Retaknya Sebuah Kaca

Retaknya Sebuah Kaca
Bab 76: Di antara dua pilihan ...


__ADS_3

Di sepanjang perjalanan menuju kompleks, Azzura lagi-lagi tampak termenung. Entah mimpi apa dirinya semalam hingga bisa bertemu lagi dengan mantan suaminya itu.


Sejenak ia memejamkan matanya sambil menarik nafasnya dalam-dalam. Namun entah mengapa bayangan Yoga langsung menghiasi benaknya.


"Yoga," lirihnya lalu meraba kalung yang masih melingkar di lehernya bahkan selama ini tak pernah ia lepas.


Ada kerinduan yang mendalam pada sosok pria itu. Bulir bening kembali berjatuhan dari kelopak matanya.


"Mbak ... Mbak ..." Suara bang supir seketika menyadarkannya dari lamunan panjangnya.


"Iya, Bang," sahutnya sembari menyeka air matanya.


"Kita sudah sampai," balas bang supir.


Azzura langsung menoleh ke kiri dan kanan lalu beristighfar. Ia pun mengeluarkan beberapa lembar uang lalu membayar ongkos taksi.


"Lebihnya buat Abang saja," kata Zu lalu turun dari dalam mobil.


Ia melangkah kecil menuju pintu utama rumah.


"Assalamu'alaikum," ucapnya lalu membuka pintu.


"Waa'laikumsalam ... Bundaaaa," jawab Dev sambil berlari kecil ke arahnya.


Ia langsung berjongkok seraya merentangkan kedua tangannya lalu memeluk putranya itu dengan erat.


"Nak Zu?" tegur bu Nadirah yang sedang menghampirinya.


Azzura langsung menoleh lalu berdiri sambil menggendong Devan.


"Mah," lirihnya lalu mengecup putranya. "Sayang, kamu di sini dulu sama Oma ya. Bunda ke kamar dulu sebentar."


Devan menggelengkan kepalanya. Eratnya pelukan bocah tampan itu mengisyaratkan jika ia enggan. Bak tahu jika sang bunda lagi bersedih.


"Sayang, sama oma ya," bujuk bu Nadirah lalu ingin mengambilnya dari gendongan Azzura. Namun lagi-lagi ia menggeleng dan semakin memeluk Azzura dengan erat.


"Mah ... nggak apa-apa," lirih Zu lagi sambil mengelus kepala sang putra.


Setelah itu, Azzura kembali melanjutkan langkahnya menapaki anak tangga menuju kamarnya.


Sesaat setelah berada di kamar ia duduk disisi ranjang sambil memangku Devan.


"Sayang, apa kamu sudah makan?"


"Sudah Bunda, sama Oma, kak Ayya sama bibi juga," jawabnya sambil memainkan ujung jilbab sang bunda.


"Alhamdulillah ... kalau begitu, kita bobok siang ya," usul Zu dan dijawab dengan anggukan kepala oleh Devan.


Azzura ikut berbaring di samping Devan sambil menepuk bokongnya dan menyanyikan lagu sholawat. Bak sudah menghafal lagu-lagu sholawat yang sering ia dengar, Devan turut menyanyikan lagu shalawat itu bersama sang bunda.


Hingga beberapa menit kemudian suara bocah itu perlahan menghilang bersamaan dengan terpejamnya matanya.

__ADS_1


"Anak shalehnya bunda," desisnya sambil mengelus kepalanya lalu mengecupnya. Setelah itu, Azzura meninggalkannya dan menuju ke kamar mandi.


Tiga puluh menit kemudian setelah membersihkan dirinya, lalu dilanjut dengan shalat dhuhur, kini ia masih betah duduk di atas sejadahnya.


Lama ia merenung sebelum akhirnya ia beranjak kemudian terus menatap lekat wajah putranya.


"Sayang, walau apapun yang akan terjadi, kita akan selalu bersama," lirihnya sambil mengelus wajah mungil Devan.


Tak lama berselang, pintu kamar diketuk lalu dibuka. Tampak bi Titin menghampirinya.


"Nak Zu," panggil bi Titin lalu duduk di sebelahnya sambil mengelus punggungnya. "Ada apa, Nak? Kenapa kamu menangis," cecar bi Titin.


"Bi," lirihnya lalu menatapnya kemudian memeluk wanita paruh baya itu. Tak ada kata yang terungkap melainkan hanya tangisannya yang terdengar.


Layaknya seorang ibu yang sedang menenangkan putrinya, bi Titin terus mengelus punggungnya untuk menguatkannya.


Setelah merasa cukup tenang barulah ia mengurai pelukannya lalu menyeka air matanya.


"Ayya mana, Bi? Kok aku nggak melihatnya sejak tadi?"


"Ayya ada di rumah yang akan kita tempati. Bersiaplah sebentar lagi kita akan ke rumah itu. Rumahnya nggak jauh dari sini hanya berjarak tiga rumah," kata bi Titin.


"Secepat itu Bi?"


