
Setelah selesai mengganti pakaiannya di ruang ganti, Azzura kembali ke kamar lalu menghampiri meja nakas karena ponselnya bergetar.
Saat menatap kontak yang memanggil, ia langsung menggeser tombol hijau.
"Assalamu'alaikum, Mah, ada apa?" tanya Zu.
"Waa'laikumsalam ... Sayang mama ingin ke hotel sekalian melihat-lihat dekorasi aqiqah baby F. Oh ya, mama sekalian mengajak Ayya dan Devan," kata mama dari seberang telepon.
"Iya, mah. Ya sudah ... mama hati-hati ya," balas Zu.
Setelah itu Azzura memutuskan panggilan telefon lalu bersiap-siap. Sebelum meninggalkan rumah Azzura terlebih dulu ke kamar baby F.
"Sayang, bunda tinggal kalian sebentar ya," bisiknya kemudian mengecup baby F bergantian.
"Bismillah ... Hasbunallah wanikmal wakil nikmal maula wanikman nasir. La Haula Wala Quwwata Illa Billah."
Artinya: Cukuplah bagi kami Allah sebagai penolong dan Dia adalah sebaik-baik pelindung. Tiada daya dan upaya kecuali dengan kekuatan Allah yang Maha Tinggi lagi Maha Agung.
Azzura melafazkan doa itu dengan sekali tarikan nafas. Tekadnya sudah bulat ingin menemui Johan.
Baru saja ia akan melangkah, bi Titin masuk ke kamar.
"Nak Zu ..."
"Bi, aku titip Fattah Faatih sebentar. Stok ASI keduanya sudah aku siapkan dan ada di dalam kulkas. Tinggal di hangatin saja nanti"
Bi Titin mengerutkan keningnya sekaligus mencemaskannya.
"Mau ke mana, Nak?" tanya bi Titin.
"Aku ingin menemui pria bajingan itu, Bi. Biar dia tahu menempatkan posisinya di mana," jawab Zu.
"Tapi, Nak ... kamu masih dalam pemulihan," protes bi Titin.
"Nggak apa-apa, Bi, daripada Devan jatuh ke tangan orang yang salah. Aku nggak mau itu sampai terjadi!" tegas Zu.
Bi Titin membisu sembari menatapnya lekat.
"Jangan khawatir begitu, Bi. Percayalah semua akan baik-baik saja."
Setelah itu, ia kembali berpamitan lalu meninggalkan kamar bayinya.
Sesaat setelah berada di lantai satu, ia ke ruang tamu sambil nunggu taksi online pesanannya. Setelah beberapa menit menunggu, tak lama kemudian terdengar suara klakson mobil dari luar rumah.
.
.
.
.
Sedangkan Genta yang baru saja tiba di markas, merasa perasaannya langsung tak enak. Ia mengelus dadanya pelan.
"Ck ... kenapa aku merasa gelisah begini?" gumamnya sembari melangkah cepat.
Sesaat setelah berada di ruangan kerjanya, ia langsung menghubungi Azzura. Kerutan tipis di kening langsung terbentuk.
Tak biasanya ponsel istrinya itu di luar jangkauan. Ia kembali menghubungi hingga beberapa kali namun hasilnya tetap sama.
"Tumben ponselnya diluar jangkauan?!" gumam Genta lalu beranjak dari tempat duduknya kemudian melanjutkan tugasnya seperti biasa.
Namun tetap saja ada yang janggal dihatinya. Ia tampak memikirkan sesuatu. Saat menyadari jika ia melupakan sesuatu di atas meja kerjanya, matanya langsung membulat.
******
__ADS_1
Satu jam berlalu ...
Setelah menempuh perjalanan selama satu jam lamanya, akhirnya Azzura tiba juga di tempat tujuannya.
Setelah turun dari taksi online itu, ia menarik nafas dalam-dalam demi memenuhi pasokan oksigen ke dalam paru-paru.
Ia menatap lekat gedung berlantai lima milik Claire Group yang ada di hadapannya saat ini.
"Claire Group," sebutnya lalu perlahan mengayunkan langkah menuju pintu otomatis kantor.
Sesaat setelah berada di meja resepsionis dengan senyum ramah ia menyapa resepsionis yang sedang bertugas.
"Selamat pagi menjelang siang, Mbak?"
"Pagi juga, Bu. Ada yang bisa saya bantu?" jawab resepsionis sekaligus bertanya balik.
"Iya, maaf apa saya bisa bertemu dengan pak Johan Claire?" tanya Zu lagi.
"Bisa, Bu, jika boleh tahu apa Ibu sudah melakukan temu janji dengan beliau?"
