Retaknya Sebuah Kaca

Retaknya Sebuah Kaca
129. Sepertinya kamu harus hati-hati padanya ...


__ADS_3

Setelah menempuh perjalanan selama kurang lebih dua jam lamanya, akhirnya Johan tiba juga di daerah M.


Ia pun mengarahkan kendaraannya itu menuju kediaman Genta. Setibanya di kediaman itu, ia perlahan menghampiri pagar rumah itu.


Seketika alisnya langsung bertaut saat mendapati kendaraan Genta terparkir rapi di garasi mobil.


"Kok, sepi ya?" gumamnya sembari memperhatikan keadaan rumah itu.


Sedetik kemudian, ia terlonjak kaget saat punggungnya ditepuk seseorang. Ia pun berbalik sambil mengelus dadanya.


"Sedang apa, Bapak di sini?" tanya seorang ibu-ibu padanya.


"Maaf, jika boleh tahu, apa pemilik rumah ini ada di dalam?" tanyanya.


"Maksudnya pak Genta dan keluarganya?" Ibu itu bertanya balik.


"Iya benar, Bu."


"Jika nggak salah, mereka sudah berangkat ke kota J kemarin, Pak. Setahu saya, pak Genta ada acara khusus sekaligus mengajak anak dan istrinya berlibur," jelas ibu itu.


"Boleh aku tahu, mereka berlibur di mana?"


"Kalau masalah itu, saya kurang tahu, Pak."


Johan mengangguk mengerti dengan perasaan kecewa.


"Ya sudah, makasih ya, Bu," ucap Johan.


Ia pun menghampiri mobilnya dengan perasaan hampa dan kecewa. Niat hati ingin bertemu dengan putranya namun apalah daya keinginannya itu harus pupus.


Tadinya ia sekaligus ingin memperbaiki hubungan pertemanannya dengan Genta namun lagi-lagi ekspektasinya tak sesuai dengan harapan.


Ia pun meninggalkan tempat itu lalu memilih kembali ke kota M.


.


.


.


.


"Assalamu'alaikum ... " ucap Zu dan Genta bergantian lalu membuka pintu utama.


"Waa'laikumsalam ..." jawab bi Titin yang sedang menemani Ayya dan Devan di ruang tamu.


"Bunda, Ayah." Ayya dan Devan memanggil kedua-nya.


Azzura dan Genta langsung menghampiri keduanya lalu duduk di sofa.


"Sayang, kalian sedang apa?" tanya Zu lalu mengelus kepala Devan dan Ayya.


"Main bunda," kata Devan sambil menyusun permainan legonya membentuk sebuah bangunan.


"Tak bisa dipungkiri, bakat alami dari Johan turun ke Devan. Sepertinya putraku ini memiliki otak yang cerdas dan bijaksana," batin Genta sembari mengelus kepala putranya.


"Dev," sebut Genta.


"Iya, Ayah," sahut Devan lalu menghentikan aktivitasnya sejenak.


Ia bangkit berdiri lalu menghadap ke Genta. Tangan mungilnya kembali menyentuh atribut yang menempel di seragam dinasnya.


Genta langsung membawanya duduk di pangkuannya kemudian memeluknya.


"Sayang, saat kamu tumbuh dewasa kelak, semoga kamu menjadi pria yang bertanggung jawab pada pasanganmu. Jangan seperti ayahmu. Meski ayah, bukanlah ayah kandungmu tapi kasih sayang ayah padamu kak Ayya dan dedek Fattah Faatih tetap sama. Kalian adalah anak-anak kebanggaan ayah dan bunda," batin Genta dengan mata yang kini sudah berkaca-kaca.


"Mas ..." Azzura mengelus pundaknya. "Aku ke kamar dulu ya, Mas," pamit Zu dan dijawab dengan anggukan.


Saat Azzura beranjak dari sofa lalu akan menapaki anak tangga, ia mendapati sus Mimi yang masih berada di atas tangga sedang memperhatikan mereka.


"Sus Mimi?!" tegur Zu sambil geleng-geleng kepala.


Sus Mimi langsung gelagapan lalu cepat-cepat menuruni anak tangga.

__ADS_1


"Maaf Bu, saya ..."


"Nggak apa-apa, Sus," balas Zu lalu melanjutkan langkahnya menuju kamar utama. Sesaat setelah berada di kamar, ia langsung ke kamar mandi membersihkan dirinya.


Beberapa menit kemudian setelah mengganti pakaiannya, ia sedikit meringis karena merasa *********** sedikit mengeras. Bahkan ASI-nya mulai tumpah.


