Retaknya Sebuah Kaca

Retaknya Sebuah Kaca
105. Dua garis merah ...


__ADS_3

Hening sejenak ...


Bahkan Azzura begitu nyaman duduk di pangkuan suaminya sambil memeluknya. Menghirup aroma tubuhnya dalam-dalam.


"Sayang, apa kamu ingin seperti ini terus?" goda Genta dengan senyum penuh arti.


"Sebentar lagi, Mas," bisiknya dengan manja seolah tak ingin melepas dekapannya.


"Sepertinya bawaan orok. Jika hari-hari sebelumnya, mana mau dia bermanja-manja begini. Nikmati saja Genta, kapan lagi dapat kesempatan emas seperti ini," batin Genta sambil senyam senyum.


Setelah merasa puas barulah Azzura beranjak dari pangkuan suaminya. Membantunya melepas kancing bajunya lalu memintanya membersihkan diri.


"Sudah sholat, Mas? Soalnya ini sudah hampir jam tiga sore?"


"Sudah, di kantor tadi sebelum keliling mencarikanmu martabak manis," balas Genta dengan gemas.


"Maaf," ucap Zu lagi seraya melingkarkan kedua tangannya ke pinggang suaminya.


"Nggak apa-apa, Sayang," balas Genta lalu mengecup keningnya. "Mas mandi dulu ya."


Azzura hanya mengangguk. Ia pun ke ruang ganti lalu menggantung baju suaminya kemudian menyiapkan baju rumahan.


Setelah itu, ia pun turun ke lantai satu lalu bergabung kembali di ruang santai. Saat mendaratkan bokongnya di samping bu Nadirah, ia kembali meringis sembari memijat keningnya.


"Sayang, kamu kenapa, Nak?"


"Kepalaku sakit, Mah," ucapnya lirih lalu memegang perutnya yang tiba-tiba saja seperti diaduk.


Tak bisa lagi menahan, ia langsung berlari kecil ke arah wastafel dapur lalu memuntahkan semua isi perutnya.


Tak lama berselang, bu Nadirah menghampirinya lalu memijat pelan tengkuknya dengan senyum tipis.


"Sayang, apa kamu baik-baik saja?"


"Sejak pagi kepalaku sakit disertai mual, Mah. Aku sempat minum obat, agak mendingan tapi cuma sebentar. Ini mulai kumat lagi. Nggak enak banget rasanya," jelasnya lalu kembali memuntahkan isi perutnya.


Sepertinya aku bakal punya cucu lagi dari Genta. Alhamdulillah. Mudah-mudahan saja ini kabar bahagia.


"Mah." Azzura menyandarkan kepalanya di pundak mertuanya.


"Sayang, apa tamu bulananmu lancar bulan ini?" bisik mama sembari mengelus punggungnya.


"Sebenarnya sudah telat seminggu, Mah. Tapi itu biasa terjadi," jawab Zu dengan lirih.


"Sebaiknya kamu periksa saja nanti ya," usul mama.


"Mas Genta sudah ngomong tadi, Mah."


Setelah merasa agak enakkan, keduanya kembali ke ruang santai.


.


.


.


.


Kota A ...

__ADS_1


Di salah satu restoran, Yoga dan Daffa tampak masih betah berada di tempat itu sambil mengobrol santai.


Setelah lima bulan berlalu, ia kini tampak fokus dengan pekerjaannya. Menyibukkan diri demi melupakan Azzura.


Setidaknya ada Daffa yang selalu memberinya semangat. Kisah asmara keduanya pun hampir sama.


Sedang asyik-asyiknya mengobrol berdua, seseorang menyapa Daffa sembari memegang tangan seorang bocah cilik.


"Kak Daffa, sudah lama di sini?" tanya Syakila.


"Ah, Sya, berdua saja dengan si cantik ini?" sahutnya lalu berjongkok kemudian menggendong bocah itu dengan gemas.


"Iya, kak Kiya masih ada sedikit urusan. Jadi dia nitip Zana padaku sebentar," kata Sya lalu ikut duduk di salah satu kursi yang kosong.


"Oh ya, Sya, kenalin ini sepupuku, Yoga," kata Daffa.


Sya mengulas senyum lalu mengulurkan tangannya pada Yoga seraya berkata, "Syakila."


"Yoga," jawab Yoga lalu menyambut jabatan tangan gadis itu.


"Oh ya, Yoga. Sya ini sepupunya Kiya sekaligus bundanya Zana," jelas Daffa.


Seketika alis Yoga langsung bertaut sekaligus tampak berpikir mengingat nama itu.


"Kiya? Maksud kak Daffa, kak Kiya mantan istrinya kak Faz?" cecar Yoga.


"Hmm."


Yoga terkekeh lalu menepuk pundak sepupunya kemudian berbisik, "Jangan bilang Kak Daffa lagi ngincar kak Kiya. Secara dia kan sudah janda."


"Bukan ngincar tapi nggak lama lagi bakal jadi istri," bisik Daffa balik lalu terkekeh.


Mendengar jawaban sepupunya itu, Yoga mendengus kesal lalu mencubit pipi tembam Zana. Sedetik kemudian ia melirik Syakila.


