
Sejak pulang dari rumah sakit, Yoga masih kepikiran akan Clarissa. Sejak tadi pula ia masih betah di ruang kerjanya.
Mengingat keadaan gadis itu yang tampak kacau serta ketakutan, Yoga semakin bertekad ingin membuat kejiwaan gadis itu kembali normal.
"Seperti apa rekam jejak kejadian yang membuatnya trauma seperti itu? Jika dilihat reaksinya tadi, dia bahkan lebih parah dari Azzura. Sepertinya dugaanku benar jika dia mungkin saja mengalami pelecehan," gumam Yoga.
"Sebelum ke kota M besok, aku akan menemuinya dulu sekaligus memastikan keadaannya baik-baik saja."
.
.
.
Malam semakin larut, samar-samar suara rengekan baby F terdengar menyapa gendang telinga Azzura.
Perlahan ia membuka mata lalu mendudukkan dirinya. Suara rengekan putranya membuatnya merasa bersalah.
"Sayang, maafin bunda ya," bisiknya sesaat setelah menghampiri box bayi itu lalu memeriksa popok keduanya. Ia mengulas senyum saat mendapati popok baby F basah.
Dengan telaten ia menggendong baby F bergantian lalu mengganti popoknya. Selesai mengganti popok ia terlebih dulu memberi ASI pada keduanya.
Senyumnya kembali menghiasi wajahnya sambil menatap lekat wajah baby Faatih lalu mengelus lembut jemari mungilnya.
Sesekali ia melirik Genta yang tampak tertidur pulas. perlahan tangan yang tadinya mengelus jemari baby F berpindah ke kepala sang suami.
Sambil menunggu baby Faatih tertidur, Azzura terus mengelus rambut suaminya. Hingga membuat Genta merasa terusik.
Saat membuka mata ia langsung menahan jemari Azzura lalu mengecupnya. "Sayang, apa baby F rewel?" bisiknya.
"Nggak Mas, popoknya basah mungkin haus juga," balas Zu.
Genta mengecup kepala putranya yang masih menyedot ASI dalam gendongan sang bunda.
"Apa Fattah rewel juga," tanyanya lagi.
"Nggak, tadi sudah aku berikan ASI gantian sama Faatih," jawab Zu lalu tersenyum. "Tidurlah Mas. Soalnya besok Mas harus apel."
"Nggak apa-apa, Sayang. Mas tungguin kamu saja," kata Genta.
Selesai memberi ASI pada baby Faatih, Azzura kembali membawanya ke box bayi lalu membaringkannya di sebelah sang kakak.
Ia mengecup keduanya bergantian lalu kembali menghampiri Genta yang tampak sedang memandanginya.
Tatapan sang suami selalu sukses membuatnya tersipu malu. Entah mengapa Azzura seolah tak bisa berkutik saat suaminya menatapnya.
"Ada apa sih, Mas," bisik Zu seraya mengelus rahang suaminya. "Jika boleh jujur, tatapan Mas, selalu membuatku salah tingkah. Ibaratnya, aku terpesona dengan tatapan mata ini."
Azzura menyentuh kedua mata suaminya, turun ke hidung, pipi, bibir lalu menangkup wajah tampannya. Sontak saja sentuhan lembut itu memancing hasrat suaminya.
"Ah ... andai saja sudah lewat beberapa bulan, mas sudah pasti melahapmu," batin Genta lalu tersenyum.
"Tidurlah, ini sudah larut," bisik Genta lalu membawa Azzura masuk ke dalam pelukannya.
"Sabar Genta, belum waktunya," gumamnya dalam hati sembari menahan hasratnya karena ulah istrinya.
.
.
__ADS_1
.
Keesokan harinya setelah Galuh mengantar anaknya ke sekolah, barulah ia dan Nella mengantar Ayya dan Devan pulang. Sekaligus ingin bermain sebentar dengan baby F.
"Waaah ... jagoan paman sudah pada ganteng ya," kata Galuh sesaat setelah berada di dalam kamar baby F.
Azzura yang tampak sedang memakaikan baju pada putranya hanya tersenyum saat Galuh menghampirinya.
Ia langsung menggendong baby Faatih yang sudah rapi dan harum.
"Kepengen ya," ledek Genta yang baru saja masuk ke kamar itu lalu terkekeh.
Galuh berdecak lalu memutar bola matanya dengan malas.
"Oh ya, Bang. Kapan Abang akan menggelar aqiqah si tampan ini?" tanya Galuh lalu mencium gemas pipi sang ponakan.
"Insyaallah, besok pagi di Hotel Clarion," kata Genta.
Galuh hanya mengangguk mengerti. Tak lama berselang Nella menghampiri mereka lalu menghampiri Azzura.
"Zu, kemarikan baby Fattah," pintanya dengan sembringah.
"Sayang, kamu sama mama Nella dulu ya," ucapnya lalu mengecup bayi mungilnya kemudian memberikan pada Nella. "Aku sekalian titip mereka sebentar ya, Kak. Aku siapkan pakaian mas Genta dulu."
"Ya sudah, buruan gih," seru Nella lalu terkekeh.
Sepeninggal Azzura dan Genta, Nella menghampiri suaminya lalu berbisik, "Sayang ... melihat baby F, aku juga kepengen punya baby twins."
"Mau seberapa pun kita berusaha untuk memiliki baby twins, jika Allah belum berkehendak nggak bakalan terjadi, Sayang. Meski bukan twins pun nggak apa-apa yang penting jangan mau kalah sama bang Genta," kata Galuh.