Ia memilih ke kamar baby F lalu menghampiri box bayinya. Ia langsung tersenyum saat memandangi keduanya yang sedang bergerak gelisah.


"Pasti sudah haus ya, Sayang," bisik Zu lalu mengecup keduanya bergantian.


Ia meraih Faatih terlebih dahulu lalu memberinya ASI. Saking derasnya ASI Azzura, baby Faatih sedikit kewalahan menyedot sumbernya.


Setelah Faatih, kini giliran Fattah yang menyedot susu dari sumbernya langsung. Setelah merasa baby Fattah sudah kenyang, Azzura masih betah menggendong putranya itu.


Ia menatap lekat wajah bayinya itu. "Kalian ini mirip banget sama ayah," kata Zu lalu terkekeh.


"Ya jelaslah mirip, cetakan ada di sini," sahut Genta tiba-tiba.


Sontak saja kehadirannya yang tiba-tiba membuat Azzura kaget.


"Sejak kapan, Mas di situ," protesnya.


"Baru saja kok," jawab Genta dengan santainya.


Hening sejenak ...


Azzura kembali membaringkan Fattah di samping Faatih. Setelah itu, ia memeluk Genta lalu membenamkan wajahnya di dada bidang nan liatnya.


Mengendus lehernya sembari semakin mendekap erat. Ia seolah merasa candu pada tubuh tegap nan liat suaminya itu.


Namun saat Genta menggoda lalu menggerayangi tubuhnya, ia selalu sigap menghindar.


Tingkahnya itu selalu membuat sang suami merasa gemas. Tanpa keduanya sadari, sejak tadi sus mimi terus memandangi keduanya.


Sebelumnya ... maksud hati ingin memberi susu pada baby F, di kamar itu. Namun ia urungkan saat mendapati keduanya sedang berpelukan dengan mesra. Bahkan saat ini Genta sedang mendaratkan ciuman di bibir istrinya.


Karena merasa tak enak, akhirnya ia mengetuk pintu.


"Maaf, Pak, Bu, saya ingin memberi susu pada baby Faatih Fattah," kata sus Mimi sedikit salah tingkah saat melirik Genta yang hanya bertelanjang dada.


"Nggak usah, Sus, tadi keduanya sudah aku berikan ASI," balas Zu dengan seulas senyum. "Ya sudah, kami tinggal keduanya dulu ya."


"Baik, Bu."


Azzura dan Genta kemudian meninggalkan kamar itu lalu ke kamarnya. Begitu berada di kamar, Azzura langsung merebahkan tubuhnya di atas ranjang sambil menatap langit-langit.


"Mas, jangan ganggu aku ya. Aku pengen tidur sebentar saja. Rasanya aku lelah banget," peringat Zu lalu perlahan memejamkan matanya.


"Istirahatlah. Mas ingin turun ke bawah sekaligus mau menemani Ayya dan Devan. Tapi ..."


Genta menjeda kalimatnya lalu mengungkungnya dengan senyum penuh arti. Melihat gelagat mencurigakan dari suaminya, Azzura menahan dadanya.


"Jangan mulai deh, Mas. Ingat perutku belum sembuh," elaknya sambil menahan dada Genta.


"One kiss, please," bisik Genta sembari mengelus bibir tipis istrinya.


"Ntar Mas kebablasan," tolak Zu.


"Please ..." bujuk Genta.


Mau tak mau Azzura menciumnya. Dan benar saja, Genta semakin menuntut bahkan tangannya kini tak tinggal diam.


"Mas!" bisik Zu sesaat setelah melepaskan tautan bibirnya. "Tuh kan, aku bilang apa?" kata Zu lalu terkekeh. "Jika sudah begini siapa yang salah?"


Genta mengecup keningnya kemudian merebahkan tubuhnya di samping Azzura. Meremas miliknya yang kini menegang sempurna.


Akkhh ... rasanya aku sudah nggak kuat. Hadeeuuh kapan aku bisa menyentuhnya? Sepertinya aku harus bertanya pada bunda Fahira mengenai hal ini.


Genta meliriknya lalu membawanya masuk ke dalam pelukannya seraya berbisik, tidur. Soalnya nanti sore kita akan ke rumah paman Pras.


Tak ada jawaban melainkan sebuah anggukan kecil dari Azzura. Selang beberapa menit kemudian, suara dengkuran halus mulai terdengar.


Perlahan Genta memperbaiki posisi tidur sang istri. Setelah itu ia pun meninggalkan kamar lalu turun ke lantai satu.

