh. Apa kamu akan mengantar anak-anak pulang sekarang?" tanyanya to the poin.


"Waa'laikumsalam, Bang. Mereka sudah pada tertidur. Kecapean main," balas Galuh sambil terkekeh.


"Memangnya kalian dari mana saja tadi? Nggak ingat waktu. Azzura sampai khawatir," kesal Genta.


"Kami dari wisata malam, Bang. Besok saja aku mengantar mereka pulang. Lagian anak-anak sudah pada tidur."


"Ya sudah, nggak apa-apa. Sebelum aku berangkat ke kantor besok, Ayya dan Devan harus sudah ada di rumah," ancam Genta.


"Siap!! Pak Genta Pramudya," balas Galuh.


Setelah itu ia memutuskan panggilan.


"Anak ini ... benar-benar ya," gumam Genta sambil geleng-geleng kepala kemudian melanjutkan langkahnya menuju kamar sang putra.


Ketika membuka pintu kamar, alisnya saling bertaut saat mendapati Azzura malah tertidur di kamar itu.


Sebelum membangunkannya, ia lebih dulu mengecup kedua putranya lalu duduk di sisi ranjang kemudian mengelus wajah.


"Sayang," bisiknya beberapa kali. "Yuk pindah ke kamar kita."


Perlahan Azzura menggeliatkan tubuhnya lalu membuka matanya. Ia langsung menanyakan keberadaan Ayya dan Devan.


Genta kemudian menjelaskan jika kedua anaknya menginap di rumah sang paman.


"Bobok di sini saja ya, Mas," usul Zu lalu memeluknya.


"Sempit Sayang," protes Genta seraya mengecup keningnya.


"Sebentar lagi ya kita ke kamar. Aku masih pengen di sini, Mas," bisik Zu.


"Baiklah," bisik Genta balik sambil mengarahkan pandangannya yang sama dengan Azzura ke arah baby F yang sedang tertidur pulas.

__ADS_1


...----------------...


__ADS_2