Retaknya Sebuah Kaca

Retaknya Sebuah Kaca
Bab 72 : Kekhawatiran Genta ...


__ADS_3

Setelah memastikan mobil Genta benar-benar sudah menghilang dari pandangan matanya, pria itu kembali melanjutkan langkahnya menghampiri pusara Nina.


Ia berjongkok lalu mengelus batu nisan Nina lalu menatap taburan kembang yang masih segar dan sedikit basah.


"Nina," lirih pria itu yang tak lain adalah ex suami Nina sekaligus ayah kandung Devan. "Maafkan aku," ucapnya. "Maafkan aku telah menyia-nyiakan dirimu dan putra kita," ucapnya lagi sambil menangis.


Ingin rasanya ia memeluk putranya walau sejenak, namun ia tak berani karena takut pada Genta.


Bukan tanpa alasan selain sahabat ex istrinya, Nina juga sudah Genta anggap seperti adiknya sendiri. Ia sampai beberapa kali mengancamnya jika berani menyakiti Nina.


Johan Claire, itulah nama pria itu. Berprofesi sebagai CEO sekaligus arsitek, di Claire Group.


"Bagaimana caranya agar aku bisa bertemu dengan putraku? Lalu ada hubungan apa Genta dengan gadis itu?"


Ia bertanya-tanya sekaligus memikirkan cara untuk mendekati putra kandungnya.


Sementara itu, Genta yang saat ini sedang menyetir sesekali melirik Azzura. Entah mengapa perasaannya langsung tidak enak memikirkan gadis itu dan putranya.


Beberapa jam sebelum nyekar makam ....


Saat sedang menggendong Devan dan sedang memperhatikan Azzura membantu karyawan toko, ia tak sengaja melihat seseorang yang mencurigakan.


Mengenakan hodie dan sesekali mengintip dari balik kaca toko. Karena penasaran Genta memutuskan keluar dari toko sambil menggendong Devan.


Ia pun mencari keberadaan pria itu yang tak asing baginya.


"Sepertinya itu Johan. Mau apa dia?" desis Genta sambil terus melangkah mencari keberadaan pria blasteran itu.


"Jangan harap kamu bisa menyentuh Devan atau mengambilnya dariku," geram Genta setelah tak menemukan jejak pria itu. "Setelah meninggalkan Nina dalam keadaan hamil sampai ia melahirkan dan akhirnya menghembuskan nafas terakhir ...."


Ucapan Genta terhenti lalu semakin mendekap erat Devan dengan mata berkaca-kaca. Seketika ia mengenang sahabatnya itu ketika ia dan Azzura menemaninya melahirkan.


Bahkan saat wanita itu menjalani cuci darah dan akhirnya menitip Devan pada Azzura dan dirinya.


"Jika sampai aku mendapatimu, aku nggak akan memberi ampun," gumamnya lalu kembali masuk ke toko kue itu.


Sedangkan Johan yang sedang bersembunyi tak berani menampakkan dirinya dan memilih kembali ke mobilnya yang ia parkir di sebelah jalan.


Ia terus mengamati toko kue itu dari kejauhan hingga Genta dan Azzura tampak meninggalkan toko kue. Tak ingin menyia-nyiakan kesempatan Johan terus membuntuti mobil Genta hingga ke TPU.


Sayangnya, saat mereka akan meninggalkan TPU itu, Genta tak sengaja melihatnya dan pura-pura tak tahu.


"Sepertinya aku harus mencari tempat tinggal yang baru untuk Azzura. Aku nggak sudi jika pria brengsek itu dekat-dekat dengan Devan meski ia ayah kandungnya."


Genta menggerutu kesal dalam batinnya.


Back to real ....


"Mas," tegur Zu sekaligus membuyarkan lamunan Genta.


"Ya ... ada apa?" sahutnya dengan perasaan getir.


"Fokus nyetirnya," peringat Zu.


"Maaf," ucapnya.

__ADS_1


Setelah mengendarai selama empat puluh lima menit, akhirnya mereka tiba juga di kediaman Nina yang kini ditempati Azzura bersama Devan dan ART kepercayaan almarhum yaitu bi Titin.


"Kita sudah sampai Sayang," kata Zu. "Yuk ..." ajaknya lalu membuka pintu mobil lalu turun. "Sayang ... Mas, kalian pulang nanti saja setelah habis magrib," cetus Zu.


"Baiklah," balas Genta sambil mengangguk.


Sesaat setelah membuka pintu, keempatnya memberi salam lalu masuk ke dalam rumah.


"Nak Zu, Genta, Ayya, Dev, kalian sudah pulang?" tanya bi Titi setelah menjawab salam mereka.


"Iya, Bi. Maaf kami sedikit kesorean soalnya tadi sekalian nyekar makam Nina, Bi," jelas Zu dengan seulas senyum.


Bi Titin langsung mengelus punggungnya lalu meraih Devan dari gendongannya. Ia sekaligus merasa kagum dengan kebaikan dan kerendahan hati gadis itu.


"Ya sudah, sebaiknya kalian bersih-bersih gih. Sebentar lagi magrib. Devan biar sama bibi saja," kata bi Titin.


Azzura hanya mengangguk lalu mengajak Ayya ke kamarnya sekaligus membersihkan diri dan berganti pakaian.


Sedangkan Genta ke kamar tamu. Bi Titin membawa Devan ke kamarnya lalu memandikan pria cilik itu yang sudah ia anggap seperti cucunya sendiri.