"Iya, sebelum ke sini saya sudah menghubungi lebih dulu," bohong Zu demi memuluskan niatnya.
Tanpa rasa curiga, resepsionis itu mengangguk pelan tanda mengerti. "Baik, Bu. Ruangan pak Johan ada di lantai lima. Sebenarnya saat ini beliau sedang ada tamu tapi nggak apa-apa, ibu bisa menunggu beliau nantinya di lantai lima."
"Nggak apa-apa, makasih ya," ucap Zu dengan senyum ramah.
Ia kembali melanjutkan langkahnya menuju lift dengan perasaan campur aduk sambil mengepalkan kedua tangannya.
Setelah masuk ke dalam lift, ia memejamkan matanya sejenak sambil menghela nafas pelan. Beberapa menit kemudian elevator itu pun berhenti di lantai lima.
"Ruangannya di mana ya?" gumamnya sesaat setelah keluar dari lift sambil mencari ruangan pria blasteran itu.
Ia terus melangkah pelan hingga langkah kakinya terhenti di depan sebuah pintu dengan papan tanda khusus yaitu CEO.
"Bismillahirrahmanirrahim," ucapnya pelan seraya mengetuk pintu.
Johan dan Close beserta sang asisten yang saat ini sedang membahas masalah pekerjaan seketika menghentikan aktivitasnya sejenak.
"Siapa ya?" tanya Close sambil menatap Johan. "Apa kamu ada tamu lain? Tapi ini baru jam sepuluh," sambung Close lalu menegakkan badannya.
Johan menggelengkan kepalanya. " Nggak ... soalnya agendaku pagi ini hanya bertemu denganmu untuk membahas gambar ini," kata Johan sambil menunjuk sebuah desain gambar resort milik Close yang akan di bangun di kota itu.
Tak lama berselang Azzura memutar handle pintu lalu menyapa mereka dengan wajah datar.
Sontak saja kehadiran Azzura secara mendadak itu membuat Close dan Johan terkejut bukan kepalang sekaligus mematung di tempat.
Ada urusan apa Azzura mendatangi kantor Johan? Sendiri pula.
"Maaf ... apa aku menganggu?" tanya Zu. "Aku minta waktunya sebentar saja ingin berbicara dengan pak Johan Claire," sambung Zu lalu menatap menghunus pada Johan.
Untuk sejenak mereka terpaku menatap Zu yang sedang berdiri di dekat pintu. Wanita berhijab itu masih menatap ke-empatnya bergantian.
"Maaf ... kenapa kalian bengong?" tanya Zu.
Sadar jika mereka masih menatapnya, akhirnya Johan memberi kode supaya mereka meninggalkan ruangan itu.
Sebelum meninggalkan ruangan itu, Close menghampirinya seraya menatap lekat dirinya lalu bertanya, "Zu, apa kamu sudah melahirkan?"
"Iya, seminggu yang lalu lewat operasi caesar setelah pulang dari mall itu," jawab Zu apa adanya.
"Selamat ya, Zu, apa jenis kelaminnya?"
"Cowok, mereka kembar. Oh ya, besok datanglah ke Hotel Clarion karena kami menggelar aqiqah di sana. Aku mengundangmu langsung karena kita kebetulan bertemu di sini," balas Zu dengan seulas senyum.
"Baiklah, aku pasti akan datang."
__ADS_1
Setelah itu Close kembali melanjutkan langkahnya meninggalkan ruangan itu.
Kini yang tinggal di ruangan kerja itu, hanya Azzura dan Johan. Mendapat tatapan tak biasa dari istri Genta, ia seolah salah tingkah sekaligus gugup.
"Apa kita bisa bicara sebentar?"
Ucapan yang terlontar dari bibir Azzura semakin menciptakan ruangan itu seolah mencekam.
"Ya, tentu saja," sahut Johan sambil mengelus tengkuknya lalu mempersilahkan Azzura duduk di sofa.
Ia pun memindahkan desain gambar resort ke meja kerjanya lalu kembali menghampiri sofa. Sesaat setelah mendaratkan bokongnya di sofa empuk itu ia memandangi wajah Azzura dengan lekat.
Azzura mengeluarkan amplop berlambang khusus lalu meletakkan di atas meja lalu mendorong ke arah Johan.
"Apa maksud dari isi surat itu? Bisa jelaskan?" tanya Zu to the poin dengan nada dingin.
Kerutan tipis tampak di kening Johan. Ia langsung merasa gugup. Apalagi tatapan menghunus dari Azzura membuatnya.seolah tak berkutik.
Melihat Johan hanya diam, Azzura tersenyum sini merasa geram.