__ADS_1


"Nonton apa sih?! tanya Genta sesaat setelah berada di ruang santai.


"Nonton, Ayah," sahut Ayya dan Devan serentak.


"Ya sudah kita nonton bareng ya," cetus Genta lalu berbaring dengan santainya di samping sang putri.


**********


Ba'da magrib ...


Setelah melaksanakan shalat magrib berjamaah, Genta mengajak mereka semua ke kediaman Pak Prasetya.


setibanya di kediaman pak Prasetya, bunda Fahira langsung menghampirinya. Tak lama berselang Nanda menyusul dari belakang.


"Zu!!" pekik Nanda lalu memeluknya dengan erat. "Tega banget kamu nggak undang-undang saat si kembar di aqiqah.


"Bukan nggak mau undang Nanda, tapi acaranya sederhana saja. Aku nggak mengundang banyak tamu. Hanya anak-anak yatim saja," jelas Zu lalu melepas pelukannya. "Apa kamu bareng Radit? Lalu kak Aida?"


"Mereka ada di dalam. Yuk masuk," ajak Nanda sambil menggandeng lengan sahabatnya.


Sesaat setelah berada di ruang tamu, ekor mata Nanda tak sengaja terarah ke sus Mimi.


"Zu, siapa dia?!" tanya Nanda.


"Itu sus Mimi, baby sitter baby F," jelas Zu.


Entah mengapa Nanda seolah tak menyukai gadis itu. Entahlah apa itu perasaan saja atau sebaliknya.


"Zu, sepertinya kamu harus hati-hati padanya. Coba deh perhatiin tatapannya pada suamimu."


Nanda mengarahkan dagunya ke arah yang di maksud. Namun Azzura seolah tak ambil pusing. Toh pikirnya tak mungkin juga suaminya tertarik.


Sedetik kemudian Azzura terkekeh. " Sekalipun dia menggoda suamiku, itu sama saja dia akan mempermalukan dirinya sendiri."


"Benar juga sih," sahut Nanda. Keduanya ikut bergabung di ruang tamu sambil mengobrol-ngobrol.


Kehadiran Genta dan Azzura beserta anak-anaknya seketika menciptakan kehangatan di keluarga itu. Tak henti-hentinya mereka bercanda dan saling menggoda.


Dalam diam, pak Prasetya sesekali mencuri pandang pada Azzura. Entahlah perasaannya pada wanita yang kini berstatus sebagai istri dari Genta itu seakan sulit menghilang begitu saja.


"Pras, sepertinya kamu sudah nggak waras. Ayolah ... lupakan saja dia," gumam pak Prasetya dalam hati mengingat kan dirinya sendiri.


Setelah puas mengobrol dan saling bercengkrama, mereka lanjut dengan makan malam.


Setelah beberapa jam lamanya berada di rumah rumah pak Prasetya, akhirnya Azzura dan Genta berpamitan.


Meski bunda Fahira merasa belum puas bermain dengan baby F, mau tak mau ia hanya bisa pasrah.


"Bun, jangan sedih begitu. Insyaallah ... kami akan mampir lagi nanti setelah pulang dari pulau B," kata Zu sambil memeluknya.


"Janji ya, awas kalau bohong," ancamnya sekaligus bercanda.


"Janji, Bun."


"Ya sudah, kalian hati-hati ya," pesan bunda lalu melambaikan tangannya.


Sepeninggal Azzura, Genta dan anak-anaknya, seketika rumah itu langsung sepi. Sesaat setelah duduk di sofa, bunda Fahira kembali tersenyum mengingat wajah tampan putra Azzura dan Genta.


"Ada apa sih, Bun? Kelihatannya bahagia banget?" tegur sang suami.


"Bunda masih terbayang-bayang wajah tampan si kembar, Yah. Nggak nyangka banget jika Azzura bakal punya anak kembar. Alhamdulillah ... bunda lihat dia terlihat sangat bahagia bersama Genta," kata bunda Fahira.


Pak Prasetya hanya mengangguk pelan sekaligus membenarkan ucapan sang istri.


Tak lama berselang, Nanda dan Radit ikut berpamitan.


"Bun, ayah, kami juga pamit. Lagian Dita udah ngantuk," kata Radit.


"Baiklah ...kalian ini ... giliran ada Azzura saja baru ke sini," gerutu bunda Fahira.


Nanda dan Radit hanya terkekeh mendengar gerutuan bunda Fahira. Setelah itu keduanya pun menghampiri mobilnya.


...----------------...

__ADS_1


__ADS_2