"Iya bener," jawab Sya singkat.


"Yoga, dia spesialis kandungan," timpal Daffa.


Yoga hanya mengangguk pelan dan sesekali meliriknya yang tampak fokus dengan ponselnya.


"Sepertinya dia nggak baik-baik saja. Sejak tadi wajahnya tampak memerah menahan amarah. Tapi kenapa ya?" batin Yoga sedikit kepo. 😅✌️


Sedetik kemudian gadis itu menarik nafas dalam-dalam sambil memejamkan matanya.


"Sya, apa kamu baik-baik saja," tanya Daffa.


"Iya, Kak," jawabnya dengan pandangan kosong.


"Kenapa aku seperti melihat Azzura dalam dirinya. Ah, Yoga, apa yang sedang kamu pikirkan."


Yoga menepuk jidatnya sembari menggelengkan kepalanya kemudian lanjut meneguk kopinya.


.


.


.


Kembali ke Kota M ...

__ADS_1


Beberapa jam berlalu tepatnya pukul lima sore, Genta mengajak Azzura ke praktek dokter kandungan.


Sedangan kedua anaknya dan bi Titin diajak jalan-jalan oleh kedua orang tuanya.


Sesaat setelah tiba di tempat praktek, keduanya harus ngantri terlebih dulu. Sejak dari rumah, senyum Genta terus terukir di wajahnya.


Ia terus menggenggam jemari istrinya dengan perasaan bahagia hingga membuat Azzura sedikit salah tingkah dengan sikapnya.


"Mas, kenapa sih? Kok sejak tadi senyam senyum terus?" cecar Zu lalu terkekeh.


"Firasat mas mengatakan, sebentar lagi kita akan mendapat kabar bahagia, Sayang," bisik Genta lalu mengecup punggung tangan istrinya.


"Aamiin," jawab Zu meng-amini ucapan suaminya.


Meski ia tidak yakin karena sebelumnya ia juga sering telat namun hasilnya nihil.


Setelah hampir lima belas menit menunggu, akhirnya giliran mereka tiba juga. Saat keduanya masuk ke ruangan praktek itu, sang dokter langsung menyapa keduanya dengan ramah.


"Bang Genta, Kak Zu, ayo masuk," kata dokter Nora yang tak lain adalah sepupu Genta.


"Wah ... Kak, apa Bang Genta sudah berhasil bercocok tanam?" kelakar Nora lalu terkekeh.


Azzura hanya geleng-geleng kepala mendapatkan pertanyaan konyol dari sepupu suaminya itu.


"Kalau aku berhasil, kamu mau kasih apa, hmm," tantang Genta dengan senyum smirk.


"Mau ngasih apa? Ya ucapan selamat lah, Bang," sahut Nora. "Sudah ah, ganggu orang mau periksa saja."


Nora pun bertanya tentang keluhan iparnya itu. Setelah itu ia memberikan Azzura sebuah tespek untuk memastikan jika dirinya positif hamil.


Sesaat setelah berada di toilet, Azzura menampung sedikit air seninya lalu mencelup tespek itu sembari menunggu beberapa detik.


Dengan harap-harap cemas ia menunggu hasilnya. Ia sangat berharap jika kali ini ia benar-benar positif.


Setelah satu menit barulah ia, mengambil tespek itu sambil memejamkan matanya. "Bismillahirrahmanirrahim," ucapnya lirih.


Perlahan ia membuka matanya lalu menatap hasilnya. Seketika air matanya langsung menganak sungai.


Bahagia ...


Bersyukur ...


Terharu ...


Tiga kata itulah yang kini menggambarkan tentang dirinya. Setelah keluar dari toilet itu, ia menghampiri suaminya lalu memeluknya dengan erat sambil menangis.


Pikir Genta, Azzura menangis karena hasilnya membuatnya kecewa. Namun setelah mengambil tespek itu dari tangannya, ia langsung tersenyum.


"Dua garis merah, Alhamdulillah, Sayang, selamat ya," bisik Genta sembari mengelus punggung istrinya dengan sayang.


"Selamat ya, Kak Zu, Bang Genta. Akhirnya tokcer juga Abang ku ini," ledek Nora. "Yuk kita USG dulu."


Ketiganya menghampiri bed pasien. Setelah berbaring, Genta membantu menyingkap baju istrinya.


"Kita periksa dulu ya," kata Nora lalu mulai menempelkan alat itu di perut rata Azzura. Ketiganya sama-sama menatap layar monitor.


"Bang, sepertinya kalian bakal punya anak kembar. Lihat deh, ini embrionya ada dua," kata Nora sembari menunjuk layar USG itu dengan senyum sembringah. "Selamat Ya, Kak. MasyaAllah."


Tak ada kata yang bisa Azzura dan Genta ucapkan melainkan ucapan kata syukur serta rasa bahagia yang tak terhingga.

__ADS_1


"Alhamdulillah ... Sayang, kita bakal memiliki bayi kembar," ucap Genta lirih lalu mengecup lama kening istrinya dengan perasaan bahagia sekaligus terharu.


...----------------...


__ADS_2