"Pak Johan Claire, apa Anda sadar dengan apa yanga Anda lakukan? Apakah Anda pantas mengajukan gugatan hak asuh itu? Apa Anda masih waras?" Azzura mencecarnya tanpa henti.
"A-aku ..."
"Aku kenapa ...?" geram Zu.
"Kenapa baru sekarang kamu ingin mengakui jika Devan adalah putramu, hah?! Lalu di mana dirimu saat ia masih berada di dalam kandungan ibunya?!!" hardik Zu dengan tangan terkepal.
"Apa kamu tahu perjuangan Nina mengandungnya selama sembilan bulan tanpa seorang suami di sisinya?! Bahkan dia sanggup mengabaikan penyakitnya dengan segala resiko yang sudah menantinya demi mempertahankan Devan lahir ke dunia."
Johan tertunduk lesu, lidahnya keluh tak bisa berkata-kata untuk membalas ucapan Azzura.
"Apa kamu tahu ... peran seorang suami begitu penting bagi seorang istri yang sedang mengandung? Harusnya ia mendapat perhatian, kasih sayang serta kata-kata semangat demi menjaga moodnya yang kadang turun naik. Tapi semuanya itu nggak Nina dapatkan darimu."
Ungkapan itu membuat Johan semakin terpuruk dengan kepala yang masih menunduk. Matanya mulai berkaca-kaca. Dadanya mulai sesak.
"Jangankan perhatian kecil, kasih sayang, kata-kata semangat ... kamu bahkan nggak pernah menghubunginya walau hanya sekedar menanyakan kabar Devan yang masih dikandungnya saat itu."
"Namun Nina nggak pernah sedikitpun mengeluh atau berkecil hati. Yang ia pikirkan hanyalah ingin bayinya lahir dengan selamat dan sehat."
"Apa kamu tahu? Pasca Nina selesai operasi? Saat itu aku dan mas Genta masih berharap kehadiranmu untuk melihat Nina. Memberi kecupan padanya atau sekedar memberi selamat karena telah melahirkan buah cinta kalian. Berharap kamu datang dan menggendong Devan dan memberikan kecupan pertamamu sebagai seorang ayah. Namun ...."
Azzura tak melanjutkan kalimatnya karena tangisnya langsung pecah saat membayangkan wajah pucat Nina di penghujung nafasnya.
"Bahkan di penghujung nafas Nina, kamu sama sekali tak memperlihatkan batang hidungmu. Apa kamu tahu kalimat terakhir yang terucap darinya? JANGAN BIARKAN DEVAN JATUH KE TANGAN AYAHNYA ATAUPUN KELUARGANYA. AKU NGGAK AKAN PERNAH RELA ATAUPUN IKHLAS!!" tegas Zu menekan kalimat itu.
Mendengar kalimat itu, seketika Johan mendongak lalu menatapnya.
"Maafkan aku ..." ucap Johan dengan lirih
"Maafmu sudah terlambat. Harusnya kata maaf itu kamu ucapkan empat tahun yang lalu pada Nina sebelum ia menghembuskan nafas terakhirnya."
Azzura menyeka air matanya yang sejak tadi mengalir di pipi.
"Izinkan aku menebus semua kesalahanku pada Nina lewat putraku. Izinkan aku untuk mengasuhnya," mohon Johan dengan suara tercekat.
"Pria pecundang, bajingan dan brengsek sepertimu hanya akan merusak dirinya. Meskipun hak asuh itu jatuh padamu. Apa kamu bisa menjamin jika Devan nggak akan membencimu setelah tahu seperti apa ayahnya yang sebenarnya? Pikirkan itu?" ucap Zu dengan sinis lalu beranjak dari sofa.
Johan ikut berdiri lalu menahan lengan Azzura dengan cepat saat ia akan melangkah. Namun Azzura menepisnya lalu memutar badannya.
"Sejak bayi Devan sudah aku didik dengan baik. Sekalipun aku dan mas Genta nggak pernah meracuni ataupun mencuci otaknya dengan ujaran kebencian."
"Saat ia sudah tumbuh dewasa, dia pasti akan mencari tahu sendiri seperti apa sosok ayahnya yang sebenarnya. Karena yang Devan tahu ayahnya hanya mas Genta dan dia juga tahu jika dia memiliki dua ibu, AKU dan NINA," tekan Zu.
"Kita akan lihat, seperti apa proses sidang di pengadilan nanti. Aku berharap kamu nggak akan mempermalukan dirimu sendiri atas gugatan ini," sinis Zu lalu berlalu meninggalkan ruangan itu.
__ADS_1
...----------------...