Setelah selesai, kini mereka tampak sedang duduk di ruang santai sambil menunggu azan magrib.


Senyum Genta terus terbentuk menatap Azzura, Ayya dan Devan. Gadis itu tak henti-hentinya membuat kedua bocah itu tertawa cekikikan.


Ia serasa menyaksikan istri dan anaknya sedang bercanda.


Aku ingin pemandangan seperti ini nantinya. Setiap aku pulang tugas, suara canda tawa mereka memenuhi seisi ruangan rumah.


Genta membatin dan terus menatap ketiganya hingga tak lama berselang, suara azan pun mulai berkumandang.


Sesaat setelah azan selesai berkumandang, Azzura mengajak mereka melaksanakan shalat magrib.


"Mas ... kita shalat bareng saja ya," cetus Zu. "Jadi imam buat kami," sambung Zu dengan seulas senyum.


"Baiklah," sahut Genta.


Setelah itu Azzura sekalian mengajak bi Titin.


Lagi-lagi hati Genta menghangat dengan ajakan gadis itu yang menginginkan ia menjadi imam. Sudut bibirnya kembali membentuk sebuah lengkungan.


Setelah ini aku akan benar-benar menjadi imammu dan kamu makmumku.


Ia membatin lalu ke kamar mandi untuk berwudhu. Selang beberapa menit kemudian Azzura kembali ke ruang santai sambil membawa sejadah lalu membentangnya dengan rapi.


"Yuk kita mulai shalatnya," ajak Zu sambil merapikan mukenah Ayya lalu memakaikan Devan kopiah. "Ikuti gerakan ayah Genta ya," pesan Zu dan dijawab dengan anggukan kepala keduanya.


"Yuk, sudah siap kan semuanya," timpal Genta.


Setelah itu ia mulai memimpin shalat dengan khusyuk dan di ikuti oleh mereka di belakangnya hingga selesai dan di lanjutkan dengan berdoa.


Sekalian ia berdoa dalam hatinya untuk dilancarkan saat ia akan melamar Azzura nantinya. Ia juga sangat berharap, semoga Azzura menerima dirinya meski banyak kekurangan.


"Zu, bisa kita bicara sebentar?" kata Genta sesaat setelah Ayya dan Devan menyalaminya.


Azzura mengulas senyum seraya mengangguk. Ia pun melirik bi Titin.

__ADS_1


"Bi, tolong bawa anak-anak ke ruang tamu sebentar ya," pintanya.


"Iya, Nak Zu," sahut bi Titin. Ia pun mengajak kedua bocah itu menuju ruang tamu.


Sepeninggal Bu Titin, Azzura merapikan mukenah dan sejadah Ayya dan Devan.


"Mas ingin bicara apa? Apa itu urgent?" kelakar Zu.


"Nggak juga," jawab Genta.


"Lalu ... mau bicara tentang apa?" tanya Zu dengan nada lembut.


"Zu ... bisakah malam ini kalian menginap saja di rumah mama? Sekalian sama bi Titin," pinta Genta.


"Tapi kenapa Mas?" tanya Zu sedikit bingung.


"Perasaanku nggak enak," jawab Genta to the poin. Bukan tanpa alasan, ia takut jika Johan mendatangi Azzura dan membawa pergi Devan secara paksa apalagi jika ia tak ada bersama mereka.


"Please ..." mohon Genta dengan wajah getir menanti jawaban dari gadis itu.


"Baiklah," ucap Zu sekaligus menyetujui keinginan Genta.


"Zu, selama aku belum pulang, biarkan bi Titin berada di rumah mama sambil menjaga Devan. Besok aku akan mencari rumah yang berdekatan dengan rumah mama untuk kalian tempati" tegas Genta.


Sontak saja ucapan Genta membuat Azzura terkejut sekaligus bingung.


"Tapi Mas, apa itu nggak terlalu berlebihan?"


Genta menggelengkan kepalanya. "Semua aku lakukan demi keamanan kalian bertiga. Terlebih saat aku nggak berada bersama kalian,"tegas Genta dengan perasaan khawatir.


"Baiklah," balas Zu. "Ya sudah, sebelum ke rumah mama, kita makan dulu. Setelah itu kita berangkat," cetus Zu.


Genta langsung bernafas lega sambil mengusap dadanya.


.


.


.


Apartemen kota M ...


Beberapa jam yang lalu setelah tiba di kota M, Close langsung meminta supir perusahaan mengantarnya ke apartemennya.


Dari balkon apartemennya ia tampak menyesap rokoknya dan tampak memperhatikan kota M dari tempatnya berdiri.


"Sudah lama sekali aku nggak menginjakkan kakiku di kota ini," desisnya. "Aku ingin berkeliling ke resort besok," desisnya lagi sambil membayangkan laut dan juga pantai.


Seketika ia langsung teringat Azzura. Ia kembali terkenang saat keduanya pernah berlibur bersama dengan rekan-rekan mereka saat masih kuliah.


"Azzura," lirihnya lalu menengadahkan wajahnya menatap langit. Memejamkan mata dengan perasaan bersalah.


"God ... please meet me with her," lirihnya lagi dengan penuh harap.


...----------------...

__ADS_1


Jangan lupa masukkan sebagai favorit ya πŸ™ Bantu like dan vote setidaknya readers terkasih telah membantu ikut mempromosikan karya author. Terima kasih ... πŸ™β˜ΊοΈπŸ˜˜


__ADS_2