"Insecure yaaaa ..." ledek Nella lalu tertawa.
Nella langsung terkekeh lalu mengajaknya turun ke lantai satu.
Sedangkan Genta dan Azzura yang masih berada di dalam kamar, tampak membantu suaminya mengenakan pakaian dinas.
Setelah selesai Azzura mengelus dadanya kemudian memeluknya sejenak.
"Sudah," bisik Zu lalu mengurai pelukannya.
"Terima kasih, Sayang," balas Genta lalu mengecup keningnya.
"Turun yuk, Mas. Sarapan dulu baru berangkat. Rasanya aku sudah kangen dengan suasana rumah kita di sana."
Genta mengulas senyum mendengar ucapan istrinya. Ia pun mengajak istrinya turun ke lantai satu sekaligus mengajak mereka sarapan bersama.
Setelah selesai sarapan bersama, baik Genta, Galuh Nella kemudian berpamitan menuju ke tempat kerja masing-masing.
*****
Sedangkan di kota lain tepatnya di kota A, Yoga tampak sudah berada di rumah sakit. Sebelum berangkat ke kota M, ia memilih menemui Clarissa terlebih dulu.
Sambil membawa dua cup teh hangat, ia sangat berharap jika hari ini Clarissa mulai ada perubahan.
Setelah berada di ambang pintu kamar rawat gadis itu, ia pun membukanya. Seketika alisnya langsung bertaut saat tak mendapati keberadaan gadis blasteran itu.
"Ke mana dia?" gumamnya sambil memindai ruangan itu. Sedetik kemudian ia pun keluar dari kamar itu lalu bertanya pada salah satu petugas yang kebetulan lewat.
"Sus, apa kamu melihat gadis yang menempati kamar ini?" tanyanya.
__ADS_1
"Sepertinya dia lagi di taman, Dok," jawab petugas itu lalu kembali melanjutkan langkahnya.
Senyum tipis seketika tersungging di bibir Yoga. Ia pun memilih mempercepat langkahnya menuju taman rumah sakit sambil membawa cup teh hangat itu.
Setelah beberapa menit mencari keberadaan gadis itu di taman, ia lalu menghampirinya yang sedang duduk di salah satu bangku sembari menatap ke arah matahari yang baru saja akan memancarkan cahayanya.
"Rissa," sapanya dengan seulas senyum.
"Syukurlah dia sudah mulai mau keluar menghirup udara," batin Yoga sambil menatapnya lekat.
Merasa mengenal suara yang menyapanya, perlahan ia menoleh lalu tersenyum tipis.
Tak seperti hari-hari sebelumnya, hari ini gadis itu tampak sedikit berbeda. Rambut panjangnya yang biasanya acak-acakan tak terurus, kini terlihat rapi dengan dicepol.
Yoga ikut duduk di sampingnya lalu memberikan satu cup teh hangat yang sejak tadi dipegangnya.
"Ini untukmu, nikmatilah selagi hangat," cetus Yoga.
"Terima kasih," ucapnya lirih seraya meraih cup teh itu dari tangan Yoga.
Untuk sejenak, Yoga cukup terkejut mendengar gadis itu membalas ucapannya. Karena sebelumnya jangankan tersenyum atau membalas ucapannya, gadis itu hanya diam seribu bahasa layaknya sebuah patung.
"Apa sekarang kamu merasa sedikit membaik?"
Clarissa mengangguk pelan lalu meneguk teh hangat itu kemudian kembali mengarahkan pandangannya ke depan.
Dalam keheningan, Yoga memandanginya sekaligus merasa terenyuh.
"Rissa ..."
"Hmm ..." Ia perlahan menoleh menatap Yoga.
"Maaf, untuk tiga hari kedepan, aku akan berada di kota M. Jadi selama aku berada di kota M, dokter Daffa yang akan memberi bimbingan konseling padamu," kata Yoga.
Clarissa menggeleng pelan, "Aku akan menunggumu saja," balasnya lalu kembali mengarahkan pandangannya ke depan.
"Kenapa?"
"Aku merasa kamulah orang yang tepat untuk memberi bimbingan konseling padaku," jawab Clarissa dengan suara lirih.
Ia mendongak menatap langit lalu memejamkan matanya. Buliran kristal bening ikut berjatuhan dari ujung matanya.
"Rissa ..." Yoga menyentuh pundaknya.
"Aku baik-baik saja," bisiknya. "Terima kasih karena masih mau menangani gadis dengan gangguan mental sepertiku."
"Kamu benar ...Hidup ini seperti drama yang nggak ada selesainya. Kehidupan manusia nggak pernah lepas dari suatu permasalahan, peristiwa, rintangan, tantangan, kesempatan, dan pengalaman. Semua itu dijadikan pelajaran hidup bagi setiap insan."
Clarissa kembali mengulangi kalimat yang diucapkan oleh Yoga kemarin. Sedetik kemudian ia menoleh lalu membalas tatapan sang psikolog.
"Yang kuat ya. Sehitam dan sekelam apapun peristiwa yang pernah kamu alami di masa lalu, yakinlah jika kamu pasti bisa melawan dan melewatinya."
Clarissa menarik nafas dalam-dalam lalu mengangguk pelan.
Yoga melirik jam yang melingkar di pergelangan tangannya.
"Rissa ... kita akan bertemu tiga hari lagi. Kembalilah ke kamarmu. Aku sekalian pamit soalnya aku akan ke bandara sekarang," kata Yoga.
"Aku masih ingin di sini sebentar. Pergilah ... aku nggak apa-apa," serunya.
__ADS_1
...----------------...