"Entahlah, Nak. Nak Genta bahkan sudah memindahkan semua barang-barang kita ke rumah baru itu," jelas bi Titin.


Kening Azzura mengerut sekaligus bingung.


Hening sejenak. Bi Titin mengelus lengannya sambil menatapnya.


"Nak Zu," sebut bi Titin. "Jika bibi perhatikan sepertinya nak Genta sangat menyukai dirimu. Bibi bisa melihat itu dari sorot matanya ketika menatap dan berbicara padamu."


Azzura menunduk dan mengingat sosok pria itu yang sudah tiga tahun terakhir terus menjaga hubungan baik dengannya.


Sifatnya yang begitu dewasa, selalu menjaga, melindungi dan memperhatikannya dan Devan membuatnya selalu merasa nyaman.


Bahkan saat Devan lahir pria itu jugalah yang mengazani Devan. Layaknya anak sendiri, Genta sedikitpun tak pernah membeda-bedakan kasih sayangnya pada Devan dan Ayya.


"Bi," lirih Zu dengan suara bergetar. Ia kembali memeluk bi Titin sambil menangis.


Sejatinya ia juga masih belum bisa melupakan sosok Yoga yang pernah dekat dengannya. Namun ketika mengingat sosok Genta yang terlihat benar-benar tulus, hatinya sedikit bergetar.


Dilema di antara dua pilihan. Antara Genta dan Yoga, ia merasa kedua pria itu sama-sama baik dan tulus pada dirinya. Terlebih kedua orang tuanya yang begitu baik padanya bahkan sudah menganggapnya layaknya putri sendiri.


"Nak Zu, sebaiknya tenangkan dirimu dulu. Berpikirlah dengan tenang serta mintalah petunjuk dari Allah," bisik bi Titin karena sejak tadi Azzura tak menjawab melainkan hanya menangis dalam pelukannya.


"Bundaaaa ..." suara Devan seketika membuat Azzura mengatupkan bibirnya. Dengan perlahan ia melepas dekapannya dari bi Titin lalu menyeka air matanya. "Bundaaaa ..." panggil Devan lagi dan sedikit merengek gelisah.


"Iya Sayang ... bunda di sini," bisiknya lalu mengelus kepalanya.


.

__ADS_1


.


.


Sementara itu, Genta yang saat ini sedang berada di landasan pacu, tampak gelisah dan merasa perasaannya tidak enak sejak meninggalkan Azzura.


"Kenapa dadaku kok tiba-tiba berdebar nggak enak begini ya?" gumamnya sambil mengusap dadanya lalu mengatur nafasnya.


"Pak! Apa Bapak baik-baik saja?" tanya salah satu taruna yang bersamanya.


"Sepertinya nggak," jawabnya. "Oh ya, lanjutkan tugas kalian. Sebentar lagi akan ada instruktur yang akan menggantikan saya," tegas Genta.


"Siap, Pak!!" sahut taruna itu dengan lantang disertai gerakan hormat.


Setelah itu, Genta meninggalkan tempat itu lalu menuju kantornya. Sesaat setelah mendaratkan bokongnya di kursi kerjanya, ia langsung meraih ponselnya lalu menghubungi Azzura.


Azzura yang saat ini sedang menggendong Devan langsung meraih ponselnya yang bergetar di meja nakas.


"Mas Genta?" gumamnya lalu menjawab panggilan itu.


"Ya ... Assalamu'alaikum ... Mas?"


"Waa'laikumsalam ... Zu, apa kalian baik-baik saja?"


Tak langsung menjawab melainkan ia diam sejenak.


"Zu," tegur Genta dari seberang telepon.


"Ya, Mas ... Alhamdulillah kami baik-baik saja. Sebentar lagi kami akan ke rumah yang sudah Mas siapkan," balas Zu.


"Zu ... kamu nggak bohong kan? Perasaanku mengatakan kalian nggak baik-baik saja. Soalnya sejak tadi aku merasa gelisah dan perasaanku nggak enak," tegasnya.


"Mas ..." lirih Zu dan tak melanjutkan ucapannya.


"Zu ..."


Namun Azzura hanya diam dan tak menjawab. Sontak saja diamnya Azzura semakin membuatnya gelisah.


"Mas ... percayalah kami baik-baik saja." Azzura kembali bersuara.


Ia tak ingin membuat tugas Genta terganggu hanya karena dirinya.


"Jangan khawatir ... fokus dengan tugas Mas saja di sana. Sampai ketemu Minggu depan. Jaga kesehatan ya, Mas dan jaga shalatnya.


"Ya, baiklah, kalian juga."


"Ya sudah, aku tutup ya, Mas, Assalamu'alaikum."


"Waa'laikumsalam." Genta menghela nafas sesaat setelah sambungan telepon terputus.


"Rasanya satu Minggu kedepan, serasa menunggu satu tahun lamanya," gumamnya lalu kembali meletakkan ponselnya di atas meja kerjanya.

__ADS_1


__ADS_2